Ijinkan saya membuka tulisan ini dengan mengatakan “nulis
makalah itu lebih susah dari pada nulis blog”.
Ceritanya gue ini lagi menjalani minggu tenang
terhitung sejak tanggal 11 Januari kemarin. Yaa walapun ada jadwal kuliah sih.
Ilmu Negara jam 3 sore dihari yang sama, tapi gue memilih untuk pulang ke
Ponorogo hari Jumatnya. Gue memilih untuk Turun Tangan ikut acara bakti sosial
yang diadakan oleh Forum for Indonesia (FFI) di SMP 3 Sawoo. Lalu dihari hari
berikutnya, gue ada dirumah tercinta di Jalan Anggrek GG 1 no 9 Ponorogo. Gue juga
udah ketemu sobat lama gue, Ristiyanti Hayu Pertiwi yang merantau di Jakarta,
Universitas Indonesia tepatnya. Serta, ngerjain juga tugas makalah Antropologi
dan besok bakal nulis makalah untuk Pengantar Hukum Islam. Yah, kita lihat saja
besok.
Tapi bukan itu yang pengen gue bahas kali ini. Bahasan
gue kali ini adalah peristiwa yang terjadi malam ini. Gue mengalami perjalanan
hati. Gue dipaksa untuk me-rewind
memori gue akan cita cita gue yang udah mulai gue tinggalkan. Become a doctor.
Diawali dengan rasa rindu akan acting dari Reza Rahardian
dalam membawakan tokoh BJ Habibie. Gue nonton film Habibie Ainun di laptop gue
dibarengi dengan update kultwit (cool
twit) di twitter. Lumayan caper gitu deh ceritanya. Dan mumpung bisa pakek
WiFi sepuasnya. Alhamdulillah.
Banyak memorable
moment dari film itu yang dialognya gue jadikan kultwit dan gue fav
sendiri. Soalnya emang keren sih.
Gue pun juga terbawa romantika “pacaran jaman doeloe”
dimana ketika mereka pacaran pasti ada bumbu “malu malu kucing”nya. Pas banget
diceritakan dalam film ini. Dan sebagai orang yang lagi pengen melankolis, gue
terbawa suasana. Iri, merasakan sepasang kekasih didunia ini yang bisa saling
mengkhawatirkan pasangannya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Iya, kalian gak
salah baca kok. “saling mengkhawatirkan”. Masih aneh ya bagi beberapa dari
kalian? Santai aja. Gue sangat mengagumi romantika dimana dua manusia yang
memadu kasih ini nggak cuman mikirin tentang bahagianya mereka sendiri. Tapi mikirin
bahagianya kekasihnya.
Di film ini pun, menceritakan dengan sangat jelas
bagaimana mereka berdua ini begitu mengakhawatirkan satu dengan yang lainnnya. Yang
paling nyentuh adalah ketika bu Ainun (Bunga Citra Lestari) sakit keras dan
harus dirawat intensive di Jerman. Sampai sampai segala kabel alat alat
tercanggihpun menancap dan mengitari dirinya. Habibie pun datang. Dan kamu tau
apa yang ditanyakan bu Ainun? “Sudah minum obatnya belum?”. Disaat sakit yang
sebegitu parah pun, bu Ainun masih ajaa inget dan khawatir akan kesehatan pak
Habibie. Dan gue tau ini valid, karena penggarapan film ini diawasi oleh pak
Habibie sendiri dalam pembuatannya.
Itu
sih memang “saling sayang”, bukan “saling mengkhawatirkan”. Ya gapapa, gue
cuman berusaha menggunakan bahasa yang beda aja. Kalian komentar pun, gue gak
peduli.
Sebagai orang yang pernah pacaran dan merasakan
lumpuhnya logika saat jatuh cinta gue mengerti. Gue pun merasakan. Dimana saat
awal awal jadian, pasti kita bisa saling klop, saling mengisi dan memahami,
saling mendahulukan pasangannya. Namun, setelah beberapa waktu yang nggak sebentar,
bumbu pertengkaran dan masalah ketidakcocokan akan mulai tumbuh. Tapi itu
biasa. Itu hal yang wajar.
Ada kultwit yang gue baca waktu pas iseng. Punyanya bang
Raditya Dika kalo gak salah. Gini, “berantem adalah bumbu dalam pacaran. Tapi,
makanan kayak gimanapun pasti gak bakal enak kalo kebanyakan bumbu”. Kurang lebih
begitu intinya.
Gue menyebut film Habibie Ainun ini adalah “Romeo and
Juliet”nya Indonesia. Tapi, mungkin gue salah. Karena kisah cinta ini lebih
murni, suci, dan sejati daripada cerita Romeo and Juliet. For me, it’s beyond it.
Film ini juga kasih sekmen untuk memotivasi rasa
nasionalisme.
Ceritanya sewaktu pak Habibie udah mau pensiun dari
segala kegiatannya dari kepemerintahan, beliau menggunjungi IPTN Bandung yang
menjadi tempat Hanggar pembuatan pesawat terbang kala pak Habibie sebagai
menterinya. Beliau membuka pintu hangar itu sedikit hingga cukup untuk dirinya
sendiri masuk. Dan didepannya, ada satu pesawat terbang yang tegak terbengkalai
waktu itu. Terlihat tua dan tak terawat disana sini. Tulisan “Krincingangin”
dan N250 terpampang dibadan pesawat. Beliau pun berjalan pelan menghampiri “janji”nya
itu pada bu Ainun. Disentuhnya badan pesawat itu dan diputarnya baling baling
besar disampingnya. Bu Ainun pun masuk dan melihat suaminya dalam keadaan sendu
dan sedih. “Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak
pernah percaya”, kata pak Habibie menggelgar dihadapan Sang Gula Pasir. Dan akhirnya,
beliau pun menangis dalam pelukan bu Habibie.
Disaat yang sama, gue meneteskan air mata. Ya.
Bagaimana bisa, kita sebagai bangsa yang katanya HEBAT
ini malah menyianyiakan putra terbaiknya?
Kadang gue berfikir, apa memang benar kita ini sudah
pantas disebut sebagai sebuah bangsa? Menjadi sebuah negara? Padahal membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk pun kita sepertinya belum mampu.
Gue nangis. Sebagai warga negara, yang menduduki tanah
yang sekarang kita sebut sebagai sebuah negara INDONESIA, gue merasa bersalah,
berdosa, dan bingung.
GUE INI UDAH NGAPAIN AJA UNTUK NEGARA GUE?!!
WHAT
I CAN TO DO IS JUST MAKE ANOTHER PROBLEM FOR IT! NOT EVEN I CAN FIX IT FOR
ONCE!
Bayangin deh, kamu tu tinggal dirumah tetanggamu. Udah
untuk dipersilakan tinggal, kamu malah bikin masalah dirumahnya dan gak bisa
selesaiin masalah yang kamu bikin sendiri.
Malu gak?
Kalo loe gak malu, loe tu manusia paling bajingan yang
lahir didunia.
Entah apa yang kalian fikirkan, entah kerusakan macam
apa yang terjadi dengan otak kalian, hingga kalian gak mampu untuk peka pada
hal yang sesepele itu.
Gue saranin, loe tobat. Introspeksi diri.
Dan akhirnya gue menemukan jawaban. Dan jawaban ini
gue dapet dari pidatonya Severn Suzuki. Gak tau siapa dia? Google it!
Dia bilang, “ jika kalian gak mampu untuk
memperbaikinya. Maka, aku mohon berhenti untuk merusaknya”.
As simple as that.
**************************************************************************
To
be continued ….
