Sunday, March 16

PHP dalam Perspektif dan Analisis MADSISME

0 comments
Selamat malam sahabat tulis. Bagaimana kabarnya? Semoga sehat sehat saja ya. Dan untuk sahabat kita yang ada di Bali, Om Swasti Astu :)

Tulisan ini akan cukup spesial karena saya akan membahas tentang PHP (Pemberi Harapan Palsu). Siapa coba di Indonesia ini yang nggak ngerti apa itu PHP. Pasti semua sudah tahu, ahli bahkan. Apalagi kalangan kalangan “pencinta” dan “penggalau”.

Spesialnya lagi adalah hingga saya menulis tulisan ini, saya membuka kesempatan untuk seluruh sahabat tulis bertanya tentang segala hal ihwal mengenai PHP lewat Path, Twitter dan Facebook. Namun sayangnya, hingga saya menulis tulisan ini baru ada satu pertanyaan dari Twitter. OK, tidak apa apa. Dan itu bukanlah alasan bagi saya untuk berhenti menulis seperti ini.

Ide saya untuk membuka kesempatan bertanya ini terinspirasi dari blognya mas Pandji Pragiwaksono, dimana beliau membuka rubrik #DJAWABDJI kalo nggak salah. Dimana rubrik ini memberikan kesempatan kepada para semua followernya untuk bertanya kepadanya dan akan dia jawab lewat blognya. Metode yang sangat asik dan menarik untuk dicontoh. And, here I am.

Kenapa bahasannya harus PHP? Sederhana. Karena ini adalah hal yang ingin saya luruskan mengenai kejadian PHP. Atau mungkin saya hanya ingin mengungkap teori dan pendapat saya mengenai PHP yang juga mungkin bisa membawa anda pada pengertian mengenai PHP yang bisa diterima. Karena fenomena PHP ini terkenal sangat buruk image-nya dan orangpun saling tuduh menuduh.

Dan, saya, disini hadir untuk menengahi.

The world is sick, and I’m a doctor.

Oh iya. Agar bahasan kita ini tidak terlalu luas, saya akan membatasi fenomena PHP ini hanya pada aspek cinta. Bukan aspek yang lain misalnya, dosen suruh kita masuk jam 7, eh ternyata dianya telat. Ditunggu lamaa, 45 menit, lalu ada orang dari presensi bilang, “jadwalnya kosong. Bapaknya repot dan gak bisa ngajar”. Sontak, semua bersua, “DASAR DOSEN PHP!”. Nah, bahasan kita nggak sampek situ ya.

***

OK. Kita mulai bahasan menyenangkan ini.

Pertama, mari kita berangkat dari definisinya, Apa itu PHP?

Setelah saya google, ternyata PHP itu merupakan kependekan dari Pemberi Harapan Palsu. Kata ini bisa menjadi kata benda dan kata kerja. Ketika menjadi sebuah kata: PHP, menjadi kata benda. Ketika masuk dalam kalimat : “ Ah sial, kemaren gue habis di PHP-in ama cowok gue” menjadi sebuah kata kerja.

Selesai dengan definisi, kita langsung saja masuk pada hal yang paling penting dan menjadi hal yang sangat sensitif. Yaitu, Kenapa orang melakukan PHP?

Nah. Disinilah saya ingin mengangkat fakta yang menurut saya harus saya angkat. Fakta yang cukup mencengangkan dan bahkan menjadi hal yang tidak bisa diterima oleh para “korban PHP” bahwa …

Hukum yang Pertama.

“ Para pelaku yang “diduga” PHP itu, tidak pernah memberikan PHP itu sendiri “

Tidak ada orang yang niat PHP.

Yap. Ini berdasarkan “ijtihad” saya bersama rekan blogger saya, Fitroh Fide dalam sebuah perbincangan tentang wawasan yang bersifat sensitive.

