Saturday, November 8

Perspektif tentang SAHABAT

0 comments
Orang datang dan pergi. Namun, tak semuanya tinggal. Kesibukan memaksa. Kesendirian menyiksa. Menunggu, tetapi yang ditunggu tak kunjung sadar. Berjuang, tetapi yang diperjuangkan mengabaikan perjuangan. Benar memang, hidup ini tak pernah sederhana. Walaupun bahagia seharusnya sesederhana mungkin.

******

Barusan tadi sore saya mengganti nama blog ini. Bukan lagi “ Tulisan Tulisan Seseorang yang Akhirnya Menulis “, tetapi cukup menjadi #MADSISME . Ada dua penafsiran: 1) yaitu MADS IS ME yang artinya MADS adalah AKU. Nama panjangku adalah Dimas Mahardika Alamsyah Dien Subagyo. Nah, Mahardika Alamsyah Dien Subagyo kalau disingkat menjadi MADS. And that pretty cool, isn’t? . 2) MADSISME yang artinya adalah aliran MADS. Saya memiliki keinginan yang cukup besar untuk membuat sebuah “aliran”. Terlihat cool dan terpandang.

Malam ini saya ingin membahas tentang Sahabat atau Teman.

Anda semua ada yang memiliki sosial media kan? Pernah melihat sebuah post yang kira kira muatannya seperti “ sahabat yang cuman ada ketika pas butuh doang “, kemudian di edit dengan gambar gambar “ sakitnya tuh disini “ atau malahan mungkin sampai menggunakan kata yang cukup kasar?

Pernah kan?

Jujur saja, saya risih dan tidak suka dengan hal hal demikian. Entah apa yang dipikiran mereka, tetapi saya merasa bahwa

“ Apakah ketika bersahabat harus perhitungan? Kok kesannya perhitungan sekali ya? “

Sepaham saya, Sahabat adalah satu hati yang berada dalam raga yang berbeda. Maksud dari ‘satu hati’ itu sendiri adalah kemampuan untuk saling memahami dan percaya. Jadi, ketika kesibukan memang menjadi hal yang menghalangi, seharusnya sebagai ‘satu hati’ kita harusnya memahami kan? Bukannya berusaha memperhitungkan apa apa yang dia lakukan dan apa yang kita lakukan kepadanya.

Kemudian mengenai ucapan ucapan seperti “ Ah elu datengnya cuman pas butuh doang"

Hhmmm… Benarkah kita sebaik itu hingga pantas mengatakan orang lain sedemikian halnya?

Saya ingin membahas terlebih dahulu ketika situasinya: Dia adalah sahabat/teman anda sejak lama dan cukup dekat. Kemudian kalian berpisah karena jarak. Lama kelamaan terpisah karena kesibukan. Anda selalu ada ketika dia membutuhkan anda, namun dia sebaliknya.

Untuk situasi seperti ini, justru anda adalah sosok sahabat yang baik. Kita tahu bahwa anda dan kawan anda tersebut telah berkawan cukup lama dan cukup dekat. Keadaan dimana dia tidak ada untuk anda ketika anda membutuhkan seseorang, mungkin harus menjadi keadaan yang diterima tanpa keinginan untuk membalas dendam. Bisa jadi, dia tidak bermaksud untuk tidak hadir, namun ketika itu kok ke-pas-an sekali karena dia juga memiliki kesibukan, mungkin. Percayalah bahwa semua ada saat dan waktunya. Mungkin saat ini dia yang terjerat kesibukan, bisa jadi beberapa waktu kemudian anda yang terjerat kesibukan. Setidaknya, anda telah membuktikan bahwa anda mampu menjadi seorang teman yang baik. Itu yang paling penting.

Situasi berikutnya adalah : anda berkenalan dan dekat dengan dia tidak terlalu lama, namun sudah saling mengenal dan mengetahui hal hal yang cukup mendalam, tetapi tidak semua. Kemudian anda menjadi orang yang siap sedia untuk membantunya, namun dia tidak.

Orang ini mungkin sudah dekat dengan anda, tetapi untuk curhat, anda belum bisa menceritakan hal seperti itu kepadanya. Menurut saya, #MADSISME, orang ini berada pada middle circle dalam status pertemanan anda. Dan orang yang menjadi kepercayaan anda untuk curhat, adalah orang inner circle anda yang paling dekat dengan anda. Wajar jika anda merasa kecewa karena tindakannya itu. Tetapi tetap, anda tidak perlu membalas dengan perilaku tidak menyenangkan yang sama. Tetapi, anda pun ketika sangat sibuk juga tidak perlu merasa khawatir ketika tidak dapat membantunya. Hitung saja impas.

