Saturday, June 28

Mantan Effect

0 comments
Mantan.

Mantan. Mantan. Mantan. Mantan.

Hallo mantan, apa kabar~

Mengganggu. Kata yang bagi sebagian orang memiliki makna dan terdengar bernada mengganggu. Kata itu adalah mantan.

Selamat Pagi semuanyaa~

Pada tulisan sebelumnya gue udah menemui kalian dalam bentuk sastra dan surat cinta. Dan seperti yang sudah gue janjikan, gue akan menulis tentang Mantan dalam Perspektif MADSISME yang berjudul “ The Mantan Effect “

First of all, let’s start by the definition. Just like always. Oiya buat yang belum tahu, mungkin kalian akan menemukan definisi yang sama atau bahkan sangat berbeda jauh dengan segala hal ihwal yang ditulis disini. Dan perlu kalian ketahui bahwa semua ini muncul begitu saja dari otak gue. Kalo ada yang sama maka itu berupa kebetulan dan mungkin pelajaran yang gue ambil dari sumber yang sama. Nah kalau beda sekali, itu berarti bikinan gue alias Madsisme itu tadi. Tapi, tetep berusaha santai aja ya.. Ambil yang cocok, buang yang nggak cocok. As simple as that.

Back to the field.

Pengertian dari Mantan gue bedakan menjadi 2 (dua). Yaitu Mantan dalam arti sempit dan Mantan dalam arti luas.

Mantan dalam arti luas adalah gelar atau title yang diberikan kepada seseorang dikarenakan seseorang itu telah kehilangan title sebelumnya. Contoh penggunaan gelar mantan ini adalah : Mantan Pengusaha (karena jatuh miskin), Mantan Orang Goblok (karena sudah berubah menjadi cerdas dengan belajar, Mantan Orang (karena dikutuk jadi monyet), dan sebagainya. Mantan dalam arti luas ini memang luas banget secara harfiah. Kata “Mantan” pun memang bisa dipadu padankan dengan kata lain. Emang deh, mantan itu paling the best!

Yang kedua adalah Mantan dalam arti sempit. Yaitu adalah gelar yang diberikan kepada seseorang jika seseorang itu telah memasuki fase pacaran lalu kemudian putus. Nah, kedua duanya, tepat setelah putus itu dideklarasikan, mendapatkan gelar Mantan.

Gue adalah mantan bagi mantan gue. Dan kalian adalah mantan bagi mantan kalian.

Lalu, ada apa dengan Mantan?

Masuklah kita dalam pembahasan Mantan Effect.

Btw, adakah yang udah merasakan pacaran kemudian putus? Ada? Boleh tepuk tangan yang udah pernah ngrasain jadi Mantan?

Disini gue tidak membahas alasan apa saja yang membuat kalian menjadi mantan, namun lebih kepada apa yang idiilnya terjadi dan dilakukan ketika sudah putus hubungan (alias jadi mantan)

Saat seseorang putus hubungan (yang kita kenal sebagai pacaran) perasaan seperti sedih, susah, lemes, marah, dan kecewa adalah emosi/ perasaan yang pastinya muncul. Ada orang orang yang mampu putus secara baik baik. Ada juga yang putusnya dengan sangat tidak baik, hal ini biasanya diakibatkan karena hal hal seperti perselingkuhan, penelantaran, dan hal hal sejenisnya yang menimbulkan rasa benci dan kekecewaan yang mendalam.

Kita bahas yang putusnya secara baik baik saja.

Putus dengan cara yang baik adalah lebih diidamkan daripada dengan putus secara tidak baik. Yaa walaupun tetap deh yang paling baik itu nggak break up.

Putus baik baik adalah dimana kalian putus dengan tidak diwarnai intrik intrik, seperti pertengkaran dan permusuhan. Biasanya putusnya dengan perbincangan yang masak dari kedua belah pihak. Dan, kedua belah pihak ini saling membuka diri, berusaha menerima dengan ikhlas, serta bertujuan yang sama, yaitu mencari jalan keluar terbaik. Alasan yang paling umum daripada putus baik baik ini adalah karena pasangan ini sudah mengerti dan menerima bahwa mereka sudah tidak lagi cocok. Karena perbedaan pendapat laahh apa lah, macem macem.

