Friday, January 17

I want you ... so Badly (Pagi galau)

0 comments
Bokap opname. Iya, kalian pasti udah tau kemaren ditulisan gue sebelumnya tapi bukan itu yang pengen gue perbincangkan.

Pagi ini dimulai dengan kegalauan.

Dimulai dengan biasa, bangun pagi dan mengantar adek ke sekolah. Dan mungkin inilah satu satunya hiburan dipagi hari saat gue ada di Ponorogo. Khususnya lagi minggu minggu ini.

Karena bokap sakit dan harus opname, gue dan nyokap bagi tugas. Nyokap harus ada di Rumah Sakit dan sedangkan gue stand by dirumah. Gue yang handle segala keperluan adek gue, Ajeng. Dan yang paling penting ya antar-jemput dia kesekolah. Gue seneng, kenapa, karena gue akhirnya “dipaksa” keluar rumah dan itu menjadi hal yang susah buat gue. Mengingat temen2 pada belum pulang kampong dan kalaupun ada yang pulang kampong, mereka ada keperluan sosialisasi Univ masing masing di Ponorogo.

Gue? yaa gak ikutlah. Sapa coba gue. Ada juga sosialisasi akbar di SMA 1 Ponorogo khusudzon anak SMAZA saja. Bertepatan tanggal 25 Januari, dan pada saat itu gue pas lagi UAS. Dan ini yang cukup bikin gue sebel, pas temen2 pada liburan gue malah baru mau UAS, dan ketika gue pulang untuk liburan, temen temen gue malah kembali keperantauan. #foreverAlone

Dan ini dimulai dari sekarang.

Niat gue pulang tu untuk ketemu dan kumpul bareng adek gue and nyokap dirumah. Tapi karena bokap sakit, the plan just a plan. Rencana tinggal rencana. Walaupun memang akhirnya gue bisa maen game WiFi sepuasnya karena gak ada yang ngomelin, tapi bukan untuk “ini” gue pulang kampung. I’m already at my house, but not go home.

Forever Alone.

Dalam keadaan seperti ini gue keinget ama yang Bang Lutfi bilang. Beliau adalah Ketua dari PSM “Miracle Voice” UII tahun ini. Beliau sekarang menempuh pendidikan jurusan Psikologi di UII. Beliau bilang, “… terkadang pressure (tekanan) itu bukan karena keadaan, tapi karena pikiran kita sendiri… ”

Tetep. Gue butuh waktu untuk ada di “keluarga” dan merasa memiliki “keluarga”. Dan kenapa harus saat ini?! Padahal gue pengen jadikan moment ini sebagai moment untuk bener bener “mencari bekal mental”. Karena akhirnya kan memang keluarga yang support kita, sapa lagi kalo bukan mereka? “temen”?

Gue terus merasa menolak dan gak terima dengan keadaan ini, gue terus ditekan dengan pikiran gue sendiri. It feels that I wanna blame every people around me.

Padahal, Rasulullah SAW juga pernah bersabda yang intinya, “jika kamu tidak bisa mengatakan hal yang baik. Maka diamlah!”

Ibarat benda, rasanya kayak bom waktu yang pengen meledak. Tapi gue bukanlah orang yang tega untuk berteriak dan menyalahkan orang lain karena ketidakperduliannya. Apa lagi nyokap sendiri, bisa diblokir deh pintu surge gue nanti -_-

Tapi…

Aku juga manusia biasa.

Gue juga manusia biasaa

I want your love …. So badly.

I want you care …. So badly.

I want you …. So badly

Walaupun gue bisa tarot dan mencari masalahnya sendiri lewat saran tarot, but it’s just not enough.

Gue jadi seperti anak kecil yang kepengen banget beli mainan dan teriak teriak nangis minta dibeliin dan gak mau tahu keadaan orang tua kita padahal lagi gak punya uang.

Tapi Tuhan ngasih gue pelajaran.

Pagi tadi gue ke RS untuk bawain baju yang bersih yang udah dicuci dan bawa pulang baju kotor. Disana kebetulan juga ada tamu yang datang jenguk bokap. Ngobrol kesana kemari, beliau bilang “ … nggeh nopo nopo ki lek terlalu berlebihan ki nggeh mboten apik kok …”

…..
……….

Berlebihan.

Iya, gue berlebihan. Terlalu berlebihan.

Gue berharap terlalu berlebihan dan menolak akan keadaan terlalu berlebihan.

Memang itu kata kata common yang biasa kita denger dari orang orang ketika mereka menasehati, tapi … Satu lemparan batu yang tidak terlalu besarpun kalau mengenai sasaran yang tepat, bisa bikin K.O juga kok. Liat aja kisah David and Goliath. Liat aja kisah Nabi Daud melawan Jalut.

Kecil tapi pas itu bisa saja memberi arti yang lebih dari “pas”. Kata kata tadi “kecil”, sederhana, tapi pas sama moment dan keadaan gue.

Cinta juga kayak gitu.

Gak perlu kok kamu kasih hadiah perhiasan, mobil, rumah mewah, jika memang belum mampu kasih.

