Saturday, February 28

I hate to say goodbye

1 comments
Perasaan apa ya ini..

Begini, barusan saja aku iseng berkunjung ke Tumblr kekasihku yang dulu, pertama dan satu satunya.

Dalam tulisan itu dia menceritakan sedikit tentang pengalaman “refleksinya”

Ditambah lagi, aku sedang ingin inginnya menghabiskan waktuku bersama empat kawan baruku. Dhenik, Palma, Faiz, dan Winie.

Tiga nama didepan sebenarnya adalah nama lama, karena mereka adalah kolegaku di Manggolo Mudho, sanggar REOG yang aku ikuti sekarang. Namun nama terakhir, Winie, adalah teman baruku, teman dari luar negeri pertamaku.

Aku benci perpisahan.

Tanggal 3 Maret besok, dia beserta mahasiswa pertukaran pelajar lain harus kembali ke negara asalnya.

I hate to say good bye.

Yaaa karena, aku masih belum siap untuk berpisah.

Apa ya... Ada perasaan senang dan bahagia yang selama ini aku cari dan akhirnya aku temukan. Ada hal yang aku harap dalam sepelan pelannya doaku, dalam selirih dan tak bersuaranya alam bawah sadarku.

Bahwa aku ingin sekali memiliki teman yang berasal dari luar negeri. Teman luar negeri yang baik sekali, menurutku. Teman yang ingin sekali aku habiskan waktu agar aku bisa belajar hal yang tak pernah aku bayangkan bisa aku pelajari.

Karena aku harus dihadang dengan deadline, aku tak yakin bisa bertemu dengannya, menjelang perpisahan dengannya.

I hate myself. I hate the condition that happen at me.

Ditambah, tulisan dari “alumni” ku yang jadi membuatku berpikir.

Benarkah ada orang yang dilahirkan dengan kemampuan sehebat itu untuk cuek?

Entahlah, aku pikir, aku benar benar tidak mampu memahaminya.

Sepertinya aku hanya bisa menerima saja yang ada. Aku yaa hanya bisa menerima segalanya yang kemudian perlahan berubah. Menjadi yang aku tak kenali.

Tetapi, aku hanya bisa diam saja.

Diam saja.

Tulisannya dalam tumblr itu menceritakan pengalamannya, dimana dia melihat pertama kalinya laki laki merasakan patah hari. Hingga mengutuki sang perempuan yang ternyata sudah memiliki pacar baru.

Aku melihat dia sadar dengan dirinya yang cuek itu.

Tapi,

Aku tak melihat adanya niat dan harapan darinya untuk meninggalkan sifat itu.

Setelah kubaca, seketika aku mengiriminya pesan.

Bahwa aku tidak pernah mengutukinya sepeninggal kami berpisah. Memang benar, dia sudah move on dengan cepat. Lebih cepat daripada aku.

Bahwa,

Akan selalu ada tempat yang baik dalam hatiku untuknya, selamanya, sebetapa menyebalkannya dirinya dengan sikap cueknya. Aku memahami dan menerima,

Bahwa mungkin memang dirinya dan sikap cuek adalah satu keping koin dengan sisi sisinya.

Tetapi,

Jika ketika aku membaca tumlbr itu aku berharap, walaupun harapan yang seharusnya tidak pernah aku harapkan darinya,

Agar dia sedikit membuka hati. Sedikit memulai untuk meninggalkan sikap yang selalu menyinggung perasaanku.


Tetapi,

.....

Ah seharusnya aku tidak perlu berharap seperti itu. Bodoh!

Haruskah aku bilang, bahwa aku ingin dia seperti apa? Aku pikir, tulisan itu memiliki makna introspeksi. Membuka kesempatanku untuk mengajukan “proposal” yang aku inginkan.


Harus kah aku bilang?

Mereka bilang laki laki tak pernah mengerti,

Aku rasa perempuan juga sama. Tak ada beda.



Aku ingin sekali, kita menjadi sahabat seperti kita tak pernah pacaran.

Karena aku pikir, hadirmu sebagai sahabat lebih aku butuhkan daripada status kepemilikan yang dilegitimasikan dengan “pacaran”.

Sesederhana itu.



Perasaan ini menyandra malamku. Menyandraku dari keseharusanku untuk sesegera mungkin tidur.

Winie, aku harap aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Aku masih ingin belajar bahasa China, sungguh.

Alumni,

Sudah pasti, aku berharap kamu berubah, berharap kamu “sadar”. Tapi jika tidak bisa,

Mungkin sudah waktunya aku mengucapkan perpisahan, memasukkannya dalam kardus dan menyisihkannya, walaupun aku sungguh membencinya.




