Tuesday, January 14

to become ..... (part 2 - END)

0 comments
Hmmm..

Ngomongin tentang sakit. Bokap gue barusan opname masuk rumah sakit. Masuk ICCU tepatnya.

Gak tahu sih kenapa kok tiba tiba banget bisa masuk ICCU gitu, padahal baru tadi paginya temen temen bokap pada mampir kerumah. Yaa walaupun sebelumnya beliau memang mengeluh dada bagian kirinya nyeri sih, yaa kami kira itu adalah masuk angin biasa. Dan setelah di bekam, hitam banget memang.

Jam setengah 6, ketika gue masih nonton Habibie Ainun dan lagi dalam keadaan yang emosional banget. Bokap Nyokap pamit ke rumah sakit untuk periksa. Lamaa kok belum pulang juga sampai jam setengah 7, nyokap telfon kalo bokap jadinya opname.

Gue pun diminta untuk juga ikut jenguk setelah Isya’ sama adek gue, Ajeng.

Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama gue gak pernah masuk rumah sakit lagi. Lamaaa banget. Bahkan lebih lama daripada gue memulai untuk mengubur mimpi gue untuk menjadi seorang dokter.

Dan disini. Ya, disini semua itu dimulai. Perjalanan rewind.

Bokap dirawat di RS Aisyah Diponegoro. Awalnya beliau datang ke RS Aisyah tapi karena dokternya lagi gak ada, jadinya disuruh periksa disana RSAD.

Gue pun masuk dari pintu depan yang dibagi jadi 2. Pintu yang satu adalah untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan pintu yang lain adalah untuk para pengunjung dan penjenguk orang orang yang sakit disana.

Masuk disana, ada lorong yang berbelok. Tepat setelah lorong itu ada “ruangan tengah” dimana para penjenguk lain berkumpul untuk bersantai menonton TV. Lebih masuk lagi, barulah gue bertemu dengan ruangan ruangan tempat para orang orang yang diopname. Blok ruangan pertama bisa dibilang besar. Kurang lebih ada 6 ruangan yang dalam setiap ruang itu dihuni oleh 3 atau 4 pasien yang opname. Para sanak kerabat yang menjenguk pun berceceran diemperan ruangan untuk sekedar duduk karena penuh. Memang saat itu sedang ada beberapa renovasi. Disana, gue melihat wajah wajah dengan nuansa yang berbeda. Ada yang masih lesu, ada yang baru bisa menggerakkan sedikit anggota badannya, ada yang sudah bisa ngobrol dengan lancar, dan sebagainya.

Ya, mereka inilah dulu yang menjadi motivasi gue untuk menjadi dokter. Fakta bahwa masih banyak orang yang harus ditolong oleh seorang dokter-lah yang membuat gue tetap kukuh ingin menjadi dokter. Dan jika melihat keadaanku sekarang, ada rasa sakit. Seperti, luka yang dibalut agar tidak disentuh dan menunggu untuk ia sembuh, namun dibuka ketika masih dalam masa penyembuhan.

Kalian yang mengerti pasti mengerti, dan kalian yang tidak mengerti pasti juga tidak mengerti.

Masuk lagi ketempat yang lebih kecil dari sebelumnya, terdengar suara bayi yang menangis disalah satu ruangan yang lebih kecil namun dihuni oleh maksimal 2 pasien opname. Pintunya tertutup, gue gak tau gimana keadaan mereka didalam sana. Mungkin itu adalah salah satu adek kecil yang kena sakit yang belum seharusnya diusianya yang masih balita.

Dan ruang ICCU, ada dilantai atas. Jalan menuju lantai atas bukanlah tangga pada umumnya, melainkan jalan yang landai. Jalan yang digunakan agar memudahkan untuk mengantar pasien turun dari lantai atas ke lantai bawah dengan menggunakan kursi roda maupun ranjang yang beroda yang biasa kita lihat. Ruang ICCU itu ada disalah satu pojok diareal lantai 2 itu. Disana ternyata ada kerabat dari orang yang masuk ICCU juga. Mereka duduk lesehan dengan alas tikar didepan ruang ICCU sambil berbincang bincang dalam bahasa Jawa yang lebih sopan. Bahasa yang biasa digunakan anak muda untuk berbicara dengan orang yang lebih tua.

Nyokap gue disana duduk disalah satu tempat duduk yang berjejer. Beliau berdiri ketika melihat gue datang bersama adik gue dan tetangga gue.

Duduk ditempat yang sama, gue pun berusaha mencari tahu kenapa bisa bokap sampai harus masuk ICCU. Jawabannya masih hanya sekedar bokap kecapaian.

Nyokap pun niatannya mau pulang dulu untuk mandi dan shalat, gue pun dimintai untuk menunggu disana kalau ada apa apa, kalau dipanggil oleh suster. Dan gue pun mengiyakan.

Nyokap pun akhinya meninggalkan ruangan tunggu itu, sekarang tinggal gue berdua dengan adik gue. Tak lama berselang, suster pun keluar “maaf, dengan keluarga bapak Pujo?” tanyannya dari depan pintu. Gue berdiri, “iya, saya mbak”. “Ibunya kemana?” tanya suster itu sambil menyapu pandangan keruang tunggu itu mencari nyokap gue. “tadi pulang sebentar mbak. Mandi. Trus nanti mbalik  kesini kok”. “masnya ini putranya?”, gue mengiyakan. Dan akhirnya gue disuruh masuk ruang itu.

