Saturday, February 28

I hate to say goodbye

1 comments
Perasaan apa ya ini..

Begini, barusan saja aku iseng berkunjung ke Tumblr kekasihku yang dulu, pertama dan satu satunya.

Dalam tulisan itu dia menceritakan sedikit tentang pengalaman “refleksinya”

Ditambah lagi, aku sedang ingin inginnya menghabiskan waktuku bersama empat kawan baruku. Dhenik, Palma, Faiz, dan Winie.

Tiga nama didepan sebenarnya adalah nama lama, karena mereka adalah kolegaku di Manggolo Mudho, sanggar REOG yang aku ikuti sekarang. Namun nama terakhir, Winie, adalah teman baruku, teman dari luar negeri pertamaku.

Aku benci perpisahan.

Tanggal 3 Maret besok, dia beserta mahasiswa pertukaran pelajar lain harus kembali ke negara asalnya.

I hate to say good bye.

Yaaa karena, aku masih belum siap untuk berpisah.

Apa ya... Ada perasaan senang dan bahagia yang selama ini aku cari dan akhirnya aku temukan. Ada hal yang aku harap dalam sepelan pelannya doaku, dalam selirih dan tak bersuaranya alam bawah sadarku.

Bahwa aku ingin sekali memiliki teman yang berasal dari luar negeri. Teman luar negeri yang baik sekali, menurutku. Teman yang ingin sekali aku habiskan waktu agar aku bisa belajar hal yang tak pernah aku bayangkan bisa aku pelajari.

Karena aku harus dihadang dengan deadline, aku tak yakin bisa bertemu dengannya, menjelang perpisahan dengannya.

I hate myself. I hate the condition that happen at me.

Ditambah, tulisan dari “alumni” ku yang jadi membuatku berpikir.

Benarkah ada orang yang dilahirkan dengan kemampuan sehebat itu untuk cuek?

Entahlah, aku pikir, aku benar benar tidak mampu memahaminya.

Sepertinya aku hanya bisa menerima saja yang ada. Aku yaa hanya bisa menerima segalanya yang kemudian perlahan berubah. Menjadi yang aku tak kenali.

Tetapi, aku hanya bisa diam saja.

Diam saja.

Tulisannya dalam tumblr itu menceritakan pengalamannya, dimana dia melihat pertama kalinya laki laki merasakan patah hari. Hingga mengutuki sang perempuan yang ternyata sudah memiliki pacar baru.

Aku melihat dia sadar dengan dirinya yang cuek itu.

Tapi,

Aku tak melihat adanya niat dan harapan darinya untuk meninggalkan sifat itu.

Setelah kubaca, seketika aku mengiriminya pesan.

Bahwa aku tidak pernah mengutukinya sepeninggal kami berpisah. Memang benar, dia sudah move on dengan cepat. Lebih cepat daripada aku.

Bahwa,

Akan selalu ada tempat yang baik dalam hatiku untuknya, selamanya, sebetapa menyebalkannya dirinya dengan sikap cueknya. Aku memahami dan menerima,

Bahwa mungkin memang dirinya dan sikap cuek adalah satu keping koin dengan sisi sisinya.

Tetapi,

Jika ketika aku membaca tumlbr itu aku berharap, walaupun harapan yang seharusnya tidak pernah aku harapkan darinya,

Agar dia sedikit membuka hati. Sedikit memulai untuk meninggalkan sikap yang selalu menyinggung perasaanku.


Tetapi,

.....

Ah seharusnya aku tidak perlu berharap seperti itu. Bodoh!

Haruskah aku bilang, bahwa aku ingin dia seperti apa? Aku pikir, tulisan itu memiliki makna introspeksi. Membuka kesempatanku untuk mengajukan “proposal” yang aku inginkan.


Harus kah aku bilang?

Mereka bilang laki laki tak pernah mengerti,

Aku rasa perempuan juga sama. Tak ada beda.



Aku ingin sekali, kita menjadi sahabat seperti kita tak pernah pacaran.

Karena aku pikir, hadirmu sebagai sahabat lebih aku butuhkan daripada status kepemilikan yang dilegitimasikan dengan “pacaran”.

Sesederhana itu.



Perasaan ini menyandra malamku. Menyandraku dari keseharusanku untuk sesegera mungkin tidur.

Winie, aku harap aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Aku masih ingin belajar bahasa China, sungguh.