Fenomena PHP ini terjadi bukanlah benar benar ada orang yang memiliki niat “Ah aku deketin dia ah. Ntar aku kalo udah deket, ntar aku tinggalin. Aku PHP-in. Muahahahha *ketawa setan*”. Bukan.

Hukum Kedua.

Fenomena PHP ini terjadi sebagai impact dari Miskom alias miskomunikasi. PHP adalah produk dari miskomunikasi.

Lalu muncul pertanyaan “miskomunikasi bagian mananya PHP itu?”

Pertanyaan yang bagus.

Tapi begini, saya terangkan terlebih dahulu SEJARAHnya PHP dari analisis saya.

Begini

 Sekmen fenomena yang kita sebut sekarang sebagai fenomena PHP adalah sekmen komunikasi antara dua sejoli (ingat! Bahasan kita hanya pada aspek percintaan) dimana ketika terjadi proses PDKT yang memiliki tujuan untuk membangun identitas dan menunjukkan kepada pasangan anda bahwa anda menyukainya. Dan ketika proses PDKT yang begitu intens ini mulai berkurang intensitasnya bahkan kemudian berhenti sama sekali, padahal, pasangan anda itu sudah mulai menerima anda sebagai orang yang mengisi ruang hatinya, mulai menyukai anda, dan tinggal menunggu “eksekusi” anda menyatakan cinta pada pasangan anda. Pada kondisi inilah, jika benar benar terjadi pengurangan intensitas PDKT yang cukup ekstrim, dan pasangan anda ini mulai merasakan kegelisahan dan mulai merasakan bangunan perasaan sayang yang tumbuh kepada anda ini menjadi sia sia, maka itu sudah masuk dalam fenomena PHP.

Dalam Sejarah dulu dulu, kita nggak mengenal yang namanya PHP. Namun, karena peristiwa ini terjadi dalam jumlah yang masiv dan belum ada pe-label-an atau penamaan terhadap peristiwa ini, maka, kaum yang jumlahnya sangat banyak ini ada 2 kemungkinan dalam memberikan nama PHP :

1.      Menyetujui secara konsensus, bahwa peristiwa ini dinamai sebagai “PHP” atau

2.      Ada salah satu “korban” dari kondisi diatas yang memberikan label secara mandiri, yaitu PHP. Dan ketika hal ini di publish kepada halayak, maka halayak yang merasakan serta mengalami hal yang sama, menggunakan “label” ini secara bersama dan berjamaah. Karena mewakili perasaan mereka.


Itulah SEJARAH PHP.

Sekarang, bagian dimana terjadi miskomunikasi adalah (saya akan menjawabnya dengan pertanyaan)

Apakah tindakan “dia” yang baik kepada anda itu adalah salah satu wujud sedang melakukan PDKT kepada anda atas dasar “dia” benar benar SUKA dengan anda.

ATAU

Apakah tindakan baik “dia” ini adalah memang sikap asli “dia” kepada setiap orang yang “dia” kenal, dan anda merasa ke- GR-an bahwa sepertinya “dia” SUKA dengan anda.

Coba anda instrospeksi dulu.

Pernyataan kedua inilah dasar saya menyebutkan seperti diatas bahwa “ Tidak ada orang yang niat PHP “.

Tahu kah anda? Bahwa sejujurnya, yang menjadi Korban yang sesungguhnya, adalah dia yang anda sebut PHP itu sendiri. Dia adalah korban dari ke-egois-an anda. Dia menjadi korban karena kekukuhan anda terhadap pendapat anda sendiri, terhadap rasa GR anda sendiri. Tidak merasa bersalahkah anda?

