Friday, April 25

Malam yang menjadi Kado

0 comments
Tidak ada perasaan yang lebih menyiksa daripada perasaan bersalah. Bahkan menurut saya, jauh lebih menyiksa perasaan bersalah daripada patah hati. Sungguh.

Saya berusaha memilih. Apakah karena perasaan bersalah ini saya berubah menjadi badmood atau saya harus mengabaikan perasaan bersalah ini dan berusaha untuk melakukan yang memang seharusnya saya tunaikan. Lama saya merenung, saya akhirnya memilih untuk tidak diam dan menyalahkan diri sendiri. Saya tau, sikap itu hanya akan semakin merusak malam yang memiliki potensi menjadi indah, nanti.

Saya pun melakukan tugas yang dimandatkan, menjadi tukang arah arah. Berusaha menyapa relawan lain yang datang setelah saya menjemput mas Apri. Ngobrol sana sini, lalu ketika ada peserta bedah buku, yaa diarahkan menuju tempat yang disediakan. Perlahan, perasaan bersalah itu pun tertebus.

Semakin lama peserta bedah buku semakin banyak dan mbak Rizka pun sudah memulai basa basi didepan untuk mencairkan suasana. Yup, tugas MC untuk membuka segalanya. Saya dan mas Apri bertugas secara bergantian mengarahkan. Kalau cowok, yang handle saya, kalo cewek yang handle dia. Sialan.

Jam menunjukkan pukul 7.13 malam. Panitia seksi keamanan sudah ribut bersiap menyambut kedatangan pak Anies Baswedan. Semua panitia tahu, ini adalah kesempatan emas untuk bertemu dan berjabat tangan dengan beliau. Tidak ingin menyesal, saya pun turun beserta beberapa teman yang lain untuk menyambut Anies Baswedan. Bak penerima tamu dalam mantenan, kami berjejer rapi, dan saya, mendapat tempat paling ujung dekat dengan pintu. Artinya, sayalah yang akan disalami pertama. Untuk anak ndeso seperti saya, menjadi sebuah kehormatan yang besar bukan kepalang.

Saya pun bertemu dan sempat bersalaman dangan mbak super duper keche, Lativina Baswedan, sepupu Anies Baswedan. Sosok yang cantik dan lembut. Saya pernah bertemu dan bekerja sama sebelumnya di event #PolitikRapopo. Beliau bertugas sebagai Master of Ceremonial. Beliau sendiri dari Turuntangan Solo, bisa ikut gabung dalam event ini karena ke-pas-an sedang ada di Jogja.

Menit itu pun tiba. Terlihat jelas pas Anies Baswedan berjalan menuju pintu yang dimaksud, pintu yang mana, saya dan teman teman lain berjejer menyambut. Ini pertama kalinya saya bertemu langsung dengan beliau. Bersosok tinggi besar dengan tinggi kurang lebih sama dengan saya namun terlihat sangat lembut dan berwibawa dalam momen yang sama. Saat itu beliau menggunakan baju batik warna hijau kelam. Lurus, berjalan kearahku.

“ Haloo.. Gimana kabarnya?”

Alhamdulillah sehat pak”

Dijabatnya tangan saya dengan mantab dengan senyum tersimpul dari bibirnya. Genggamannya menunjukkan bahwa beliau memang orang yang selalu yakin dengan apa yang dia kerjakan dan dia percayai.

Beliau pun berlalu menjabat tangan para relawan yang lain satu persatu. Belum sempat saya memfoto beliau, beliau sudah naik dengan anak tangga yang berbeda. Seketika, gemuruh tepuk tangan menyambut kedatangan beliau. Sungguh, betapa dicintainya seseorang ini.

Saya pun bergegas naik kembali. Melewati beberapa orang dianak tangga dan berusaha mencari dan melihat dimana beliau duduk. Hanya ingin memastikan bahwa beliau duduk ditempat yang disediakan. Dan saya pun kembali ke pos saya.

