Sunday, August 31

Selamat Ulang Tahun, MTGW

0 comments
Malam mulai datang. Semilir angin menyenggol bulu kuduk. Kota kecil nan sederhana itu tlah dijemput malam. Dingin, seperti malam malam sebelumnya.

Sejak jam 5 sore, channel TV terpaku pada acara pacuan MotoGP. Hanya saya sendiri yang begitu memperhatikan. Tidak ada acara olahraga yang lebih menarik minatku dari pada balap MotoGP. Tidak sepakbola, terlalu membosankan, untukku. Mama dan Papa berseliweran didalam rumah sedangkan Adik, berdiam dalam kamar. Mengerjakan tugas teriaknya dari “kamar gelap” miliknya. Toh akhirnya saya juga yang harus membantu mengerjakan tugas Fisikanya.

Saya tak pernah lupa acara itu. Tidak pernah. Mario Teguh Golden Ways. Dulu, jam 7 malam lewat 5 menit. Tapi sekarang mulai ganti jam tayang. Jam setengah 8 malam (molor sedikit).

Banyak orang, twit, bahkan meme yang bilang kalau “ Hidup tak semudah omongan Mario Teguh”. Yaa memang begitu halnya, hidup memang tidak mudah. Mario Teguh pun juga sangat mengerti hal itu.

Tapi,

Bukankah karena hidup yang tidak mudah itu, disanalah kita sangat membutuhkan bantuan ya? Setidak tidaknya ‘kan nasehat ya.. Kalau beruntung, malah pelajaran hidup berupa hikmah dan pengalaman.

Itu semua bisa didapatkan dari MTGW ini.

Bahkan,

Acara ini sering sekali “menegur”ku untuk kembali mengingat Tuhan, Allah. Imanku belumlah iman yang setinggi ahli surga yang biasa kudengar dari radio, televisi, dan media lain, jadi yaa… sering naik turunlah iman ini. Fluktuatif. Tetapi beliau, Pak Mario Teguh yang dalam setiap nasehatnya, --saya tahu sekali bernafaskan Islam--  dan selalu mengingatkan untuk kembali kepada Tuhan.

Sesederhana itu.

Episode malam ini bertemakan “Jalan Keemasan”, bersamaan dengan Ulang Tahun ke 6 acara Mario Teguh Golden Ways.

Tadi, saya ingat benar ketika segmen “nostalgia curhatan”.

Ke-terkesan-an pertamaku adalah ketika ingatan ini dibawa pada kisah “UN, I’m Not Afraid”. Yup, laki laki itu sekarang sungguh telah berbeda dengan pertama kali dia datang. Yang dulu terlihat sangat muram, tadi malam terlihat langkahnya sudah ringan kembali. Suaranya pun lebih segar, menandakan hidupnya sekarang sudah begitu membaik. Turut senang ketika mendengar berita sekarang sudah diterima di PTN yang diinginkan. Tidak semua orang seberuntung dia.

Masuk ke paragraf yang lebih kocak. Seseorang yang menangis ketika curhat tentang perempuan yang meninggalkannya. Exactly, it’s a MAN who cry in front of million people watch that episode. Jujur saja, sedikit memalukan. Dan malam ini pun ketika dia hadir di MTGW kembali, dia pun sudah sedikit lebih tercerahkan. Hehe. Agak sedikit geli sih tadi nontonnya, lucu gimana gitu. Apalagi ketika bagian “ Oh itu mantan? | Bukan, itu tukan Ojek”, Pak Mario, seluruh keluarga saya tertawa saat itu.

Tidak kalah kocak adalah ketika dibawa pada episode Ibu Paket Kombo dan Ibu Paket Hemat. Asal bapak tahu, itu 1 hari sebelum ulang tahun saya juga lho, Pak. Yup, saya lahir 17 Agustus. Ketika episode itu diputar, saya tertawa terpingkal pingkal  ditemani Mama saya yang tiduran di kasur sebelah. Sedangkan Papa saya, bingung membagi konsentrasinya untuk telfon dengan seseorang diseberang sana sambil bertanya kepada saya, Pak : “Nyapo iku, Le? Kok ngguyumu banter. Enek opo?” (tidak perlu saya terjemahkan ya, Pak Mario hehe)

Adalah benar bahwa, acara ini menjadi acara keluarga dikeluarga kami, keluargaku. Awal perkenalanku dengan acara ini pun adalah ketika saya masih SMP dan sedang galau galaunya serta pengen pengennya punya cita cita untuk jadi Motivator. Alhasil, berkenalanlah saya dengan acara ini. Karena begitu tertarik dan begitu niatnya, pada awal awal tahun itu, setiap nasehat yang diucapkan oleh Mario Teguh saya tulis secara manual pada buku buku tulis yang memang saya khususkan. Kala itu, hostnya masih mas Uli Herdinansyah, terus berganti dengan Tukul, Abdel, dan juga Mongol. Saya ingat sekali waktu itu. Dan hingga saat itu, terkumpul 5 buah buku yang penuh dengan kata kata serta nasehat Mario Teguh. Masih ada dan masih saya simpan.