Nah, untuk yang pernyaataan pertama, apabila benar niat dia awalnya adalah PDKT, dan anda mulai sayang, lalu tiba tiba seolah olah ditinggalkan, bukan berarti juga anda berhak memberikan label PHP kepada dia. Ada beberapa faktor mengapa dia melakukan hal itu :

1.      Kesibukan yang Memaksa.

Jadi, alasan mengapa “dia” ini seolah olah meninggalkan anda adalah memang karena kesibukannya yang begitu memaksa sehingga dia tidak mampu menghubungi anda. Bisa seperti tugas yang menumpuk, tuntutan kerja

2.      Keterbatasan sumberdaya menghubungi anda.

Misalnya saja dia sedang dalam keadaan bokek stadium 4. Hampir tidak tertolong lagi. Dan hal ini memang sangat memberatkan.

3.      Faktor dari keluarga

Maksud dari faktor keluarga ini adalah dimana pihak keluarga dia kurang menyetujui hubungan kalian yang mulai “terendus”

4.      Faktor lingkungan

Lingkungan juga berpengaruh. Misalnya lingkungan pertemanan dia. Nah, faktor ini cukup rumit dan terjadi. Dimana “dia” ini memang benar suka dengan anda, namun, teman si “dia” ini juga suka kepada anda. Dan agar tidak terjadi pertengkaran dalam persaingan sesame teman, “dia” yang lebih lama PDKT dengan anda lebih memilih mengalah karena alasan yang bisa berkaitan dengan faktor selanjutnya …

5.      Hal pribadi yang bersifat privasi

Yup. Kita harus menghargai area ini. Dimana kita tidak bisa mencampuri hal hal yang memang bersifat sangat privasi dan sensitive. Yaa mungkin suatu hari nanti akan ada waktu tersendiri bagi anda untuk mengetahuinya, atau mungin tidak.

Nah, 5 faktor diataslah yang cukup sering kita temui dan mengharuskan kita untuk memberikan durasi toleransi yang lebih lama. Nasehat ini untuk anda para “penunggu” yang mulai merasa ter-PHP-kan.

Masuklah kita pada hal yang menjadi semua ujung bahasan kali ini.

Lalu bagaimanakah cara mengatasinya? Bagaimanakah cara paling bijak agar saya tidak menjadi “korban” dan korban itu sendiri?

Sungguh. Caranya sangat sederhana. Yaitu dengan kembali kepada Hukum Kedua.

Perbaikilah komunikasi. Selesaikanlah miskomunikasi diantara kalian berdua.

Karena apa?

Karena, PHP ini muncul sebagai PRODUK dari MISKOMUNIKASI.

Yangmana dibila dibalik, Miskomunikasi adalah penyebab dari PHP. Berarti, Miskomunikasi adalah sumber masalahnya.

Maka dari itu, untuk mengatasi sebuah masalah (dalam hal ini PHP), maka sumber masalah itu harus diselesaikan.

Kesimpulan dari kesimpulannya, jika anda ingin menyelesaikan masalah PHP, selesaikanlah masalah miskomunikasi diantara kalian.

Sebagai bonus, saya berikan salah satu praktek.
Bila anda merasakan suka dengan seseorang, lalu anda mulai melakukan PDKT kepada dia. Lakukanlah. Seiring berjalannya waktu, anda pasti mampu melihat respon yang “dia” berikan. Bila, sepertinya YES, maka lanjutkan saja. Bila, sepertinya NO, maka silakan anda yang memutuskan, apakah ingin berusaha lebih lagi. Atau berhenti, mencari target yang lain. Dalam kasus ini misalnya tanda darinya sepertinya YES, maka lanjutkan. Dan ini yang penting, Jika anda mulai merasakan adanya indikasi PHP, maka langsung ungkapkan perasaan anda. Katakan secara gentleman, tenang, dan jujur. Ungkapkan yang selama ini anda rasakan. S-e-m-u-a-n-y-a.

Sekarang, tunggu respon dia. Dan ini nasehat yang saya berikan, yang menjadi puncak makrifat dari praktek ketika anda masuk dalam fase “memperjuangkan cinta”.