Karena yang datang semakin sedikit, saya pun ikut berjaga di shop yang menjual kaos dan beberapa barang lain. Tak lupa juga, buku biografi yang ditulis oleh mas Muhammad Husnil itu sendiri. Di jam jam awal ini memang belum ada yang laku, tapi liat saja nanti sewaktu menjelang usai, pasti semua berebut untuk membeli dan meminta tanda tangan. Siasat inilah yang juga saya pikirkan.

Menit demi menit pun saya lalui dengan mengobrol dengan sesame relawan dan sesekali menawarkan barang yang dijual disana. Juga menjadi agenda yang wajib, untuk narsis dan selfie bersama soulmate saya di turuntangan Jogja, mbak Putry Demy; yang lebih sering dipanggil mbak Pudem. Gataw gimana bisa, kami ini seperti sudah kenal dalam waktu yang lama, klik.

 Hingga tiba tiba, 2 sahabat saya satu kosan yang juga berasal dari Ponorogo, menepuk pundak saya dari belakang, Manggala dan Kris. Wah kurang ajar benar mereka ini, siang tadi saya ajak bilang tidak bisa karena sibuk ada acara, eh ternyata, datang juga akhirnya mereka berdua. Senang sekali saya, sampai memeluk mereka dan menyuruhnya berfoto dengan buku yang dijual belikan.

Seperti yang mas Haris bilang, pak Anies ini bagus kalau berinteraksi dengan audience. Dan tidak ada yang meragukan hal itu. Mungkin pada saat itu ada orang yang meragukannya, tapi dengan kemampuan yang pak Anies miliki, beliau memberikan bukti. Banyak sekali pertanyaan yang dilancarkan kepada pak Anies. Seingat saya ada 4 kali sesi tanya jawab dengan beliau. Bahkan hingga diakhir acara pun, penonton yang hadir masih ingin terus bertanya atau lebih tepatnya berinteraksi dengan beliau, tidak mau sesi itu berlalu dengan begitu terburu buru. Malam itu, beliau seperti magnet yang mampu menghipnotis dan membuat semua yang hadir menyetujui apa yang menjadi buah pikirnya. Atau setidak tidaknya, para hadirin mengerti akan hal yang berusaha pak Anies jelaskan maksudnya.

Hingga akhirnya, acara pun mendekati penutupan. MC mulai mengambil alih perbincangan. Begitu juga diumumkan bahwa penonton bisa meminta tanda tangan kepada pak Anies dan mas Husnil. Benar saja dugaanku, stan penjual buku pun diserbu. Mbak Pudem dan mas Syarif yang bertugas menjadi penjaga shop inti pun kewalahan. Ditambah lagi, tidak adanya uang kembalian.

Saya pun nggak mau kalah. Saya segera mencomot salah satu buku itu dan membredel plastik pembungkusnya. “Mbak, utang disik dilut. Ngko tak ijoli” (Mbak hutang dulu, nanti aku ganti). Kuambil spidolmarker yang sudah aku persiapkan dalam tas dan berjalan cepat menghampiri sang Calon Presiden dari Konvensi Partai Demokrat itu. Ternyata sudah ada yang lebih dulu yang berebut meminta tanda tangan, mas Rifky salah satunya. Terus saja, saya mendesak untuk mencari posisi yang sekiranya berpotensi terbesar untuk mendapat tanda tangannya. Karena beliau menulis dengan tangan kanan, berarti sebelah kiri beliaulah posisi itu. Dan …..

I got it!

Belum sempat ditulis “ untuk Dimas” memang, tapi ini sudah lebih dari cukup.

Tak lupa, minta tanda tangan dari sang Penulis juga dong. Sebagai seseorang yang mengerti betapa nikmatnya jika karyanya dihargai, saya pun berusaha mengapresiasi. Dan, dapat juga~

Setelah berjingkrak kegirangan karena mendapat tanda tangan itu, saya pun mencari 2 sahabat Ponorogo saya tadi. Entah kemana ternyata mereka sudah hilang dulu. Katanya, mereka berusaha foto dengan pak Anies dengan mengikutinya dari belakang. Eh tapi, keinginan itu malah diganti dengan hasrat untuk foto dengan sepupunya, iya, Lativina Baswedan. Namun sayang seribu sayang, setelah dikejar, ternyata keburu tak terkejar. Lativina Baswedan sudah terlebih dahulu meninggalkan TKP dengan masuk kedalam mobil pak Anies Baswedan. Sayang sekali memang. Saya pun juga nggak bisa foto dengan pak Anies karena 2 alasan. Pertama, karena saya terlalu gembira mendapat tanda tangan beliau sehingga, Kedua, saya kehilangan jejak beliau yang ternyata sudah kembali ke mobil.