Tapi, jujur deh. Pasti masih ada perasaan “nggak terima” dengan kondisi ini. Yup, jika memang ada, maka itu adalah hal yang wajar sih. Karena ketika hal itu terjadi, maka dalam diri seseorang itu akan mengalami yang penulis sebut sebagai “benturan realita”. Kita masih pengen pacaran ama dia, tapi realitanya, kita udah putus. “Benturan realita” ini terjadi dikarenakan seseorang itu mengidap “Ketergantungan Emosional”.

Apa itu?

Ketergantungan emosional adalah saat dimana kita merasa tidak sanggup bahagia jika tidak bersama seseorang yang kita sayang. Dalam kasus ini, kita gak bisa bahagia karena kita gak bisa bersama mantan kita lagi.

Sakit pasti, tapi bukan berarti tidak ada obatnya.

Nah,

Mantan Effect adalah dimana ketika kalian sudah putus yang kemudian berimplikasi kepada kemampuan kalian untuk berkomunikasi dengan mantan kalian berkurang drastis. Efek yang paling terlihat adalah “saling menjauh”. Iya, menjauh secara langsung maupun tidak langsung.

Menjauh secara langsung adalah ketika kita berusaha dengan sangat mencolok menjauh ketika mantan kita hadir secara langsung dalam hidup kita. Contohnya, ketika papasan di-mall tapi nggak mau menyapa, di WA nggak dibales, diSMS nggak dibales, dan sebagainya.

Menjauh secara tidak langsung adalah ketika kita berusaha menjauhkan hal yang mengidentitaskan mantan kita ATAU mengidentitaskan kebersamaan dengan dia. Contohnya adalah dengan membuang fotonya, membakar boneka yang dia pernah belikan, membuang cincin yang pernah dibelikan, membuang baju yang pernah dibeli BERSAMA dia, dan sebagainya.

Yang paling menjadi concern gue saat ini adalah bahaya dari menjauh secara langsung tersebut karena gue ngerasa sebagai korban.

Oke kita putus secara baik, tapi mantan effect ini menciptakan dinding tidak terlihat yang menyebabkan suasana menjadi canggung dan gak nyaman. Mungkin udah banyak yang ngerti dengan perasaan ini mungkin juga masih banyak yang nggak ngerti.

But trust me, this feeling is really annoying.

Memang sih ada orang yang bisa jadian pacaran karena niatnya memang buat jadi pacar. Misalnya baru dikenalin temen, langsung PDKT dengan target pacaran. Ada memang. Dan pas putus, yaa udah gitu aja.

Namun ada juga kan yang prosesnya dari temen lama bahkan sampai pada sahabatan. Kemudian jadian. Trus ketika putus, seolah olah nggak pernah kenal sebelumnya.

Jika seseorang yang putus secara baik namun tidak mengalami yang gue sebut sebagai “benturan realita”, maka bisa diambil kesimpulan mereka benci terhadap kita.

Ya.

Membela dan berdalih seperti apapun, itulah yang terjadi.

Padahal ya.. Tau nggak efek dari hal itu?

Implikasi terbesarnya adalah terputusnya tali silaturahmi.

Rasulullah pernah bersabda,”Tidak ada satu kebaikanpun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahim, dan tidak aka satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahim.”

Aduuhh.. Betapa sangat disayangkan kalo hal itu terjadi brow. Oke deh putus sebagai pacar, tapi tetep dong sebagai sahabat.

Lalu ada yang berusaha membuat pembelaan dengan mengatas namakn Moving On sebagai pembenaraan akan hal itu.

OK bener memang kalo Move On adalah jalan untuk berusaha melewati fase fase berat dibelakang ketika seseorang putus.

Tapi, Move On dari mantan bukan berarti memutuskan silaturahmi dengannya kan?

Kalau jika memang benar dia salah, dan sekarang kalian benci terhadapnya. Coba deh diomongin baik baik.

Komunikasi deh.