Itu adalah pertama kalinya dalam sejarah 18 tahun gue hidup, untuk masuk keruang itu. Dan gue gak pernah membayangkan kalau akan masuk keruang “special” itu sekarang. Didalam ruang ICCU itu, tersedia 4 tempat tidur dengan segala macam peralatannya. Dan juga, kabel kabel. Yang sama dengan yang gue lihat sewaktu nonton film Habibie Ainun. Dihadapan tempat tidur itu ada 2 meja bekerja para suster, dokter ataupun penjaga ruang itu. gue pun dipersilakan duduk. Suster ini mengawali penjelasan dengan menjelaskan tentang peraturan di ICCU. Beda peraturannya adalah pada jadwal berkunjung penjenguk. Dimana jadwal untuk penjenguk sangat dibatasi ketat. Hanya boleh sewaktu jam 6-7 pagi, 11-12 siang, dan 17-18 sore.

Tiba tiba nyokap masuk. Gue nggak tahu apakah beliau udah pulang dan sesegera mungkin kembali ataupun malah belum sempat pulang. Gue pun akhirnya mendengarkan penjelasan bareng nyokap. Lalu, kami diminta untuk menanda tangani surat yang berkaitan dengan penanganan emergency. Penanganan ini dilakukan apabila pasien mengalami keadaan emergency atau darurat dan harus diberikan pertolongan cepat, tanggap, dan tepat. Seperti kejut jantung, penggunaan pipa nafas dan lainnya. Kami pun setuju saja.

Penjelasan penjelasan selanjutnya gue pun kurang mengikuti lagi karena udah ada nyokap. Gue pun melakukan hal lain.

Gue memandangi kesetiap senti ruangan itu dengan detil. Gue memandangi segala peralatan yang buat gue keren banget. gue memandang kearah belakang suster yang sedang menjelaskan peraturan ke nyokap yang mana ternyata disana ada ruangan lagi. Ruangan itu berisikan 4 tempat tidur juga yang digunakan untuk pasien ICCU. Namun saat itu hanya ada 3 pasien termasuk bokap. Gue memandang kesalah satu dinding yang disana ada stetoskop yang digantung. Gue memandang kesalah satu lemari yang isinya dipenuhi oleh infus infus dan obat obat lain yang gue gak ngerti untuk apa. Dan pandangan gue berakhir pada salah satu ruangan yang disana berjejer lemari tempat “kantor” bagi para dokter-suster ini menyimpan segala berkas.

Terakhir dari yang terakhir, pandangan gue kembali pada wanita yang menjelaskan peraturan dan hal penting tentang ICCU. Saat ini, gue sangat mengagumi beliau. Gue gak peduli darimana dulu dia kuliah. Yang aku lihat sekarang ini adalah seorang dokter yang menjalankan tugasnya untuk menolong orang yang sungguh membutuhkan pertolongannya.

Gue melihat beliau sebagai diriku yang mencapai mimpinya. Aku melihat beliau sebagai diriku yang mampu menjadi seorang dokter. Aku melihat, aku yang memenuhi impianku sebagai dokter.

Tapi….

Setelah melihat kekondisi saat ini? Don’t say a word.

Sekuat tenaga, gue menahan air mata ini. Sekuat tenaga, gue berusaha ikhlas akan kenangan ketika gue berusaha memperjuangkan impian gue.

Sekuat tenaga, gue harus menerima “gue” yang sekarang adalah bukan “impian gue”.

Sekuat tenaga, gue harus menerima bahwa, gue bukanlah calon Dokter.

Ketika keluar dari ruangan itu, gue sedih. Terasa sekali akan pecah kepala gue kalau gue terus memaksakan untuk tidak mengeluarkannya.

Sendiri, gue berusaha menenangkan diri. Sendiri, gue menghadapi rasa luka yang belum sembuh ini.


Sendiri, gue meneteskan air mata.

Gue pun juga gak mau adek dan nyokap gue tau kalo gue nangis. Memang, kelihatan sangat cengeng.

But you guys, just don’t know anything. And I don’t care about what you thought.

It’s just so …. hurt.

More than anything.

......

Haha. Mata gue pun berkaca kaca nulis ini. Nggak tau kenapa. Sedih aja rasanya.

Dan hingga saat ini gue masih belum mengerti kenapa Tuhan mempertemukan gue dengan moment ini.

Yang ada, muncul satu niatan yang baru.

Kalaupun aku gak bisa jadi dokter untuk hal medis ini. Masih ada kesempatan buat aku untuk jadi “dokter” dibidang kejiwaan.

To become …



 a Psychiatrist




“ … engkau melihat kecermin. Berharap pantulan cermin itu memantulkan hal yg lebih baik dari dirimu.
Padahal dirimu, adalah dirimu … “
Continue reading →

Perjalanan Hati (Part 1)

0 comments
Ijinkan saya membuka tulisan ini dengan mengatakan “nulis makalah itu lebih susah dari pada nulis blog”.

