Wednesday, June 4

Tamparan Malam

0 comments
Malam ini gue dikritisi karena “sebagai anak ‘hukum’ bakal diketawain kalo nggak up to date tentang berita berita politik yang berkembang saat ini.

Well, untuk beberapa point benar dan gue setuju. Tapi, apakah begitu terdeskritkannya orang orang hukum yang tidak mengetahui tentang kabar politik baru baru ini, dimana sedang “ricuh” menjelang pemilu?

Bagaimana jika ‘anak hukum’ itu memiliki minat yang berbeda disana atau bahkan mungkin tidak sempat untuk mengikuti perkembangannya? Apakah semudah itu memberikan label “salah”?

Secara jujur emang dalam 2 minggu terakhir ini gue kurang concern dengan perkembangan politik di Indonesia menjelang Pemilu Presiden. 1) gue belum memilih secara mantab siapakah calon pilihan gue di Pilpres ini. 2) gue belum minat untuk ng-stalk perkembangannya. Ada rasa apatis disana dang secara jujur gue kurang begitu berminat merayakan pemilu ini walaupun kita, bangsa Indonesia saat ini dekat dengan urgensi pasar bebas ASEAN, dimana kita dituntut agar memilih secara tepat siapa Presiden yang mampu menjaga amanat rakyat dan menggiring negara ini untuk bisa menghadapi tantangan dunia yang lebih sulit.

Gue gak peduli.

Tapi gue tau, gue harus turuntangan ambil bagian untuk bertindak.

Hanya saja, gue belum mau, belum saatnya.

Dan karena “ditampar” seperti malam ini, sudah saatnya gue kembali dari absen gue setelah lolos dari agenda ikut lomba padusa tanggal 23-24 Mei kemaren.

Akan gue mulai dengan me-kritisi kondisi Perdebatan Kampanye kali ini.

Beberapa waktu yang lalu, di MetroTV dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan tanggal 28 Mei, membahas tentang Pilpres dengan judul “JOKOWI atau PRABOWO”. Judulnya, menurut gue bener bener langsung to the point. Dan dari awal acara, gue sudah memprediksi bahwa perdebatannya nanti akan lebih bernuansa saling menjatuhkan daripada saling menunjukkan kemampuan masing masing.

Pada sekmen pertama, pembicaranya adalah Anies Baswedan dari pihak PDIP dan Mahfud MD dari pihak GERINDRA, mereka berdua adalah juru bicara dari masing masing partai. Yang pengen gue nilai disini adalah betapa matang, dewasa, dan santunnya Anies Baswedan dalam menyampaikan pendapatnya dan juga alasannya kenapa memilih Jokowi daripada Prabowo. Dengan tutur kata yang menurut gue apik banget, sopan, namun tegas akan sikap. Lalu bagaimana dengan Mahfud MD, sesaat gue menangkap dimana pak Mahfud ini lebih kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Najwa Shihab. Yang bikin saya bingung juga adalah karena mereka berdua ini adalah tokoh yang menjadi panutan gue, dan detik ini mereka berseberangan dalam dukungan mereka kepada Presiden.

Dan setelah ditayangkan episiode itu, kritikan, cemoohan, dan hal hal kurang santun lainnya bermunculan ke media. Menyerang Anies Baswedan dan Mahfud M.D, Capresnya pun nggak ketinggalan dicerca juga. Kubu pendukung pun menjadi saling serang. Bukan serangan yang menunjukkan “ Kami pantas dengan kompetensi kami”. Tapi malah “Kalian tidak pantas, karena kalian tidak sesuai dengan apa yang kami lakukan”

Nah, yang jadi masalah yang mana nih?

Bagi gue, yang menjadi masalah adalah mereka yang mempermasalahkan hal ini.

Menurut gue, orang orang kita ini jadi sangat tidak terbiasa dengan perbedaan pendapat.

Masih banyak orang menganggap orang lain SALAH hanya karena mereka TIDAK SAMA dengan mereka

Waduh, kalau bagi gue, ini sikap yang primitif sekali. Gue merasa sikap seperti ini adalah sikap yang sangat egois, dimana kita tidak memberikan ruang untuk adanya penjelasan dan tidak memberikan ruang untuk adanya perbedaan.

Dalam kacamata gue, Pasangan capres Jokowi-JK menurut gue sedikit lebih unggul dari pasangan Prabowo-Hatta. Gue berusaha mencari informasi walaupun masih bisa dibilang tidak cukup banyak.