Apapun jawabannya, hargailah perjuangan anda dengan menerima hasilnya dengan lapangdada dan ikhlas. Jangan merusak perjuangan anda yang tulus itu dengan bertindak kasar dan ke-egois-an. Jangan karena cinta anda ditolak, anda memusuhi dan menjauhi dirinya. Karena, disinilah titik kedewasaan seseorang diuji. Berusahalah mendengar alasannya mengapa dia menolak anda, dan terimalah alasannya sebagai hak dia sebagai pribadi yang berhak memilih orang yang dia percaya untuk mencintainya.

Dan satu lagi,

Berterima kasihlah karena dia mengijinkan anda untuk merasakan hura hura kasmaran terhadapanya.

Itu baru kedewasaan.

Dan cinta yang mendewasakan.

NAMUN

Manusia itu memang memiliki corak yang beraneka ragam. Dan teori yang saya paparkan diatas ini adalah teori yang berdasarkan “ijtihad” saya dengan rekan rekan yang lain yang mengambil perspektif bahwa semua manusia itu baik dan datang dengan niat baik. Orang yang “buruk” itu tidak selamanya buruk, namun mereka adalah orang yang terperangkap dalam keadaan yang memaksa mereka terlihat buruk.

Tetapi, saya tidak menutup kemungkinan bahwa memang ada orang orang brengsek yang memiliki niatan tidak baik. Yang berusaha mencelakakan kita dan menjerumuskan kita pada kondisi yang membuat kita tidak nyaman. Saya yakin, mereka ini ada. Tetapi, saya memilih cara pandang positif, sedangkan apabila kita dihadapkan dengan orang yang benar brengsek seperti itu, maka selalulah membawa bekal yaitu kewaspadaan.

Dan anda tidak perlu sakit hati ketika memang benar anda masuk dalam “perangkap” orang seperti ini. Itu adalah tanda dari Tuhan, bahwa Tuhan itu sedang “mengusir” orang yang tidak baik untuk kita. Dan jika ada pihak ketiga, maka biarkanlah. Toh, berarti pihak ketiga itu “mengambil pencuri” yang oleh Tuhan berusaha dari dulu untuk diusir dari kehidupan kita namun kita memaksakan kehendak kita, memaksakan konsep baik tentang “dia” yang sebetulnya semu, dan Tuhan lebih tahu. Karena memang Dia-lah yang Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

Dan berakhirlah tulisan saya mengenai segala hal ihwal tentang PHP kali ini. Masuk pada ….

JAWAB PERTANYAAN

Pertanyaan datang dari akun @mauladah

“gimana ngadepin cowok PHP mas?”

Seperti yang saya bahas diatas, kita harus melihat konteks. Apakah ini adalah salah satu bentuk kesalahaan miskomunikasi yang saya bahas diatas. Atau mungkin memang dia orang yang menjadi “pengecualian” dalam bahasan NAMUN saya diatas. Kalo cowok itu masuk dalam kategoti NAMUN, yaa ikhlaskan saja. Biarkan saja. Dan tinggalkan saja. Dia itu pengkhianat, kenapa kamu masih ngeyel mempertahankan? Wanita yang baik, untuk Pria yang baik. Mario Teguh :)


Sekian dulu sahabat tulis pembahasan kita.

Sampain ketemu di post selanjutnya~ :)


Continue reading →
Saturday, March 8

Mas, sik kenal aku gak?

0 comments
Saya bangga menjadi bagian dari Forum for Indonesia Chapter Ponorogo dan saya bangga pernah mengambil peran menjadi seorang motivator disana.

Hari ini saya belajar, kebanggaan itu sendiri tidak harus selalu dengan segala sesuatu yang besar, mewah, dan meriah. Tidak. Kejadian hari ini menjadi sebuah oase bagi kehidupan saya yang nilai filosofisnya mirip dengan rasa bangga yang dirasakan oleh seorang guru ketika melihat muridnya “naik kelas”. Naik kelas disini bukan dalam artian naik kelas dari kelas 5 SD menjadi kelas 6 SD, bukan. Melainkan naiknya kelas kita dalam kehidupan.