Malam itu benar benar seperti kado, kado yang memang saya minta dari Tuhan agar disegerakan kabar baik untuk saya.

Bisa menjabat tangan tokoh seperti beliau dan mendapatkan tanda tangannya, merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri dan akan jadi memori pastinya. Ditambah lagi, cuman saya dan mas Rifky yang mendapatkan tanda tangan dari beliau malam itu. Wahh.. Betapa senangnya..

Semua ini, atas ridho dan ijin Allah SWT.

Alhamdulillah.

No Pict= Hoax ?


Duo gemblung yang tiba tiba nongol dan minta foto 

 With the Most SUper Duper Keche, mbak Pudem.

Antusiasme yang super DAHSYAT 

Tanda tangan pak Anies dan mas Husnil

NB: Spesial performance dari mbak Rizka ketika acara udah bener bener bubar


Bersambung
Continue reading →

Guilty

0 comments
Hari yang padat waktu itu. Tepatnya hari Kamis, 24 April 2014. Bukan hari yang se-spesial hari kemerdekaan dan bahkan juga lewat pada hari Kartini, tapi bagi saya, hari itu, adalah hari yang paling mengesankan dalam bulan April ini. Bahkan April Mop pun tidak pernah sepadan untuk dibandingkan dengannya.

Semoga, tulisan ini menjadi tulisan yang panjang dan mampu mewakili apa yang saya alami, saya rasakan dan mengantar saya untuk tidur nyenyak.

Jam 3 sore, Hari Selasa tanggal 22 April. Entah ada angin apa, saya dengan begitu kebetulannya sedang Online LINE lewat smart phone saya. Ada pesan dari Turuntangan untuk kopdar (kopi darat) alias ketemuan di Djendelo Kafe, Gejayan lantai 2 Toga Mas. Saya pun menyadari betapa dekatnya saya dengan lokasi kumpul itu. Dengan semangat yang entah darimana, saya menyegerakan sendiri untuk datang.

Saya memiliki masalah dengan gaya bersosial yang datang ke suatu tempat umum, sendirian. Ada rasa takut, malu, dan tidak percaya diri yang memenuhi seluruh isi kepala saya. Bahkan melakukan hal bodoh atau bahkan goblok banget. Saya nggak pernah sebelumnya ke Djendelo Kafe dan tidak tahu tangga yang mana yang benar untuk menuju ke lantai 2 itu. Karena tidak awas melihat, saya pun menuju tangga yang ternyata pintunya ditutup. Setelah tanya kepada petugas, eh, ternyata tangga keatasnya ada dibagian yang agak ketengah dari Toga Mas itu sendiri.

Saya naik dengan sedikit ragu, “sudah ada yang datang sebelum saya nggak ya?” Pertanyaan ini muncul terus menerus dan membayangi setiap langkah saya menuju tempat yang dijanjikan. Syukurlah, sudah ada mas Haris dan mas Pras yang berada di TKP. Fiuh leganya.

Setelah saling sapa dan menanyakan kabar secukupnya, pembahasan pun dimulai. Alasan kenapa kami dikumpulkan dalam waktu yang mendadak ini adalah kami, tim Turuntangan Yogyakarta disuguhi momentum akan datangnya pak Anies Baswedan ke Jogja pada hari Jumat. Ingin rasa agar tidak menyianyiakan kesempatan ini, kami ceritanya ditawari untuk mengadakan bedah buku biografi beliau yang ditulis oleh mas M. Husnil yang menjadi salah satu relawan turuntangan juga. Ternyata, di Surabaya juga sudah dilaksanakan bedah buku beberapa hari yang lalu. Nah, sekarang giliran Jogja yang ditawari.