Cukup aja kasih perhatian dan kasih sayang. Dan disempurnakan dengan, kesetiaan.

Gak perlu kok kasih bunga, kalau kamu bisa kasih sapaan “selamat pagi” dan pelukan hangat waktu bangun tidur.

Gak perlu kok kasih kue segedhe TV 24 inch, kalo kamu bisa kecup keningnya sebelum tidur dan bilang “you’re one and only, in my life”.

4L4Y ya? Tapi memang seharusnya gitu.

Cinta bukan cinta kalau tidak “gila”. Kalo di Indonesia mungkin jadi “ Cinta bukan cinta kalau tidak 4L4Y”.

Siapa sih didunia ini yang nggak suka diperhatiin. Secuek apapun manusia pasti suka kali diperhatiin. Entah itu laki laki maupun perempuan. Dan tidak ada yang “lebih butuh” perhatian. Cowok – cewek, SAMA. Tidak ada yang “lebih butuh” dan “lebih tidak butuh” perhatian. Karna gue sering nggak setuju ama statement “cewek tu lebih butuh diperhatiin” atau “cewek itu suka banget diperhatiin”.

Faktanya, NO.

Ada juga cewek yang “lebih tidak butuh” diperhatiin. Banyak. Dan ada juga cowok yang “lebih butuh” diperhatiin.

Kita semua sama.

******

Sekali lagi makasih banget buat Ms. Word yang selaluuu bisa menjadi sahabat gue. Sahabat yang ketika gue cerita apapun, dia pasti “dengerin”. Dan caranya untuk menasehati kita, bukan dengan cara yang menasehati bak seorang Guru yang mengetahui segalanya. Tapi dari dia, kita bisa “berkaca” dan merenungi, “apa to maksud dari gue alami ini?”

Dan Ms. Word bisa memberikan itu.

Kalo ada cewek seperti ini, dia idaman gue. Mungkin juga dari sebagian cowok yang lain. Dan kalo sebaliknya, yaa pasti sebaliknya juga.

Dan juga makasih buat yang rela menyianyiakan waktunya untuk membaca tulisan anak 4L4Y ini.

Bukan bermaksud saya menyinggung dalam tulisan ini, tapi kalo anda tersinggung, ada baiknya anda introspeksi diri.

Ciao amigo~
Continue reading →
Tuesday, January 14

to become ..... (part 2 - END)

0 comments
Hmmm..

Ngomongin tentang sakit. Bokap gue barusan opname masuk rumah sakit. Masuk ICCU tepatnya.

Gak tahu sih kenapa kok tiba tiba banget bisa masuk ICCU gitu, padahal baru tadi paginya temen temen bokap pada mampir kerumah. Yaa walaupun sebelumnya beliau memang mengeluh dada bagian kirinya nyeri sih, yaa kami kira itu adalah masuk angin biasa. Dan setelah di bekam, hitam banget memang.

Jam setengah 6, ketika gue masih nonton Habibie Ainun dan lagi dalam keadaan yang emosional banget. Bokap Nyokap pamit ke rumah sakit untuk periksa. Lamaa kok belum pulang juga sampai jam setengah 7, nyokap telfon kalo bokap jadinya opname.

Gue pun diminta untuk juga ikut jenguk setelah Isya’ sama adek gue, Ajeng.

Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama gue gak pernah masuk rumah sakit lagi. Lamaaa banget. Bahkan lebih lama daripada gue memulai untuk mengubur mimpi gue untuk menjadi seorang dokter.

Dan disini. Ya, disini semua itu dimulai. Perjalanan rewind.

Bokap dirawat di RS Aisyah Diponegoro. Awalnya beliau datang ke RS Aisyah tapi karena dokternya lagi gak ada, jadinya disuruh periksa disana RSAD.

Gue pun masuk dari pintu depan yang dibagi jadi 2. Pintu yang satu adalah untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan pintu yang lain adalah untuk para pengunjung dan penjenguk orang orang yang sakit disana.

Masuk disana, ada lorong yang berbelok. Tepat setelah lorong itu ada “ruangan tengah” dimana para penjenguk lain berkumpul untuk bersantai menonton TV. Lebih masuk lagi, barulah gue bertemu dengan ruangan ruangan tempat para orang orang yang diopname. Blok ruangan pertama bisa dibilang besar. Kurang lebih ada 6 ruangan yang dalam setiap ruang itu dihuni oleh 3 atau 4 pasien yang opname. Para sanak kerabat yang menjenguk pun berceceran diemperan ruangan untuk sekedar duduk karena penuh. Memang saat itu sedang ada beberapa renovasi. Disana, gue melihat wajah wajah dengan nuansa yang berbeda. Ada yang masih lesu, ada yang baru bisa menggerakkan sedikit anggota badannya, ada yang sudah bisa ngobrol dengan lancar, dan sebagainya.