Situasi selanjutnya adalah : ketika anda kenal dengan seseorang yang tidak sekalipun masuk dalam middle circle pertemanan anda. Orang itu pengganggu, mungkin. Atau orang yang tidak begitu anda kenali.

Membantu adalah hal yang baik. Dan percayalah pasti ada ganjaran kebaikan dibaliknya. Ada untuk membantu seseorang yang tidak anda kenal berkemungkinan menjadikan dia sebagai kawan anda yang baru. Bahkan bisa menjadi teman dekat yang baru. Karena, terkadang kita sangat bisa untuk langsung klik! dengan orang yang baru kita kenal. Namun disini anda memiliki hak yang penuh untuk menolak membantunya.

Masalahnya,

Kadang ada orang yang ngelamak atau sesuai peribahasa

“ Di beri hati malah minta jantung “.

Jika orang itu sedemikian buruknya, koreksi dulu deh. Apakah benar anda pantas untuk memiliki teman seperti ini? Bukankah hal ini terjadi karena anda tidak pandai dalam memilih pertemanan?

Mario Teguh pernah berkata bahwa ada moment dalam kehidupan kita yang disebut dengan burning the bridge. Moment ini adalah berusaha untuk memutus hubungan dengan orang lain yang kita tahu ketika bersama dengannya, kita akan menjadi pihak yang selalu dirugikan. Bisa juga ketika kita bersama dengan orang itu, akan ada orang lain yang haknya kita ciderai. Kita harus ingat bahwa kita ini berhak untuk bahagia dan menjaga apa yang berharga menurut kita. Dan apabila kita terus menerus dirugikan, kita harus memiliki ketegasan untuk menentukan. YES OR NO. STOP OR GO.

Kemungkinan akan adanya friksi atau gesekan mungkin sekali terjadi, tetapi hal itu saya fikir adalah sebuah proses wajar.

Saya fikir,

Tidak etis lah yaa apa yang biasa di tulis dalam meme tentang sahabat yang “ datang ketika butuh saja” itu. Jika anda yakin dia adalah sahabat anda, anda itu bukanlah malah mengkritik dia karena dia tidak mampu membantu anda ketika anda butuh. Tetapi, andalah yang seharusnya menjadi orang yang memahami akan situasi yang terjadi. Dan ketika suatu saat dia membutuhkan bantuan anda, dan anda pas selo, karena dia adalah satu jiwa anda yang terpisah dalam tubuh yang berbeda, maka bantulah dia sebagai mana teman/sahabat saling membantu.

Bukannya malah menyalahkan dia atas segala kesibukannya. Jika itu terjadi, yang sebenarnya terjadi adalah Anda bukan sahabat yang cukup baik baginya.

Berbeda jika anda saling menerapkan prinsip yang diatas itu, yaitu saling menghargai, memahami dan hadir, yang terjadi adalah semangat untuk saling tolong dan membantu. Bukan hitung perhitungan dan menyalahkan pihak yang lain.

Bukan apa yang diberikan sahabat anda untuk anda, tetapi anda untuk menjaga persahabatan dengannya

Sekian dulu tulisan dari saya ya..

Selamat bersahabat~
Continue reading →

Jagalah aku dengan kasihMu

0 comments
Tulisan ini ditulis dengan ditemani hujan ala Jogja. Jika kalian bertanya seperti apa bedanya, aku sarankan kalian langsung saja berkunjung ke Jogja. Ada rasa yang “spesial” dalam taburan uap air yang tercipta ketika hujan jatuh menyentuh tanah Jogja. Harum~

Selasa besok, aku memasuki fase UTS, Ujian Tengah Semester. Siap tidak siap, aku harus menghadapinya dengan baik. Banyak yang bilang, semester paling krusial adalah semester 1 hingga semester 4, setelah itu semuanya bakal ngikut. Makanya, misi jarak dekat adalah berusaha menyelamatkan IP hingga kesemester 4. Cum Laude.

Sedikit cerita, kemarin aku bersama kawan seperjuangan Manggolo Mudho berhasil tampil di Festival Reog Nasional tanggal 23 Oktober, 2 minggu yang lalu. Kami membawa pulang piala Penghargaan Atas Pengabdian dan Pelestarian REOG. Tidak masuk 10 besar penampilan Terbaik memang, tetapi setidaknya kami pulang dengan tidak membawa kekosongan piala. Aku senang, akhirnya kerja keras itu terbayar.