Terasa aneh memang jika kita secara langsung mengungkapkan bahwa kita nggak suka sama seseorang. Tapi, apakah sebegitu ceteknya perasaan yang kalian bangun sewaktu kalian pacaran dulu? Emangnya pacaran cuman seneng seneng doan, HA HA HIHI doang gitu? Nggak berusaha mengenal lebih dekat, nggak berusaha saling menasehati dalam kedewasaan gitu?

Atau malah saling berlomba untuk diperhatiin dan menolak untuk memperhatikan duluan?

Kalo menurut gue, Itu bukan pacaran brow, sist. Bukan.

Pacaran itu adalah moment dimana kalian seharusnya berusaha saling mengenal, saling memperhatikan, dan bahkan, saling memperbaiki diri. Karena pacar adalah orang terdekat kalian, maka mereka pasti akan mengenal kalian luar dalam kan? Nah, disitulah letak kalian untuk saling menasehatkan hal yang baik. Tapi, bukan berarti mengubah dia menjadi seseorang yang lain lho yaaa..

Artinya adalah, mengubah dirinya menjadi versi terbaik dari dirinya.

Yup, itulah pacaran yang idiil menurut gue, MADSISME.

Harus lebih dewasa, lebih sabar, lebih penyayang, lebih rapi, dan lebih yang baik baik.

Mantan Effect ini terjadi mungkin karena kurang kedewasaan aja sih. Semakin dewasa seseorang, kemampuannya untuk menerima hal yang tidak mengenakan didunia ini akan semakin bertambah.

Gue punya cerita soal kedewasaan dan kemampuan ikhlas.

Alkisah ada seorang Guru spiritual dengan muridnya. Suatu hari, si Guru ini minta kepada muridnya untuk membawa garam sebanyak satu baskom gitu. Kemudian Guru ini nyuruh si murid untuk mengambil satu genggam penuh garam kemudian dimasukkan kepada satu gelas air yang berisi air didalamnya. Disuruh minumlah si murid tu gelas yang penuh garam. Beh! Asin Browww. Terus si Guru ngajakin si murid untuk pergi kedanau dengan membawa satu sak penuh garam. Sesampai didanau, garam satu sak itu Guru tebar semua kedalam danau. Muridnya kemudian disuruh untuk meminum air danau itu. Dan dia tidak merasakan sedikitpun rasa asin dari garam itu.

Kedewasaan dan kemampuan untuk ikhlas adalah serupa dengan air danau itu. Jika kedewasaan dan kemampuan ikhlas seseorang itu seluas danau, maka masalah sebesar 1 sak garam pun tidak akan terasa. Beda jika seseorang itu kemampuan ikhlasnya cuman sebatas segelas air. 1 genggam masalah saja dia udah kelabakan.


***

Kemarin gue dapet pertanyaan nih, gini “Gimana caranya biar bisa “move on”?”

Kalo pertanyaannya dikasih ke pak Mario Teguh jawabnya pasti “ Ya move on aja”

Tapi, beliau juga pernah bilang bahwa prosesnya bukan cuman sekedar move on saja lho..

Move Away, Move On, and Move Up.

Sebelum move on, ada move away dulu kan? Nah, lakukan itu dahulu.

Maksudnya adalah ikhlaskan diri kita untuk “lepas” dari dirinya dahulu. Dalam bahasa Indonesia move away artinya adalah pergi kan? Yaudah, lepaskan dia, dan pergi. Gue nggak pernah menyebutkan bahwa menjauh adalah hal yang buruk, melainkan adalah hal yang wajar. Namun menjadi tidak wajar jika sudah kelebihan batas hingga saling membenci.

Jika dia adalah orang baik, maka percayalah Tuhan masih menyiapkan seseorang yang lebih baik dan pantas, sesuai dengan kelas kita.

Jika dia adalah orang yang buruk, nah lho… Kok bisa bisanya masih sayang ama orang yang jelas jelas buruk? Itu bukan sayang, itu nafsu.

Orang baik itu kelasnya dengan orang baik, dan sebaliknya. Tapi, Tuhan itu akan memberikan apa yang kita minta. Kalo kita tahu kita orang baik yang berkelas, tapi maksa Tuhan agar dijodohkan ama orang yang buruk, yaa dikasih. Tapi, siap siap nyesel aja deh yaa...

