Sunday, December 20

Aku pun Ingin Memboncengmu, Mar

1 comments

Siapa sangka, malam menjelang akhir tahun akan segetir ini.
Dan dalam kegetiran itu
Tersimpan,
kemerduan.
***

Lelah,
Badan ini seakan berontak tak mampu lagi memenuhi tuntutan
Berkesenian dua kali dalam 1440 menit
Lelah memang
Tetapi, apakah ada lelah yang tak meluntur merasakan malam 20 Desember ini?
Malam yang mungkin hanya datang sebulan sekali,
itu pun jika Dia mengijinkan.

Pukul 11 malam, ku susuri Jalan Maguwoharjo, meninggalkanmu dibelakang dalam kerumunan
Berusaha mengejar rombongan, namun tak sampai
Hingga akhirnya kalian mendahuluiku.
Duh, Mar.
Bilang pada sopirmu itu untuk lebih pelan,
nyawamu tiada sebanding dengan segala keterburuan untuk segera ke peraduan.
Aku tiada bisa selain dibelakangmu
Menjaga

Mar,
Malam begitu dingin sewaktu kita menyusuri Jalan Ring Road.
Untunglah ada supirmu yang masih menghadang angin dingin nan menyesak
Aku?
Tentu sendirian,
gemetar mengikhlaskan dingin membuat gigiku bergemeretak

Malam begitu merdu melukiskan kesendirian
Gurat awan samar jelas terpantul cahaya bulan yang setengah penuh.
Dan kau, Mar,
Aku saksikan tenang dalam boncengannya.

Aku  sebenarnya sudah terbiasa, menikmati malam dalam sendiri
Aku bahkan yakin
Tidak ada yang lebih mendamaikan ketika sendiri
Tapi tadi, Mar
Embuh piye, bisa bisanya kamu mengganggu
Mengganggu lamunanku
Lamunan akan kesendirian
dengan geraian rambutmu yang terbang diterpa angin
dengan berkas ringkih kecil badanmu terbalut jaket ungu

Apalah aku ini, lelaki yang tak kuasa mengendalikan hati
Yang biasa garang melawan padatnya Jalan Afandi,
Malam ini ikhlas berjalan lambat menuruti batas kecepatan
Sebatas ingin lebih lama
Menyaksikanmu dalam boncengan

Dalam dingin,
Lewat rembulan,
Melalui desing kenalpot Ninja yang tadi aku salip
Diam diam aku berharap


Aku pun ingin memboncengmu, Mar
Continue reading →
Friday, October 30

Bukan rakyat yang seharusnya merenung

0 comments
 Sore ini, Jogja terlihat lebih sendu. Angin sepoi sepoi depan kosan pun sungguh menenangkan, seperti merajuk untuk menghantar ke alam mimpi. Namun, mengingat besok adalah hari dimana saya harus menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS), saya kemudian menolak dengan halus ajakan sang angin.

Well, setelah selesai membaca materi tentang Hak Asasi Manusia dalam Islam, saya kemudian menyalakan laptop untuk mencari reverensi soal soal untuk UTS besok. Sekalian senggang, saya pun membuka laman facebook.

Ada yang menyita perhatian saya. Yaitu adalah sebuah postingan beserta link tautan menuju halaman berita lain dari seorang rekan yang membahas tentang unik dan berbedanya pendidikan Jepang dengan Indonesia. Aspek pendidikan itupun kemudian dikaitkan dengan proses regenerasi Pemimpin di Indonesia, yang saat ini terlihat cukup lesu.

Menunggu download-an soal, saya pun kemudian membaca postingan itu.

Tulisan itu dimuat di Kompasiana, dan penulisnya adalah seorang Ekonom di Surabaya yang anaknya bersekolah di SD Negeri di Tokyo. Kebetulan, SD dimana anaknya bersekolah itu sedang mengadakan “open school” yang mempersilakan orang tua wali murid untuk masuk kedalam kelas dan menyaksikan proses belajar mengajar. Tulisan itu secara sederhana namun mengena mencoba menjabarkan tentang perbedaan penekanan aspek pendidikan yang diberlakukan di Jepang dengan yang diberlakukan di Indonesia.