Ya, mereka inilah dulu yang menjadi motivasi gue untuk menjadi dokter. Fakta bahwa masih banyak orang yang harus ditolong oleh seorang dokter-lah yang membuat gue tetap kukuh ingin menjadi dokter. Dan jika melihat keadaanku sekarang, ada rasa sakit. Seperti, luka yang dibalut agar tidak disentuh dan menunggu untuk ia sembuh, namun dibuka ketika masih dalam masa penyembuhan.

Kalian yang mengerti pasti mengerti, dan kalian yang tidak mengerti pasti juga tidak mengerti.

Masuk lagi ketempat yang lebih kecil dari sebelumnya, terdengar suara bayi yang menangis disalah satu ruangan yang lebih kecil namun dihuni oleh maksimal 2 pasien opname. Pintunya tertutup, gue gak tau gimana keadaan mereka didalam sana. Mungkin itu adalah salah satu adek kecil yang kena sakit yang belum seharusnya diusianya yang masih balita.

Dan ruang ICCU, ada dilantai atas. Jalan menuju lantai atas bukanlah tangga pada umumnya, melainkan jalan yang landai. Jalan yang digunakan agar memudahkan untuk mengantar pasien turun dari lantai atas ke lantai bawah dengan menggunakan kursi roda maupun ranjang yang beroda yang biasa kita lihat. Ruang ICCU itu ada disalah satu pojok diareal lantai 2 itu. Disana ternyata ada kerabat dari orang yang masuk ICCU juga. Mereka duduk lesehan dengan alas tikar didepan ruang ICCU sambil berbincang bincang dalam bahasa Jawa yang lebih sopan. Bahasa yang biasa digunakan anak muda untuk berbicara dengan orang yang lebih tua.

Nyokap gue disana duduk disalah satu tempat duduk yang berjejer. Beliau berdiri ketika melihat gue datang bersama adik gue dan tetangga gue.

Duduk ditempat yang sama, gue pun berusaha mencari tahu kenapa bisa bokap sampai harus masuk ICCU. Jawabannya masih hanya sekedar bokap kecapaian.

Nyokap pun niatannya mau pulang dulu untuk mandi dan shalat, gue pun dimintai untuk menunggu disana kalau ada apa apa, kalau dipanggil oleh suster. Dan gue pun mengiyakan.

Nyokap pun akhinya meninggalkan ruangan tunggu itu, sekarang tinggal gue berdua dengan adik gue. Tak lama berselang, suster pun keluar “maaf, dengan keluarga bapak Pujo?” tanyannya dari depan pintu. Gue berdiri, “iya, saya mbak”. “Ibunya kemana?” tanya suster itu sambil menyapu pandangan keruang tunggu itu mencari nyokap gue. “tadi pulang sebentar mbak. Mandi. Trus nanti mbalik  kesini kok”. “masnya ini putranya?”, gue mengiyakan. Dan akhirnya gue disuruh masuk ruang itu.

Itu adalah pertama kalinya dalam sejarah 18 tahun gue hidup, untuk masuk keruang itu. Dan gue gak pernah membayangkan kalau akan masuk keruang “special” itu sekarang. Didalam ruang ICCU itu, tersedia 4 tempat tidur dengan segala macam peralatannya. Dan juga, kabel kabel. Yang sama dengan yang gue lihat sewaktu nonton film Habibie Ainun. Dihadapan tempat tidur itu ada 2 meja bekerja para suster, dokter ataupun penjaga ruang itu. gue pun dipersilakan duduk. Suster ini mengawali penjelasan dengan menjelaskan tentang peraturan di ICCU. Beda peraturannya adalah pada jadwal berkunjung penjenguk. Dimana jadwal untuk penjenguk sangat dibatasi ketat. Hanya boleh sewaktu jam 6-7 pagi, 11-12 siang, dan 17-18 sore.

Tiba tiba nyokap masuk. Gue nggak tahu apakah beliau udah pulang dan sesegera mungkin kembali ataupun malah belum sempat pulang. Gue pun akhirnya mendengarkan penjelasan bareng nyokap. Lalu, kami diminta untuk menanda tangani surat yang berkaitan dengan penanganan emergency. Penanganan ini dilakukan apabila pasien mengalami keadaan emergency atau darurat dan harus diberikan pertolongan cepat, tanggap, dan tepat. Seperti kejut jantung, penggunaan pipa nafas dan lainnya. Kami pun setuju saja.

Penjelasan penjelasan selanjutnya gue pun kurang mengikuti lagi karena udah ada nyokap. Gue pun melakukan hal lain.

Gue memandangi kesetiap senti ruangan itu dengan detil. Gue memandangi segala peralatan yang buat gue keren banget. gue memandang kearah belakang suster yang sedang menjelaskan peraturan ke nyokap yang mana ternyata disana ada ruangan lagi. Ruangan itu berisikan 4 tempat tidur juga yang digunakan untuk pasien ICCU. Namun saat itu hanya ada 3 pasien termasuk bokap. Gue memandang kesalah satu dinding yang disana ada stetoskop yang digantung. Gue memandang kesalah satu lemari yang isinya dipenuhi oleh infus infus dan obat obat lain yang gue gak ngerti untuk apa. Dan pandangan gue berakhir pada salah satu ruangan yang disana berjejer lemari tempat “kantor” bagi para dokter-suster ini menyimpan segala berkas.