Ceritanya gue ini lagi menjalani minggu tenang terhitung sejak tanggal 11 Januari kemarin. Yaa walapun ada jadwal kuliah sih. Ilmu Negara jam 3 sore dihari yang sama, tapi gue memilih untuk pulang ke Ponorogo hari Jumatnya. Gue memilih untuk Turun Tangan ikut acara bakti sosial yang diadakan oleh Forum for Indonesia (FFI) di SMP 3 Sawoo. Lalu dihari hari berikutnya, gue ada dirumah tercinta di Jalan Anggrek GG 1 no 9 Ponorogo. Gue juga udah ketemu sobat lama gue, Ristiyanti Hayu Pertiwi yang merantau di Jakarta, Universitas Indonesia tepatnya. Serta, ngerjain juga tugas makalah Antropologi dan besok bakal nulis makalah untuk Pengantar Hukum Islam. Yah, kita lihat saja besok.

Tapi bukan itu yang pengen gue bahas kali ini. Bahasan gue kali ini adalah peristiwa yang terjadi malam ini. Gue mengalami perjalanan hati. Gue dipaksa untuk me-rewind memori gue akan cita cita gue yang udah mulai gue tinggalkan. Become a doctor.

Diawali dengan rasa rindu akan acting dari Reza Rahardian dalam membawakan tokoh BJ Habibie. Gue nonton film Habibie Ainun di laptop gue dibarengi dengan update kultwit (cool twit) di twitter. Lumayan caper gitu deh ceritanya. Dan mumpung bisa pakek WiFi sepuasnya. Alhamdulillah.

Banyak memorable moment dari film itu yang dialognya gue jadikan kultwit dan gue fav sendiri. Soalnya emang keren sih.

Gue pun juga terbawa romantika “pacaran jaman doeloe” dimana ketika mereka pacaran pasti ada bumbu “malu malu kucing”nya. Pas banget diceritakan dalam film ini. Dan sebagai orang yang lagi pengen melankolis, gue terbawa suasana. Iri, merasakan sepasang kekasih didunia ini yang bisa saling mengkhawatirkan pasangannya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Iya, kalian gak salah baca kok. “saling mengkhawatirkan”. Masih aneh ya bagi beberapa dari kalian? Santai aja. Gue sangat mengagumi romantika dimana dua manusia yang memadu kasih ini nggak cuman mikirin tentang bahagianya mereka sendiri. Tapi mikirin bahagianya kekasihnya.

Di film ini pun, menceritakan dengan sangat jelas bagaimana mereka berdua ini begitu mengakhawatirkan satu dengan yang lainnnya. Yang paling nyentuh adalah ketika bu Ainun (Bunga Citra Lestari) sakit keras dan harus dirawat intensive di Jerman. Sampai sampai segala kabel alat alat tercanggihpun menancap dan mengitari dirinya. Habibie pun datang. Dan kamu tau apa yang ditanyakan bu Ainun? “Sudah minum obatnya belum?”. Disaat sakit yang sebegitu parah pun, bu Ainun masih ajaa inget dan khawatir akan kesehatan pak Habibie. Dan gue tau ini valid, karena penggarapan film ini diawasi oleh pak Habibie sendiri dalam pembuatannya.

Itu sih memang “saling sayang”, bukan “saling mengkhawatirkan”. Ya gapapa, gue cuman berusaha menggunakan bahasa yang beda aja. Kalian komentar pun, gue gak peduli.

Sebagai orang yang pernah pacaran dan merasakan lumpuhnya logika saat jatuh cinta gue mengerti. Gue pun merasakan. Dimana saat awal awal jadian, pasti kita bisa saling klop, saling mengisi dan memahami, saling mendahulukan pasangannya. Namun, setelah beberapa waktu yang nggak sebentar, bumbu pertengkaran dan masalah ketidakcocokan akan mulai tumbuh. Tapi itu biasa. Itu hal yang wajar.

Ada kultwit yang gue baca waktu pas iseng. Punyanya bang Raditya Dika kalo gak salah. Gini, “berantem adalah bumbu dalam pacaran. Tapi, makanan kayak gimanapun pasti gak bakal enak kalo kebanyakan bumbu”. Kurang lebih begitu intinya.

Gue menyebut film Habibie Ainun ini adalah “Romeo and Juliet”nya Indonesia. Tapi, mungkin gue salah. Karena kisah cinta ini lebih murni, suci, dan sejati daripada cerita Romeo and Juliet. For me, it’s beyond it.

Film ini juga kasih sekmen untuk memotivasi rasa nasionalisme.

Ceritanya sewaktu pak Habibie udah mau pensiun dari segala kegiatannya dari kepemerintahan, beliau menggunjungi IPTN Bandung yang menjadi tempat Hanggar pembuatan pesawat terbang kala pak Habibie sebagai menterinya. Beliau membuka pintu hangar itu sedikit hingga cukup untuk dirinya sendiri masuk. Dan didepannya, ada satu pesawat terbang yang tegak terbengkalai waktu itu. Terlihat tua dan tak terawat disana sini. Tulisan “Krincingangin” dan N250 terpampang dibadan pesawat. Beliau pun berjalan pelan menghampiri “janji”nya itu pada bu Ainun. Disentuhnya badan pesawat itu dan diputarnya baling baling besar disampingnya. Bu Ainun pun masuk dan melihat suaminya dalam keadaan sendu dan sedih. “Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak pernah percaya”, kata pak Habibie menggelgar dihadapan Sang Gula Pasir. Dan akhirnya, beliau pun menangis dalam pelukan bu Habibie.

Disaat yang sama, gue meneteskan air mata. Ya.

Bagaimana bisa, kita sebagai bangsa yang katanya HEBAT ini malah menyianyiakan putra terbaiknya?