Ceritanya dimulai ketika hari ini saya memiliki niat untuk melakukan survey dari tentang PEMILU 2014. Bahan pertanyaan untuk survey saya dapat dari email saya yangmana saya dikirimi oleh aku Relawan Turun Tangan. Karena mumpung saya masih libur dan saya tidak memiliki kegiatan yang produktif, saya memutuskan untuk mengambil inisiatif untuk Turun Tangan ikut dalam kegiatan survey ini. Pengambilan survey ini saya lakukan di Ponorogo, kita dimana saya berlibur sekarang. Saya pun meminta bantuan kepada sahabat saya untuk menemani saya melakukan survey disekolah saya, sekalian bersilaturahmi dengan guru dan teman teman YESC (Youth English Study Club) dan rekan FFi. Dan Hafis (sahabat yang menemani saya) ini bersedia. Deal. Besok pagi kita berangkat ke SMA 1 Ponorogo.

Target survey saya kali ini adalah warga sekolah di SMA saya dan beberapa mahasiswa yang ada dikampus diseberangnya. Warga sekolahnya tidak lain adalah para guru dan murid kelas 3 yang sudah memiliki hak pilih. Lalu saya juga sempat mengambil data survey dari seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Alasan saya mengambil tempat dialmamater saya adalah karena saya sudah cukup mengetahui lingkungan sekolah saya. Namun, bagaimana tentang pengetahuan mereka seputar PEMILU ini, saya belum tahu sama sekali.

 Saya berteori, jika di kalangan warga SMA 1 saja kurang mengetahui seputar pemilu, maka bisa diambil kesimpulan bahwa warga yang lain juga mengalami hal yang sama.

Bukannya saya mau menyombongkan kalangan almamater sekolah saya, disisi lain saya ini masih tergolong sangat baru dan amatiran dalam hal survey, maka dari pada saya tidak membawa data sama sekali, apa salahnya jika saya mengambil sampel dari sini. Karena saya menjadikan lingkungan almamater saya ini patokan tentang bidang kewawasanya. Dan atas dasar ini saya memutuskan.

Sesampai disana, kebetulan ada kakak kelas dan teman sejawat saya yang sedang menjalankan bisnis es krimnya dan menjajakannya dikoperasi sekolah. Saya memulai survey dengan mereka terlebih dahulu beserta Hafis ini yang juga saya mintai pendapatnya tentang PEMILU.

Setelah selesai dengan mereka, saya ingin mewawancarai dari Ibu Kantin dialmamater saya tersebut, namun sangat disayangkan beliau enggan dengan alasan “halah, aku ki ora jowo ngono kuwi. Wes golek sing liyane ae, timbang aku nggo njawab kleru malah repot”( halah, saya ini tidak mengerti tentang hal itu. Sudah, cari yang lain saja, daripada saya jawabnya keliru), saya pun hanya terkekeh mendengar jawaban beliau dengan nada bicaranya yang cukup galak. Tapi, beliau ini baik kok orangnya. Jujur.

Karena beliau menolak, saya pun memaklumi, ternyata memang benar ada golongan masyarakat yang *maaf* menengah kebawah dan sepertinya tidak mengetahui sama sekali dan bahkan enggan untuk bersentuhan dengan PEMILU. Bisa juga saya ambil kesimpulan bahwa kalangan ini masih belum tahu, untuk apakah guna survey itu sesungguhnya. Survey bukan soal “benar” maupun “salah”, survey itu untuk mencari fakta, bukti, dan keadaan dilapangan yang real. Bukan serba manipulasi, yaa seperti sekarang ini.