Dan menurut gue, pasangan Prabowo-Hatta ini mendapat serangan black-campaign lebih daripada Jokowi-JK. Banyak sekali masalah masalah masa lalu pasangan Prabowo-Hatta yang dimunculkan kepublik padahal jika kita mau menengok ke-5 tahun yang lalu dimana Megawati memilih Prabowo sebagai Cawapresnya tenang tenang saja. Bahkan 5 tahun yang lalu gue juga nggak tahu menahu adanya kasus yang menyandung Prabowo.

Gue akan berusaha merumuskan dan menuliskan penilaian yang berkembangan disekitar masyarakat mengenai 2 capres ini.

Pertama, pendapat tentang kelebihan Jokowi-JK:

1.      Capres yang dinilai sederhana, merakyat, suka blusukan.

2.      Pernah menjabat sebagai Walikota Solo dan juga Gubernur Jakarta yang (katanya) sudah 

memberikan kontribusi cukup nyata.

3.      Tidak memiliki catatan buruk dalam track-record-nya

4.      Dinilai sebagai sosok pembaharuan.

5.      Elektabilitas tinggi

Kedua, pendapat tentang kelebihan Prabowo-Hatta.

1.      Memiliki popularitas yang tinggi

2.      Dinilai sebagai sosok pemimpin yang tegas, berani, dan memiliki wibawa.

3.      Memiliki prestasi dibidang militer yang baik

4.      Karena memiliki background militer, Prabowo dinilai memiliki kecakapan memimpin dengan 

strategi yang baik.

5.      Prabowo mampu menggaet partai partai Islam dalam koalisinya yang nantinya akan menarik minat 

para orang Islam

Nah, sekarang kekurangannya.

Pertama, pendapat tentang kekurangan Jokowi-JK:

1.      Jika Jokowi menang, maka dia akan disinyalir sebagai pemimpin boneka karena ada pendapat 

yang berkembang bahwa dia akan dikendalikan oleh Megawati.

2.      Kemampuan bahasa inggris yang dinilai kurang sebagai Presiden

3.      Jokowi juga dinilai akan tunduk kepada negara negara asing.

4.      Metode blusukan Jokowi dinilai tidak cocok jika menjadi Presiden. Capek kalo blusukan mulu 

keliling Indonesia

5.      Jokowi terus diserang karena dia tidak menyelesaikan kepemerintahannya di Solo dan di Jakarta. 

Dinilai haus akan kekuasaan.

6.      Tersandung isu negative tentang pengadaan Bus Transjakarta.

Kedua, pendapat tentang kekurangan Prabowo-Hatta:

1.      Isu pelanggaran hak asasi manusia dalam penculikan aktivis 1998.

2.      Penembakan semanggi

3.      Pelanggaran HAM berat di Timor Timor

4.      Tidak memiliki istri dan berkaitan dengan seksual

5.      Memiliki sikap temperamental dan menggunakan kekerasan

6.      Memiliki hutang yang banyak.

Dan gue yakin bakal lebih banyak lagi pendapat tentang keburukan dari masing masing pihak.

Karena, kita masih menikmati berkampanye dengan pesta menjelek jelekkan daripada berusaha membangun keyakinan akan potensi dan kemampuan yang kita miliki.

Sifat bully masyarakat Indonesia ini sangat luar biasa habatnya menurut gue. Ada perasaan dimana gue ini malu karena membangga banggakan dimana masyarakat kita ini adalah masyarakat yang santun, padahal …….

Tapi gue nggak mau cuman jadi mereka yang omong doang. Gue berusaha menjadi golongan yang berusaha mendewasa dan memilih cara yang santun dalam berpendapat mengenai pilihan Pilpres.

Awalnya gue mendukung Jokowi, namun karena gue ngerasa sikap pendukungnya yang fanatik dan memunculkan cara bertarung dengan saling menjatuhkan.

Awalnya gue pikir Prabowo ini kurang bagus karena jejak masa lalunya, tapi akhirnya gue mikir, nggak fair lah kalau Prabowo ini selalu diseret seret isu masa lalu yangmana tidak ada Peradilan yang mau mengadakannya.