Setelah itu, datanglah hal yang menjadi pelik masalah.

Aku sadar benar apa jurusanku dan dimana aku menuntut ilmu sekarang. Di UII, jurusan Hukum. Sekitar satu tahun yang lalu aku sudah memusatkan diri pada Paduan Suara, sudah ikut lomba memang. Tetapi, kemudian aku sadar bahwa, ketakutan “akan jadi apa aku nanti” semakin menghantui.

Seperti yang semua sudah ketahui, jurusan Ilmu Hukum pastinya akan bekerja pada bidang kehukuman. Hakim, Jaksa, dan Pengacara adalah pilihan paling dikejar.

Sayangnya, semua itu bukanlah minat pekerjaanku. Bahkan aku takut dengan pekerjaan itu.

Aku bukanlah orang yang kuat. Aku yang sekarang menjadi orang yang lebih pendiam, introvert, dan lebih tidak tampak. Dikampus pun aku tidak memiliki kawan yang begitu banyak, tidak dikenal oleh orang sebegitu luas.

Aku berharap sekali lebih tahu bahwa aku akan menjadi seorang Psikolog, belajar di jurusan Psikolog, dan memiliki kawan kawan dalam bidang Psikolog. Aku kurang begitu mampu berada didepan, aku lebih memilih berada disamping atau dibelakang. Menjadi orang yang diperintah. Menjadi orang yang mendengarkan.

Sekarang ini aku susah sekali untuk berubah. Susah.

Aku tahu seharusnya aku bisa menjadi orang yang lebih aktif lagi, tetapi entah kenapa rasanya tidak bisa.

Aku merasa bahwa jalanku bukanlah untuk menjadi 3 profesi diatas.

Dan aku tidak memiliki seorang mentor pun untuk aku tanyai, untuk aku tiru.

Seperti, aku membuat jalan yang benar benar baru. Menelusuri semak tinggi untuk membuat jejak.

Aku benar benar kehilangan motivasi diri. Aku yang sekarang menjadi orang yang sangat sulit untuk peduli, tetapi keadaan terus memaksa.

Hingga hal itu pun berubah menjadi tekanan yang aku tidak tahu cara memperbaikinya. Rasanya ingin segera selesai saja.

Disini pun aku melihat teman temanku yang dulu mulai “terbang” dengan “sayap” yang mereka buat sendiri. Aku? Cuman terpaku melihat mereka terbang dan mengutuk diri yang tak berani membuat kerangka sayap.

Aku fikir, akan ada orang yang kemudian berpaling kearahku dan peduli. Kemudian datang dan membantuku membuat kerangka itu.

Tapi,

Aku fikir Tuhan menahan harapan itu tetap menggantung disana.

Akhirnya, sekarang, aku tersesat.

Aku benar benar tidak tahu pasti apa yang aku inginkan. Aku sebal melihat kehidupanku yang tidak berkembang.

Tapi aku tahu,

Kalau bukan aku yang merubahnya, maka tidak akan ada satu pun perubahan yang terjadi.

Aku tahu,

Itu adalah firman Tuhan. Hanya saja akhir akhir ini aku begitu tidak menghormatiNya. Akhir akhir ini aku banyak lupa padaNya.

Akhir akhir ini,

Aku tidak lagi percaya akan kasihNya.

Dan dengan ini aku semakin dalam masuk kelubang yang gelap. Sepi. Sendiri.

Aku tahu kehidupan ini tidak semudah yang ada dilayar lebar, tapi …

Apakah benar benar tidak mungkin aku akan menemui pertolongan yang tulus akan dari masalahku ini?

Aku harap, ada teman yang mau membantuku. Tapi, siapa memangnya didunia ini orang yang ingin susah?

Aku harap, aku menjadi orang yang berani.

Aku harap, aku tidak lagi menjadi orang yang abai.

Aku harap, aku menjadi orang yang lebih bisa memegang janji.

Entah ya… Apakah kerapuhanku ini adalah karena hati yang belum sembuh dari luka lukanya dulu.

Atau kah itu hanyalah alasan dan kambing hitamku agar aku membenarkan kelemahan yang semakin mengakar dalam diri. Menguat. Kemudian menjadi pohon yang membawa kegelapan. Entahlah.

