Tuesday, July 8

Keberpihakan PEMILU PRESIDEN

3 comments
Besok adalah puncak dari segala hal ihwal yang kita perdebatkan, pertengkarkan, dan permusuhkan selama kurang lebih 1 bulan ini. PEMILU PRESIDEN 2014.

Saya, mendukung Jokowi- Jusuf Kalla.

Alasannya?

Sederhana. Karena Jokowi memiliki rekam jejak yang bersih. Itu adalah alasan saya yang pertama yang menjadi pondasi untuk alasan alasan lainnya. Banyak, entah saya mampu menuliskannya semua atau tidak, kita lihat saja.

Saya sudah melakukan riset sendiri. Riset sederhana untuk mencari “ siapakah manusia yang berani sekali untuk mengajukan diri memimpin Indonesia ini”

Saya akan memulai dengan membedakan terlebih dahulu apa itu Black Campaign dan Negative Campaign. Untuk hal ini, saya melakukan “perjalanan” didunia maya dalam mencari tahu informasi tersebut.

Black Campaign adalah kampanye yang menyuarakan tentang hal hal fitnah. Menyuarakan hal yang berupa opini dan bukan berupa fakta. Negative Campaign adalah kampanye yang menyuarakan tentang fakta negative akan pihak yang lain.

Prabowo terlibat dalam kasus Penculikan Mahasiswa pada tahun 1998.

Fakta atau Opini ?

Negative Campaign boleh dilakukan. Sedangkan Black Campaign tidak.

Hal ini lho yang disalah pahami menurut sebagian besar dari kita. Menyamakan negative campaign dengan black campaign. Ketika ada orang yang menyebutkan bahwa Prabowo memiliki jejak kelam dengan tragedi penculikan dan pelanggaran HAM, banyak dari kita yang mengatakan bahwa “ Kalo kampanye jangan menjatuhkan pihak lain. Kalo mau dukung, ya dukung aja jagoan kalian “.

Lho,

Menyuarakan hal yang menjadi fakta kok dibilang menjatuhkan sih?

Jika memang itu “menjatuhkan”, maka sesungguhnya andalah yang menjatuhkan diri anda sendiri.

Saya pun bukannya tidak mencari kebenaran akan kasus ini. Saya mencari, dan menemui kesimpulan bahwa Prabowo memang terlibat didalamnya. Ini adalah sebuah fakta. Bukan sebuah fitnah.

Pandji Pragiwaksono menuliskan bahwa, kenapa sih harus ada yang menyuarakan seperti itu. Itu kan sudah masa lalu, jangan dibawa bawa lagi.

Sekarang begini, Jika didaerah kalian ada pemilihan kepala desa dimana calon calon yang diajukan adalah orang yang kalian ketahui. Nah salah satu calon ini anda tahu persis berdasarkan fakta bahwa dia adalah orang yang pernah dipenjara karena tindakan sodomi. Oke dah dia sudah “menerima hukuman” dari apa yang sudah dia perbuat, tapi ketika anda tahu dia akan mencalonkan diri sebagai kepala desa, apa mungkin kalian bakal dia saja? Apa mungkin kalian akan membiarkan orang lain tidak tahu bahwa dia adalah pelaku sodomi?

Setidaknya, ketika kita sudah menyuarakan untuk memberitahu warga bahwa dia adalah orang yang pernah melakukan sodomi, warga mengetahui siapa yang akan dia pilih. Bagaimana track record dia. Terlepas dari itu, jika warga masih memilih dia, itu kembali kepada keputusan masing masing.

Yang terpenting, kita sudah member tahu warga. Begitu yang Pandji tulis dalam blognya.

Itu penting.

Nah dalam pemilihan Capres ini saya tahu Prabowo maupun Jokowi memiliki kekurangan masing masing. Saya tahu.

Saya sudah riset. Saya sudah berusaha membuktikan sendiri seperti apa to sebenarnya yang terjadi saat itu. Sudah saya lakukan.

Dan disini, saya melihat Jokowi tidak memiliki catatan buruk seperti Prabowo.