Memang, logika cinta ada dihati, namun jangan melupakan logika akal untuk memilih jodoh.

Ikhlaskan untuk lepas dari dia. Lalu melangkah kedepan. Coba deh cari cari kerjaan yang bermanfaat gitu. Ikut kegiatan yang bermanfaat dan berjumpa dengan orang yang banyak. Nah kalo udah ketemu dengan hal yang kamu cocok dan bermanfaat, move up! Poleslah diri kamu sebaik bainya, seindah indahnya. Kerena rumusnya kan jelas to,

Orang baik itu kelasnya dengan orang  baik, dan sebaliknya.

Sampai jumpa di Madsisme berikutnya~
Continue reading →

Surat Cinta untuk Ramadhan

1 comments
Ramadhan sudah berjalan pada hari kedua. Untukku. Aku memulainya lebih dahulu kemarin dan dikosan kebetulan hanya aku sendiri yang berpuasa disana.

Aku ingin bilang “ Selamat datang Wahai Bulan Ramadhan yang penuh Rahmat” sungguh, bulan ini memang penuh rahmatNya. Banyak sekali dalil dalil yang menguatkan pernyataan ini dan disusul dengan saran agar beribadah lebih khusuk nan banyak.

Bulan Ramadhan ini ibarat bengkel reparasi. Bulan yang ada cuman sekali dalam setahun dan dijanjikan didalamnya pahala dan ampunan dosa. Aku bersyukur bisa menemuimu lagi, Ramadhan, sungguh. Bahkan aku pernah merindumu dalam 1 bulan terakhir, seperti rinduku akan kasmaran pada cinta. Sungguh.

Tetapi Ramadhan, dalam 2 minggu terakhir aku sungguh jauh dari TuhanMu, Allah. Jika boleh aku bagi, aku merasa rinduku padamu telah memudar, kemudian berganti. Berganti dengan emosi lain. Ego. Ah, aku merasa dunia mulai tidak adil dalam 2 minggu terakhir. Aku lelah untuk latihan padusa yang begitu melelahkan hingga malam larut. Aku jengah dengan tugas yang baru dosen berikan pada akhir menjelang UAS. Sungguh, amarah menutupi rinduku padamu, Ramadhan.

Subjektif memang alasan akan emosiku ini. Dan aku pikir engkau pasti tidak akan menerima penjelasanku. Terlalu kekanak kanakan. Ahh… Sungguh aku tak siap untuk menyambutmu.

Tapi aku ingin berubah. Beneran! Aku tidak ingin menyia-nyiakan lagi hal yang menjadi hak atas diriku sebagai hamba Allah. Aku ingin menjauh dari api nerakaNya, karna aku tauuu aku tidak akan tahan walau sekedar melihat api siksaNya. Mungkin saat ini sulit membuktikannya padamu, Ramadhan, bahwa aku sungguh ingin menjadi pantas memiliki segala nikmatmu. Karna hatiku ini membatu. Iya, aku tau kamu tau Ramadhan. Makanya aku tidak akan menyalahkanmu apalagi penciptaMu. Tidak.

Hanya saja, beri aku waktu dan beri aku peringatan. Bahwa engkau hanya mampir dalam 1 bulan saja. 30 hari dalam 368 hari yang terdata oleh sains.

Aku juga minta bantuanmu. Tolong sampaikan pada Tuhan, bantu aku mengupas kerak keras yang menempel dihati ini. Tolong. Aku tak lebih dari sekedar sadar, belum tergerak. Aku tak lebih dari sekedar tahu, bukan mengerti.

Dan yakinlah padaku, Ramadhan, aku ingin dalammu nanti, aku mampu memperbaiki diri dan keluar sebagai jiwa yang fitrah. Yang bersih. Yang suci, seperti halnya kesuciannya seorang anak bayi. Lucu, mungil, penuh seri. Oh, Ramadhan, betapa aku sungguh ingin menemuimu dalam cinta pada Tuhanmu, pada Allahhu Rabbi.