Sayangnya, saya tidak melanjutkan untuk menulis nasehat itu lagi. Karena sekarang Pak Mario sudah lebih sering mempostingnya dalam bentuk gambar dalam facebook beliau.

Segmen MTGW hari ini diakhiri dengan potong kue Ulang Tahun MTGW bersama Ibu Lina dan host, Hilbram Dunar.


Tulisan ini saya dedikasikan sebagai sebuah perwujudan terima kasih karena MTGW begitu setia menemani Minggu Malam saya bersama keluarga dengan begitu hangat. Terima kasih saya atas dedikasi Pak Mario begitu pula dengan nasehat serta menjadi orang yang mengingatkan saya untuk selalu kembali pada Tuhan. Yang terpenting, menjadi panutan dan teladan saya yang hingga saat ini, belum terganti.

Saya berharap bahwa Pak Mario berkenan membaca sedikit tulisan saya dan apresiasi saya sebagai seorang Sahabat yang berusaha untuk hadir menikmati MTGW dan terima kasih saya atas nasehat yang diberikan.

Oiya!

Terima kasih juga karena dulu pernah menjawab pertanyaan saya via Twitter dan sering mem-favorit twitter yang saya mention ke Bapak.

Selamat Ulang Tahun, MTGW. Semoga Tuhan, Allah, berkenan memperpanjang umur Bapak dalam kesehatan dan kebahagiaan untuk selalu ada sebagai Sahabat yang setia memberikan motivasi serta nasehat nasehat baik dan mengingatkan kembali kepada Allah.

Impian sederhana saya, suatu saat nanti, saya agar mampu bertemu, bertatap muka, bersalaman, bahkan bisa ngobrol santai dengan bapak.

Semoga masih sempat ya.. :)
Continue reading →
Friday, August 15

Harapan Kado Menjelang 17 Agustus

0 comments
Terhitung sejak tulisan ini di publish, hanya tersisa 29 jam sebelum tanggal 17 Agustus 2014.

Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 69 kalinya.

Hari …. Ulang tahunku yang ke 19.

Dan …

Mungkin menjadi hari ulang tahun pertama gue di tanah rantau.


Apa kado yang ingin kamu dapat di hari ulang tahunmu, Mads?


FYI, panggilan yang paling gue suka adalah “Mads” dan satu satunya orang didunia yang memanggil gue kayak gitu cuman 1. Sahabat gue, Sari Nurfiani.

Kado yang paaling gue pengen adalah punya pacar.

Gue cuman berusaha jujur lho ini tapi tenang, bukan #kode kok. Hehehe

Atau setidaknya bisa dimulai dengan diberikannya gue kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang yang gue jatuh cintai secara diam diam. Jadi teman aja dulu. Mungkin itu kado terindah ditahun ini yang gue harapkan.

Lalu kado alternatif kedua adalah jam tangan. Soalnya, jam tangan yang menjadi kado ultah gue ketika umur kurang lebih 10 tahun dulu udah mulai rusak. Udah nggak water resist lagi. Selain itu, jam tangan adalah aksesoris yang normal dan lebih elegan dipakai laki laki daripada sekedar gelang. Menurut gue sih.

Ketiga, buku Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang Undang Hukum Perdata (KUHPer). Buku ini bakal sangat berguna dan gue butuhkan karena di semester 3 ini gue bakal belajar tentang Hukum Pidana dan Hukum Perdata.

Keempat, simple sih. Cokelat. Uhh~ I love chocolate so damn much!

Oiya, jangan kasih boneka ya.. Kan gue laki laki. Kurang cucok kalo kadonya boneka khan~


Untuk harapan harapan setelah bertambahnya umur, apa aja nih, Mads?


Tentunya gue pengen kuliah gue lancar dan berhasil dengan cemerlang. Untuk semester 3 ini gue berharap bisa nggak ikut remidi lagi. Gue rasa seharusnya semester 2 ini pun gue tidak seharusnya remidi, tetapi dosen berkehendak lain. Ya sudahlah. Gue terima, tapi kurang ikhlas.