Alumni,

Sudah pasti, aku berharap kamu berubah, berharap kamu “sadar”. Tapi jika tidak bisa,

Mungkin sudah waktunya aku mengucapkan perpisahan, memasukkannya dalam kardus dan menyisihkannya, walaupun aku sungguh membencinya.




I really hate to say goodbye.
Continue reading →
Tuesday, February 17

Dikelas yang Berbeda

0 comments
Sudah tiga harus berturut turut aku memimpikan 1 manusia yang sama. Selalu dia, tidak pernah berganti.

Seseorang yang sangat berharga bagiku, hingga sekarang. Walaupun mungkin hubungan kami tak sebaik dahulu, tetap, dia akan selamanya berharga bagiku.

Kami bersama kurang lebih 3 tahun lamanya. Awet. Sejak kelas 2 SMP kami mulai dekat dan akhirnya berkomitmen baik bersama. Aku masih sangat ingat kala itu, KIR (Karya Ilmiah Remaja) lah yang membuat kami bertemu hingga akhirnya akrab.

Aku mencintai sahabatku sendiri.

That’s exactly what happen. But, it’s OK for both of us, was.

Sulitnya ketika pacaran dengan sahabat sendiri adalah ketika tidak bersama lagi sebagai sepasang kekasih, menurutku. Entah apa, ada yang sangat berubah dan berbeda. Bukan hanya pada dirinya, lebih tepatnya adalah pada kami berdua.

Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Karena hakikatnya, tidak ada yang salah.

Aku sendiri sering menulis yaa, ditulisan sebelumnya bahwa komunikasi adalah jalan keluar terbaik dari segala masalah hubungan. Tetapi, yang ironi adalah ketika aku (yang biasa menasehatkan begitu) cukup susah untuk menerapkannya sendiri. Jarak adalah salah satu faktor. Faktor yang lain adalah “kita berada pada ‘kelas’ yang berbeda”.

I just can’t “reach” her anymore.

Dan dari nasehat yang aku dapat, mungkin memang seharusnya seperti ini.

Aku harus ‘melepaskan’

Banyak sekali yang bertanya,” sebenernya konsep dan praktik ‘melepaskan’ itu bagaimana sih? Aku masih terlalu baur dan nggak ngerti deh”

Hmmm...

Aku, sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti bagaimana.

Tetapi, ketika itu adalah hal yang menuntutku harus melakukannya, maka akan aku lakukan.

Aku akan berhenti bertanya, beralasan, dan mulai melakukannya saja.

Karena aku percaya, ketika kita melakukannya dengan tidak mengetahuinya, kita akan dibuat mengerti oleh Tuhan ketika sedang melakukannya.

Singkatnya, learn by doing.

Kalau bicara tentang konsep, sudah pasti kita tahu bahwa konsep “melepaskan” adalah sama dengan “mengikhlaskan”.

Dan memang mengikhlaskan itu sulit, namun bisa dilatih dan diusahakan. Bahkan, agar kamu selamat, mau-tidakmau kita harus melakukannya.

Yang aku maksud “selamat” diatas adalah selamat dari rasa sakit yang lama dan berkepanjangan.


Aku mulai paham. Bahwa memang seseorang itu berubah. Pasti.

Aku dan dia, berubah. Dalam cara yang mungkin asing bagi satu sama lain.

Aku begitu asing dengan perubahannya, dan mungkin dia juga begitu asing dengan segala perubahanku.

Atau bahkan, aku yang tak kunjung berubah, begitu asing untuk dirinya yang sudah begitu cepat berubah.

Berubah adalah sebuah keniscayaan.

Agar bisa “selamat”, aku harus menerimanya sebagai sebuah kenyataan.

Dan memang, untuk bisa sempurna, segalanya butuh proses. Termasuk proses “melepaskan” ini.


Entah ya, apa sebenarnya maksud Tuhan dengan memberiku bunga tidur mengenai dirinya. Aku hanya berasumsi,

Mungkin aku memang masih begitu menyayanginya.

Bahasa kasarnya “susah move on”

Tapi ini beda.

Bedanya adalah rasa sayang yang dulunya sebagai kekasih, berubah menjadi rasa sayang seorang sahabat.

Sahabat yang lamaa sekali tak berjumpa.


Dan karena kita ada di “kelas yang berbeda”, aku merasa canggung.

Siapa sih aku yang masih harus datang ke kehidupanmu?

Mungkin karena itulah, aku berusaha untuk diam dan menyembunyikannya.

Itu semua semata, agar aku tidak lagi mengganggu hidupnya.