Maaf bila aku berbohong jika hanya ingin berusaha menjelaskan padamu. Karna ternyata aku juga memohon bantuanmu. Bantuanmu, agar aku mampu mendekat padamu, Ramadhan. Maaf.

Ijinkan aku ya.. Aku sudah ditolak oleh perempuan termanis dalam hidupku. Pernah ditelantarkan oleh wanita paling berharga dalam 3 tahun menjalani hubungan tak bermuara.

Janganlah engkau tambah dengan menolakku dengan mengabaikan ibadahku. Janganlah engkau membuatku merasa merugi dan bersalah. Biarlah rasa itu dimiliki para koruptor, tapi aku mohon bukan akuuu.

Ijinkan aku ya, Ramadhan.

Ijinkan aku memiliki Rahmatmu sebagai hadiah yang Allah beri kepada hambaNya.

Amiinn
Continue reading →
Tuesday, June 17

Esensi PERBEDAAN (MADSISME)

0 comments
Malam guys. Tulisan ini gue buat ketika malam sudah larut larutnya. Begitu mengusiknya dengung dengung pemikiran itu dikepala, maka gue putuskan untuk menumpahkannya disini.

Gue pengen bahas tentang Perbedaan. Bukan perbedaan antara entitas A dengan entitas B, bukan. Yang gue bahas adalah esensi dibalik perbedaan itu.

Kita berangkat dari sejarah yuk…

Kalian pernah bertanya gak, “Siapa ya yang menciptakan perbedaan?” dan “ Kapan ya perbedaan itu diciptakan?”

Gue adalah Muslim dan pandangan Islam dari Al Quran lah yang pengen gue ambil dahulu.

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Gue habis search di Google dan menemukan artikel bahwa surat diatas sering dijadikan sebagai dalil oleh kaum sekuler dan liberalis.

Pendapat gue, ayat diatas itu menjelaskan bahwa memang benar Tuhan Allah-lah yang menciptakan PERBEDAAN. Kita memang benar benar diciptakan AGAR BERBEDA. Jadi, jika memang benar Allah-lah yang ingin agar kita hidup ini dalam perbedaan, kenapa kita ribut sekali mempermasalahkan perbedaan ya? Tugas kita dalam perbedaan itukan untuk saling mengenal. Mengenali pemikiran/ pendapat itu, agar kita belajar dari perbedaan itu.

Karena gini, gue punya quote, “ Kita itu sering menilai orang lain salah, hanya karena dia BERBEDA dengan kita”.

Do you agree?

Kalian tahun nggak kenapa hal itu terjadi? Karena itu adalah sisi EGOIS manusia. Nafsu. Ya, manusia memang diciptakan oleh Allah dengan dikaruniai nafsu. Nafsu untuk diakui, diterima. Dan adanya perbedaan menyebabkan kondisi seseorang yang SELALU ingin agar orang lain SAMA dengan kita, kondisi ini menyebabkan rasa TIDAK NYAMAN pada manusia itu. Dan ketika manusia itu sudah memasuki kondisi TIDAK NYAMAN, mereka akan membuat “ dinding penghalang yang tidak terlihat”. Dinding ini akan membuat manusia itu bersifat defensif, kaku, dan TIDAK AKAN MENERIMA PERUBAHAN, karena tadi… Manusia itu EGOIS.

Manusia selalu ingin orang lain yang berubah, sedangkan dia sendiri tidak mau untuk berubah.

Manusia itu selalu ingin agar orang lain melakukan hal baik dahulu, nanti deh gue nyusul begitu kira kira “nada”nya.

Kembali ke Perbedaan.

Ayat Al Quran diatas tadi menjadi landasan gue untuk menemukan PERBEDAAN antara manusia secara GLOBAL. Nah, ternyata didalam Islam sendiri, yang mengijinkan adanya perbedaan itu adalah Allah sendiri lho. Ini termaktub dalam kisah ditolaknya doa Rasullullah.