Dari kuliah hukum, gue belajar bahwa:

Isu negative tentang dugaan keterlibatan Prabowo dengan tragedy dimasa lampau yang berkaitan dengan Pelanggaran HAM berat ini dapat diselesaikan melalui Peradilan HAM Ad Hoc yang mana peradilan Ad Hoc ini ada JIKA ADA KASUSNYA SAJA.

Kasusnya ada. Tapi kenapa tak kunjung diadili?

Ada permainan politik disini. Peradilan Ad Hoc ini ada jika DPR yang minta. Tapi, orang orang yang ada di DPR itu adalah orang orang dari golongan partai penguasa yang secara kasar dinilai berseberangan dengan Prabowo. Musuhan gitu deh pokoknya.

Jika Prabowo sudah diadili dan masalah selesai, maka tidak ada lagi alasan alasan yang bisa dibuat untuk terus menyerang Prabowo. Maka dari itulah, pengadilan ini tidak pernah ada, agar kasus ini tidak pernah diselesaikan, dan ‘mereka’ masih bisa menyeret nyeret dan mengungkit Prabowo dengan segala kesalahan masa lalunya.

Ini nggak fair.

Jokowi sekarang ini ribut diserang tentang Isu SARA yang berkenaan dengan agama. Dinilai sebagai antek Zionist lah, apalah.

Tapi Jokowi lebih memilih untuk tidak menggubrisnya dan memilih untuk kerja kerja dan fokus untuk pemenangan Pilpres. Disisi lain, masyarakat juga semakin bingung karena tidak ada kejelasan manakah berita yang benar itu.

***

Jika orientasi kita terhadap cara berdemokrasi, cara berkampanye yang menggunakan metode saling menjatuhkan daripada saling menguatkan posisi masing masing dengan saling bertarung buah pemikiran mana yang terbaik,

Sebaik apapun calonnya, gue udah muak dan gak percaya.

Dalam Islam, jika kita ingin melakukan sesuatu itu bergantung pada niat kan? Tapi nggak berhenti disitu saja lho.

Kalau niatnya baik tapi dilakuin dengan cara yang salah, hasilnya bakal salah juga.

Pemimpin yang memiliki segala kebaikan, namun malah berjuang dengan cara yang salah, maka segala kebaikan itu akan hilang, ditutupi oleh segala keburukannya.

Jika memang kita pengen Indonesia yang berubah, berubah kearah lebih baik, mulai dengan menentukan sikap yang tidak fanatik.

Orang orang fanatik adalah orang orang yang bodoh.

Dan pendapat yang diiringi akan sakit hati, tidak akan pernah objektif. (gue udah buktiin)

Lalu, bangun kedewasaan dalam berpolitik.

Jangan dong kita pakek cara berpolitik yang transaksional doang dimana segalanya pakek uang, malah mengesampingkan tujuan dari berpolitik yangmana kita itu pengen memperjuangkan kepentingan orang banyak.

Berusaha berkampanya secara santun, jangan saling menjatuhkan dengan mengungkapkan aib, bukan bertarung menunjukkan kualitas.

Sikap ini juga diperlu dimiliki oleh para pendukung masing masing yang saling berlawanan. Mendukunglah dengan cara yang baik dan santun, dan jika memang benar kita ingin berusaha menyadarkan akan keburukan salah satu pihak, plis dong yang objektif.

Jangan cuman nyalahin dan jelek jelekin tapi nggak bisa kasih kelebihan dimana agar kita juga selalu mawas diri dan nggak sombong.

Berjalan dalam jalan kebenaran dan diliputi dengan rasa rendah hati itu lebih mulia daripada berjalan sombong dijalan yang ‘menurutmu’ benar.

Rendah hati dan mawas diri.

Sebagai penutup, gue minta maaf atas tulisan gue yang masih rancu dan loncat loncat ini. Yaaa setidaknya gue berusaha membuktikan kediri gue sendiri kalau gue mau usaha untuk menyalurkan apa yang ada dalam pemikiran gue untuk gue tulis dan gue bagikan.

Daripada mereka yang dengan sombong dan belagunya menganggap “ojo nggur ng-blog ae”. Anjing! Daripada elo coy cuman BACOT doang.

Mana karya lo?

Mana keinginan lo buat berkarya?

None.

Go f*ck yourself

Salam #Jancuk
Continue reading →
Tuesday, May 27

24 jam berlalu (Pemulihan)

0 comments
Rabu 28 Mei 2014.