Akhirnya setelah cukup lama, saya pun bisa mendapatkan 3 narasumber, guru saya, yang bersedia mengisi dan menjawab soal survey yang saya berikan. Bahkan kami sempat berdiskusi dan berbincang tentang PEMILU sejenak. Setelah selesai dengan para guru, kami (saya dan Hafis) mencari para siswa kelas 3 yang sudah memiliki hak suara. Jam menunjukkan pukul 11.38, dan data yang saya himpun sudah cukup.

Saya pun memutuskan untuk berbincang sebentar dengan warga sekolah lain sembari menunggu Adzan Dzuhur. Begitu adzan, saya pun bergegas menuju masjid Univ. Muhammadiyah yang ada didepan sekolah saya.

Dan hal yang sangat tidak pernah saya duga, terjadi.

Ada seorang perempuan manis yang memanggil saya dari belakang ketika saya akan memasuki area untuk berwudhu. Saya sungguh lupa dan bahkan tidak tahu siapa dia. Ketika saya mencoba mengingat ingat, dia pun nyeletuk kalau dari SMPN 1 Sawoo. Pikiran saya pun langsung berlari pada ingatan saya ketika memberikan motivasi di SMPN 1 Sawoo tersebut, agar lebih percaya dan bersemangat untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi, yaitu Sekolah Menengah Atas. Dan seketika itu juga, saya mengerti betul bagaimana bahagia dan bangganya perasaan seorang guru yang melihat muridnya, “naik kelas”.

Tidak bisa dipungkiri memang, didaerah Ponorogo yang bagiannya masih desa dan cukup jauh dari kota, pendidikan tidaklah terlalu dianggap penting. Banyak sekali dari siswa siswa SMP yang putus sekolah dan memilih untuk bekerja orang tuanya untuk sekedar mempertahankan asap dapurnya tetap mengepul. Mirisnya, keputusan untuk bekerja itu bukan dari diri mereka sendiri, melainkan bujukan orang tua dan paksaan dari keadaan. Dan jika ditanya pada hatinya yang jujur, mereka masih memilih untuk sekolah.

Dan disini, saat ini. Saya melihat seorang perempuan yang saat itu hadir ketika saya berbicara tentang pentingnya melanjutkan sekolah, nikmatnya belajar, dan manfaat dari ikut kegiatan dalam organisasi. Saat ini, saya melihat perempuan yang telah menggapai segenggam mimpi yang berusaha saya dan teman teman FFI tularkan. Saya tidak peduli dimana dia sekolah sekarang karena saya terlalu menghargai keinginannya untuk terus belajar. Sedetik itu juga, saya mengagumi perempuan lugu yang dulu malu malu jika ditanya, dan sekarang berubah menjadi gadis yang sama lugunya, namun cara bicaranya dan pandangannya tentang masa depan dipenuhi harapan yang mentenagainya.

Sepersekian detik itu juga, saya bangga pernah menjadi seteguk air yang membasahi dahaga akan panutan.

Mungkin saya sok ke GR an, mungkin benar adanya.

Tapi dari sini saya yakin, apa yang saya lakukan dari ketika masih sama lugunya dengan perempuan itu tadi, hingga saat ini. Dengan apa yang saya percayai …

Tidak sia sia.

Saya berdoa,

Semoga setiap jiwa mungil nan lucu, yang ingin sekali bersekolah seperti yang kami, kakak kakaknya pernah rasakan. Baginya, Tuhan lebih bersedia mendekatkan “telinga”Nya untuk mendengarkan doa doa yang sama lugunya dengan dirinya.

Dan dengan itu, dengan tersenyum haru, Tuhan mengabulkan doanya.

Untuk bersekolah lebih tinggi.

Amiinn :’)
Continue reading →
Wednesday, March 5

Kamar Mandi

0 comments
Ceritanya gue ditagih nulis nih. Sama ananda Mbak Ave dan Bro Ares yang sekarang udah punya domain sendiri di www.arespulsa.com. Untuk sahabat tulis yang penasaran tentang tulisannya dan segala benih buah dan batang pikirannya, bisa langsung klik di link diatas.