Amir bin Said dari bapaknya berkata bahwa satu hari Rasulullah Saw telah datang dari daerah berbukit. Ketika Rasulullah SAW sampai di masjid Bani Mu'awiyah lalu beliau masuk ke dalam masjid dan menunaikan sholat dua rakaat.
Maka kami pun turut sholat bersama dengan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah SWT.
Setelah selesai berdoa maka Rasulullah SAW pun berpaling kepada kami lalu
bersabda:
''Aku telah memohon kepada Allah SWT tiga perkara, dalam tiga perkara itu Allah
hanya memperkenankan dua perkara saja dan satu lagi Dia ditolak.''
1. Aku telah memohon kepada Allah SWT supaya tidak membinasakan umatku
dengan musim susah yang berpanjangan. Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT
2. Aku telah memohon kepada Allah SWT supaya umatku ini jangan dibinasakan
dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi
Nuh s.a). Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT
3. Aku telah memohon kepada Allah SWT supaya umatku tidak dibinasakan
karena perselisihan sesama mereka (peperangan, perselisihan antara sesama
muslim). Tetapi permohonanku tidak dikabulkan oleh Allah SWT.


Perselisihan sesama mereka,

GImana coba? Allah saja, yang menetapkan Islam sebagai agama yang diridhoi oleh Allah saja, memberikan “lubang” seperti diatas. Kita semua tahu bahwa banyak sekali konflik dan masalah yang timbul karena perbedaan, perbedaan pendapat apalagi.

Tapi, satu hal yang harus kita pahami

ILMU ALLAH ITU JAUH LEBIH HEBAT DARI ILMU MANUSIA. Dan dengan prinsip inilah gue berpendapat bahwa, sesuatu yang gue tulis sebagai “lubang” adalah karena persepsi dan pemahaman kita yang belum sampai hingga ILMU ALLAH.

Kita melihat perselisihan pendapat adalah seperti sesuatu yang buruk dan laknat, PADAHAL ada PRINSIP bahwa,

Tidak ada hal didunia ini yang diciptakan Allah secara sia sia.

PASTI, PERBEDAAN PENDAPAT itu manfaatnya.

Dan gue sudah membuktikan bahwa, perbedaan pendapat itu hanya mampu kita tuai manfaatnya, JIKA kita mau dan mampu menerima adanya perbedaan itu. jangan sok ngerasa paling bener brow..

Jangan toh karena kita belum mampu melihat sesuatu yang benar benar baik secara jelas, kita menganggap hal itu buruk, jangan.

Jika benar kebenaran hanya milik Tuhan, maka tidak pantas bagi kita menilai segala sesuatu yang oleh Allah diberikan “lahan” untuk terus tumbuh dan berkembang, malah kita sudah justifikasi bahwa itu, BURUK. Eh, siape elo, nyet?

Allah saja lho yang MAHA SEMPURNA ketika TAHU kamu salah, masih memberikan kita segala kenikmatan dan waktu agar kita SADAR untuk belajar dan memperbaiki diri. Eh, lah kita? Manusia yang nggak bisa sempurna, sok sok-an menganggap orang lain salah karena pendapatnya.. Masya Allah

Dari segala prinsip diatas, gue yakin berpendapat, jangan jadi orang yang fanatisme akan pendapat sendiri yang kita miliki. Hal ini jika ekstrem terjadi akan menjadikan kita kurang mampu untuk terbuka dalam pendapat lain, pendapat yang digunakan agar kita terus tumbuh, berkembang dan belajar.

Kebenaran dan Keburukan itu seperti mata koin dengan sisi yang berbeda. Jika kita mampu melihat salah satu sisinya, seharusnya kita mampu melihat akan sisi yang lain.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah KEDEWASAAN DALAM MENERIMA PERBEDAAN.

Kalian pernah punya pengalaman gini gak?

Dimana sewaktu kalian itu pernah kumpul untuk membahas rapat suatu acara disekolah kalian tapi anggotany nggak komplit. Yang diundang 10, yang dateng 8. Bahas bahas bahaaassss. Akhirnya, deal sepakat 8 orang ini. Nah, hasil itu rapat itu tadi dikasihkan kepada seluruh orang 10 tadi, eh ternyata 2 orang itu sama sama nggak setuju dengan ide kita. Bawel sana sini, kritik sana sini, tapi nggak kasih solusi. Akhirnya kita bilang “ waduh sory bro, ini udah sepakat deh. Sory usulan elo gak bisa diterima”. Nah, dia-nya sewot, marah marah, nge-twit ngejelek jelekin kalian,  dan bahkan nyatru (bahasa Jawa, artinya mendiamkan kehadiran kita).