Sejalan dengan permintaan gue diatas, gue pengen dan berharap “dikasih jalan” biar bisa membangun hubungan yang baik dengan sosok ‘itu’. Gak harus jadi pacar dalam waktu dekat. Cuman,

Bisa menjadi teman.

Sesederhana itu sih.

Entah nanti kedepannya gimana, gue berserah saja.

Gue percaya, akan ada saat yang tepat untuk hal yang tepat. Saat ini, bukan waktu yang tepat buat pacaran. Gue belum menjadi orang yang lebih baik. Belum menjadi seorang yang pantas untuk jadi pacarnya dia.

Ibarat mutiara, gue belum menjadi mutiara yang putih, bersih, mengkilat. Belum.

Gue harus “datang” dengan hal hal yang setidaknya bisa dibanggakan oleh dia.

Maka dari itu, harapannya, gue bisa menjalin hubungan yang baik. Teman, sahabat.


Harapan untuk Indonesia yang umur Kemerdekaannya tambah jadi 69 tahun ini, gimana?


Gini,

Gue merasa kunci perubahan paling besar itu ada di pendidikan. Sikap sikap seperti fanatisme dan intolerir terhadap perbedaan, bisa sekali digerus melalui pendidikan. Kenapa? Karena dengan pendidikan adalah cara untuk memberikan wawasan. Tindakan fanatisme dan kemampuan tidak mampu mentolerir adalah dikarenakan seseorang itu tidak memiliki informasi atau wawasan tentang hal yang menjadikan sebuah perbedaan itu. Perbedaan dinilai sebagai sebuah corak yang mengancam atas eksistensi dari hal yang dipercayai atau dianut. Karena bersifat mengancam inilah, maka ketika seseorang tidak memiliki informasi ataupun wacana tentang hal yang berbeda tersebut, maka seseorang ini akan merasa terancam dan kemudian membenci perbedaan ini.

Pendidikan hadir untuk memutus muara permasalahan itu. Pendidikan akan membuat kamu “mengerti” kenapa hal itu “berbeda”. Kemudian memahami dan akhirnya kamu akan menghargai perbedaan itu.

Gue yakin sekali, mereka yang tidak mampu menerima perbedaan adalah karena mereka TIDAK TAHU yang kemudian berubah menjadi TIDAK MAU. Bukan sebaliknya.

Pandji Pragiwaksono pernah bilang

“ Orang yang tidak siap menerima perbedaan, tidak siap untuk hidup di Indonesia”

Harapan gue untuk Indonesia,

Orang orang Indonesia-nya menjadi masyarakat yang mampu mentolerir perbedaan.

Itu
Continue reading →
Monday, August 11

Hingga "Paneragan" Usai

0 comments
Hari ini adalah hari terakhir aku berada di Ponorogo, Kota kelahiranku. Bahkan mungkin kemarinlah seharusnya hari itu, tetapi karena flu yang menyerang tadi pagi, aku menunda keberangkatan. Hikmahnya, Meepo (nama untuk motor MegaPro)ku aku service dan benar saja, rem belakangnya sudah waktunya ganti. Untung.

Siang harinya dengan menahan pusing, aku menemani Bunda untuk berbelanja, membawa sepatuku ke tukang sol, dan ditraktir bakso. Setiap mili detiknya aku nikmati, mungkin Bunda tahu, hari ini memanglah hari terakhirku ada satu kota bersamanya, makanya, dia ingin menggunakannya untuk bersamaku dimomen terakhir ini. Walaupun aku agak sakit, tetapi justru inilah yang menjadi obat. Segera, kususun rencana untuk malam ini.

Hari ini adalah Hari Ulang Tahun Kota Ponorogo yang ke 518, berlipat lipat kali lebih tua dari pada umur Indonesia, apalagi dengan umurku. Tua. Namun, masih terlalu muda untuk menuju Kota yang mendekati sempurna. Hari ini kian sempurna dengan tepatnya Bulan Purnama. Dan ketika malam bulan purnama seperti ini, di Alon Alon biasanya ada pertunjukan Tari REOG Ponorogo.

Malam pun datang, aku pun bersiap.

Dari kejauhan, desing itu begitu aku kenal, Putra pun datang dengan motor GL lawasnya menghampiriku untuk berangkat bersama. Sahabatku satu ini berjaket lumayan tebal, berbeda dengan malam sebelumnya ketika mengajakku ngopi di Teraz Café. Iya, malam ini dingin begitu mengusik untuk menghangat dibalik jaket ataupun selimut.