Pukul 12 siang hari ini menjadi 24 jam dari pengumuman SNMPTN kemarin. Pertama gue pengen mengucapkan selamat kepada teman teman yang Alhamdulillah diterima dijurusan yang diinginkan. Dan gue menulis ini untuk teman teman yang oleh Tuhan, SNMPTN ini Dia tetapkan sebagai bukan jalan kalian untuk menuju ke panggung Perguruan Tinggi.

Gue tidak mengatakan anda gagal. Tidak akan.

Sebelum gue melanjutkan, gue ingin mengatakan bahwa gue tidak akan membagikan tips, trik atau apapun mengenai SBMPTN. Kalau mau, kalian bisa berkunjung ke Blog sahabat gue disini.

Yang gue ingin coba lakukan disini adalah gue ingin berbagi cerita. Yup. Gue mengerti sekali perasaan kalian yang dunia katakan sebagai “kegagalan”. Jadi, bagi yang merasa waktunya akan tersita dengan percuma silakan tutup jendela beranda ini karena gue tidak akan menerima kritik, cemoohan atau apapun.

***

Dimomen yang sama, mundur pada 1 tahun yang lalu dimana gue juga dekat dengan pengumuman SNMPTN, ketika itu gue sedang ada rapat FFI bersama kawan FFI Chapter Ponorogo dirumah sang Ketua, Satria Tegar Wicaksono (STW). Hari itu, pengumumannya sore hari. Dan kami rapat samapai sore hari juga. Tersisa Juwito, Astana, Laksa, Alan, gue dan STW saat itu karena yang lain memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Seperti kebiasaan kebiasaan lainnya kami ngobrol kesana kemari dan terkadang juga berdiskusi tentang apa yang akan terjadi, nanti setelah kami ber-6 memasuki dunia kuliah.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore kami pun berencana untuk melihat pengumuman SNMPTN langsung dirumah STW saat itu juga karena di twitter sudah rame sekali dengan twit teman teman yang saling menanyakan “piye SNMPTN mu? Ketrimo ogak?” . Sekejap, jantung gue ini berdegup kencang sekali ketika akan melihat pengumuman itu. Kami memutuskan untuk melihatnya secara bergantian, karena dirumah STW maka diputuskan STW yang harus melihatnya dulu.

Kami berlima pun duduk mengelilinginya, saling berpegangan tangan, dan mendoakan. “Ya Allah mugo mugo koncoku lolooosss”. Kepala kami tertunduk bersama, berdoa. STW masih sibuk log in , mencari diberanda mana yang menunjukkan hasil pengumuman itu. Sedetik kemudian, “Selamat anda diterima di ……. “

ALHAMDULILLAAAAAHHHH

Kami berlima merangkul “Ketua Gila” kami bahkan menindihinya. Yaaa… Gue melakukan hal “lakik” yang biasa dilakukan sesama laki laki. Pukullah, jewerlah, apalah. Demi Tuhan, gue bahagia banget liat bro gue lolos ke Perguruan Tinggi yang dia pengen banget ngampus disana.

Dan kemarin, gue melihat hal yang sama. Saling dukung, saling support, saling membesarkan hati.

Kemarin, kita bersatu menjadi satu karena ke-senasib-an. Melebur dalam senang, sedih dan sendu. Tapi tetap berusaha saling menguatkan dan membesarkan hati.

Bagi gue, ini pemandangan yang indah dalam arti tidak menjatuhkan. Jarang kita bisa bersatu seperti ini. Dan karena kita tahu itu adalah sahabat yang selama 3 tahun berjuang bersama, ada rasa haru disana.

Selesai dengan si STW ini yang bahagia dengan segala kesyukuran dan euphoria-nya, sekarang siapa yang berani dan mau buka pengumumannya disana. Eh, ternyata semuanya jadi pada galau dan ragu untuk membukanya. Takut dikecewakan. Gue pun begitu.

Akhirnya kami berlima memutuskan untuk pulang dan membukanya sendiri dirumah dan berjanji akan saling mengabarkan apapun hasilnya.

Motor yang gue bawa terasa begitu cepat untuk tiba dirumah. Gue melihat Ibu gue yang sibuk membersihkan ruang tamu. “Ma, pengumumannya udah keluar. Aku lihat sekarang ya”

Laptop dan internet pun segera gue nyalakan. Gue tuliskan di address bar, snmptn.ac.id dan rasa takut itu muncul kembali. Ibu gue berdiri tepat disamping gue dengan masih memegang lap ditangannya. Hening.