Pernah nggak pengalaman gitu? Ato malah kalian pelakunya?

Nah, kondisi diatas tadi adalah kondisi dimana kalian berada pada fase kurang dewasa dalam mengalami perbedaan.

Sebenernya bukannya ide kalian itu mentah mentah ditolak, ide kalian jelek ataupun kalian ini dibenci, bukaann. Alasannya adalah karena munculnya kata SEPAKAT, dimana semua orang setuju dengan konsep ide yang ditawarkan tadi. Nah, kemunculan kalian yang terlambat itu, jika dilakukan proses “pengulangan” penyusunan konsep, maka akan semakin memakan waktu dan keputusan final akan semakin sulit didapatkan.

Dalam kepemimpinan, lebih baik melakukan tindakan penanganan yang cepat, walaupun nanti bisa sedikit salah, daripada mengambil keputusan yang lamaaaa walaupun “kelihatannya sempurna”. Kalian yang pernah merasakan bangku kepemimpinan pasti mengerti benar maksud gue diatas, yakin mah gue.

Nah dari situ deh, kalian sebagai pihak yang tidak diterima idenya karena sudah muncul kata sepakat harus dewasa, nerimo lan legowo. Itu penting brow..

Siapapun pasti akan tua, namun dewasa adalah pilihan.

Dan kalo kalian masiihh aja nggak setuju dengan cerita gue diatas, coba deh kalian cek sendiri sikap Rasulullah SAW. Betapa beliau itu manusia sempurna dengan segala kesempurnaan akhlaknya dan kedewasaan beliau dalam menerima pendapat dari sahabat sahabatnya.

Jangan merasa rendah bila berbeda pendapat, tapi juga jangan marah kalo pendapat kalian nggak diterima ama temen temen kalian.

Dewasalah.
Continue reading →
Sunday, June 15

Civil Law or Common Law

0 comments
Jumat, 13 Juni 2014.

Aku baru tau bahwa hari itu bertanggal 13 yang menjadi angka kesukaanku. Mitos bilang ia adalah angka pembawa kesialan. Aku berbeda. Aku akan membuatnya memihak kepadaku dan alam semesta pun berkonspirasi membantu dibelakangku.

Mata kuliah pagi itu adalah Sosiologi Hukum. Aku merasa hidup, unggul. Tidak ada hal didunia ini yang lebih menarik untuk dipelajari melainkan manusia itu sendiri. Kuliah ini mempelajari akan hukum dengan keadaan sosial (sosiologi) manusianya. Kuliah ini percaya bahwa, hukum ini adalah datang dan hidup dari masyarakat itu sendiri. Hukum itu bukan “tempelan” yang bisa dilekatkan seenak saja kepada masyarakat.

Sebisa mungkin, hukum itu mewadahi apa kebutuhan manusia. Hukum bukanlah hal yang benar untuk mengendalikan manusia secara utuh. Bukan. Ia adalah kontrak sosial yang lentur yang harus menyesuaikan dengan masyarakat. Analoginya adalah: gelas adalah hukumnya, air adalah masyarakatnya. Jika gelas itu tidak mampu menampung air, maka gelas itulah yang seharusnya diganti, bukan malah membuang airnya. Got it?

Pagi itu kami membahas tentang Mahzab hukum: Aliran Sociological Yurispudence. Aliran/ Mahzab kukuh pada pendapatnya yaitu hukum positif hanya akan efektif apabila selaras dengan hukum yang hidup di masyarakat. ( Hukum posotif adalah hukum tertulis yang berlaku).

Bumbu pembahasan materi pun mampir kepada budaya masyarakat dalam menyelesaikan masalah. Pertama adalah budaya carok di Madura. Ini adalah salah satu cara masyarakat Madura dalam menyelesaikan masalah dengan berkelahi menggunakan arit hingga salah satunya terbunuh. Iya, begitu ceritanya. Dan karena pihak satu tidak terima karena keluarganya dibunuh dengan cara carok maka pihak korban akan menantang carok kembali. Terus begitu. Tidak masuk akal?