Sebagai pejuang, kami tahu kesempatan tidak datang dua kali, dan kami tahu adalah emas untuk memanfaatkannya.

Yes, We said yes. Dan kita diberikan waktu kurang dari 3 hari untuk mempersiapkan semuanya.

Singkat cerita, saya diberi tanggung jawab sebagai Penanggung Jawab pengadaan proyektor dan layarnya, serta sebagai Penanggung Jawab untuk mengarahkan peserta bedah buku untuk memenuhi tempat yang disediakan. Kasarnya, orang yang mengarah arah agar orang orang mau menempati tempat yang ada biar penuh dulu.

Saya tidak tahu menahu bakal dimana saya akan pinjam alat proyektor itu dengan layarnya, tapi saya siap untuk petugas pengarah arah. Saya pun meminta bantuan kepada mas Arief yang memang memiliki link yang baik dalam urusan sarana prasarana. Beliaupun mengiyakan. Jadi, tugas saya waktu itu adalah mengambil barang tadi dari mas Arief dan bukan hal sulit menurut saya, tinggal masalah bensin.

Diskusi pun berakhir jam setengah 9 malam. Saya pun membeli makan diburjo sebelum pulang kekosan. Istirahat untuk besok.

Rabu, 23 April 2014. Waktu pun semakin mendekati hari H. Kami para relawan pun mulai menyebarkan lewat media sosial poster yang sudah dibuat oleh mas Gus Randy. Publikasi secara online-lah yang paling mungkin jika melihat betapa mepetnya waktu itu.

Hari Rabu sendiri jadwal kuliah saya lumayan parah padatnya, dari jam 7 pagi dan baru keluar kelas jam 1 siang. Itu pun biasanya perut masih kosong. Istirahat sebentar dikos, lalu jam 5 langsung lanjut briefing ditempat yang sama. Pengarahan diberikan dari mas Haris dan mbak Riska kepada temen temen yang bertugas sebagai PJ (Penanggung Jawab) dan temen temen yang bertugas secara teknis yang lain.

Jujur saja, saya masih dalam proses untuk menyesuaikan diri dengan segala sendi kehidupan yang menurut saya baru di Jogja ini. I’m still progressing. Dan diberi tanggung jawab PJ menurut saya, cukup membebani walaupun terdengar dan terlihat sepele, tapi ada tekanan lebih lagi ketika mengingat waktunya yang mepet. Dan saya cenderung tidak bergerak. Saya terkesan pasrah saja dan menunggu komando dari mas Arief, barangnya saya ambil kapan dan dimana, nunggu mas Arief saja, kurang lebih seperti itu yang ada dalam benak saya. Disini, saya dikoreksi. Sebagai PJ saya punya wewenang untuk “menekan” agar mendapatkan kepastian tentang barang yang menjadi tanggung jawab saya. Jadi, prinsipnya, tetep saya yang “mengejar”, bukan menunggu dari mas Ariefnya. Dan saya pun mengiyakan, benar memang, saya cuman menunggu saja. Seketika pun langsung saya hubungi dan berusaha memastikan ke mas Arief. Alhamdulillah, Done, fix besok siang akan bisa diambil proyektornya. Kenapa nggak mas Arief sendiri yang mengantar ke TKP? Itu karena mas Arief punya kepentingan sendiri yang tidak bisa ditinggalkan, ada acara Kelas Inspirasi di Jogja Paradise, dan beliau membantu disana.

Saya pun pamit dahulu, sekitar jam 7.10 malam karena mau latihan padusa.

Dan hari Istimewa itu, tiba juga.

Kuliah saya hari Kamis memang sedikit rese jadwalnya, yaitu jam 9 sampi jam 11. Lalu dilanjut jam 1 siang sampai jam 3 sore. Nggak bisa langsung estafet. Dan karena pulang saya H- 2jam dari acara bedah buku, itu jadi tambahan masalah.

Dan benar, saya kelabakan. Saya kos memang jauh dari kampus, niatnya biar nggak bosen. Dan karena itulah, waktu pulang kekospun jadi masalah, karena saya harus mengambil peralatan ke mas Arief yang rutenya memaksa saya untuk bolak balik.