Putra pun tahu, bukanlah melihat Reog yang menjadi incaran utamaku, bukan. Yang aku cari adalah bertemu dengan “dia”. Ah~ Sungguh. Membayangkannya pun jantungku sudah berdebar, bagaimana kalau benar benar ketemu?! Dalam bayangan, kupikir aku bakal lari saja ketika momentum itu menghampiri.

Sejak Dhuhur pun aku sudah berdoa. Berharap dalam simpuh tulus menghadap sang Kuasa.

Tuhan, ini adalah hari terakhir aku ada di sini. Jumpakanlah aku dengannya. Oh, bukan, buatlah aku melihatnya tanpa ia mengetahui aku melihatnya. Ijinkanlah aku melihatnya. Bukan berjumpa, cukup melihatnya saja. Dari jauh. Kalau bukan hari ini, aku tak yakin akan datang lagi kesempatan ini dalam waktu dekat. Wujudkan, Tuhan. Amiinn

Bukan untuk bertemu, berjumpa, bukan. Aku hanya ingin melihatnya dari jauh.

Aku hanya ingin tahu dan menyadari secara langsung bahwa dia ada dalam sekitarku. Merasakan kehadirannya walaupun ia tidak merasakan hal yang sama. Bahkan aku belum siap ketika dia merasakan hal yang sama.

Tidak dengan Aku yang sekarang.

Janjiku pada diriku sendiri, aku akan menemuinya dalam diriku yang lebih baik dari sekarang.

Kesempatanku tidaklah kecil untuk berjumpa dengannya. Dia adalah seorang yang dibilang cukup eksis. Dia pernah mengikuti ajang duta wisata untuk Ponorogo dan memiliki peran penting didalamnya. Ada kemungkinan, untuk kegiatan seperti ini dia akan datang.

Kesempatanku untuk melihatnya, sebelum berangkatku.

Motor lanang itu diparkir didepan kantor pemerintahan denga Alon Alon. Kami pun berjalan menuju panggung utama.

Untuk malam pentas di Bulan Purnama seperti ini tidaklah menggunakan property yang macam macam. Kursi pun hanya disediakan kepada para undangan. Dia, bila datang, akan duduk disana, sebagai undangan. Namun beda cerita jika dia hanya ingin sebatas menonton pertunjukan tanpa bersapa ria dengan orang penting. Bisa saja, dia didepanku, dibelakangku, bahkan disampingku.

Bisa saja.

Jarak dari panggung pun sekitar 5 meter lebih. Untuk para tamu undangan, dibuatkan pagar yang mengelilingi tempat diduduk mereka berbentuk segi empat. Tidak banyak, hanya sekitar 20-an kursi. Memang, acara ini bukanlah semewah acara Festival lainnya. Festival Reog Mini ataupun Festival Reog Nasional. Jauh. Acara ini adalah acara bulanan yang rutin diselenggarakan yang biasa bersamaan dengan malam bulan purnama.

Aku berdiri cukup dekat dengan pagar yang menjadikanku juga lebih dekat dengan panggung utama. Diatas panggung pun terlihat anak anak kecil yang akan tampi beserta dengan kru kru serta MC. Semuanya terlihat sibuk tanpa grusa grusu. Sepertinya semua terkendali dengan baik. Dikanan kiri panggung pun sound system super besar sudah terpasang. Menggaungkan suara MC untuk mengulur waktu dengan berbicara basa basi sebelum masuk keacara inti. Penonton pun juga mulai memadat. Orang tua para penari bergerumul dibelakang panggung bahkan menyesaki pinggiran panggung.

Memang acara yang tidak terlalu mewah, namun masyarakat yang memburu hiburan tidak pernah sepi. Seakan tak pernah bosan. Sama halnya denganku.

Acara pun dimulai. Bola pengiring acara pun berpindah kepada MC Acara. Perempuan dengan baju hitam terusan sampai menutupi mata kaki dengan jilbap merah. Sepatu hak tinggi pun tak ketinggalan tersemat. Putra mengenali perempuan itu. Perempuan itu adalah perempuan yang bersanding dengannya ketika sama sama lolos dalam Final Duta Wisata Kakang Senduk.

Aku pun mangut mangut.