“Bagaimana bisa masalah terselesaikan dengan cara seperti ini?”, pikirku.

Karena yang aku tangkap, itu semua adalah balas dendam.

Alasan adanya carok terjadi adalah karena masyarakat Madura yang dikenal memiliki harga diri yang tinggi dan tidak ingin dijatuhkan martabatnya. Dan untuk membelanya, maka diselesaikan dengan cara seperti itu tadi.

Dalam hukum positf Indonesia saat ini, apabila kita membunuh maka akan mendapatkan ganjaran antara lain kurungan/penjara, denda, dan hukuman mati. Untuk kasus carok, sang pelaku yang mau dihukum seumur hidup pun, korban merasa “masalah ini belum usai”. Salah satu pihak bisa jadi terus mengejar pelaku itu.

Tapi untuk saat, entah apakah praktek carok itu masih ada atau tidak.

Muncul pertanyaan,

Apabila hal ini benar terjadi dan terus terjadi, apa mungkin masalah akan benar benar selesai? Padahal seharusnya hukum itu ada untuk menyelesaikan masalah bukan?

Penasaran benar benar membuat nalar ini gatal.

“ Jika memang benar keadaan di Indonesia dengan keaneka ragaman hukum adat didalamnya. Manakah jalan yang seharusnya kita pilih? Apakah kita berusaha mengakomodir secara mutlak semua hukum hukum adat yang ada di Indonesia dan berusaha menerapkannya secara parsial terhadap wilayah dengan hukum adat yang berlaku? Ataukah kita berusaha “membawa” masyarakat adat tersebut untuk menerima dan menyesuaikan persepsi bahwa hukum positif yang diatur ini adalah hukum yang lebih baik daripada hukum adat itu?

Pemikiran bahwa hukum carok  tidak masuk akal adalah karena pemikiran kita bermain pada wilayah hukum positif yang melihat hukum carok adalah sesuatu yang aneh. Padahal disisi yang lain, masyarakat yang menerapkan hukum carok, melihat kita yang berpikir dengan pola nalar hukum positif melihat kita sebagai jalan pemikiran yang aneh pula.”

“Pertanyaan yang cukup sulit”, ucap beliau, Eko Riyadi, Dosen Sosiologi Hukum yang menjadi kawan berfikirku kala itu.

Beliau menerangkan bahwa, cara berfikir yang aku lakukan barusan adalah cara berpikir sosiologi hukum. Mencari keadilan, mencari keidealan. Lain jika harus berdebat dengan orang pidana. Penekanannya adalah pada Kepastian hukum.

Akan sulit jika mengakomodir seluruh hukum adat dalam hukum positif karena perlu dilakukan studi yang tidak sebentar keseluruh penjuru Indonesia dan saking begitu banyaknya hukum adat yang harus diakomodir. Akan susah juga jika kita harus “membawa” masyarakat yang mungkin jauh dari modern dan masih memegang keleluhuran untuk menerima hukum positif.

Hingga, beliau sampai pada pemikiran beliau, yang sejatinya beliaupun masih harus mengkajinya lagi, bahwa,

Indonesia ini kurang cocok dengan sistem hukumHaasdadadasda Continental (civil law). Indonesia lebih cocok dengan hukum common law.

Pendapat beliau ini masih berhenti pada pendapat saja, belum dengan penelitian yang mampu menguatkan tentang pendapatnya. Jadi, pendapat beliau ini tidak mampu dijadikan doktrin. (dalam hukum Doktrin berarti pendapat pendapat sarjana hukum yang dapat dijadikan sumber hukum).

Tapi, dalam pendapat beliau, aku setuju.

Hukum kita tidak lentur dalam menghadapi problema Indonesia yang “unik” ini. Kuncinya bukan pada hukum positif tertulisnya, namun pada kemampuan hakimnya untuk menggali nilai nilai yang berkembang dimasyarakat, dan mengkonkritkannya dalam bentuk hukum.


Yah, untuk sementara, inilah pendapatku. Pendapat kami.
Continue reading →