Kadang gue berfikir, apa memang benar kita ini sudah pantas disebut sebagai sebuah bangsa? Menjadi sebuah negara? Padahal membedakan mana yang baik dan mana yang buruk pun kita sepertinya belum mampu.

Gue nangis. Sebagai warga negara, yang menduduki tanah yang sekarang kita sebut sebagai sebuah negara INDONESIA, gue merasa bersalah, berdosa, dan bingung.

GUE INI UDAH NGAPAIN AJA UNTUK NEGARA GUE?!!

WHAT I CAN TO DO IS JUST MAKE ANOTHER PROBLEM FOR IT! NOT EVEN I CAN FIX IT FOR ONCE!

Bayangin deh, kamu tu tinggal dirumah tetanggamu. Udah untuk dipersilakan tinggal, kamu malah bikin masalah dirumahnya dan gak bisa selesaiin masalah yang kamu bikin sendiri.

Malu gak?

Kalo loe gak malu, loe tu manusia paling bajingan yang lahir didunia.

Entah apa yang kalian fikirkan, entah kerusakan macam apa yang terjadi dengan otak kalian, hingga kalian gak mampu untuk peka pada hal yang sesepele itu.

Gue saranin, loe tobat. Introspeksi diri.

Dan akhirnya gue menemukan jawaban. Dan jawaban ini gue dapet dari pidatonya Severn Suzuki. Gak tau siapa dia? Google it!

Dia bilang, “ jika kalian gak mampu untuk memperbaikinya. Maka, aku mohon berhenti untuk merusaknya”.

As simple as that.

**************************************************************************

To be continued ….
Continue reading →
Tuesday, January 7

Aku Pilih yang Mana?

5 comments
Setelah sekian lama keinginan itu hanya sebatas angan, barusan gue telah memenuhinya. I just already Tarot myself

Jadi begini.

Ketika SMA dulu gue juga mengalami apa yang adek adek SMA sekarang alami, yaitu bingungnya memilih jurusan. Namun, keinginan untuk menjadi Dokter sudah bercokol pada urutan paling atas dalam prioritas gue hingga akhirnya gue mulai menyadari ketidaksesuaian antara usaha gue dengan apa yang gue harapkan. Alhasil, gue harus melepaskan impian gue untuk jadi Dokter.

Tetapi dalam perjalanan sebelum gue melepas impian itu, Tuhan seperti memberikan tanda tanda dimanakah kemampuan dan passion gue yang lain. Waktu itu gue diperkenalkan dengan kartu Tarot oleh teman gue, Estina Intan. Dari SMP, gue udah suka banget dengan kemampuan yang berkaitan dengan metafisika seperti tarot, hipnotis, membaca pikiran orang, membaca karakter orang dari mukanya, membaca kepribadian seseorang dari tulisan tangannya, dan lain lain. Kesukaan dan minat ini juga didukung dengan koleksi buku buku yang gue punya yang berkaitan dengan hal yang aku sebutkan tadi.

Dan ketika akhirnya gue bertemu dengan tarot, gue tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mampu membaca tarot dan membantu teman teman gue yang lain. Iya, jadi sewaktu SMA dulu, ketika sedang bingung bingungnya “aku mau kuliah dimana?” mereka pun berdatangan ke gue untuk konsultasi yang berkaitan dengan pilihan mereka. Nah, dari sinilah gue merasa bahwa inilah yang harus gue lakukan dalam hidup gue, become a consultant. Tapi konsultan yang berkaitan dengan masalah kehidupan sosial bukan yang berkaitan dengan hukum.

Dan karena hal itulah, gue memasukkan Psikologi sebagai salah satu pilihan gue. tetapi saat itu, gue masih belum begitu tersadar akan kemampuan gue ini. Gue gak pernah berpikir terlalu jauh akan karir kedepannya. Dan pada saat yang bersamaan gue juga masih idealis masuk FK.

Terus berjalannya waktu, akhirnya pilihan Psikologi ini gue sisihkan. Orang tua gue lebih menyarankan masuk jurusan Hukum yang sebenarnya dulu gue benci. Iya, benci. Namun, karena gue sadar akan kondisi yang gue tau gue gak akan masuk FK, gue mulai membuka hati untuk Hukum dan akhirnya rasa benci itu perlahan memudar berganti dengan rasa keterbukaan.

Menurut tes IQ yang pernah gue ikuti, otak gue adalah tipikal otak IPS. Lebih cocok untuk memikirkan hal hal yang bersifat abstrak daripada ilmu pasti (atau dalam bahasa Jawa-nya ilmu saklek). Dan memang, gue lebih menikmati berpikir tentang hal seperti itu. Cara berpikir orang IPS harus luas, bukan terlalu memperhatikan sesuatu secara spesifik/ detail. Ditandai dengan gue yang memang kurang teliti.

Semenjak semakin terbukanya gue ke Hukum, gue juga lebih tertarik memperhatikan masalah masalah yang berkaitan dengan hukum yang ada di Indonesia. Dan Psikologi itu semakin memudar yang akhirnya gak pernah gue pikirkan. Salah satu faktor yang semakin membuatnya hilang adalah gue terus menerus di cekoki agar masuk hukum. Indoktrinisasi. Dan ditulari pikiran bahwa “Psikologi itu bisa dipelajari tanpa harus kuliah”.