Itukan alasan sederhana sekali, bagaimana dengan visi mis blab la blaa

Sederhana. Memang. Namun hal inilah yang membuat saya tidak memikul beban mental untuk mendukung Jokowi.

Dalam bayangan saya, saya berat. Ketika suatu hari nanti saya sudah memiliki anak dan anak saya menanyakan, “ Ayah dulu PEMILU 2014 milih siapa? “ kemudian saya memilih Prabowo yang saya tahu tentang rekam jejaknya yang demikian. Lalu anak saya menjawab “ Ayah milih penculik mahasiswa untuk jadi Presiden? Padahal Ayah tahu ada calon yang lain yang tidak memiliki rekam jejak yang demikian? “

Berat. Saya merasa melanggar apa yang saya yakini.

Keyakinan saya pun juga mengatakan bahwa, Ketika kita tidak mengetahui manakah diantara dua hal yang ada dihadapan saya yang lebih baik dari yang lain. Maka saya akan memilih yang memiliki keburukan paling sedikit.

Saya pun juga merasa berat. Ketika orang luar negeri pun bertanya hal yang sama.

Alasan kedua saya yang besar sekali pengaruhnya adalah karena tulisan dari Billy Boen.

Ada peribahasa Bahasa Inggris: “Birds of same feathers flock together”. Arti dari peribahasa tersebut: Orang yang memiliki karakter yang sama, akan berteman. Dalam konteks PilPres 2014, ini menjadi salah satu alasan kenapa saya memilih Jokowi dan bukan Prabowo.

Kalimat diatas saya copas langsung dari tulisan beliau.

Saya ikut tergabung dalam Gerakan Relawan Turuntangan yang diinisiasi oleh Anies Baswedan. Beberapa kali saya pernah bertemu dengan beliau untuk mendengar pendapatnya tentang dilema keberpihakan dalam Pilpres kali ini.

Alasan yang diutarakan oleh Anies Baswedan dan Billy Boen ini sependapat dengan alasana saya.

Saya percaya, masalah Indonesia ini harus diselesaikan bersama sama. Saya akan memilih Presiden yang bukan “ pilih saya jadi presiden dan saya akan bereskan masalah anda” melainkan “pilih saya jadi presiden kemudian kita selesaikan masalah Indonesia sama sama”.

Itu, saya dapat dari Anies Baswedan. Dan sekarang Anies Baswedan memilih untuk turuntangan menjadi Jubir untuk mendukung Jokowi-JK.

Saya, percaya kepada Anies Baswedan. Dan saya ikut untuk mempercayai apa yang beliau percayai karena yang selama ini beliau percayai adalah yang selama ini saya percayai.

Saya tidak taqlid, saya melakukan riset. Saya sudah melakukan pencarian. Sudah.

Dan sekarang yang saya membuat keputusan.

Orang orang yang mendukung Jokowi-JK pun adalah orang orang yang juga saya percayai. Rene Suhardono, Andy F. Noya, Anies Baswedan, Pandji Pragiwaksono, saya percaya pada mereka. Yang saya yakin, mereka adalah orang orang yang “menggiring bola” perubahan Indonesia kepada era yang sama sekali baru.

Saya percaya sekali akan hal itu.

Dan tidak masalah ketika anda tidak meyakini apa yang saya yakini. Nggak masalah. Santai. Selaw~

Karena mungkin, saya juga tidak meyakini apa yang anda yakini.

Dua hal inilah yang menjadikan saya memilih Jokowi-JK.

Namun,

Jika kemudian yang akhirnya menjadi Presiden adalah Prabowo-Hatta, saya akan menghargai. Saya tidak protes. Jika memang itu adalah kehendak demokrasi, saya terima dan saya akan patuh.

Sejalan dengan itu, Ketika Presidennya adalah Jokowi-JK dan mereka berdua menyeleweng, saya akan kritik. Keras sekali bahkan.

Karena yang menjadikan mereka berdua ada disinggasana tertinggi bangsa adalah karena akibat saya juga. Saya memiliki kewajiban moral untuk mengawal mereka, mengkritisi secara terbuka maupun terselubung.