Dijabarkan bahwa, pendidikan yang diberlakukan di Jepang adalah menekankan kepada aspek pendidikan moral. Pendidikan yang kemudian berjalan memiliki tujuan agar anak didik yang bersekolah mengenal, memahami, dan melaksanakan prinsip kesantunan moral yang diajarkan dan secara masif diberlakukan di Jepang. Pendidikan moral tersebut juga kemudian didukung oleh pihak diluar sekolah agar pelajaran moral yang diajarkan disekolah kemudian tidak “rusak” jika anak anak didik itu melihat kepada realita. Sehingga, mengharuskan masyarakat dan khususnya keluarga anak didik mengikuti alur pendidikan yang diajarkan.

Disana, anak anak diajarkan untuk melayani teman temannya, dengan cara secara bergantian, ketika waktu makan siang bersama, ada beberapa murid yang melayani murid lain dalam mengambil makanan serta minuman. Anak anak pun diajarkan untuk mandiri dengan secara bergiliran ditugaskan untuk membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Sepele memang, namun telah menjadi bukti bahwa hal inilah yang menjadikan masyarakat Jepang menjadi sosok yang kuat, mandiri, dan tangguh.

Cerita mengenai tulisan itu secara lengkap bisa disimak di tautan berikut 

Tetapi, bukan itu semua yang saya bahas.

Justru yang ingin saya bahas adalah mengenai komentar yang terdapat pada kolom komentar yang ada dibawahnya. Bukan komentar panjang lebar, bukan komentar yang bernada intelektual yang menjelaskan “mengapa Indonesia bisa seperti ini”, bukan pula komentar serapah yang diketik oleh orang yang ber-intelegensia dibawah 69.

Justru hanya komentar pendek saja. Ditulis oleh @ timur link yang bunyinya :

“ ... perlu direnungkan ... “


Hmm...

Beberapa diantara kalian mungkin tidak melihat sesuatu yang istimewa, namun justru saya menangkap lain.

Yang terlintas dikepala saya adalah

“ Mengapa justru rakyat yang harus merenungkannya? “

Lho ... Rakyat itu lho bisa apa jika kemudian merenungkan hal sebesar ini. Dimana tidak ada daya dan kemampuan untuk merubah regulasi pendidikan di Indonesia yang skalanya adalah nasional.

Mengapa? Mengapa justru rakyat yang “nalarnya harus peka”?

Dan mengepa kalimat ini tidak kemudian keluar daripada manusia yang ada “diatas”?


Jika kita serius membandingkan sistem pendidikan Indonesia – dalam tulisan ini dibandingkan dengan Jepang – maka yang menjadi sumber daripada permasalahannya adalah “manusia yang membuat regulasi seperti ini”.

Seperti yang sedikit saya sebut diatas, bahwa sistem pendidikan Jepang merupakan sistem pendidikan yang terintegrasi secara optimal dengan faktor faktor lain yang berada diluar dari sekolah. Orang tua murid, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat pun juga melaksanakan apa yang diajarkan oleh sekolah kepada para siswa, yaitu karakter moral yang kuat dan baik. Pemerintah yang membuat regulasi melihat bahwa, akan sangat percuma apabila sistem pendidikan Jepang yang menumpukan materinya pada pendidikan moral siswanya, justru kemudian “dirusak” oleh lingkungan dimana dia tinggal.

Hal inilah yang menyadarkan bahwa, peran yang paling besar ialah peran pemerintah. Pemerintah harus membuat sistem dan regulasi yang demikian bagus serta terintegrasi sehingga materi yang diajarkan disekolah tidak kemudian “rusak” ketika para siswa kembali kepada realita kehidupan mereka masing masing.

Hal inilah yang menjadikan bahwa

Bukanlah rakyat yang seharusnya merenung

Karena kemampuan itu tidak dimiliki rakyat, kemampuan untuk merubah regulasi, membuat sistem, bahkan memaksakan sistem, tidak dimiliki oleh masyarakat.

Sungguh menjadi sebuah ironi bagi saya, melihat bahwa justru yang “peka” terhadap masalah adalah masyarakat itu sendiri, bukan malah pemerintah yang punya “kekuasaan”.


Berbagi sedikit, saya sendiri adalah pribadi yang cukup concern dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Ada suatu peristiwa yang begitu “memilukan” yang pernah saya alami.