Ex-Finalis Kakang Senduk itu pun membacakan daftar siapa sajakah yang akan tampil malam ini meramaikan purnama. Ada 7 tarian yang dibawakan malam itu. 4 tari datang dari Kecamatan Slahung, 1 dari SMA 1 Bungkal, dan sisanya aku lupa. Aku lupa karena tidak begitu memperhatikan MC, tetapi menyapu pandangan diantara para penonton.

Mencarinya.

Setiap mata memandang mereka yang berjilbab, pandanganku berhenti, menganalisa. Melihat secara seksama dari bentuk jilbab yang dikenakan dan warna pilihan. Mengamati, apakah dia benar benar datang atau tidak.

Berharap, aku bisa melihatnya untuk kali kedua.

Aku tersentak ketika tengah serius mengamati dan mencari, sound system itu mengagetkan dengan bunyi music tarian tari pertama. Dipersembahkan oleh adik adik yang masih sangat kecil, tari yang mirip dengan tari merak, aku lupa nama tepatnya. Sudah kubilang, aku terlalu serius mencarinya.

Tarian kedua malah lebih parah. Aku tidak ingat sama sekali namanya. Aku pun memantau apakah dia sudah online ataukah belum. Mencari barang bukti untuk memastikan bahwa dia akan datang. Ah, keyakinanku ini memang terlalu. Terlalu memaksa.

Tarian yang menyita perhatianku adalah yang kesekian. Penarinya perempuan, mengenakan kostum serba merah, membawa panah. Nama tarian ini berawalan huruf G. Satu penari ini begitu menyita perhatianku. Pakaiannya sedikit berbeda dengan teman temannya satu tim penari. Bagian lengannya tidak tertutup. Entah sengaja atau tidak.

Tarian ini membuatku mengamati lebih jauh. Aku merasa ada yang kurang, ada yang hilang. Oh, senyum. Senyum itu begitu kosong. Syukur syukur kalau masih berusaha tersenyum, Hlah ini.. Endak. Ibarat makan rujak Madura, tiada terasa petis nan kondang rasa “laut”nya. Twit-ku pun segera muncul dalam beranda kawan kawan.

Akhirnya “Gong” dari acara inipun segera dimulai, Pertunjukan Reog.

Sesekali aku melihat kearah rembulan yang begitu sempurna. Bulat, putih, besar, dan bersinar. Begitu terang menerangi langit Ponorogo. Alunan sorak sorak para Senggak pun berlomba menjejal kedalam kuping. Gagahnya Warok, Sigraknya Jathil, Lincahnya Bujang Ganong, hingga akhirnya Wibawa sang Prabu Klono Sewandono, begitu menghibur mengalihkan perhatianku mencarinya. Aku bukannya lupa, hanya terhanyut dalam romansa kisah dalam tari itu. Tentang perjuangan merebut hati Dewi Songgolangit.

Mirip miriplah dengan kisahku. Kisah perjuangan hati mendapatkan hati.

Jauh didalam hati, sesingkat harapan aku percaya dia pasti akan muncul. Mengguratkan senyum dibibir, mendebarkan jantung, dan memahat bahagia dalam hati.

Namun ….

Hingga Paneragan pun, tanda kehadiran darinya tak menawarkan harapan untuk lebih kupercaya. Lagi, aku sisir kembali bangku undangan. Memandang memutar melihat keseluruh penonton yang ada didepan, dibelakang, dan disampingku.

Dia tidak datang.

Putra pun mengajakku untuk beranjak. Aku berdiri diam ditempatku, bergeming. Perlahan berbalik arah menuju pulang. Aku berjalan dengan memandang hamparan manusia yang beranjak pergi dengan siapapun yang menemaninya. Aku bersegera menuju Putra.

Aku berhenti. Berbalik arah untuk kesekian menghadap panggung utama. Mendongak melihat tulisan bercahaya dalam bahasa Jawa yang mencerminkan semangat orang Ponorogo. Melihat kembali kepanggung, kemudian tertunduk.

Sejenak, aku menikmati kekecewaan. Bukan kepada siapapun, selain kepada diri sendiri.

Kenapa bisaaa aku sebegitu bodoh mempercayai hal yang aku tahu aku akan kecewa dibuatnya?!

Sejenak, aku ingin diam dan sendiri.

Sejenak kemudian, aku mengangkat kepala dan kembali berjalan pulang.

Aku, telah menerima kekecewaan hari ini, dan memutuskan untuk berharap lagi. Kepada dirinya.

Aku tahu, aku akan dikecewakan dengan harapanku sendiri. Tetapi ….

