Tuesday, January 14

Perjalanan Hati (Part 1)

0 comments
Ijinkan saya membuka tulisan ini dengan mengatakan “nulis makalah itu lebih susah dari pada nulis blog”.

Ceritanya gue ini lagi menjalani minggu tenang terhitung sejak tanggal 11 Januari kemarin. Yaa walapun ada jadwal kuliah sih. Ilmu Negara jam 3 sore dihari yang sama, tapi gue memilih untuk pulang ke Ponorogo hari Jumatnya. Gue memilih untuk Turun Tangan ikut acara bakti sosial yang diadakan oleh Forum for Indonesia (FFI) di SMP 3 Sawoo. Lalu dihari hari berikutnya, gue ada dirumah tercinta di Jalan Anggrek GG 1 no 9 Ponorogo. Gue juga udah ketemu sobat lama gue, Ristiyanti Hayu Pertiwi yang merantau di Jakarta, Universitas Indonesia tepatnya. Serta, ngerjain juga tugas makalah Antropologi dan besok bakal nulis makalah untuk Pengantar Hukum Islam. Yah, kita lihat saja besok.

Tapi bukan itu yang pengen gue bahas kali ini. Bahasan gue kali ini adalah peristiwa yang terjadi malam ini. Gue mengalami perjalanan hati. Gue dipaksa untuk me-rewind memori gue akan cita cita gue yang udah mulai gue tinggalkan. Become a doctor.

Diawali dengan rasa rindu akan acting dari Reza Rahardian dalam membawakan tokoh BJ Habibie. Gue nonton film Habibie Ainun di laptop gue dibarengi dengan update kultwit (cool twit) di twitter. Lumayan caper gitu deh ceritanya. Dan mumpung bisa pakek WiFi sepuasnya. Alhamdulillah.

Banyak memorable moment dari film itu yang dialognya gue jadikan kultwit dan gue fav sendiri. Soalnya emang keren sih.

Gue pun juga terbawa romantika “pacaran jaman doeloe” dimana ketika mereka pacaran pasti ada bumbu “malu malu kucing”nya. Pas banget diceritakan dalam film ini. Dan sebagai orang yang lagi pengen melankolis, gue terbawa suasana. Iri, merasakan sepasang kekasih didunia ini yang bisa saling mengkhawatirkan pasangannya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Iya, kalian gak salah baca kok. “saling mengkhawatirkan”. Masih aneh ya bagi beberapa dari kalian? Santai aja. Gue sangat mengagumi romantika dimana dua manusia yang memadu kasih ini nggak cuman mikirin tentang bahagianya mereka sendiri. Tapi mikirin bahagianya kekasihnya.

Di film ini pun, menceritakan dengan sangat jelas bagaimana mereka berdua ini begitu mengakhawatirkan satu dengan yang lainnnya. Yang paling nyentuh adalah ketika bu Ainun (Bunga Citra Lestari) sakit keras dan harus dirawat intensive di Jerman. Sampai sampai segala kabel alat alat tercanggihpun menancap dan mengitari dirinya. Habibie pun datang. Dan kamu tau apa yang ditanyakan bu Ainun? “Sudah minum obatnya belum?”. Disaat sakit yang sebegitu parah pun, bu Ainun masih ajaa inget dan khawatir akan kesehatan pak Habibie. Dan gue tau ini valid, karena penggarapan film ini diawasi oleh pak Habibie sendiri dalam pembuatannya.

Itu sih memang “saling sayang”, bukan “saling mengkhawatirkan”. Ya gapapa, gue cuman berusaha menggunakan bahasa yang beda aja. Kalian komentar pun, gue gak peduli.

Sebagai orang yang pernah pacaran dan merasakan lumpuhnya logika saat jatuh cinta gue mengerti. Gue pun merasakan. Dimana saat awal awal jadian, pasti kita bisa saling klop, saling mengisi dan memahami, saling mendahulukan pasangannya. Namun, setelah beberapa waktu yang nggak sebentar, bumbu pertengkaran dan masalah ketidakcocokan akan mulai tumbuh. Tapi itu biasa. Itu hal yang wajar.

Ada kultwit yang gue baca waktu pas iseng. Punyanya bang Raditya Dika kalo gak salah. Gini, “berantem adalah bumbu dalam pacaran. Tapi, makanan kayak gimanapun pasti gak bakal enak kalo kebanyakan bumbu”. Kurang lebih begitu intinya.

Gue menyebut film Habibie Ainun ini adalah “Romeo and Juliet”nya Indonesia. Tapi, mungkin gue salah. Karena kisah cinta ini lebih murni, suci, dan sejati daripada cerita Romeo and Juliet. For me, it’s beyond it.

Film ini juga kasih sekmen untuk memotivasi rasa nasionalisme.

Ceritanya sewaktu pak Habibie udah mau pensiun dari segala kegiatannya dari kepemerintahan, beliau menggunjungi IPTN Bandung yang menjadi tempat Hanggar pembuatan pesawat terbang kala pak Habibie sebagai menterinya. Beliau membuka pintu hangar itu sedikit hingga cukup untuk dirinya sendiri masuk. Dan didepannya, ada satu pesawat terbang yang tegak terbengkalai waktu itu. Terlihat tua dan tak terawat disana sini. Tulisan “Krincingangin” dan N250 terpampang dibadan pesawat. Beliau pun berjalan pelan menghampiri “janji”nya itu pada bu Ainun. Disentuhnya badan pesawat itu dan diputarnya baling baling besar disampingnya. Bu Ainun pun masuk dan melihat suaminya dalam keadaan sendu dan sedih. “Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak pernah percaya”, kata pak Habibie menggelgar dihadapan Sang Gula Pasir. Dan akhirnya, beliau pun menangis dalam pelukan bu Habibie.

Disaat yang sama, gue meneteskan air mata. Ya.

Bagaimana bisa, kita sebagai bangsa yang katanya HEBAT ini malah menyianyiakan putra terbaiknya?

Kadang gue berfikir, apa memang benar kita ini sudah pantas disebut sebagai sebuah bangsa? Menjadi sebuah negara? Padahal membedakan mana yang baik dan mana yang buruk pun kita sepertinya belum mampu.

Gue nangis. Sebagai warga negara, yang menduduki tanah yang sekarang kita sebut sebagai sebuah negara INDONESIA, gue merasa bersalah, berdosa, dan bingung.

GUE INI UDAH NGAPAIN AJA UNTUK NEGARA GUE?!!

WHAT I CAN TO DO IS JUST MAKE ANOTHER PROBLEM FOR IT! NOT EVEN I CAN FIX IT FOR ONCE!

Bayangin deh, kamu tu tinggal dirumah tetanggamu. Udah untuk dipersilakan tinggal, kamu malah bikin masalah dirumahnya dan gak bisa selesaiin masalah yang kamu bikin sendiri.

Malu gak?

Kalo loe gak malu, loe tu manusia paling bajingan yang lahir didunia.

Entah apa yang kalian fikirkan, entah kerusakan macam apa yang terjadi dengan otak kalian, hingga kalian gak mampu untuk peka pada hal yang sesepele itu.

Gue saranin, loe tobat. Introspeksi diri.

Dan akhirnya gue menemukan jawaban. Dan jawaban ini gue dapet dari pidatonya Severn Suzuki. Gak tau siapa dia? Google it!

Dia bilang, “ jika kalian gak mampu untuk memperbaikinya. Maka, aku mohon berhenti untuk merusaknya”.

As simple as that.

**************************************************************************

To be continued ….

Leave a Reply