Tapi, mungkin memang begitu.

Ditinggalkan dengan pengabaian, ditolak untuk orang yang lebih buruk dalam mencintai, dan kemudian mencintai orang yang tidak jelas hatinya untuk siapa.

Apa masih kurang aku ini mengalah?

Aku fikir, bersyukur itu mudah. Tetapi ketika dunia berlaku setidak adil mungkin, celah mana yang harus disyukuri? Aku butuh bantuan untuk melihatnya, sungguh.



Oh Tuhanku yang juga Tuhan Mikail,

Ijinkan aku untuk mendapat kesempatan lagi dan berikan keberanian untuk melakukan kesempatan yang Engkau berikan.

Jagalah aku dengan kasihMu

Aminn.
Continue reading →
Friday, October 10

Ketika Aku Bertanya, Rindu Ini Untuk Siapa?

0 comments
Sebenarnya itu bukanlah sebuah undangan. Bahkan lebih terdengar seperti saran yang bila ditolakpun tidak akan menimbulkan akibat hukum.

Tapi …

Karena itu datang darimu Dinda,

Terdengar seperti,

rayuan untuk menjumpaimu.

***

September sudah terlewati dengan tidak adanya satu tulisan yang ter-publish. Menulis waktu itu benar benar terasa malas bukan kepalang. Gerutuanku kepada Tuhan yang menjadi sebab utamanya.

Aku sedang me-nyatru Tuhan.

Asal katanya adalah satru yang memiliki arti memusuhi; menjauhi; mendiamkan.

Aku masih berkutat dengan masalah lama itu. Tentang, “kenapa rasanya begitu ‘kesepian’?” Yaa taulah. Cinta.

Sebenarnya sudah banyak aktivitas yang membuatku mulai lupa. Seperti berhasilnya kami untuk mengumpulkan para teman teman Ikasmaza Jogja dalam sebuah forum silaturahmi yang hangat; ikut merayakan Hari Raya Idul Qurban; tugas yang mulai datang; waktu yang lebih banyak bersama teman; pengaturan uang yang lebih baik sehingga aku bisa makan dan njajan lebih sering; dan yang paling baik, aku sudah kembali ikut dalam proses penggarapan tari REOG untuk FRN yang akan tampil tanggal 23 Oktober ini.

Tapi,

Bejibun aktivitas seperti itu masih saja membuatku memikirkan hal itu. Dan ternyata aku tidak sendirian. Ada kawanku yang lain yang merasakan hal yang sama.

Kenapa begitu “sepi”?

Hal ini membawaku pada kesimpulan bahwa, umur dan memori masa lalulah yang menjadikan kebutuhan akan asmara mulai tumbuh. Ditambah lagi dengan lingkungan pertemanan yang mulai membahas tentang relationship lebih sering daripada fase kehidupan sebelumnya.

Memang tidak semua orang, tapi, orang yang dulu pernah merasakan pacaran yang real akan merasakan kebutuhan akan “hal itu” lebih besar daripada orang yang tidak pernah melalui hubungan pacaran sebelumnya. Ini yang saya dapati dari momentum kehidupan yang saya temui sekarang.

Hipotesisnya,

Pertama, Memori masa lalu (biasa disebut juga dengan kenangan) secara alam bawah sadar dijadikan sebagai bahan pembanding dari kehidupan yang saat ini terjadi.

Misalnya dulu kalian pernah pacaran dan mesra mesranya, lalu sekarang kalian sedang me-jomblo, maka sensasi dari kebutuhan akan “hal itu” menjadi lebih besar daripada mereka yang tidak pernah pacaran sebelumnya.

Kedua, Umur, entah dalam hal yang saya sendiri tidak mengerti, sedikit-banyak memberikan dampak pula terhadap ketertarikan akan kebutuhan “hal itu”. By the way, yang saya maksud dengan “hal itu” adalah pacaran, kangen kangenan, cinta cintaan, munyu munyuan, berantem beranteman dan hal hal lain yang biasanya muncul ketika jatuh cinta. Nah, umur, dalam hal ini pun saya juga tidak tahu kenapa bisa memberikan dorongan atau bisa menjadi salah satu faktor yang cukup mempengaruhi. Entah karena hormone atau apa, saya juga kurang bisa menjelaskan. Tetapi, menurut saya ini menjadi salah satu faktor.