I really hate to say goodbye.
Continue reading →
Tuesday, February 17

Dikelas yang Berbeda

0 comments
Sudah tiga harus berturut turut aku memimpikan 1 manusia yang sama. Selalu dia, tidak pernah berganti.

Seseorang yang sangat berharga bagiku, hingga sekarang. Walaupun mungkin hubungan kami tak sebaik dahulu, tetap, dia akan selamanya berharga bagiku.

Kami bersama kurang lebih 3 tahun lamanya. Awet. Sejak kelas 2 SMP kami mulai dekat dan akhirnya berkomitmen baik bersama. Aku masih sangat ingat kala itu, KIR (Karya Ilmiah Remaja) lah yang membuat kami bertemu hingga akhirnya akrab.

Aku mencintai sahabatku sendiri.

That’s exactly what happen. But, it’s OK for both of us, was.

Sulitnya ketika pacaran dengan sahabat sendiri adalah ketika tidak bersama lagi sebagai sepasang kekasih, menurutku. Entah apa, ada yang sangat berubah dan berbeda. Bukan hanya pada dirinya, lebih tepatnya adalah pada kami berdua.

Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Karena hakikatnya, tidak ada yang salah.

Aku sendiri sering menulis yaa, ditulisan sebelumnya bahwa komunikasi adalah jalan keluar terbaik dari segala masalah hubungan. Tetapi, yang ironi adalah ketika aku (yang biasa menasehatkan begitu) cukup susah untuk menerapkannya sendiri. Jarak adalah salah satu faktor. Faktor yang lain adalah “kita berada pada ‘kelas’ yang berbeda”.

I just can’t “reach” her anymore.

Dan dari nasehat yang aku dapat, mungkin memang seharusnya seperti ini.

Aku harus ‘melepaskan’

Banyak sekali yang bertanya,” sebenernya konsep dan praktik ‘melepaskan’ itu bagaimana sih? Aku masih terlalu baur dan nggak ngerti deh”

Hmmm...

Aku, sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti bagaimana.

Tetapi, ketika itu adalah hal yang menuntutku harus melakukannya, maka akan aku lakukan.

Aku akan berhenti bertanya, beralasan, dan mulai melakukannya saja.

Karena aku percaya, ketika kita melakukannya dengan tidak mengetahuinya, kita akan dibuat mengerti oleh Tuhan ketika sedang melakukannya.

Singkatnya, learn by doing.

Kalau bicara tentang konsep, sudah pasti kita tahu bahwa konsep “melepaskan” adalah sama dengan “mengikhlaskan”.

Dan memang mengikhlaskan itu sulit, namun bisa dilatih dan diusahakan. Bahkan, agar kamu selamat, mau-tidakmau kita harus melakukannya.

Yang aku maksud “selamat” diatas adalah selamat dari rasa sakit yang lama dan berkepanjangan.


Aku mulai paham. Bahwa memang seseorang itu berubah. Pasti.

Aku dan dia, berubah. Dalam cara yang mungkin asing bagi satu sama lain.

Aku begitu asing dengan perubahannya, dan mungkin dia juga begitu asing dengan segala perubahanku.

Atau bahkan, aku yang tak kunjung berubah, begitu asing untuk dirinya yang sudah begitu cepat berubah.

Berubah adalah sebuah keniscayaan.

Agar bisa “selamat”, aku harus menerimanya sebagai sebuah kenyataan.

Dan memang, untuk bisa sempurna, segalanya butuh proses. Termasuk proses “melepaskan” ini.


Entah ya, apa sebenarnya maksud Tuhan dengan memberiku bunga tidur mengenai dirinya. Aku hanya berasumsi,

Mungkin aku memang masih begitu menyayanginya.

Bahasa kasarnya “susah move on”

Tapi ini beda.

Bedanya adalah rasa sayang yang dulunya sebagai kekasih, berubah menjadi rasa sayang seorang sahabat.

Sahabat yang lamaa sekali tak berjumpa.


Dan karena kita ada di “kelas yang berbeda”, aku merasa canggung.

Siapa sih aku yang masih harus datang ke kehidupanmu?

Mungkin karena itulah, aku berusaha untuk diam dan menyembunyikannya.

Itu semua semata, agar aku tidak lagi mengganggu hidupnya.

Sesederhana itu.



aku bisa menerimamu sebagai orang yang tak lagi sama,
tapi
aku tak bisa menerima jika engkau harus menjauh dari kehidupanku
Continue reading →