Saya tidak akan membutakan mata saya terhadap hal tidak benar, walaupun itu dilakukan oleh orang yang saya dukung.

Seperti misalnya kejadian di Jogja kemarin, ketika kampanye yang dilakukan pendukung Jokowi-JK dengan menggunakan motor yang berisik suaranya menimbulkan konflik dikampus FH UII, yang mana itu adalah kampus saya. Terjadi pengeroyokan terhadap mahasiswa FH UII dan pada karyawan FH UII. Hal ini tidak bisa dibenarkan dalam kacamata apapun. Dan saya pun juga tidak setuju akan hal ini. Hingga akhirnya kasus ini pun dibawa keranah hukum untuk dicari pelakunya.

Yang saya ingin tunjukkan adalah boleh kita mendukung siapapun yang ingin kita dukung, namun kita tidak boleh semata mata menutup mata akan keburukan yang mereka buat sekarang maupun nanti.


Tulisan saya ini bersifat pribadi. Jadi, tidak untuk diperdebatkan akan alasan saya dan keberpihakan saya.


Selamat memilih calon Pemimpin, Indonesia.
Continue reading →
Sunday, July 6

Disudut Kegelisahan

1 comments
Gue tahu gue akan malu ketika melihat sikap gue yang terus dikejar dengan kegelisahan. I know it for a long time ago.

Gue teringat tulisan gue sebelum ini bahwa gue pengen berubah. Gue rindu untuk merasakan euphoria kebahagiaan menyambut Ramdhan. Tapi faktanya, hingga saat ini, gue nggak bisa. Yang menyebalkan lagi adalah, gue nggak tahu kenapa.

Hasilnya, gue melulu menyalahkan Tuhan akan segala hal yang terjadi dalam ketidak adilan dalam hidup gue.

Gue sedih sih. Gue sedih bahwa gue gak bisa menikmati seperti yang teman teman lain nikmati. Berkah Ramadhan.

Gue akui kalo beberapa hari puasa ini belum maksimal. Menyebalkan bahkan. Terkurung dikota rantau dan disodori kenyataan kampus gue belum selesai UAS. Eh, bukannya belum selesai, MULAI AJA BELUM.

Dan dengan jujur gue mengakui hal ini sebagai hal yang sangat gue benci. Serius, gue benci banget. Rasanya pengen banget cepet cepet ujian dan gue pengen segera main.

MAIN

Sial memang. Sial.

Kemarin pun gue udah punya rencana buat main ke pantai, tapi karena semakin dekat dengan ujian, gagal.

Ditambah lagi hal yang bikin gue penat yang lain lain lagi. Latihan padusa pun harus sore hari dan bikin gue telat buka puasa. Gue bukannya nggak mau buber, gue nabung. Gue berhemat. Gue bisa aja takjil gratis dideket kosan gue daripada harus ngebut dari Kaliurang KM 14 kedaerah UGM. Belum lagi ditambah molor dan sebagainya. Hashhhh

Soal masalah hati, gue berharap banget masalah ini bisa selesai, namun kelihatannya susah untuk sembuh cepat.

Barusan, gue habis kontak temen lama gue, Helmya. Ngobrol banyak dari kegiatan kampus sampek masalah hati. Sayang, gue gak bisa ketemu dengan dia dalam waktu dekat ini mungkin, karena dia bakal balik ke kota Batam ditempat keluarganya.

Mendengar nasehatnya seperti mendengar Pak Mario Teguh live dari handphone gue,

“ Jangan galau urusan cinta mulu. Perbaiki dirimu sendiri, sibukkan diri sonoh “, kurang lebih seperti itu kesimpulan pembicaraan panjang kami tadi.

Laki laki baik untuk perempuan yang baik.

Sebenernya gue juga udah tahu akan nasehat itu, bosan malahan dengerinnya. Selaluu aja ketika gue cerita tentang masalah hati, mendapatkan nasehat yang sama. Bahkan, ketika ada orang yang curhat ama gue, gue nasehatin kayak gitu juga. Bedanya, gue menambah dengan bumbu teknisnya dan strateginya. Penasaran? Butuh bantuan? Hubungi twitter gue yah..