Ketiga, lingkungan. Ketika kita masih dalam fase SMP-SMA, “hal itu” memang sudah ada, namun belum dianggap sebagai sebuah materi utama pembahasan kehidupan saat itu. Pada fase SMP-SMA, lebih banyak masa masa Cinta Monyet, main bareng bareng sama temen sekelas, nakal nakalnya bareng temen sekelas, pokoknya nuansanya adalah masih “main main”. Tetapi, fase yang sekarang, terlihat menuntut agar mulai lebih serius. Didorong agar tidak hanya melihat jangka pendeknya saja, namun juga jangka panjang – pernikahan.

 Sebab karena itulah, pada fase sekarang ini muncul bahasan baru, yaitu tentang relationship. Bahkan, akan secara natural dihadapkan dengan “konflik relationship”. Yang saya maksud “konflik relationship” adalah dimana konflik yang terjadi difase ini adalah konflik yang bertemakan tentang hubungan asmara atau relationship. Secara bertahap, akan dibawa pada sebuah sistem yang saya sebut – komitmen hubungan; dimana kita akan secara sukarela maupun dipaksa untuk berkomitmen dalam sebuah hubungan yang sifatnya sedikit lebih kompleks.

Bahasa sederhananya, kalian akan belajar untuk komitmen dengan pasangan anda. Mengenai hal hal yang sederhana ataupun bahkan hal hal yang rumit. Ketemu ortunya si-pasangan; mulai membicarakan hal hal yang berkaitan untuk sukses berdua; menikah; galau karena umur udah lumayan uzur tapi belum ada seseorang untuk diajak membicarakan pernikahan; dan sebagainya.

Mungkin kalo buat saya sendiri, belum deh mikirnya sampai menikah. Yaa walaupun kadang sesekali kepikiran, sudah mulai memperhitungkan tetapi tidak pada level yang sangat serius.

Dorongan yang lebih besar justru lebih kepada faktor yang pertama ya.. Memori. Yaa karena “landing”nya hubunganku (menurutku) kurang memberikan sesuatu yang layak untuk dikenang yaa. Jadi, rasanya kurang sreg aja.

Tapi, ada kata kata bijak yang bilang …

Terkadang, kamu dipertemukan dengan orang yang salah, agar memahami berharganya dipertemukan dengan orang yang tepat

Kecewa, pasti. Tetapi, langkah yang paling baik adalah menjadikannya pelajaran. Saya belajar arti dari setia. Karena ada dinding yang tipis sekali antara setia dengan gagal move on.

I’m already move away and move on. But, not moving up yet.

Saya belum dipertemukan dengan yang menggantikan”nya”. Maka dari itu, melalui tulisan ini, saya pengen ingetin kepada kalian yang sudah menemukannya bahwa,

Kalian sangat beruntung :)

Seharusnya, tidak ada satu waktu pagi pun bagi kalian untuk berat mengucapkan rindu. Karena, ada seseorang yang selalu kalian kangen-kan, padahal dia tepat ada disamping kalian.

Yang susah adalah ketika kamu merindu, tetapi tidak tahu rindu itu untuk siapa.

Maka, mungkin saja bila,

Rasa rindu itu adalah rindu akan kenangan indahmu dengan masa lalu.



Andai aku bisa, aku akan sesegera mungkin tak lagi merindu masa laluku.
Aku akan merindumu, Dind.
Dalam setiap doaku.
Continue reading →
Wednesday, September 17

Perjumpaan Indah dalam Mimpi

0 comments
Wow. Akhirnya aku bisa menjumpai Dinda. Dalam mimpi. Bukan sembarang mimpi, namun mimpi yang begitu jelas.

Bahagianya? Emmhhh bukan main!

Bahkan, mimpi itu bukan hanya sekadar bertemu dan mengobrol. Dalam mimpi itu, dia mengatakan memiliki perasaan yang sama terhadapku.

Oh~

Sungguh, jantung ini berdebar debar walaupun aku tahu itu hanyalah mimpi. Mimpi yang mana, lebih indah dari kenyataan hidupku.

Percaya tidak percaya, mimpi itu seolah membuatku bingung mana yang mimpi dan mana realita.

Dan aku pun sangaat berharap, aku terus berada dalam mimpi itu. Kalau bisa, bertukarlah. Mimpi ini menjadi sebuah realita, sedangkan realita hidupku menjadi sebuah mimpi yang muncul dalam setiap kali aku terlelap. Dengan begitu, aku akan mengurangi tidur dan memperbanyak melek.

Oiya lupa.