Dan ternyata sekarang, bagi gue itu salah. Masalah ini lebih rumit daripada “psikologi tu bisa dipelajari sendiri”. Ini lebih dari itu. Jikalaupun memang bisa dipelajari sendiri, maka hasilnya pasti akan lebih maksimal jika dipelajari secara lebih intens dan mendalam. Lalu kita akan bertemu dengan orang orang yang seperjuangan dalam mempelajari Psikologi ini, yang pastinya akan menambah motivasi tersendiri. Dan juga, walaupun ini sepele ini juga penting, ini berkaitan dengan passion kita. Harga diri kita dan sesuatu yang kita letakkan sebagai symbol harga diri kita.

Maksud dari meletakkan symbol harga diri tu, misalnya gini…

Orang kaya, tajir, dan berduit yang imannya kurang baik dan kurang bijak akan meletakan “harga diri” mereka pada segala sesuatu yang berkaitan dengan materialistis. Mungkin baju baru mahal yang bermerk, mobil mahal bernilai milyaran rupiah, perhiasan mengkilat, dan sebagainya. Mereka akan marah ketika barang yang mereka pakai “kurang mahal” dan “kalah mahal” dengan teman atau saingan mereka yang satu golongan

Berbeda dengan orang dari kalangan intelektual dan akademisi. Golongan ini meletakkan “harga diri” mereka pada ilmu pengetahuan. Misalnya mereka pasti memiliki buku buku yang sangat bagus dan isinya berbobot. Dan mereka pasti akan marah ketika ada seseorang yang meminjam buku itu dan merusaknya.

Nah gue, meletakkan harga diri gue akan kemampuan psikologi yang gue punya dibandingkan dengan motor, mobil, perhiasan, atau TV dirumah. Gue bakal malu kalo gagal menangani klien yang membutuhkan saran akan kehidupannya daripada gue gak sanggup beli mobil Ferari seharga miliaran itu.

Itulah salah satu contoh peletakan symbol harga diri.

******

Dan gue akan cerita tentang hasil tarot gue barusan.

Dimulai dengan mengocok kartu tarot sebanyak huruf nama kita. Dan total banyak huruf dinama lengkap gue ada 33. Banyak sekali, memang.

Gue mulai dengan pertanyaan. “apa yang keadaan hidup yang terjadi jika gue harus terus fokus ke Hukum tanpa peduli yang lain ATAU gue harus mencoba berjuang untuk pindah ke Psikologi UGM”

Gue pun mengambil masing masing kartu yang menjadi intepretasi dari pernyataan masing masing tadi. 1 kartu mewakili ke “fokus ke  Hukum” 1 kartu lagi mewakili ke “mencoba ke Psikologi”.

Dan hasilnya adalah : ketika gue mencoba untuk terus di Hukum, maka akan ada kondisi dimana gue gak akan enjoy  dan menikmati studi disana. Memang bener sih pilihan masuk ke Hukum adalah hasil dari ikutnya gue akan nasihat orang tua gue, tapi akan ada kondisi dimana sebetulnya gue ini gak nyaman disana. Bukan passion utama gue.  Dan ada ketakutan disana (The Heirophant) (muncul terbalik). Dan untuk pilihan ke Psikologi, gue akan memasuki babak baru yang akan mengalami peningkatan. Menunjukkan juga kalau ada proses kemajuan yang dibuat dan akan menemukan ketenangan dan keharmonisan. (Eight of Wand).

Pertanyaan kedua : “untuk bisa dapet masuk Psikolog, apakah gue harus menyeimbangkan antara kuliah Hukum dan pulang terus belajar untuk materi SBMPTN ATAU harus langsung fokus bimbel untuk SBMPTN dan meninggalkan Hukum?”

Dan hasilnya : kalau gue mencoba membagi kuliah dengan belajar maka gua akan masuk pada kondisi yang sangat nggak nyaman bagi gue. kondisi dimana gue mungkin akan sangat tertekan dan terjadi perseteruan kehendak prioritas. Antar kuliah atau belajar. Tapi jika gue mau berusaha, maka kendala itu cuman sementara ( Three of Sword). Dan jikalau fokus, maka gue akan mendapatkan kepuasan dan pencapaian. Namun dibalik pencapaian itu ada sedikit perasaan yang mengganggu. Mungkin seperti beban mental yang gue tanggung. Seperti rasa bersalah gue karena habisin uang lebih banyak untuk bimbel segala macem dan berhenti dari kuliah Hukum. (Queen of Pentacles)

Pertanyaan terakhir : “bagaimanakah keadaan kalau gue belajar di bimbel (ikutin saran dari sobat gue, M Riski Pratama) atau belajar sendiri?”

Hasilnya : jika gue ikut bimbel, maka akan menjadi pilihan yang mantap. Gue akan lebih bertanggung jawab dan konsekuen serta dapat diandalkan untuk memanfaatkan dengan baik bimbel ini ( Knight of Pentacles). Dan jika gue belajar sendirian, maka gue akan kehilangan sesuatu yang amat berharga. Mungkin kalau gue belajar sendiri hasilnya akan gak maksimal dan akhirnya gue akan gagal di ujian SBMPTN. ( Ace of Sword) (muncul terbalik).

Nah itulah dia, Bung.

Tapi tetep, tidak ada yang lebih berkuasa selain Allah. Gunakan hasil tarot ini untuk bahan pertimbangan matang matang. Dan jika pilihan sudah ditentukan, maka kita sudah harus siap dengan segala konsekuensinya.