Terakhir dari yang terakhir, pandangan gue kembali pada wanita yang menjelaskan peraturan dan hal penting tentang ICCU. Saat ini, gue sangat mengagumi beliau. Gue gak peduli darimana dulu dia kuliah. Yang aku lihat sekarang ini adalah seorang dokter yang menjalankan tugasnya untuk menolong orang yang sungguh membutuhkan pertolongannya.

Gue melihat beliau sebagai diriku yang mencapai mimpinya. Aku melihat beliau sebagai diriku yang mampu menjadi seorang dokter. Aku melihat, aku yang memenuhi impianku sebagai dokter.

Tapi….

Setelah melihat kekondisi saat ini? Don’t say a word.

Sekuat tenaga, gue menahan air mata ini. Sekuat tenaga, gue berusaha ikhlas akan kenangan ketika gue berusaha memperjuangkan impian gue.

Sekuat tenaga, gue harus menerima “gue” yang sekarang adalah bukan “impian gue”.

Sekuat tenaga, gue harus menerima bahwa, gue bukanlah calon Dokter.

Ketika keluar dari ruangan itu, gue sedih. Terasa sekali akan pecah kepala gue kalau gue terus memaksakan untuk tidak mengeluarkannya.

Sendiri, gue berusaha menenangkan diri. Sendiri, gue menghadapi rasa luka yang belum sembuh ini.


Sendiri, gue meneteskan air mata.

Gue pun juga gak mau adek dan nyokap gue tau kalo gue nangis. Memang, kelihatan sangat cengeng.

But you guys, just don’t know anything. And I don’t care about what you thought.

It’s just so …. hurt.

More than anything.

......

Haha. Mata gue pun berkaca kaca nulis ini. Nggak tau kenapa. Sedih aja rasanya.

Dan hingga saat ini gue masih belum mengerti kenapa Tuhan mempertemukan gue dengan moment ini.

Yang ada, muncul satu niatan yang baru.

Kalaupun aku gak bisa jadi dokter untuk hal medis ini. Masih ada kesempatan buat aku untuk jadi “dokter” dibidang kejiwaan.

To become …



 a Psychiatrist




“ … engkau melihat kecermin. Berharap pantulan cermin itu memantulkan hal yg lebih baik dari dirimu.
Padahal dirimu, adalah dirimu … “
Continue reading →

Perjalanan Hati (Part 1)

0 comments
Ijinkan saya membuka tulisan ini dengan mengatakan “nulis makalah itu lebih susah dari pada nulis blog”.

Ceritanya gue ini lagi menjalani minggu tenang terhitung sejak tanggal 11 Januari kemarin. Yaa walapun ada jadwal kuliah sih. Ilmu Negara jam 3 sore dihari yang sama, tapi gue memilih untuk pulang ke Ponorogo hari Jumatnya. Gue memilih untuk Turun Tangan ikut acara bakti sosial yang diadakan oleh Forum for Indonesia (FFI) di SMP 3 Sawoo. Lalu dihari hari berikutnya, gue ada dirumah tercinta di Jalan Anggrek GG 1 no 9 Ponorogo. Gue juga udah ketemu sobat lama gue, Ristiyanti Hayu Pertiwi yang merantau di Jakarta, Universitas Indonesia tepatnya. Serta, ngerjain juga tugas makalah Antropologi dan besok bakal nulis makalah untuk Pengantar Hukum Islam. Yah, kita lihat saja besok.

Tapi bukan itu yang pengen gue bahas kali ini. Bahasan gue kali ini adalah peristiwa yang terjadi malam ini. Gue mengalami perjalanan hati. Gue dipaksa untuk me-rewind memori gue akan cita cita gue yang udah mulai gue tinggalkan. Become a doctor.

Diawali dengan rasa rindu akan acting dari Reza Rahardian dalam membawakan tokoh BJ Habibie. Gue nonton film Habibie Ainun di laptop gue dibarengi dengan update kultwit (cool twit) di twitter. Lumayan caper gitu deh ceritanya. Dan mumpung bisa pakek WiFi sepuasnya. Alhamdulillah.

Banyak memorable moment dari film itu yang dialognya gue jadikan kultwit dan gue fav sendiri. Soalnya emang keren sih.

Gue pun juga terbawa romantika “pacaran jaman doeloe” dimana ketika mereka pacaran pasti ada bumbu “malu malu kucing”nya. Pas banget diceritakan dalam film ini. Dan sebagai orang yang lagi pengen melankolis, gue terbawa suasana. Iri, merasakan sepasang kekasih didunia ini yang bisa saling mengkhawatirkan pasangannya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Iya, kalian gak salah baca kok. “saling mengkhawatirkan”. Masih aneh ya bagi beberapa dari kalian? Santai aja. Gue sangat mengagumi romantika dimana dua manusia yang memadu kasih ini nggak cuman mikirin tentang bahagianya mereka sendiri. Tapi mikirin bahagianya kekasihnya.