Ketika saya SMA, saya mengikuti sebuah keorganisasian, yaitu Forum for Indonesia Chapter Ponorogo. Ketika itu, agenda yang kami buat adalah berupa sebuah seminar sederhana yang mengundang narasumber dari dinas kesehatan yang menjelaskan tentang bahaya narkoba, merokok, serta HIV/AIDS. Targetnya adalah siswa/siswi SMP kala itu. Kami pun memilih di salah satu SMP yang ada di daerah Sukorejo, Ponorogo. Sosialisasi itu dibuat sesederhana dan menarik bagi siswa/siswi SMP saat itu. Awalnya, acara itu berjalan cukup baik, respon yang cukup positif. Namun, mendekati acara berakhir, siswa/siswi ini tidak sabaran untuk segera mengakhiri kegiatan sosialisasi, padahal sekolah pun sudah menyediakan waktu khusus sehingga ketika sosialisasi selesai para siswa bisa langsung pulang. Hingga akhirnya, karena tidak sabaran itulah mereka semua serentak meninggalkan tempat sosialisasi. Tim guru yang kami mintai bantuan untuk mencegah siswa pun juga tidak bisa berbuat banyak. Alhasil, sosialisasi itu berakhir dengan “sedikit aneh”.

Saya menangis kali itu. Saya tahu, itu bukan salah saya dan tidak ada “kewajiban” bagi saya untuk “repot repot berbagi” dengan mereka.

Tetapi, apakah itu benar sesuatu yang baik ketika anda tidak menghargai orang yang meminta anda bersabar untuk sesuatu yang sesungguhnya berguna untuk anda sendiri?

Saya menangis karena upaya saya dan teman teman sungguh tidak “dihormati”. Tetapi dilain pihak, saya menangisi sikap sikap yang arogan dan semaunya sendiri yang mereka tunjukan.

Saya bingung harus menyalahkan siapa.

Apakah anak anak itu yangmana, sikap itu merupakan “bawaan” mereka?

Atau

Salah pemerintah yang tidak becus menyusun regulasi dan sistem yang mampu mencegah hal seperti ini terjadi.

Tetapi,

Mengapa justru selalu masyarakat yang lebih “peka” ?

Dan bukan pemerintah ?



Intinya,
Bukan rakyatlah yang seharusnya merenung
Continue reading →
Wednesday, October 28

Salah manuver dalam jatuh cinta

0 comments


Selalu menjadi kesalahan klasik bagiku, ketika aku kemudian jatuh cinta, responku selalu tak terkendali. Mengira semuanya selalu sesuai dengan rencana, bahwa “lawan”ku pun juga jatuh cinta padaku.

Jika kisah yang sekarang berusaha aku bangun adalah kembali kepada kegagalan, maka ini adalah kegagalanku untuk yang ke-5 kalinya. Menjadi kegagalan paling singkat dalam sejarah membangun relationship. Sialan memang.

Tetapi,

Untungnya aku sungguh sangat mengenali diriku sendiri. Aku sangat paham bahwa “respon meledak ledak” ku ini sangat nyaris tidak mungkin diredam. Sehingga, aku kemudian berusaha mencari jalan lain untuk mempersempit daripada kemungkinan terburuk yang lebih besar. Dengan cara: harus lebih cepat move on serta membiasakan diri dengan kemungkinan terburuk -> di tolak mentah mentah.

Yaa, mau bagaimana lagi. Aku laki laki. Yang harus menjadi pihak yang selalu “mendahului” dalam sebuah sistem relationship di Indonesia. Mendahulu mendekati, mendahului mengajak bicara, mendahului mengajak kencan, dan mendahulu menyatakan perasaan.

Dan laki laki yang tidak memahami posisi ini akan sulit untuk kedepannya.

Aku bukan orang yang takut gagal. Tetapi kepekaanku terhadap ambang kegagalan sudah demikian terlatih.

Tidak mudah. Aku harus merasakan pengabaian yang sering dari setiap cerita yang aku usahkan untuk skenariokan.

Tapi tak apa. Aku tegaskan, aku laki laki.

Aku harus begitu smart untuk jatuh cinta. Bukan kemudian menunggu keajaiban menunggu dalam diam, tanpa usaha.

Dalam setiap menungguku, aku harus kemudian selalu berkembang.

Hingga dalam penantian yang sibuk itu, setiap laki laki yang baik akan dipertemukan dengan perempuan yang baik.

Begitu juga sebaliknya.
Continue reading →
Sunday, August 30

Kenapa selalu hanya aku?

0 comments
Hey.


Aku lama tak menulis bukan karena tidak adanya bahan untuk ditulis. Hanya saja, aku penasaran bagaimana rasanya rindu akan hal. Salah satu hal itu, adalah menulis.

1 tahun sudah aku mengagumi Dinda. Sudah aku tempuh kenyataan yang ada dan yang kemudian membuatku tersadar bahwa, jawaban Tuhan adalah tidak.