Siap menang harus juga siap kalah :)
Continue reading →
Saturday, January 4

Tahun Baru, SUCKS

0 comments
Selamat pagii~

Salam sejahtera bagi kita semua. Apa kabarnya? Baik? Masa’ cuman baik doang? Mulai sekarang, kalo ditanya apa kabarnya jawabnya “SUPER!” gitu ya.. Hehehe :D

Sebelum memulai segalanya, saya (gue) Dimas Mahardika A.D.S selaku pemilik tunggal dari blog ini ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014 yaa..

Memang ini sangaat terlambat karena gue baru ngucapin tanggal 5 ini. Alasannya gak asik banget, karena gue lagi belum keluar mood untuk nulis. Hati dan pikiran sangat ingin tapi nggak tahu kenapa rasanya berat banget untuk nulis. Mungkin ini karena gue kelamaan vacuum nulis juga, jadinya urat urat nulisnya pada kaku. Dan sekarang gue berusaha melemaskannya kembali.

Gue barusan cek blog dan ternyata tulisan paling akhir ada pada tanggal 3 Desember 2013. Dan sekarang tulisan ini di posting tanggal 5 Januari 2014 cuman berjarak 1 bulan tapi serasa seperti setahun. Haahh *menghela nafas panjang*

Maaf banget gue jadi labil banget untuk update. Padahal sebelum tulisan ini gue juga udah nulis lho. Nulis tentang perjalanan gue mengenal Anies Baswedan. Dan tulisan itu masih mangkrak didalam draf gue. Maaf banget ya sobat tulis dan temen temen blogger semua Lv

Bingung mau nulis apaan, gue tetap memaksakan diri ini untuk menulis.

Cerita dikit, semalem kan Malem Minggu ya. Nah temen temen gue pada main kekosan. Semalem jadi malem yang rame bener. Ada Ares (M. Rizki Pratama), Ragil (Ragil Cahya), dan Pras (Prasetyo Ardhi) yang kumpul, bermalam dan menginap disini.

Dan kemaren tu juga lumayan nge-bete-in juga dalam waktu yang bersamaan. Karena gue lagi lagi dan lagi kalah mulu waktu main PES 2013. Entah kenapa, gue seperti ditakdirkan untuk tidak bermain bola kaki. Main Futsal, linglung and gak bisa. Main PES, kalah mulu. Dan hari itu menjadi hari yang bikin gregeten buat gue.

Lagi, kemaren lusa gue nitip temen gue untuk beliin internet yang wuss abis. Setelah dibeli, ternyata gak tau kenapa kok kagak bisa dipakek buat ng-game, gamenya yaitu Dragon Nest server luar negeri. Alasan kenapa gue milih server luar negeri adalah jika gue main deserver Indonesia, yang ada pasti pada bacot dah pemainnya. Dan sumpah gue benci banget sama bacoters. Karena ini gak lebih dari pada game men. GAME. PERMAINAN. Dan tujuan gue main, ya untuk HAVING FUN. Karena banyak sekali pemain yang menganggap terlalu serius permainan kayak gitu. Yaa walaupun ada yang membela kalo main diserver Indo itu yang bacot dikit, gue gak percaya. Mencegah lebih aman daripada mengobati.

Nah. Secara gak langsung gue rugi karena gue gak mendapat fasilitas yang paling gue cari, tapi syukurnya internetnya cepet banget. No buffering kalo liat Youtube tapi tetep aja gue sebel. Sampai sekarang.

Oiya gue mau cerita nih. Nuansa yang gue pengen tu suasana galau – sedih gitu dari cerita ini tapi kalo gak dapet, yaudahdeh biarin.

Dikisahkan, ada seorang pemuda bernama Dimas yang ingin sekali menikmati tahun baru 2014 bersama sanak saudara, teman se-persahabatan dan keluarga terdekatnya. Namun rencana itu berubah ketika negara api menyerang …..

******

Stop!

Kembali kejalan yang benar.

Jadi cerita singkatnya, gue ada acara pesantrenisasi. Pesantrenisasi ini adalah sebuah program pesantren yang ada dikampus gue (UII). Dan di UII gue masuk di fakultas Hukum. Dan jadwal pesantrenisasi untuk jurusan Hukum adalah tanggal 30 Desember 2013 dan berlangsung selama 4 hari. Artinya, ketika orang lain pada “dor dor- an” gue malah ngaji ngaji dipesantren. Sumpah, ini tahun baru paling gak epic, flat, dan bikin gue galau karena ketika semua teman gue merayakan dengan bersanding dan bertemu orang yang mereka sayang (bahkan ada yang nembak gebetannya waktu tahun baru) gue disini merayakannya dengan lemas. Berbaring uring uringan gak jelas dikamar asrama, padahal … ada seseorang diluar sana yang gue kangen banget dan pengen gue habiskan malam tahun baru dengan dia.

Tapi gue mikir, jikalau memang gue gak pesantren waktu tahun baru dan tetepa pada rencana untuk keluar dengan dia, masalah yang paling pokok mencuat. “Dia mau gak ya menghabiskan malam tahun barunya ama gue?” #langsungmampus

Iya. Itu adalah sejarah malam tahun baru ter”buruk” dalam sejarah 18 tahun gue hidup.

Truss cerita tentang seseorang yang gue kangen.