Sesederhana itu.



aku bisa menerimamu sebagai orang yang tak lagi sama,
tapi
aku tak bisa menerima jika engkau harus menjauh dari kehidupanku
Continue reading →
Saturday, January 31

Rindu ini terlalu Sederhana

0 comments
Rindu ini terlalu sederhana,

Melihatmu dalam jendela Instagramku saja sudah mereda.

Rindu ini terlalu aneh,

Yakin bahwa kita ada diarea yang sama, sudah membuat hati ini berdegub.

Rindu aneh,

Membuatku lebih ingin pantas bagimu daripada untuk berusaha menemuimu sekarang

Tahukah kamu?

31 Januari itu adalah hari yang sudah aku tunggu sejak awal aku merasa ada yang tidak wajar dalam caraku memandangmu.

Sudah lebih dari cukup untuk berjumpa. Sungguh.

Aku tak sanggup bahkan untuk ngobrol ngalur ngidul denganmu.

Aliran darah yang begitu cepat, begitu membuatku bingung harus berbicara apa.

Itu semua karena kamu.

Itu semua salahmu.

Salahmu.

Salahmu.


Atau lebih tepatnya karena lemahku.

Sungguh, bagiku engkau adalah sosok yang menyilaukan. Melihatmu saja berat, apalagi menatap.

Harapanku terlalu ... muluk

Aku sering berucap bahwa keajaiban hanya datang setelah usaha terbaik, tetapi ...

Berjuang untukmu saja aku belum, betapa lancangnya sudah berani berharap menyandingmu.

Betapa lancangnya aku berharap agar bisa berjumpa pada tanggal itu.


Satu rahasia,

Tujuanku pulang dan datang saat itu, hanyalah untuk berjumpa denganmu.

Yang lainnya,

Adalah #akting

Namun, #akting yang aku sangat aku nanti dan sejenak mampu membuatku mlipir darimu.


Dind,

Kapan ya kita bisa ketemu lagi?

Sungguh, tidak ada yang lebih membahagiakanku selain perjumpaan tanpa sengaja kita dijalur itu. Didepan rumah sakit itu. Aku membuktikan betapa ayumu begitu tak terbantahkan. Kukuh. 

Jelas.

Pantas tak ada yang tak mengejarmu.

Dan karena itulah aku selalu kalah untukmu. Untuk memperjuangkanmu.


Dind,

Apa aku harus beranjak darimu?

Lagi.

Sama seperti kisahku sebelum ini, yang membuatku harus pergi karena pintu itu telah dimiliki orang lain.

Hati itu t’lah dimiliki orang lain.

Begitu juga dirimu kan?


Mereka bilang yang aku lakukan hanyalah membuang waktu.

Ibarat menunggu emas untuk ditinggalkan pemiliknya.

Kamulah emasnya, Dind. Dan dia t’lah memilikimu.

Mana mungkin ada yang mau melepas pribadi sebaik dirimu? Dengan segala hal yang membanggakan yang melekat padamu. Dengan segala watak yang diidamkan untuk didampingi.


Dinda,

Dosa terindahku mungkin adalah terus mengharapkanmu dan berharap segeramu berakhir dengannya.

Terindah dan terkejam.

Maaf ya... Takdirku memang untuk jatuh cinta padamu.

Dan aku memahami bahwa jika engkau tak mengalami takdir yang sama.



Dinda,

Aku tetap tak bisa melihatmu dengannya. Aku tak bisa untuk mendoakanmu bahagia dengannya.

Tidak akan.

Karena aku tahu,

Aku lebih pantas bagimu daripada dirinya.
Continue reading →
Thursday, January 29

Kepergian Sang Bakal Maestro

0 comments
Berita itu datang membawa duka. Kemarin Rabu sore, sekitar jam 4.

Memang benar setiap hari kita berduka. Bahkan menit pun. Karena, di setiap menit itu pasti terdapat siapapun manusia yang telah meninggalkan dunia.

Pramudigdo Sony Rawatama.

Kesan yang baik sudah terpancar dari namanya. Terdengar gagah, anggun, kuat. Tetapi dari yang aku tahu, dia adalah orang yang tenang.

Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya. Bahkan ketika namanya disebut dan fotonya ditunjukkan dalam grub LINE, aku masih belum mengenalinya. Hingga akhirnya ada nama yang mengingatkan, Denik. Adik dari Denik. Sahabat dari adikku, Wahyu Chyntia (Tia), teman dalam perjuanganku melakoni Seni Pertunjukan REOG Ponorogo di Jogja.