30 Agustus kemarin adalah hari yang istimewa. Hari itu adalah hari dimana akhirnya aku berkumpul dengan kawan lama, bertemu kawan baru dan ...

Menjumpai perasaan yang baru

Selalu menjadi hal yang menyenangkan bagiku ketika aku mampu merasakan gelitik rasa jatuh cinta.

Saking senangnya, kadang aku bertindak sedikit berlebihan.

Tetapi, disetiap kesempatan itu ada satu hal yang sama.


Kenapa selalu hanya aku saja yang menerima perasaan ini?

Kenapa kalian tidak? Tidak sama sekali?

Terkadang aku mengira bahwa aku memang laki laki yang terlalu mudah jatuh cinta.

Tapi mungkin memang iya sih...

Yang susah adalah ketika perempuan yang kamu perjuangkan, tidak ingin diperjuangkan olehmu.

Tetapi oleh orang lain


:)
Continue reading →
Tuesday, April 28

Pemikiran Cinta yang Berbeda (Analisis Perspektif Laki Laki - Perempuan)

1 comments
Latihan tari malam ini ditutup dengan perbincangan yang seru, menyegarkan, dan memberikan pelajaran. Tetapi, bahasannya tak lain dan tak bukan adalah ... cinta.

Dimulai karena keluguanku yang tidak mampu melihat segala gelagat atau kode kodean yang terjadi. Kode kode cinta. Dan ketika dijabarkan, reaksiku yaa ada yang nggak percaya, ada yang manggut manggut, namun ada juga yang “ Ohh pantesaann..”

Begitu.


Aneh ya.. Padahal aku selalu membangga banggakan diri sebagai orang paling peka diantara para lelaki.

Atau mungkin,

Aku hanya berusaha “membatasi diriku untuk mampu” daripada kemampuan itu.

Ah! Mungkin itu yang paling tepat.

Aku memilih untuk lugu saja. Tidak tahu apa apa.

Karena dengan begitu, tidak akan ada masalah masalah yang “mengada ada”


***


I love psychology. Aku tahu kalian (yang mengikuti setiap tulisanku dan mengenal baik diriku) sangat mengerti tentang hal ini.

Aku memulai semua karir belajar psikologi secara otodidak lewat buku yang aku beli ketika ada bazar di Ponorogo, sejak kelas 1 SMP. Sejak blog ini lahir. Bahkan tulisan pertama dan yang paling hitz merupakan tulisan tentang psikologi, yaitu bagian hipnosis.

Kemudian terus melebar hingga ke kemampuan membaca wajah, ilmu mengendalikan emosi ekstrem, belajar membaca cepat, dan banyak lagi. Hingga kemudian, aku belajar mengasah kemampuan intuisi. Belajar menganalisa karakter orang saat pertama bertemu, cara dia berpikir, dan sebagainya.

Dan sekarang, yang aku kemudian pelajari adalah deduksi serta Mind Palace yang terinspirasi dari serial Sherlock yang dibintangi oleh Benedict Cumberbatch. Dan ini bisa dipelajari, yaitu adalah kemampuan mengingat dengan metode Loki yang bisa dicari di google.

Dalam perjalanannya, aku berusaha untuk membuat “teori dan hukum” sendiri yang keluar begitu saja dari pemikiran dan perenunganku. Salah satunya yang paling mutakhir adalah menganalisa seseorang apakah dia itu perempuan atau laki laki ketika sedang mengendarai sepeda motor dengan melihat ALAS KAKI yang digunakannya. Pemikiran itu sering datang secara tiba tiba dan aku tidak sempat memberkaskannya dalam tulisan karena sudah lupa atau karena teori itu terbantahkan. Intinya adalah ...

I made my own rule, analysis, theory, or even own world.

Tidak semuanya benar dan sesuai memang, tetapi tidak sedikit yang sesuai.

Merdeka dengan definisiku sendiri.


***


Cukup untuk pengantarnya.

Tulisan ini akan sangat panjang apabila harus saya tuliskan semua yang kami perbincangkan malam ini. Mungkin saya tidak bisa menuliskan semua, namun semoga point pentingnya yang bagus bisa tersampaikan.

Pembahasan daripada tulisan ini akan saya kerucutkan kepada ...

Mengapa bisa pemikiran daripada laki laki dan perempuan begitu berbeda mengenai cinta? Bahkan mengenai “masa depan daripada cinta itu” (re: pernikahan).


Dan selamat, ber-Teori.