Iya. Gue kangen banget ama dia. Siapa wanita (tidak) beruntung yang gue kangenin itu?

Yang pasti dia cewek dan seumuran ama gue. itu sudah menjadi clue yang cukup, sepertinya.

Saya rindu padamu.

Gue kangen ama elo

I miss you.

Awakku kangen sliramu

Te echo de manos

Tu me manqué

Anata ga inakute sabishīdesu

Itu tadi adalah “aku rindu padamu” dalam berbagai bahasa. Bingung? Silakan coba cek di Google Translate.



Hahh..

I just miss you girl, so much.
Continue reading →
Tuesday, December 3

Case Closed

0 comments
Banyak sekali hal yang gue pikirin selama gue gak nulis. Dan pikiran itu jadi sebuah kebingungan baru, “gimana nulisnya ya?” dan hingga akhirnya gue lupa … perlahan lahan. Tapi disini sekarang gue ingin banget buat ngeluarin semuanya dalam tulisan. Yup. Metode menulis gue memang cukup tidak biasa atau mungkin terlalu biasa karena isinya sebagian besar adalah curhatan curhatan.

Kita mulai yah…

Dimulai dengan kembalinya gue ke Jogja setelah gue menghabiskan waktu seminggu gue waktu liburan dulu di Ponorogo tercinta. Gue melakukan perjalanan Ponorogo – Jogja untuk kesekian kalinya. Ke 5 kalo gak salah, tapi lupa pastinya. Dan Alhamdulillah touchdown dengan penuh rasa suka cita dan capek.

Waktu di Ponorogo menjelang keberangkatan ke Jogja gue sedang dalam keadaan galau. Galau karena ada beberapa “tanggungan” yang belum pernah gue sentuh apalagi untuk diselesaikan. Salah satunya yang paling menonjol adalah karena gue bolos buat latihan paduan suara selama 3 hari dimana 3 hari latihan itu ada pada saat seminggu gue libur dan berada di Ponorogo. Gue tipikal orang yang gampang banget merasa bersalah akan komitmen yang gue buat sendiri. Dan itu bikin gue stress seperti halnya seorang perfeksionis yang sangat ambisius NAMUN belum memulai mengerjakan tugasnya dengan deadline. WOW sensasinya. Tapi justru inilah yang menjadi tenaga bagi gue untuk segera “menebus” ketertinggalan gue dan “membayar” komitmen yang sudah gue buat. Ikut di Paduan Suara “Miracle Voice” adalah impian karir gue. Dan apakah gue harus gak bersyukur seperti dikisah tulisan gue AND NOW JUST LOOK AT YOU yang dulu? Definitely, NO!

Dan akhirnya gue pun datang pada latihan perdana kedua setelah 2 minggu vacuum latihan. Minggu pertama karena ada jadwal UTS yang menduduki prioritas pertama dan minggu kedua adalah karena gue ada dikampung halaman tercinta Ponorogo dan terpisah jarang yang cukup jauh yang sangat tidak memungkinkan untuk datang latihan.

Gue pun meminta maaf. Ya, lebih baik meminta maaf, jujur sekarang dari pada jujur dan minta maaf nanti karena toh endingnya juga minta maaf juga. Gue minta maaf untuk bolosnya gue kagak latihan Padusa karena ada dikampung halaman. Dan benar, lebih baik ngomong sekarang karena mereka lebih bersedia menerima daripada dibohongi dengan komitmen palsu.

Kisah pertama, terselesaikan.

Tanggung kedua gue setelah bolos padusa adalah belum mulainya project film gue (tugas bahasa Inggris – red) yang gue jadi penulis seluruh ceritanya tapi belum gue laporkan kepara pemainnya. Dan hari ketemu untuk membahas film pun datang. Dan yang lebih “special” lagi adalah tepatnya prediksi gue kalau naskah film yang totalnya ada 10 lembar, tidak jadi dipakai. Iya, nggak jadi. Pemakaian ide gue hanya sebatas 30% dari 102% tenaga yang gue kerahkan untuk ngerjain ini naskah di PONOROGO. Bayangin tuh, mana ada orang yang dalam liburannya masih mau dengan sukarela ngerjain naskah film sendiri dan ketika gue minta bantuan ide, yaa cuman standart standart aja.

Tapi itu bukan masalah bagi gue yang udah siap dengan hal itu karena emang materi naskah gue lumayan berat dengan kru tim dalam pembuatan film yang masih biasa aja bahkan levelnya masih bisa dibilang beginner karena semuanya nggak punya basic diperfilman. Yang paling penting bagi gue adalah ide dari film yang akan kami buat ini adalah hasil kesepakatan dan muncul dari pemikiran bersama. Anggap aja naskah yang gue bikin kemaren adalah stimulasi agar semuanya bisa mencurahkan ide idenya disana.

Yaaa tapi yang namanya manusia, gue pasti agak sedikit kecewa lah. Susah susah bikin, sendiri pula, eh suruh ngganti semuanya. Tapi Alhamdulillah ada hikmah lain dari sana. Tuhan memang terlihat sekali sedang menghibur hambanya ini :)

Dan setelah ide terkumpul menjadi kristal naskah film, pembuatan pun dimulai dan bahkan masih berlangsung hingga minggu ini. Satu lagi kasus, terselesaikan.

Kasus ketiga ini lumayan menyita pikiran gue. Karena rasa bersalah itu besar banget. Gue seperti halnya pemberi harapan palsu.