Ahh... Ingat aku sekarang.

Denik ini pernah mengungkit nama ini dalam perbincanganku dengannya. Tepatnya adalah saat dimana kami beserta teman teman Manggolo Mudho mempersiapkan pertunjukan kami untuk tampil di ISI Jogja. Yang paling meninggalkan bekas diingatanku adalah dia adalah seorang penari yang ikut dan membawa SMA 1 Ponorogo menjuarai FRN 2014 kemarin. Kesan itu begitu ku ingat, mengingat ketidak berhasilan kami untuk memenangi kategori 10 Besar Penampil Terbaik. Dalam bayanganku, “ he such a good guy, of course

Tetapi, ternyata aku salah. Dia bukan seorang good guy.

He is a great man.

Indeed.

Singkat cerita, malamnya aku bertanya kepada salah satu seniorku di Manggolo Mudho, - sudah tahu berita duka ini apa belum – Oh ternyata sudah. Dan esok Kamisnya berniat untuk melayat. Aku pun segera mengiyakan untuk bergabung untuk ikut melayat, padahal malam itu aku masih di Jogja, menyelesaikan Ujian Akhir Semester 3 ku yang tinggal satu mata kuliah saja.

Singkat cerita, Kamis siang esoknya aku pun melesat ke kampung halaman. Hujan disepanjang jalan menuju Ponorogo membuatku sebal dan kelabakan. Untungnya, aku masih selamat.

Malamnya, aku bersama kawan Manggolo Mudho yang lain – Mas Najih, Mas Hamid, Mas Hafid, Mbak Novi, Mas Ijul, dan satu dari kawannya yang tak ku ketahui namanya – berangkat menuju rumah yang berduka. Rumahnya ada di daerah Tambakbayan Ponorogo. Tidak terlalu jauh dari pusat kota. Bahkan dekat dengan Alon Alon. Jalan yang ternyata cukup sering aku lewati ketika pulang ke Ponorogo.

Kami datang pukul 9 malam. Emmm ... Agak sedikit canggung dan kurang enak malam malam berkunjung, tetapi ini terjadi karena Denik sendirilah yang meminta kami untuk datang sedikit lebih malam, karena saat jam sebelumnya, masih dilaksanakan Yasinan untuk almarhum. Toh, kami pun kumpulnya telat dari yang disepakati. Di grub BBM jelas tertulis untuk berkumpul jam 6, eh, apa daya baru bisa kumpul jam 8 malam. Molor 2 jam. Aku fikir, inilah salah satu “kelebihan” dari orang Indonesia, yaitu sifat “toleransi”nya yang amat tinggi. Tapi tak apalah, untuk saja rencana berkunjung masih bisa terlaksana.

Ketika kami datang, terop terop dan jajaran kursi plastik masih ada ditempatnya. Sebagian lagi sudah ditata rapi berjejer keatas disalah satu sudut. Kesan yang pertama muncul adalah : sederhana. Tidak ada yang pernah aku ketahui lebih dari itu, tidak sebelum perbincangan satu jam yang mengubah kesanku kepada almarhum.

Bagian ruang tamu rumahnya digelar karpet merah, tanda bahwa benar telah habis Yasinan dirumah tersebut. Bapak bapak yang masih ada disekujur bagian rumah pun juga menegaskan kesan itu. Ayah dan Ibu almarhum duduk ditengah ruangan, tengah berbicara dengan para tamu tamu yang sudah cukup sepuh. Kami pun mengucap permisi dan menyalami semua yang ada diruang tamu itu, Denik belum ada disana, entah mungkin masih didalam. Selesai bersalaman, kami pun menepi kesisi yang lain, berjajar bertujuh. Rapi.

Entah benar atau tidak ruang itu adalah ruang tamu atau bukan, karena begitu banyak berkas berkas yang tersusun dalam lemari di satu sudut yang lain. Aku fikir ruang ini juga menjadi ruang kerja bagi keluarga almarhum.

Yang jelas, kesedihan masih begitu menyelimuti keluarga. Raut yang masih murung dari ayah dan ibu, masih terlihat “terlalu” jelas bagiku. Entah ini benar atau hanya sekedar duga duga saja. Hingga akhirnya Denik keluar, menyalami kami satu persatu dan “ Mas, maafin adekku yaa kalo ada salah neng sampeyan “. Aku hanya bisa tersenyum, menjabat tangannya dan mengiyakan.