Obrolan cinta ini kami lakukan bertiga, yaitu saya, Adinda Dek Denik dan Adinda Dek Palma. Kami memang cukup dekat dan hebatnya nyambung dalam masalah seperti ini. Background Denik adalah psikologi, Palma adalah Teknik, dan saya adalah Hukum-Psikologi-Campurcampur. Kombinasi yang menarik bukan?

Kalau tidak salah ingat, semua dimulai dengan mantan sih. Membicarakan mantan memang hal yang menarik bahkan menjadi topik yang “menggugah”. Ibarat manusia, mungkin membicarakan topik ini seperti melihat dan membicarakan seseorang yang memiliki “sex appeal” yang tinggi. Pastinya, tidak membosankan.

Kebetulan lagi, kami bertiga jomblo semua. Eh, maaf, lebih tepatnya : Lajang.

Dari dua adik saya yang perempuan ini, saya kaget ketika mereka sudah memikirkan dan mempertimbangkan hal hal mendasar tentang cinta bahkan pernikahan. Dari yang saya amati, tipikal hubungan yang mereka ingin bangun adalah tipikal hubungan yang serius atau berkomitmen tetapi tidak meninggalkan unsur menyenangkan.

Karena ada juga kan kalangan yang pacaran dengan mahzab “serius ekstrem” atau bahkan “bermain mains saja”.

Dua hal ini, bukan tipikal mereka.

Yang membuat saya kaget adalah ketika mereka menjabarkan detil daripada komponen komponen dari hubungan cinta itu sendiri. Pertimbangannya bukanlah lagi pertimbangan “suka atau tidak”. Lebih daripada itu.

Pertimbangan yang diambil sudah memasuki daripada faktor kemapanan (ekonomi), kesesuaian kepribadian dengan pasangan, kemampuan pengendalian emosi, etika, kesesuaian dengan antara pasangan dengan keluarga, kemampuan membangun keluarga jika bersama (menikah), kemampuan yang harus dimiliki oleh masing masing (mereka dan pasangan) dalam hubungan, jarak, dan lain lain.

Banyak faktor, namun yang lebih mampu saya tangkap adalah hal hal yang saya sebut diatas dan saya tebali.

Perempuan (dalam hal ini sample-nya adalah mereka berdua) memikirkan juga apakah kepribadian yang dimiliki daripada calon-pasangan ini sesuai atau tidak dengan kepribadian mereka. Berarti, hal ini harus dimulai dari “mengenali kepribadian diri sendiri” terlebih dahulu. Yangmana, tidak semua orang bisa benar benar memahami “siapa diri mereka” itu.

Kemudian, kesesuaian dengan kepribadian keluarga. Disini dicontohkan ketika pasangan (misalkan si A) dirasa sudah cocok dengan mereka (narasumber: Denik-Palma) akan tetapi memiliki potensi untuk tidak cocok secara kepribadiannya dengan pihak keluarga narasumber, maka kemungkinan besar akan berhenti ditengah jalan. Dan tidak dilanjutkan. Misalkan, narasumber memiliki kepribadian yang keras, pasangan adalah seorang sosok yang sabar, fleksibel dan mampu mengayomi. Secara mereka berdua saja memang sudah cocok. Namun, ternyata yang menjadi masalah adalah ketika sang pasangan, memiliki kepribadian yang tidak cocok dengan orang tua daripada narasumber, karena, misalnya Ortu narasumber memiliki kepribadian keras dan disiplin tinggi yang tidak akan cocok bila di”adukan” dengan sang pasangan.

(paham kan?)

Lalu, kemampuan dalam membangun keluarga jika bersama. Ijinkan saya menjabarkan dengan memberikan pertanyaan : 1. Apakah narasumber bersedia untuk memilih bersama dengan pasangan yang sekarang memang belum memiliki kemapanan ekonomi baik, namun memiliki sikap dan kemampuan dalam membangun ekonomi secara baik? 2. Pilih yang mana kah, yang sudah mapan? Atau membangun kemapanan secara bersama sama?

Sederhananya, Pilih pasangan yang “sudah jadi” atau pilih “jadi” secara bersama sama (setelah menikah)

Yang terakhir adalah jarak. Inginnya adalah pasangan yang tidak jauh dan tidak akan membawa mereka (narasumber) jauh daripada orang tua. Jadi, pilihannya adalah disekitar pulau Jawa. Pertimbangan ini memang pertimbangan yang pragmatis atas dasar perasaan/keinginan untuk tidak jauh dari keluarga. Rasional sih.