Tulisan sebelumnya gue bahas tentang liburan. Dimana jika kalian mengalami liburan dan bingung gak ada kerjaan alias garing, itu bisa menjadi sebuah pertanda dari “atas” buat kalian menyelesaikan buku bacaan kalian. Bisa juga ini menjadi kesempatan untuk kalian merencanakan dan melaksanakan program kalian sendiri yang positif. Pokoknya, kalo liburan kalian pada garing, jangan diem aja. Lakukan hal yang berguna, isi dengan yang berguna, dan akhiri dengan gembira. Alhamdu … lillahh.

Sekarang gue pengen cerita tentang Inspirasi. Walaupun judulnya Kamar Mandi, maksud dari dituliskannya judul itu merupakan sebuah tempat dimana yang bisa menjadi sumber inspirasi. Ada yang tidak percaya, tapi ada juga yang mengalami hal yang sama.

Tapi, inspirasi tu apaan sih?

Kalo menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia nih, arti dari kata Inspirasi adalah ilham. Bukan bukan Ilham nama elu, bukan. Ilham disini berarti Inspirasi. Nah berarti, ilham dan inspirasi ini memiliki maksud yang sama. Memiliki arti yang sama. Dan ketika inspirasi ini blab la bla …

OK STOP.

Ilham bisa juga diartikan dengan ide, pemikiran, argumen, dan yang sejenis dengan itu. Kalau bahasa Jawa-nya biasa disebut wangsit. Jadi, inspirasi bisa berupa ide ide segar bro.

Nah, kenapa sih kita harus “cari inspirasi”?

Sepele banget kelihatannya, tapi emang bener banget kalo secara langsung dan tidak langsung kita sangat membutuhkan “inspirasi” ini ketika sedang akan menyelesaikan sebuah pekerjaan. Pekerjaan apapun. Tapi orang orang yang bekerja di Industri Kreatif – lah yang diakui memang paling sering “cari inspirasi”. Secara lebih general lagi, “cari inspirasi” pasti dilakukan ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang menuntut sekali kerja keras otak daripada otot, berkaitan dengan ide ide, pemikiran, perencanaan, dan hal yang biasa menggunakan skill mikir kalian. Kalo sekedar kerjaan kuli, tukang becak, mencangkul padi disawah mah, nggak perlu pakek “cari inspirasi” segala.

Emang gimana sih inspirasi bisa muncul/ mendapat inspirasi?

Mencari Inspirasi ini sangat berbeda dibandingkan dengan mencari benda ataupun entitas lainnya. Yang kita cari disini bukanlah benda yang solid yang bisa kalian indra, melainkan benda yang abstrak, tidak bisa kita indra, namun itu nyata ada.

Mencari benda yang solid dan jelas bentuknya misalnya ketika kita mencari pensil kita yang hilang. Kita semua sudah tahu bagaimana bentuk, rupa, warna, struktur, bahkan bunyi pensil ketika dipukulkan dengan benda lain. Proses mencarinya:

1.      Kita sudah tahu bagaimana bentuk benda/entitas itu (misalkan Pensil yang hilang)
2.      Kita mencarinya dengan menggunakan fungsi badan kita.
3.      Mencari dibalik meja.
4.      Mencari dibawah kursi
5.      Mencari dikolong kasur
6.      Mencari ditoko buku. Ada banyak, tapi harus beli.

Dan ternyata pensil itu kita temukan dalam kotak pensil, didalam tas kita.

Hal ini akan berbeda ketika kita mencari “Inspirasi” dan inspirasi itu tidak bisa didahului dengan kata “sebuah”. Kenapa? Karena ketika kalian dapet inspirasi itu, dia akan “melar” dengan segala ide yang semakin berkembang didalam otak kalian.