Dinda bukanlah nama asli. Dia adalah panggilanku untuk seseorang yang begitu .. apa ya.. kalau dimanakan cinta, terasa terlalu naïf, sebab kita tak pernah berjumpa. Dinda adalah panggilanku pada perempuan yang … aku naksir dibuatnya. Seseorang yang aku sukai, secara diam diam.

Dinda adalah panggilanku untuk menyebut namanya dalam doaku setelah ibadah. Sering sekali, ketika aku selesai ibadah, aku teringat padanya.

Dulu, kami sempat bertemu. Seketika saja, aku ingat perasaan ini, jantung yang berdebar, sikap yang terasa serba salah, dan mulut yang begitu sulit untuk menyapa. Aku ingat sekali perasaan ini.

Perasaan saat pertama kali aku jatuh cinta.

Hingga akhirnya, Tuhan mengijinkan aku bertemu kembali dengannya. Bertemu dalam mimpi. Sungguh, entah dimimpi pun, paras cantik yang begitu membuai itu tak sedikitpun berkurang. Aku ingat sekali dalam mimpi itu, dia yang lebih banyak bicara, sebab aku hanya bisa melongo dan deg-deg-an sendiri. Aku hanya bicara sedikit saja. Aku masih tak percaya bisa bertemu dengannya lagi.

Aku masih diam tak percaya bahwa, dia memiliki perasaan yang sama,

Dalam mimpi.

Lucunya, dalam mimpi itu aku bertemu kedua orang tuanya walaupun agak begitu samar. Kagetnya, mereka langsung menyetujui.

Duh, Beyyuuuhh~

Sungguh, tidak pernah ada mimpi yang membuatku begitu ingin bertukar realita seperti ini.

Tapi, sudahlah. Itu hanya mimpi. Bunga tidur, yang sungguh berhasil memerankan diri sebagai bunga.

Hingga detik aku menulis ini, aku masih dan terus bersyukur.

Mungkin ini adalah sebuah ganjaran baik, hadiah, serta hiburan atas usahaku berusaha keras untuk tampil di Festival Reog Nasional besok.

Oh!

Mungkin juga ini adalah kado Tuhan atas ulang tahunku 17 Agustus kemarin!

Mungkin sekali.
Continue reading →
Friday, September 12

Payah. Payah!

0 comments
Apa beda antara “Masalah” dengan “Tanggung Jawab”?

Kuliah memang belum saja dimulai tetapi sudah harus dihadapkan dengan realita kesulitan untuk memilih.

Konser Padus atau Festival Reog Nasional.

Awalnya niatan Konser ada dibulan Oktober namun karena adanya beberapa hal, menjadikan harus diundur hingga waktu yang belum ditentukan.

Untuk Festival Reog Nasional, Manggolo Mudho direncanakan tampil pada tanggal 23 Oktober 2014. Awalnya, aku sudah pasti tidak bisa ikut karena terikat kontrak lebih dahulu dengan Konser. Tapi kalo boleh jujur, aku lebih milih untuk tampil di FRN.

Karena setelah ditelisik, menari lebih membuatku menjadi diri sendiri daripada menyanyi.

Tapi, bukan berarti aku nggak suka untuk nyanyi dan ikut konser, hanya saja ketertarikan itu seperti memudar karena terlalu berbelitnya masalah yang ada. Serta mulai tergantikan dengan hal lain yang lebih menjanjikan.

Aku pengen agar segera konser dan tanggung jawab ini hilang.

Muleg. Terlalu macam macam perhitungan atau malah perhitungan yang kurang. Harusnya bisa segera dieksekusi, eh, diundur, diundur, diundur.

Sulit sekali melihat profit disini.

Semua itu ada batas waktunya. Kalau tidak segera, ibarat pemanasan, badan yang dibiarkan lama tidak segera berolahraga akan dingin lagi.

Frontalnya,

Buang buang waktu.

Aku seharusnya bisa membangun karir di-nari dan melejit dengan hasil yang lebih baik daripada eksekusi lama yang menjadikan waktu serta momentum akan semakin hilang.

Sayangnya,

Semua ini sudah terlanjur. Sudah menjadi tanggung jawab. Dan aku,

Aku benci dengan kondisi ini.

Aku benci perasaan dimana aku harus menjelaskan ketidakmampuanku dan “meminta” orang lain untuk memahami dan mentoleransi kekuranganku.

Aku merasa,



Payah.





Aku ingin mundur sajalah
Continue reading →