Di film ini pun, menceritakan dengan sangat jelas bagaimana mereka berdua ini begitu mengakhawatirkan satu dengan yang lainnnya. Yang paling nyentuh adalah ketika bu Ainun (Bunga Citra Lestari) sakit keras dan harus dirawat intensive di Jerman. Sampai sampai segala kabel alat alat tercanggihpun menancap dan mengitari dirinya. Habibie pun datang. Dan kamu tau apa yang ditanyakan bu Ainun? “Sudah minum obatnya belum?”. Disaat sakit yang sebegitu parah pun, bu Ainun masih ajaa inget dan khawatir akan kesehatan pak Habibie. Dan gue tau ini valid, karena penggarapan film ini diawasi oleh pak Habibie sendiri dalam pembuatannya.

Itu sih memang “saling sayang”, bukan “saling mengkhawatirkan”. Ya gapapa, gue cuman berusaha menggunakan bahasa yang beda aja. Kalian komentar pun, gue gak peduli.

Sebagai orang yang pernah pacaran dan merasakan lumpuhnya logika saat jatuh cinta gue mengerti. Gue pun merasakan. Dimana saat awal awal jadian, pasti kita bisa saling klop, saling mengisi dan memahami, saling mendahulukan pasangannya. Namun, setelah beberapa waktu yang nggak sebentar, bumbu pertengkaran dan masalah ketidakcocokan akan mulai tumbuh. Tapi itu biasa. Itu hal yang wajar.

Ada kultwit yang gue baca waktu pas iseng. Punyanya bang Raditya Dika kalo gak salah. Gini, “berantem adalah bumbu dalam pacaran. Tapi, makanan kayak gimanapun pasti gak bakal enak kalo kebanyakan bumbu”. Kurang lebih begitu intinya.

Gue menyebut film Habibie Ainun ini adalah “Romeo and Juliet”nya Indonesia. Tapi, mungkin gue salah. Karena kisah cinta ini lebih murni, suci, dan sejati daripada cerita Romeo and Juliet. For me, it’s beyond it.

Film ini juga kasih sekmen untuk memotivasi rasa nasionalisme.

Ceritanya sewaktu pak Habibie udah mau pensiun dari segala kegiatannya dari kepemerintahan, beliau menggunjungi IPTN Bandung yang menjadi tempat Hanggar pembuatan pesawat terbang kala pak Habibie sebagai menterinya. Beliau membuka pintu hangar itu sedikit hingga cukup untuk dirinya sendiri masuk. Dan didepannya, ada satu pesawat terbang yang tegak terbengkalai waktu itu. Terlihat tua dan tak terawat disana sini. Tulisan “Krincingangin” dan N250 terpampang dibadan pesawat. Beliau pun berjalan pelan menghampiri “janji”nya itu pada bu Ainun. Disentuhnya badan pesawat itu dan diputarnya baling baling besar disampingnya. Bu Ainun pun masuk dan melihat suaminya dalam keadaan sendu dan sedih. “Bangsa ini bisa menjadi bangsa yang mandiri, tapi mereka tidak pernah percaya”, kata pak Habibie menggelgar dihadapan Sang Gula Pasir. Dan akhirnya, beliau pun menangis dalam pelukan bu Habibie.

Disaat yang sama, gue meneteskan air mata. Ya.

Bagaimana bisa, kita sebagai bangsa yang katanya HEBAT ini malah menyianyiakan putra terbaiknya?

Kadang gue berfikir, apa memang benar kita ini sudah pantas disebut sebagai sebuah bangsa? Menjadi sebuah negara? Padahal membedakan mana yang baik dan mana yang buruk pun kita sepertinya belum mampu.

Gue nangis. Sebagai warga negara, yang menduduki tanah yang sekarang kita sebut sebagai sebuah negara INDONESIA, gue merasa bersalah, berdosa, dan bingung.

GUE INI UDAH NGAPAIN AJA UNTUK NEGARA GUE?!!

WHAT I CAN TO DO IS JUST MAKE ANOTHER PROBLEM FOR IT! NOT EVEN I CAN FIX IT FOR ONCE!

Bayangin deh, kamu tu tinggal dirumah tetanggamu. Udah untuk dipersilakan tinggal, kamu malah bikin masalah dirumahnya dan gak bisa selesaiin masalah yang kamu bikin sendiri.

Malu gak?

Kalo loe gak malu, loe tu manusia paling bajingan yang lahir didunia.

Entah apa yang kalian fikirkan, entah kerusakan macam apa yang terjadi dengan otak kalian, hingga kalian gak mampu untuk peka pada hal yang sesepele itu.

Gue saranin, loe tobat. Introspeksi diri.

Dan akhirnya gue menemukan jawaban. Dan jawaban ini gue dapet dari pidatonya Severn Suzuki. Gak tau siapa dia? Google it!

Dia bilang, “ jika kalian gak mampu untuk memperbaikinya. Maka, aku mohon berhenti untuk merusaknya”.

As simple as that.