Seperti yang sudah dijabarkan diatas, entah apakah mereka saja atau memang perempuan secara general memang biasa memikirkan hal sejauh itu.

Padahal saya sendiri pun, masih terbilang sangat santai. Kesendirian ini tidak kemudian menjadi alasan penyedih bagi saya. Karena, untungnya saya pun memiliki aktivitas yang harus dikerjakan sehingga kekhawatiran saya terhadap hal yang tidak perlu untuk dikhawatirkan kemudian tidak muncul dan menguasai.

Saya tidak terlalu mempersoalkan menikah cepat atau lama.

Yang saya persoalkan adalah saya harus sesegera mungkin berhasil dengan cemerlang dibidang yang saya tekuni. Suka ataupun tidak.

Kemudian, kemapanan akan hal ekonomi alias menjadi Orang yang Banyak Duit adalah target yang harus saya capai sesegera mungkin.

Uang, bagi saya penting. Walaupun bukan segalanya, namun saat ini segalanya menuntut akan biaya.

Dan yang namanya biaya, bersumber dari uang.

Saya tidak membenci kekayaan. Karena, membenci kekayaan hanya akan semakin menjauhkan saya dari kekayaan.

Karena, cinta bukanlah suatu entitas yang bisa dimakan, dan sesuatu yang dimakan mengharuskan untuk dibeli : dengan uang. Kalo gak makan, apa masih bisa cinta?


Itulah gambaran sederhana pemikiran saya, atau bahkan mungkin pemikiran laki laki.

Beda kan? Sangat jauh berbeda.

Kemudian pertanyaannya,

Mengapa bisa berbeda?

Jawaban saya sederhana.


Umur.

Umurlah yang menjadikan pemikiran ini begitu mengesankan kontradiksi, begitu saling bertolak belakang.

Karena, perempuan itu memiliki “batas waktu” untuk sesegera mungkin menikah. Kisaran umurnya adalah 23-25 tahun. Ketika saya pun bertanya kepada rekan saya yang perempuan, memang diangka sekitar segitulah mereka ingin segera menikah.

Sedangkan laki laki, sangat fleksibel sekali mengenai kapan menikah. Tidak terbataskan pada umur. Laki laki menikah umur 30 tahun lebih pun masih OK OK saja. Tidak ada gejolak batin yang begitu mengganggu, apalagi ditambah kemapanan yang baik secara emosional dan finansial yang mana merupakan dua hal pokok.

“batas waktu” ini adalah kemampuan daripada rahim perempuan yang baik untuk mengandung. Adalah hal yang sangat menyakitkan apabila perempuan yang sudah menikah namun tidak mampu mengandung dikarenakan ketidakmampuan daripada rahimnya. Entah sudah “tidak maksimal” atau bahkan ada bahaya penyakit yang mengancam.

Kemudian pun juga ada sebutan “perawan tua” yang menjadi predikat yang kurang baik bila itu tersematkan kepada seorang perempuan yang tidak kunjung menikah dalam seusianya padahal rekan rekan perempuannya yang seangkatan dengannya sudah menikah semua.

Dadi wadon kon gak laku laku (jadi perempuan kok gak laku laku).

Walaupun memang hal ini bisa dikecualikan apabila perempuan tersebut memiliki tanggung jawab karir yang mengharuskan untuk tidak menikah terlebih dahulu. Dikhawatirkan, ketika menikah dalam karir puncak akan menyebabkan hilangnya puncak yang dibangun, padahal banyak orang yang bergantung daripadanya. Orang tua dan kerabat misalnya.

Dari penjabaran inilah, penulis menyimpulkan.

Bahwa hal yang menjadi salah satu dasar daripada perbedaan daripada pola perkembangan pemikiran tentang cinta antara laki laki dan perempuan adalah pada Umur.

Memang ada sih, faktor lain yang mendukung. Salah satunya adalah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perkembangan otak perempuan selalu matang lebih dahulu daripada laki laki. Bisa juga hal ini mempengaruhi.


Tetapi, saya berpikir, akarnya ada pada umur.

Apakah ketika perempuan tidak memiliki “batas waktu” dan yang kemudian dibarengi dengan tidak adanya dokma dan doktrin seperti diatas, masihkah perempuan menjadi kalangan yang sangat khawatir dan perhitungan detil mengenai cinta?

Pertanyaan menarik ini akan menjadi bahasan yang menarik selanjutnya.

Semoga bisa bertemu dengan jawabannya,

Kelak.



Well,
See ya!
Continue reading →