Ceritanya ketika gue dikenalkan dengan satu organisasi eksternal yang ada di Jogja. Bukan FFI lho tapi, beda lagi. Nah gue awalnya diajakin ama senior gue dan gue memang menaruh minat disana. Gue pun mencoba ikut dan OK, gue lumayan cocok. Masalahnya adalah gue gak bisa untuk komitmen disini secara full tapi senior gue berusaha membujuk gue. “gapapa dimas. Nanti atur aja waktu, pasti bisa” bilangnya. Dan gue pun mengiyakan. Gue berusaha lagi untuk ikut disana.

Tapi hasilnya, bener banget kalo gak maksimal. Gak maksimal.

Dan hal inilah yang bikin gue merasa sungkan. Gue putuskan deh untuk ngobrol dan berusaha menjelaskan kalau ada karir lain yang lebih menarik dan lebih gue proritaskan. Kuliah, menjadi bagian yang sangat gue prioritaskan.

Bagi gue, mahasiswa itu adalah mahasiswa yang seharusnya tidak betah terus terusan menjadi mahasiswa. Mahasiswa itu harus sesegera mungkin lulus dengan cemerlang dan sukses. Yang dalam sukses itu, kita kembali melakukan kegiatan yang cakupannya lebih luas dan berpengaruh dibandingkan dengan saat kita kuliah. Sesegera mungkin kita menjadi apa yang kita cita citakan dalam karir. Salah satunya adalah mencari uang, memang. Tapi apakah itu salah? Masak sih kita mau terus terusan minta uang dari orang tua kita? Yaa nggak laah..

Mencari uang itu hanya salah satunya saja namun yang juga penting adalah seberapa besarkah kita mempengaruhi orang lain dalam karir yang kita pilih tersebut.

Kita bisa sesegera mungkin menjadi dokter yang baik dan professional dalam menangani pasiennya. Kita bisa menjadi akuntan yang mampu mengelola uang dengan baik. Memegang jabatan yang cukup tinggi dalam perusahaan. Mengubah situasi politik dan nuansa hukum yang sedang krisis kepercayaan. Menjadi guru yang mendidik muridnya sebaik mungkin. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan. Dan juga, kita bisa menjadi bukti dari yang selalu kita tuntutkan kepada orang lain.

Gue pun berniatan untuk bertemu dan ngobrol secara sangat terbuka dan mohon banget untuk mengerti kondisi gue. Dan Tuhan langsung lah yang mempertemukan kami. Kami bertemu dalam kondisi yang gak pernah gue bayangkan bakal ketemu, lalu disanalah gue menjelaskan. Alhamdulillah beliau menerimanya. Beliau pun juga merasa lebih baik jika ada hal yang mengganjal lalu diceritakan secara baik baik juga.
3 masalah paling besar, terlewati dengan penuh bantuan dari Tuhan, Allah SWT :)

Dan hari ini. Semalam, lebih tepatnya. Gue bangun dengan segala rindu.

Rindu.

Yang bisa juga disebut kangen.

Semalem, gue mimpi ketemu kakak gue yang membina dan ngebantu gue yang akhirnya seperti sekarang ini. Beliau pernah gue tulis dalam beberapa tulisan gue, mbak AVE mentor Bahasa Indonesia dari Ganesha Operation Ponorogo dan kakak bagi gue.

Ceritanya gue ada disuatu tempat yang berlorong gitu. Berlorong mirip banget seperti di GO Ponorogo. Ceritanya gue ada disalah satu ruang yang ada dilorong itu. Dari kejauhan, jelas banget suara nada Sopran mbak Ave teriak teriak menuju ujung lorong yang lain. Dan disaat itu gue sadar kalo gue lagi mimpi.

Mbak Ave pun berjalan keujung yang lain dan semakin mendekat keruang tempat gue berada. Dan semakin gue sadar kalo gue mimpi disini. Gue pun berpikir, kalau bukan dimimpi ini maka kapan lagi gue bakal ketemu orang paling freak di GO ini. Gue pun berinisiatif mengagetkan dia dari balik pintu.

And, that’s really her. That’s really you, mbak AVE. As clear as crystal clear.

Kami berdua berteriak. Gue teriak buat ngagetin beliau dan beliau teriak karena kaget gue kagetin #nahlho

Dan refleks, dalam mimpi gue gue peluk mbak Ave. Sesayang dan sekangen seorang adik yang meluk kakaknya. Gue tau banget perasaan ini, karena gue sendiri juga merasakan hal yang sama ketika harus pisah pertama kalinya sama adek gue yang juga pernah gue tulis sebelumnya.

Gue lupa gue ngomong apa aja ke dia.

Saking bahagianya gue :”)

Mungkin kalau mbak Ave baca tulisan aku ini, cuman pengen bilang kalo …

Adekmu ini kangen dirimu :”) hehehe. Moga moga liburan nanti bisa buruan ketemu ya. Sama temen temen 3 IPA R 5. Mereka adalah teman satu kelas gue di GO.

Udah ah! Jadi berair gini mata gue… :’)

Makasih banget ya Wahai Allah, Tuhanku yang Maha Penyayang. Karena udah kasih kesempatan buat ketemu kakak gue, walaupun hanya dalam mimpi.

Makasih banyak Tuhan :’)



فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? 

Surah Ar Rahman
Continue reading →