Gue merasa sudah cukup pantes untuk punya pacar, tapi kenapa kok Tuhan gak kasih kasih, seperti itu kurang lebih kegelisahan gue. Nah yang bikin tambah gelisah tuh, ketika gue tahu bahwa diluar sana banyak orang yang belum pantes punya pacar sebaik itu, tapi kok dapet juga gitu lho.. It’s just so unfair.

Dari kejauhan, Patrick Star menjawab “ Hidup memang tidak adil, Bung. Jadi biasakanlah “

Ugh.

That’s deep.

Akhirnya nasehat pamungkas itu keluar juga. Dia minta gue untuk lebih bersabat.

Sabar

Sabar

Sabar.

Karena jodoh pasti bertemu, kata Afgan.

Dan jodoh gak akan ketukar, kata Helmya.

***

Dia bilang gue mempesona. Dan karena gue galau, pesona gue jadi hilang.

Pertanyaan gue,

Apa yang mempesona dari gue coba? Jambang kah? Banyak yang bilang gue malah mirip Ridho Rhoma karena jambang ini.

Dan karena setiap orang memiliki masalahnya masing masing, yang gue yakin gak bisa mereka tanggung semuanya sendiri, tak apalah kalau memang gue tak lagi “mempesona”, entah apakah arti sebenarnya pada kata itu.

But, overall,

Thanks for stay and listening :)
Continue reading →
Tuesday, July 1

Hello Stranger~

0 comments
Perasaan apa ya ini? Aneh.

Akhir akhir ini keresahan tanpa sebab sering melanda. Hingga akhirnya aku menyaksikan sendiri kisah yang mewakili impian terbesarku.

Film itu berjudul “ Hello Stranger “, film Thailand, lagi.

Aku lupa kapan tepatnya aku mulai menyukai film beraroma drama, apalagi Thailand. Ceritanya yang menurutku sederhana dan tidak bertele tele namun mengena. Sangat mengena, dan mewakili.

Kurang lebih ceritanya begini,

Ada seorang laki laki biasa yang sedang dikerjai oleh kawan kawannya dengan cara diculik lalu diberikan passport untuk berlibur keluar negeri. Disaat yang bersamaa ada perempuan yang sudah memiliki pacar, berbohong agar dia bisa keluar negeri, tepatnya di Korea, Seoul untuk berlibur dan menghadiri acara pernikahan temannya. Dalam perjalanan, mereka berdua dipertemukan melalui konspirasi alam semesta yang hanya berpeluang 1 banding sekian juta. Karena laki laki ini tidak begitu fasih berbahasa Inggris, dia pun terpaksa mengikuti sang perempuan ini. Lalu mereka berdua dibawa dalam romantisme dunia yang menjadi impian terbesarku.

Aku ingin sekali berlibur, hanya berdua, ditempat yang sama sekali belum kukenal, bersama seseorang yang begitu spesial.

Ya, spesial. Hanya butuh satu kali untuk bertemu, and just click!

Yang unik dari kisah diatas adalah, mereka tidak saling mengenali nama asli hingga saat terakhir. Mereka pikir, dengan tidak mengenali nama masing masing, mereka akan lebih mampu untuk bahagia, lebih bisa saling mengolok olok tanpa ada rasa marah, dan sebagainya. Mereka pun hanya memanggil Kun satu sama lain.

Sungguh, aku gemas melihatnya. Bagaimana bisa kita menghabiskan waktu terbaik liburan dengan orang yang namanya saja kita nggak kenal?

It’s just click!

Sekitar 2 minggu yang lalu, aku menghadiri acara Malam Keakraban FKPH (Forum Kajian dan Penulisan Hukum). Waktu malam hari, ada sesi yang bernama sesi “MindMap Your Live”. Ada 4 cabang yang harus kita buat. Pertama, Studi; Kedua, Personal Life; Ketiga, Karir; Terakhir; Harapan pribadi untuk FKPH.

Dicabang Personal Life, yang paling utama aku tulis ada 3.

Satu, Punya pacar

Dua, Pengen banget traveling

Ketiga, Punya travel buddies a.k.a Sahabat Traveling.