“Maaf, ….. “

Gue pun menoleh ke Ibu gue dan “ Maaf ya ma aku gak masuk. “

“Halah gapapa.. Mungkin ya cuman belum rejekinya. Wes gak usah dipikir. Kamu belajar aja lagi ”

Iya. Itupun jika masih sempat.

***

Gue cuman sekian dari jutaan anak SMA yang juga nggak lolos SNMPTN. Dan gue yakin ada dari sekian juta mereka yang tidak lulus, tidak seberuntung gue memiliki orang tua yang menerima “kegagalan” gue ini. Ini adalah satu dari kesyukuran yang bisa gue ambil akan moment ini.

Gue ngerti rasa sedih itu, kecewa, nggak percaya, bahkan iri. Jujur saja, gue iri melihat temen temen gue yang lain yang berhasil lolos. Ya memang seperti itu “rumus kehidupan”. Wajar dan manusiawi kok.

Yang jadi masalah itu bukanlah segala emosi negative yang menyelimuti kita saat itu, tapi apakah kita mampu menerima keadaan ini atau tidak. Langkah pertama adalah menerimanya atau tidak. Jika fase ini tidak mampu dilewati, then it’s all over here.

Ikhlas.

Dan musuh kita saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah diri kita sendiri. Dalam dirimu kamu teruuss dan terus bertanya “Kenapa harus seperti ini?”.

Padahal, diatas sana Tuhan menjawab, “ Kenapa tidak harus seperti ini?”

Dalam Psikologi, masalah manusia itu cuman ada 2. Ditolak atau kehilangan. Dan ketika seorang manusia mengalami 2 hal masalah diatas secara bersamaan maka bisa dibilang berat.

Faktanya adalah kita memang ditolak oleh univ itu untuk menjadi bagian dari mahasiswanya dan seakan akan kehilangan kesempatan untuk berjuang. Ketika kita belum mampu berdamai dengan diri kita sendiri untuk menerima segala “ketertundaan” masuk PT ini secara otomatis mind set kita akan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Efek keberlanjutannya adalah hilangnya semangat dan motivasi. Padahal 2 hal tadi adalah hal yang HANYA kita punya saat itu. Tanpa semangat dan motivasi apa masih mungkin kita akan mood untuk belajar? Apakah tanpa 2 hal itu, kita akan mau dan mampu menerima pelajaran?

Tidak.

Karena itulah rumusnya.

Lewati dulu fase ini, menerima “ketertundaan” ini. Ikhlas

Mau nangis kek, mau marah kek, mau apapun yang mampu membuatmu merasa lebih baik, maka lakukanlah. Jangan sok pura pura bahagia. Karena ini juga menjadi masalah yang akan jadi bom waktu. Dan gue kenal betul siapa orang yang mengalami hal ini. Dia terlihat kuat, tegar, dan menerima, tapi sungguh jauh disana dia masih berjalan dengan terseok seok.

Luapkan semua itu. Jujur pada diri kalian sendiri, katakan “ It’s true that I failed. It’s true that I disappointed to myself. But, beyond it, I love myself and I forgive myself

Jujurlah pada diri sendiri, terimalah keadaan ini, tapi jangan siksa dirimu dengan rasa bersalah.

Maafkanlah dirimu.

 Kalau bukan dirimu yang menyayangi dirimu sendiri, lalu siapa lagi? Tuhan? Padahal, Tuhan itu sudah menyerahkan tanggung jawab nasib kita ditangan kita sendiri. Tuhan tidak akan merubah keadaanmu, melainkan kamu merubah keadaanmu sendiri.

Setelah fase itu dilewati, sekarang yang harus dilakukan adalah fase recovery. Memulihkan kembali segala apa yang hilang dari kita yaitu semangat dan motivasi. Lalu caranya?

Ingatlah kembali untuk siapa kamu berjuang. Ingatlah kembali kata kata yang pernah kalian ucapkan ke sahabat kalian untuk bertemu di “gerbang kesuksesan”. Ingatlah kembali sejauh apa kamu sudah belajar hingga detik ini.