Duh. Padahal, aku bertemu dengan almarhum saja belum pernah.

Setelah kedua tamu yang berbincang dengan kedua orang tua almarhum undur diri, percakapan pun akhirnya berpindah bola.

Seperti layaknya melayat, perbincangan pasti seputar almarhum. Kapan dimakamkan, kapan tepatnya diketahui kalau almarhum sakit, sakit apa, dan lain sebagainya. Cerita cerita singkat seputar almarhumlah yang membuatku menulis tulisan ini.

Sejak SD, darah seni sudah mengalir dalam nadinya. Bakat menggambar dan menarilah yang begitu menonjol dari almarhum. Dari umur masih kinyis kinyis hingga akhir perjuangan hayatnya, seni adalah dirinya. Begitu banyak prestasi yang almarhum torehkan selama kurang lebih 10 tahun hidupnya. Piala itu berjejer di ruang yang lain, yang bersebelahan dengan ruang kami disambut. Aku tak sempat mengeceknya, mas Hamid-lah yang berinisiatif melihat kesana. Aku duduk saja memperhatikan cerita ayah almarhum.

Ketika SD, sekitar 6 tahun yang lalu ternyata almarhum menjadi Juara Umum dalam Thole Genduk Ponorogo. Itu lho, ajang duta wisata untuk kaliber anak anak. Lomba itu pun pastinya bergengsi sekali untuk kalangan anak waktu itu. Kesan “Ponorogo Banget” , begitu yang aku rasakan.

Di usianya yang ke – 17 ini, karena bakatnya yang begitu luar biasa dalam Tari REOG, membuatnya dipasrahi tanggung jawab untuk mengajar tari di sanggar. Bukan satu, tetapi beberapa sanggar yang ada di Ponorogo. Diketahui bahwa almarhum memang handal untuk menari Warok, Ganongan, dan Klonosewandono. Ini berarti almarhum menguasai 3 dari 5 tarian utama dari pertunjukan REOG. Dari yang diungkapkan ayahnya, hidupnya tidak jauh jauh dari pagelaran seni ini.

Hingga yang membuatku semakin terkesan adalah almarhum bersama tim Gajah Manggolo, SMA 1 Ponorogo mampu memboyong pulang Juara 1 dalam lomba Festival Reog Nasional yang tentu kelasnya adalah Nasional.

Tidak dipungkiri, dalam video saat tampilnya Gajah Manggolo pun begitu berbeda. “Rasa” dari pertunjukan itu memang beda. Ragam geraknya pun berbeda. Hal ini tidak mungkin bisa terwujud jika tidak adanya dedikasi yang begitu tinggi dari para penari untuk menampilkan yang terbaik. Dan almarhum menjadi salah satu bagian dari pertunjukan itu.

How cool is that!

Saat bercerita tentang almarhum, sang Ibu pun mengambil sebuah tas yang isinya adalah alat alat tulis, sebuah sketchbook dan beberapa buku tulis. Ternyata ketika almarhum sakit, dia mengalihkan kejenuhan dengan menggambar dibuku buku tadi. Alatnya pun biasa, sama yang biasa aku pakai bahkan sama dengan yang aku beli di toko alat tulis umumnya. Tetapi, entah bagaimana bisa gambar gambar itu bisa tercipta dari tangannya. Gambar yang bahkan aku bayangkan saja sudah susah, apalagi mentransfernya menjadi sebuah objeknya nyata dalam kertas. Mungkin ini yang namanya “anugrah bakat”.

He is so damn talented!

Sebelum pembicaraan berakhir, ada cerita yang membuatku terharu.

Sang Ibu bilang bahwa ketika almarhum akan dimakamkan, begitu banyak yang mengantar almarhum menuju rumah terakhirnya.

Saat itu, yang datang bukan hanya rekan satu kelasnya, tetapi rekan satu angkatan di sekolahnya, SMA 1 Ponorogo.

Saat itu, yang datang bukan hanya dari kawan SMA nya saja, tetapi rekan dari satu SMP dengan dia yang berbeda sekolah.

Saat itu, yang datang bukan hanya dari rekan yang dia kenal semasa sekolah, tetapi juga orang yang mengenalnya lewat dunia tari, lewat sanggar yang dia ajar.

Saat itu, begitu banyak yang mengingat almarhum, ketika almarhum pergi untuk mengakhir perjalanan dan perjuangannya dalam dunia seni.

Saat itu, begitu banyak orang yang memberikan penghormatan terhadap perjuangannya. Termasuk penulis dalam tulisan ini.