Dan Hello Stranger begitu sempurna, untukku, dalam menuangkannya sebagai film drama. Sempurna.

Jalan Jalan Men!, begitu epic menjadikannya sebuah pengalaman untuk memotivasiku mencoba pengalaman baru untuk bertravel ria.

Dulu, ketika aku masih belum Lajang, aku belum sempat untuk memulai perjalanan spesial itu. Belum cukup berani dan belum ada waktu. Ikut lomba bersama, tapi kami adalah lawan. Ada rasa yang berbeda dan juga misi yang juga berbeda.

Sekarang, beda masalahnya. Waktu, ada; berani, cukup.

Orang yang spesial itulah yang belum datang. Tak kunjung datang.

Sudah satu tahun lebih aku me-lajang. Aku bukannya tidak mencari pengganti, sudah. Aku sudah berusaha. Aku sudah bertemu dengan banyak orang di Jogja ini. Tapi kamu tau apa? Akhirnya aku jatuh simpati pada orang dari Kampung Halamanku, Ponorogo. Diawali dengan pertemuan yang singkat dalam suatu sanggar tari hingga akhirnya terasa seolah olah kami ini sudah lama kenal.

It’s just click!

Sudah aku sampaikan bagaimana perasaanku ini, tapi …

Mungkin kita belum cukup matang untuk ke-fase itu. Mungkin rasa itu datang disaat yang tidak tepat. And I’m fine with that. Setidaknya aku mampu membuktikan bahwa aku ini masih suka perempuan dan aku menunaikan keharusanku untuk menyatakan perasaanku seperti halnya seharusnya laki laki. Yeah, I know I’m good :D

Hingga detik ini, kami masih berkomunikasi, masih kontak kontak. She’s still my best friend.


Keinginanku ini sederhana sih.

Aku cuman ingin jatuh cinta lagi. Aku ingin tertarik pada perempuan lagi. Dan aku ingin memperjuangkannya seperti perempuan perempuan lain dalam hidupku yang berusaha aku perjuangkan.

Masalah diterima atau tidaknya, aku tidak menjadikannya masalah.

Pasti lahhh rasanya ingin untuk diterima, tapi jika ditolak pun aku tidak merasa berkeberatan.

Sudah lama hormon Endorpin yang membuatku bahagia akan kasmaran tak lagi terpompa. Yaa karena nggak ada pemicunya, nggak ada yang membuatku jatuh cinta. Jatuh simpati pun tidak.

Perasaan ini lebih kering daripada jatuh cinta kemudian ditolak. Lebih gersang.

Dan bagiku, lebih menyiksa.

Perasaan dimana, ketika aku bersamanya, maka aku tidak membutuhkan siapa siapa lagi. Hanya dia

Hanya kamu.

Mungkin terlihat skenario Tuhan bahwa seolah seolah masih “disimpan” oleh Tuhan untuk seseorang yang terbaik menurutNya. Sesaat, aku juga merasakan hal yang sama, tapi tak sepenuhnya yakin.

Apa aku pantas untuk “disimpan”?

Ah betapa besar kepala diri ini ketika terbesit pikiran seperti itu.

Andai saja lho yaa.. Andai.

Andai aku tahu rencanaNya, kekhawatiranku mungkin bisa berkurang. Tapi, jodoh tu memang masuk 3 kategori yang 100% hanya Tuhan saja yang tahu bersanding dengan Rejeki dan Mati.

Aku pun juga nggak bisa kan memaksa Tuhan untuk memberi tahuku sekarang.

Seolah ingin pasrah tetapi belum mampu ikhlas.

Yaaa manusia selain Nabi memang begitu. Wajar. Tapi jangan menutup kemungkinan untuk belajar.


Brow, Sist….

Makasih ya kalo udah mau baca. Tulisan ini sebenernya cuman jadi media aja dari kegelisahan yang bikin aku gak tenang, tidak ada keinginan khusus dari tulisan ini untuk kalian baca.

Terima kasih atas waktunya.. :)

Salam tulis menulis
Continue reading →