Hal ini pulalah yang membuatku hidup.

Tidak ada alasan lain.

Aku yakin akan ada saat yang tepat untuk segala hal yang tepat.

Hingga akhirnya, aku pulang dengan senyum tulus akan keikhlasan dengan kekuatan untuk ….


Bertahan.
Continue reading →
Tuesday, August 5

Surat Rindu Diawal Agustus

0 comments
GUE KANGEN BANGET!

Barusan tadi sore gue menghabiskan waktu bersama kawan Espada (XII IPA 2) buat kumpul dan bahkan jalan bareng. Nggak banyak sih, cuman 6 orang. Mereka adalah Ares, Winda, Hardika, Sari, dan Nadin. Shohy sayangnya hilang kabar, ntah sekarang ada dimana dia.

Gue merasa masih belum puas untuk main, kumpul, dan bersenang senang. Padahal seminggu lagi gue dihadapakan dengan Remidiasi untuk semester 2 kemaren. Ah, padahal gue udah menjadi mahasiswa yang baik, patuh, dan berusaha belajar baik, entah gue gak ngerti kenapa dosen masih ngasih nilai yang kurang sesuai dengan usaha gue.

Hingga momen gue menulis ini, gue merindukan teman teman gue.

Udah ada Dian Yuni a.k.a mbak Susi yang udah balik ke Surabaya karena meng-handle­ urusan MOS. Satria TW pun juga sudah pulang duluan karena akan mengemban tugas besar mengibarkan Sang Merah Putih dihari kemerdekaan besok 17 Agustus. Cuman sebentar banget gue ketemu dengan Astana tadi siang. Bilal, bro gue yang setia banget buat denger cerita curhatan gue dan berkhayal tentang pacar serta kekasih. Mbak AVE yang belum sempat gue temui.

Dan seseorang yang secara khusus gue taruhkan harapan cinta gue untuk diterima.

Bukan orang masa lalu, ( mantan) namun orang yang baru.

Gue merasa cukup dekat, momentumnya tepat, tapi dicegah oleh rasa takut yang mencekat.

Jika gue boleh meminta doa yang akan dikabulkan doa tapi hanya 5 menit lamanya, gue bakal minta untuk melihat siluet keindahan dari senyumnya.

5 menit saja.

Bertatap, walaupun dalam diam.

Sisi putih gue pengen banget buat segera jadiin dia “satu satunya”. Sisi yang lain, masih merasa gue belum cukup pantas buat dia. Walaupun dia lebih muda, tapi gue tahu “level” dia diatas gue.

Romansa cinta itu begitu menggairahkan untuk gue arungi sesegera mungkin, sepuas puasnya.

Bukannya gue gak kuat me-jomblo dan gak bisa mencari yang lain, tapi… gue bakal ngerasa sangat bahagia kalau yang menjadi “kamu” ku adalah dia.

Sesederhana itu.

Se-4L4Y itu. Tapi biarlah.

Dendam masa lalu akan keringnya diabaikan berubah menjadi dahaga akan kasih sayang yang semakin menjadi.

Rindu yang makin membumbung.

Ucapan cinta yang ingin segera memenuhi pesan di handphone-mu

Belaian lembut, yang tulus, yang datang karena kasih, bukan rasa iba.

Oh Tuhan~

Terima kasih atas rasa siksa yang begitu nikmat ini. Rasa untuk bersabar dalam penantian panjangku dalam mengagumi indahnya kasih dari hambaMu.

Terima kasih karena menemukanku dengan orang yang mengajarkanku akan arti bersabar, mengalah dalam berdebat, menguat dalam sakit. Terima kasih karena membuatku jatuh cinta dengan orang yang salah yang kemudian memperindahku dalam mencintai perempuan lain yang lebih baik.

Gue kangen. Sahabat gue dan satu orang spesial ini.

Sayangnya, tugas pribadi kita semakin berbeda. Bukan lagi kita satu SMA, sekarang sudah berlainan kampus.

Prioritas di perantauan pun kini mempengaruhi apa yang ada dikampung halaman. Perintah untuk segera kembali merantau mengalahkan keinginan untuk menikmati empuknya kasur dan nikmatnya makan gratis dirumah.

Hei, nggak kerasa ya kita tumbuh sejauh dan secepat ini

Semoga,

Gue masih bisa bertemu dengan kalian di Ramadhan dan Idul Fitri yang akan datang. Semoga Allah masih memberiku dan kalian umur.

Semoga,

"Kamu", jadi milikku :)
Continue reading →