Apa ya yang membuat sosok ini begitu diingat hingga akhir hayatnya? pikirku.

Oh.

Mungkin karena memang sosoknya lah yang begitu pantas untuk diingat.

Segala keilmuannya tentang seni, bakatnya, prestasinya, memang pasti akan diingat orang. Namun, hal yang menjadikannya begitu dicintai adalah karena kesederhanaannya.

Mungkin. Kemungkinan besar seperti itu, kesimpulanku.

Aku merasa,

Kotaku ini kehilangan salah satu dari “bakal seniman hebat”nya

Kalian yang melihat karya gambarnya pasti begitu menyayangkan kepergiannya. Bagaimana mungkin orang seberbakat ini harus terlalu cepat waktunya hingga tak diberi waktu lebih lama untuk berkarya?

Sungguh, aku begitu menunggu akan karya besar dari orang ini.

Karena sebelumnya, aku pun membicarakan tentang “keinginan untuk pencapaian” bersama mas Najih. Iya, tepat sebelum berangkat melayat ini.

Bahasan kami adalah seputar keresahan. Keresahan akan begitu kurangnya pilihan pilihan karir, panutan, dan orang hebat di seputar Ponorogo yang bisa “disentuh” karena dekat dengan kehidupan masyarakatnya. Hingga mas Najih pun menceritakan tentang sosok mas Wisnu. Seorang seniman ASLI PONOROGO yang telah berkarir dalam dunia seni, dihargai begitu mahal akan karyanya, dan melalang buana berkeliling dunia.

Karena SENI.

Sosok ini, bagiku begitu mampu untuk menumbuhkan inspirasi kepada orang orang. Terutama adalah kawula muda, yaitu dari sekitar SMP hingga SMA.

Karena apa?

Yaa karena mereka inilah yang harus “dipoles” untuk “diselamatkan” agar kemudian mampu menjadi sebaik baiknya manusia dalam karir dan kesuksesan yang dia pilih.

Orang orang yang besar dari “bawah” inilah yang nantinya menjadi magnet kuat untuk mengispirasi. Karena mereka mengerti rasanya ada di “bawah”. Dan kita, butuh inspirasi.

Dan yang aku lihat dari almarhum,

Aku melihat sebuah proses awal mekarnya seorang seniman besar dengan bakat luar biasa yang dibawanya.

Orang orang seperti inilah yang dibutuhkan, dicari, dan seharusnya dijaga agar menular keberhasilannya kepada orang yang sedang “mencari” siapa dirinya.

Tetapi,

Entah apa rencana Tuhan hingga akhirnya almarhum harus duluan pergi.
Khusnudzon-ku :

Mungkin rumahnya di surga sudah duluan jadi dan begitu merindukan yang memiliki rumah itu.

Begitu, kesimpulanku.

***

Tulisan ini ditulis sebagai sebuah penghormatan saya terhadap bakat yang begitu luar biasa yang ada pada diri almarhum. Penghormatan pula terhadap keluarga yang memiliki putra yang begitu membanggakan. Penghormatan pula kepada Kakak yang begitu beruntung memiliki adik seperti almarhum.

Saya yakin sekali bahwa orang orang yang berbakat seperti almarhum itu banyak. Tersebar diberbagai penjuru. Namun, begitu sayangnya orang orang ini kurang sekali di-ekspose. Tidak diketahui betapa menginspirasinya orang orang ini. Berita yang terus terusan muncul hanyalah berita berita buruk yang tidak membangun inspirasi bagi pembacanya namun justru mematikan optimisme para pejuang yang berjuang menggapai apa yang dia yakini.

Tulisan saya ini bertujuan untuk mengajak anda meng-ekspose orang orang yang menurut anda hebat, membanggakan karyanya, atau masih dalam proses untuk menjadi hebat dengan segala potensinya.

Karena yang kita butuhkan bukanlah para peng-kritik, pengeluh, pembohong yang bicaranya “terlihat” hebat.

Yang kita butuhkan adalah mereka yang dengan sederhana, ikhlas, tulus, membangun sebuah kepantasan akan cita cita dan impiannya dengan melakukan hal yang sudah dianugerahkan kepadanya.

Yang kemudian,

Menginspirasi kita untuk melakukan hal yang sama,

Bahkan

Berbuat lebih baik.




*Segelintir Karya dari Almarhum yang berhasil penulis himpun.
Ini belum seberapa dari seluruh karya gambarnya.
Continue reading →