**************************************************************************

To be continued ….
Continue reading →
Tuesday, January 7

Aku Pilih yang Mana?

5 comments
Setelah sekian lama keinginan itu hanya sebatas angan, barusan gue telah memenuhinya. I just already Tarot myself

Jadi begini.

Ketika SMA dulu gue juga mengalami apa yang adek adek SMA sekarang alami, yaitu bingungnya memilih jurusan. Namun, keinginan untuk menjadi Dokter sudah bercokol pada urutan paling atas dalam prioritas gue hingga akhirnya gue mulai menyadari ketidaksesuaian antara usaha gue dengan apa yang gue harapkan. Alhasil, gue harus melepaskan impian gue untuk jadi Dokter.

Tetapi dalam perjalanan sebelum gue melepas impian itu, Tuhan seperti memberikan tanda tanda dimanakah kemampuan dan passion gue yang lain. Waktu itu gue diperkenalkan dengan kartu Tarot oleh teman gue, Estina Intan. Dari SMP, gue udah suka banget dengan kemampuan yang berkaitan dengan metafisika seperti tarot, hipnotis, membaca pikiran orang, membaca karakter orang dari mukanya, membaca kepribadian seseorang dari tulisan tangannya, dan lain lain. Kesukaan dan minat ini juga didukung dengan koleksi buku buku yang gue punya yang berkaitan dengan hal yang aku sebutkan tadi.

Dan ketika akhirnya gue bertemu dengan tarot, gue tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk mampu membaca tarot dan membantu teman teman gue yang lain. Iya, jadi sewaktu SMA dulu, ketika sedang bingung bingungnya “aku mau kuliah dimana?” mereka pun berdatangan ke gue untuk konsultasi yang berkaitan dengan pilihan mereka. Nah, dari sinilah gue merasa bahwa inilah yang harus gue lakukan dalam hidup gue, become a consultant. Tapi konsultan yang berkaitan dengan masalah kehidupan sosial bukan yang berkaitan dengan hukum.

Dan karena hal itulah, gue memasukkan Psikologi sebagai salah satu pilihan gue. tetapi saat itu, gue masih belum begitu tersadar akan kemampuan gue ini. Gue gak pernah berpikir terlalu jauh akan karir kedepannya. Dan pada saat yang bersamaan gue juga masih idealis masuk FK.

Terus berjalannya waktu, akhirnya pilihan Psikologi ini gue sisihkan. Orang tua gue lebih menyarankan masuk jurusan Hukum yang sebenarnya dulu gue benci. Iya, benci. Namun, karena gue sadar akan kondisi yang gue tau gue gak akan masuk FK, gue mulai membuka hati untuk Hukum dan akhirnya rasa benci itu perlahan memudar berganti dengan rasa keterbukaan.

Menurut tes IQ yang pernah gue ikuti, otak gue adalah tipikal otak IPS. Lebih cocok untuk memikirkan hal hal yang bersifat abstrak daripada ilmu pasti (atau dalam bahasa Jawa-nya ilmu saklek). Dan memang, gue lebih menikmati berpikir tentang hal seperti itu. Cara berpikir orang IPS harus luas, bukan terlalu memperhatikan sesuatu secara spesifik/ detail. Ditandai dengan gue yang memang kurang teliti.

Semenjak semakin terbukanya gue ke Hukum, gue juga lebih tertarik memperhatikan masalah masalah yang berkaitan dengan hukum yang ada di Indonesia. Dan Psikologi itu semakin memudar yang akhirnya gak pernah gue pikirkan. Salah satu faktor yang semakin membuatnya hilang adalah gue terus menerus di cekoki agar masuk hukum. Indoktrinisasi. Dan ditulari pikiran bahwa “Psikologi itu bisa dipelajari tanpa harus kuliah”.

Dan ternyata sekarang, bagi gue itu salah. Masalah ini lebih rumit daripada “psikologi tu bisa dipelajari sendiri”. Ini lebih dari itu. Jikalaupun memang bisa dipelajari sendiri, maka hasilnya pasti akan lebih maksimal jika dipelajari secara lebih intens dan mendalam. Lalu kita akan bertemu dengan orang orang yang seperjuangan dalam mempelajari Psikologi ini, yang pastinya akan menambah motivasi tersendiri. Dan juga, walaupun ini sepele ini juga penting, ini berkaitan dengan passion kita. Harga diri kita dan sesuatu yang kita letakkan sebagai symbol harga diri kita.

Maksud dari meletakkan symbol harga diri tu, misalnya gini…

Orang kaya, tajir, dan berduit yang imannya kurang baik dan kurang bijak akan meletakan “harga diri” mereka pada segala sesuatu yang berkaitan dengan materialistis. Mungkin baju baru mahal yang bermerk, mobil mahal bernilai milyaran rupiah, perhiasan mengkilat, dan sebagainya. Mereka akan marah ketika barang yang mereka pakai “kurang mahal” dan “kalah mahal” dengan teman atau saingan mereka yang satu golongan

Berbeda dengan orang dari kalangan intelektual dan akademisi. Golongan ini meletakkan “harga diri” mereka pada ilmu pengetahuan. Misalnya mereka pasti memiliki buku buku yang sangat bagus dan isinya berbobot. Dan mereka pasti akan marah ketika ada seseorang yang meminjam buku itu dan merusaknya.