Ketika kita mencari inspirasi, kita tidak mengetahui rumus pasti bagaimana mencarinya. Apakah harus duduk diam berjam jam, entah sambil menonton telivisi, entah dengan membaca, bahkan bisa dengan mengobrol dengan bro bro kalian. Masalahnya lagi, bentuk Inspirasi itu random. Gak jelas, gak berbentuk, tapi kok bisa berubah ubah. Inspirasi yang dibutuhkan seorang novelis berbeda dengan inspirasi yang dibutuhkan seorang jurnalis.

Tapi, cara yang paling sering terjadi ke gue waktu mencari inspirasi adalah dengan membiarkan segala rangsangan yang mengenai indra gue, bahkan pikiran gue. Let it flow, let it go. Biarkan pikiran ini melayang layang dalam antah berantah yang gak jelas, yang menjadikan indra ini dirangsang dengan berbagai rangsangan, dan entah bagaimana akan ada sebuah ide yang tiba tiba mencuat dari kepala kalian. Dan ketika ide itu muncul, secara magis dia seperti menyebarkan jala yang demikian lebar dan demikian banyaknya yang bahkan bisa bikin kalian bingung untuk menjelaskan ide yang berkembang secara liar dan cepat itu.

Dan, itulah inspirasiku. Dan bahkan banyak dari kalian yang sama prosesnya kayak yang gue tulisin barusan.

Disini gue dapet kesimpulan perbedaan antara mencari benda yang gue contohkan tadi dengan yang mencari inspirasi. Beda yang paling mencolok adalah ketika kita mencari pensil, kita mengusahakan fungsi dari seluruh indra kita untuk mendapatkan apa yang kita cari. Sedangkan mencari inspirasi, adalah sebuah proses yang membiarkan indra kita mendapat semua rangsangan dan biarkan inspirasi itu muncul dari segala macam rangsangan yang terjadi secara random.

Analogi untuk yang pertama (mencari pensil):

“ kita seperti mengejar ngejar kupu kupu”

Analogi untuk yang kedua (mencari inspirasi):

“ kita duduk duduk dihalaman, eh tiba tiba ada kupu kupu yang dateng nempel dikepala kita”

Sekarang, dimana nih tempat biar bisa dapet inspirasi?

Inti dari “mencari Inspirasi” adalah dengan membiarkan segala stimulasi dan rangsangan yang terjadi pada tubuh kita yang nantinya akan memacu munculnya inspirasi itu. Semakin kita memikirkan ide, maka akan semakin susah munculnya ide ide inspiratif.

Salah satu cara lagi yang biasa gue lakuin adalah dengan asal nyeplos dan asal ngomong aja. Yang gue terpikirkan dalam otak gue, yang gue lihat, yang gue rasa, gue omongiiinn semuanya, nah nanti akan tersusun sendiri secara otomatis.

Jadi, tempat yang pas untuk cari inspirasi yaa tempat yang bisa bikin kalian terangsang untuk “terpikir”, tempat yang nyaman, dan sesuai. Serta yang bisa munculin mood juga. Kalo kalian lagi on mood, pasti ide dan inspirasinya makin dahsyat kerennya.

Nah, tempat tempat itu adalaahhh :

1.      Kamar pribadi masing masing
2.      Kamar mandi
3.      Ruangan yang luas namun nggak bising dan banyak orang
4.      Semacam taman. Area yang luas dan berada diluar ruangan.
5.      Yang religius banget, bisa ditempat ibadah kalian masing masing.
6.      Dan yang terakhir, DUNIA INTERNET.

Kenapa tempat terbuka? Karena gue suka banget ama tempat yang luas gitu. Bukan rame. Luas dan private.

Nah mungkin kalian punya tempat yang bikin inspirasi kita terproduksi terus menerus, silakan di share ya..

Salam tulis :)

NB. Tulisan ini berdasarkan riset, pengalaman, dan pemikiran pribadi saya. Jadi, yang saya tulis barusan adalah “teori” saya sendiri. Kalo pengen berbagi “teori” yang kalian punya, monggo lhoo~ :D
Continue reading →