Ingatlah Tuhan yang sudah memasukkanmu pada kondisi ini, dan buktikan kepada Tuhan bahwa kita mampu melewatinya. Tuhan terharu pasti ketika melihat hamba-Nya yang walaupun dalam keadaan hatinya terluka tetapi masih berusaha membuktikan dan berjuang bahkan seakan akan mengatakan “Tuhanku tidak salah. Yang Ia inginkan adalah agar aku tumbuh menjadi orang yang lebih kuat.” Tuhan tidak sampai hati untuk membiarkan kita berjuang sendiri, dan disana pasti ada campur tangan Tuhan. Pasti.

Dalam meyakini ini, kita membutuhkan keimanan.

Ketika semua semangat itu sudah terostorasi kembali masuk fase yang terakhir, laksanakan apa yang sudah kita putuskan.

Segera ambil keputusan. Meneruskan perjalanan atau melewati rute lain. Pilih kejar impian atau menjadi realistis.

Untuk sekali lagi, kita harus memutuskan pilihan. Dan ini pasti bukan pilihan yang mudah pastinya. Yang tau hanya diri kita sendiri dan Tuhan.

Orang lain, misalnya guru, mentor belajar, orang tua, senior, hanya akan membantu untuk memberikan referensi dan data untuk menjadi bahan pertimbangan. Kalau soal apa yang ditentukan dan bagaimana keputusannya, semua terserah kalian.

Pilih realistis atau berusaha kejar mimpi.

Fase fase diatas gue analogikan:

Dalam suatu perjalanan yang cukup jauh, kita jatuh ditengah jalan. Dan barang bawaan dan bekal kita jatuh berserakan kemana mana. Terima dahulu bahwa kita jatuh karena kesandung batu dan sadari bahwa kita harus segera bangkit. Lalu berusahalah kumpulkan kembali barang bawaan dan bekal yang jatuh berserakan tadi. Beri waktu untuk diri sendiri. Dan sadarilah bahwa kita harus sesegera mungkin melanjutkan perjalanan. Putuskan! Apakah akan lanjut dengan jalan yang kita rencanankan atau berusaha menjadi jalan alternative lain.

Harapan gue menulis ini adalah gue secara pribadi pengen bilang bahwa kalian tidak sendiri. Dan gue telah membuktikan jika satu pintu tertutup, ada pintu lain yang masih terbuka. Sayangnya, beberapa diantara kita akan duduk diam dan terus mengetuk pintu yang tertutup itu.

Hidup serasa berakhir padahal kalian baru 18 tahun. Belum merasakan susahnya menanggung biaya keluarga sendiri, menentukan jodoh padahal umur berasa semakin melewati matang, serasa menua dalam kesendirian, susahnya mencari kerja dalam dunia yang persaingannya semakin ketat. Kalian dan saya, masih jauh dari itu semua.

Dunia ini akan berjalan dengan pola dimana “yang berkualitas yang dicari”. Bukan “dari manakah kamu berasal”. Toh jika memang kemungkinan terburuknya kalian masuk di PT yang bukan tujuan kalian, tetep optimis aja gitu lho. Hidup nggak se-cetek dunia kuliah doang tapi memang benar kalau dunia kuliah adalah simulasi kehidupan yang sebenarnya.

Penting, tetapi bukan segalanya.

Kalau cari PT keren tapi cuman buat gengsi gengsian, gue yakin Tuhan akan membuat skenario dimana kalian tidak akan bisa masuk kesana. Makanya, putuskan! Putuskan untuk meluruskan niat.



NB.

Tulisan ini gue buat dengan niat untuk membantu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan emosional dan mental. Bukan tentang strategi SBMPTN kedepan karena gue udah kasih link dimana sobat blogger yang lain udah bikin. Dan menurut gue itu keren banget. Patut dicontoh.

Perhatian gue terhadap emosional yang terguncanglah yang menjadi alasan gue pengen nulis begini. Perhatian gue tentang psikologi dan pendekatan secara interpersonal-lah yang begitu membuat gue tertarik dan berniat untuk mewujudkan sesuatu.

Dan juga atas dasar rasa kesenasiban yang dulu pernah gue alami, gue bingung harus ngelakuin apa. Serius.

Dan akhirnya gue menemukan, dan gue pikir ini harus gue bagikan.

Gue akui memang banyak kekurangan dan gue akan terus berusah memperbaikinya.

Salam sayang~

Stay Strong !



Bukan jatuh dan gagalku yang penting, namun bangkitku setelah aku jatuh yang lebih penting
Mario Teguh.
Continue reading →