Nah gue, meletakkan harga diri gue akan kemampuan psikologi yang gue punya dibandingkan dengan motor, mobil, perhiasan, atau TV dirumah. Gue bakal malu kalo gagal menangani klien yang membutuhkan saran akan kehidupannya daripada gue gak sanggup beli mobil Ferari seharga miliaran itu.

Itulah salah satu contoh peletakan symbol harga diri.

******

Dan gue akan cerita tentang hasil tarot gue barusan.

Dimulai dengan mengocok kartu tarot sebanyak huruf nama kita. Dan total banyak huruf dinama lengkap gue ada 33. Banyak sekali, memang.

Gue mulai dengan pertanyaan. “apa yang keadaan hidup yang terjadi jika gue harus terus fokus ke Hukum tanpa peduli yang lain ATAU gue harus mencoba berjuang untuk pindah ke Psikologi UGM”

Gue pun mengambil masing masing kartu yang menjadi intepretasi dari pernyataan masing masing tadi. 1 kartu mewakili ke “fokus ke  Hukum” 1 kartu lagi mewakili ke “mencoba ke Psikologi”.

Dan hasilnya adalah : ketika gue mencoba untuk terus di Hukum, maka akan ada kondisi dimana gue gak akan enjoy  dan menikmati studi disana. Memang bener sih pilihan masuk ke Hukum adalah hasil dari ikutnya gue akan nasihat orang tua gue, tapi akan ada kondisi dimana sebetulnya gue ini gak nyaman disana. Bukan passion utama gue.  Dan ada ketakutan disana (The Heirophant) (muncul terbalik). Dan untuk pilihan ke Psikologi, gue akan memasuki babak baru yang akan mengalami peningkatan. Menunjukkan juga kalau ada proses kemajuan yang dibuat dan akan menemukan ketenangan dan keharmonisan. (Eight of Wand).

Pertanyaan kedua : “untuk bisa dapet masuk Psikolog, apakah gue harus menyeimbangkan antara kuliah Hukum dan pulang terus belajar untuk materi SBMPTN ATAU harus langsung fokus bimbel untuk SBMPTN dan meninggalkan Hukum?”

Dan hasilnya : kalau gue mencoba membagi kuliah dengan belajar maka gua akan masuk pada kondisi yang sangat nggak nyaman bagi gue. kondisi dimana gue mungkin akan sangat tertekan dan terjadi perseteruan kehendak prioritas. Antar kuliah atau belajar. Tapi jika gue mau berusaha, maka kendala itu cuman sementara ( Three of Sword). Dan jikalau fokus, maka gue akan mendapatkan kepuasan dan pencapaian. Namun dibalik pencapaian itu ada sedikit perasaan yang mengganggu. Mungkin seperti beban mental yang gue tanggung. Seperti rasa bersalah gue karena habisin uang lebih banyak untuk bimbel segala macem dan berhenti dari kuliah Hukum. (Queen of Pentacles)

Pertanyaan terakhir : “bagaimanakah keadaan kalau gue belajar di bimbel (ikutin saran dari sobat gue, M Riski Pratama) atau belajar sendiri?”

Hasilnya : jika gue ikut bimbel, maka akan menjadi pilihan yang mantap. Gue akan lebih bertanggung jawab dan konsekuen serta dapat diandalkan untuk memanfaatkan dengan baik bimbel ini ( Knight of Pentacles). Dan jika gue belajar sendirian, maka gue akan kehilangan sesuatu yang amat berharga. Mungkin kalau gue belajar sendiri hasilnya akan gak maksimal dan akhirnya gue akan gagal di ujian SBMPTN. ( Ace of Sword) (muncul terbalik).

Nah itulah dia, Bung.

Tapi tetep, tidak ada yang lebih berkuasa selain Allah. Gunakan hasil tarot ini untuk bahan pertimbangan matang matang. Dan jika pilihan sudah ditentukan, maka kita sudah harus siap dengan segala konsekuensinya.

Siap menang harus juga siap kalah :)
Continue reading →
Saturday, January 4

Tahun Baru, SUCKS

0 comments
Selamat pagii~

Salam sejahtera bagi kita semua. Apa kabarnya? Baik? Masa’ cuman baik doang? Mulai sekarang, kalo ditanya apa kabarnya jawabnya “SUPER!” gitu ya.. Hehehe :D

Sebelum memulai segalanya, saya (gue) Dimas Mahardika A.D.S selaku pemilik tunggal dari blog ini ingin mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2014 yaa..

Memang ini sangaat terlambat karena gue baru ngucapin tanggal 5 ini. Alasannya gak asik banget, karena gue lagi belum keluar mood untuk nulis. Hati dan pikiran sangat ingin tapi nggak tahu kenapa rasanya berat banget untuk nulis. Mungkin ini karena gue kelamaan vacuum nulis juga, jadinya urat urat nulisnya pada kaku. Dan sekarang gue berusaha melemaskannya kembali.

Gue barusan cek blog dan ternyata tulisan paling akhir ada pada tanggal 3 Desember 2013. Dan sekarang tulisan ini di posting tanggal 5 Januari 2014 cuman berjarak 1 bulan tapi serasa seperti setahun. Haahh *menghela nafas panjang*

Maaf banget gue jadi labil banget untuk update. Padahal sebelum tulisan ini gue juga udah nulis lho. Nulis tentang perjalanan gue mengenal Anies Baswedan. Dan tulisan itu masih mangkrak didalam draf gue. Maaf banget ya sobat tulis dan temen temen blogger semua Lv

Bingung mau nulis apaan, gue tetap memaksakan diri ini untuk menulis.

Cerita dikit, semalem kan Malem Minggu ya. Nah temen temen gue pada main kekosan. Semalem jadi malem yang rame bener. Ada Ares (M. Rizki Pratama), Ragil (Ragil Cahya), dan Pras (Prasetyo Ardhi) yang kumpul, bermalam dan menginap disini.

Dan kemaren tu juga lumayan nge-bete-in juga dalam waktu yang bersamaan. Karena gue lagi lagi dan lagi kalah mulu waktu main PES 2013. Entah kenapa, gue seperti ditakdirkan untuk tidak bermain bola kaki. Main Futsal, linglung and gak bisa. Main PES, kalah mulu. Dan hari itu menjadi hari yang bikin gregeten buat gue.

Lagi, kemaren lusa gue nitip temen gue untuk beliin internet yang wuss abis. Setelah dibeli, ternyata gak tau kenapa kok kagak bisa dipakek buat ng-game, gamenya yaitu Dragon Nest server luar negeri. Alasan kenapa gue milih server luar negeri adalah jika gue main deserver Indonesia, yang ada pasti pada bacot dah pemainnya. Dan sumpah gue benci banget sama bacoters. Karena ini gak lebih dari pada game men. GAME. PERMAINAN. Dan tujuan gue main, ya untuk HAVING FUN. Karena banyak sekali pemain yang menganggap terlalu serius permainan kayak gitu. Yaa walaupun ada yang membela kalo main diserver Indo itu yang bacot dikit, gue gak percaya. Mencegah lebih aman daripada mengobati.

Nah. Secara gak langsung gue rugi karena gue gak mendapat fasilitas yang paling gue cari, tapi syukurnya internetnya cepet banget. No buffering kalo liat Youtube tapi tetep aja gue sebel. Sampai sekarang.

Oiya gue mau cerita nih. Nuansa yang gue pengen tu suasana galau – sedih gitu dari cerita ini tapi kalo gak dapet, yaudahdeh biarin.

Dikisahkan, ada seorang pemuda bernama Dimas yang ingin sekali menikmati tahun baru 2014 bersama sanak saudara, teman se-persahabatan dan keluarga terdekatnya. Namun rencana itu berubah ketika negara api menyerang …..

******

Stop!

Kembali kejalan yang benar.

Jadi cerita singkatnya, gue ada acara pesantrenisasi. Pesantrenisasi ini adalah sebuah program pesantren yang ada dikampus gue (UII). Dan di UII gue masuk di fakultas Hukum. Dan jadwal pesantrenisasi untuk jurusan Hukum adalah tanggal 30 Desember 2013 dan berlangsung selama 4 hari. Artinya, ketika orang lain pada “dor dor- an” gue malah ngaji ngaji dipesantren. Sumpah, ini tahun baru paling gak epic, flat, dan bikin gue galau karena ketika semua teman gue merayakan dengan bersanding dan bertemu orang yang mereka sayang (bahkan ada yang nembak gebetannya waktu tahun baru) gue disini merayakannya dengan lemas. Berbaring uring uringan gak jelas dikamar asrama, padahal … ada seseorang diluar sana yang gue kangen banget dan pengen gue habiskan malam tahun baru dengan dia.

Tapi gue mikir, jikalau memang gue gak pesantren waktu tahun baru dan tetepa pada rencana untuk keluar dengan dia, masalah yang paling pokok mencuat. “Dia mau gak ya menghabiskan malam tahun barunya ama gue?” #langsungmampus

Iya. Itu adalah sejarah malam tahun baru ter”buruk” dalam sejarah 18 tahun gue hidup.

Truss cerita tentang seseorang yang gue kangen.

Iya. Gue kangen banget ama dia. Siapa wanita (tidak) beruntung yang gue kangenin itu?

Yang pasti dia cewek dan seumuran ama gue. itu sudah menjadi clue yang cukup, sepertinya.

Saya rindu padamu.

Gue kangen ama elo

I miss you.

Awakku kangen sliramu

Te echo de manos

Tu me manqué

Anata ga inakute sabishīdesu

Itu tadi adalah “aku rindu padamu” dalam berbagai bahasa. Bingung? Silakan coba cek di Google Translate.



Hahh..

I just miss you girl, so much.
Continue reading →