Mandi dan sebagainya sudah saya tuntaskan, rasa lapar pun saya tahan. Jam 4.45 menit, sore hari, saya berangkat dari kos untuk ambil proyektor ke mas Arief yang berjarak 15 menit perjalanan. Beliau ada di Jogja Paradise, saya ada di Gejayan yang dekat dengan TKP bedah buku. Disinilah maksud saya bolak balik itu tadi.

Setelah ketemu dengan mas Arief, saya pikir beliau sudah membawa barangnya, eh, tenyata belum dibawa. Dan harus diambil di Sidji Batik. Langsung saja kami berangkat dengan lumayan buru buru. Sampai di Sidji Batik, yang perjanjian semula adalah proyektor dan layar, ternyata, hanya proyektor doang. Puyeng ini kepala mikirnya. Gimanaa kalo diomelin macem macem coba. Apalagi, inikan sudah jadi tanggung jawab saya, bisa dibilang saya nggak bisa memenuhi tanggung jawab itu.

Tapi daripada saya semakin membuat orang yang ada di Djendelo Kafe resah, saya pun berangkat dahulu dengan menenteng proyektor saja. Udah gak sempat mikir mau cari layar dimana, yang penting saya sampai dulu di TKP dan menyerahkan proyektor ini.

Saya datang cukup telat dan membawa kabar yang bikin bingung beberapa temen lain. Saya bawa proyektor tanpa layar, nah, mau ditembakkan kearah mana terusan??

Saya pun ditegur dan ditenangkan secara halus oleh mas Haris. Saya bener bener gugup dan bingung. Tergopoh gopoh mungkin bahasa Indonesianya. Ya saya ngerti, ini murni kesalahan saya. Saya mengakuinya, dan saya pun juga kecewa dengan diri saya sendiri.

Tapi urusan saya nggak berhenti disitu, saya harus menjemput rekan sesame relawan yang tidak tau lokasi Djendelo Kafe ini dimana. Alhasil, saya bolak balik lagi untuk ketiga kalinya. Setelah sampai, saya berusaha menceritakan apa yang terjadi, dan saya pun minta bantuan dan saran untuk mencari dimana dan siapa yang bisa kita pinjami layar proyektor. Kami pun akhirnya mencoba datang kesaudaranya mas Apri ini. Ketika dihampiri orangnya, orangnya nggak ada. Yang ada adalah orang tuanya namun beliau nggak ngerti apa apa. Setelah meminta nomer saudaranya mas Apri ini dan ditelpon, saya pun berharap agar layarnya memang masih ada, dan saya bisa membayar rasa bersalah saya ini. Tapi, keadaan seolah bilang dengan gaya Anang Hermansyah “kalau aku sih NO, nggak tau kali mas Dhani”.

Harapan terakhir, pupus.

Karena semakin sore, akhirnya kami berdua segera kembali ke Djendelo Kafe untuk membantu apa yang bisa dibantu.

Sesampai kembali disana, ternyata kok sudah ada layar yang datangnya entah darimana. Saya pun kaget sendiri, ini layar siapa yang bawa?? Oh ternyata ada mbak Ebi yang menjadi penyelamat. Beliau membawa layar dan proyektor juga yang beliau pinjam dari UNY. Bersyukur banget dah, akhirnya rencana awal untuk memutar video video Anies Baswedan lewat proyektor bisa dieksekusi. Saya pun diduduk disalah satu kursi agak jauh dari teman teman yang lain.

Berusaha tenang, berusaha mengatur nafas. Mas Apri pun duduk disamping saya, diam dan menemani saya. Mungkin dia mengerti dan berusaha memberi waktu untuk saya.

Waktu untuk saya, untuk mensyukuri semua dan mengintrospeksi kesalahan saya.



Continue reading →
Thursday, April 17

Cantik, dalam Perspektif Madsisme

0 comments
Quote pagi ini adalah

Perempuan yang berdandan sewajarnya, cantiknya, adalah cantik yang sesungguhnya”

Keren ya Quotenya. Tapi quote ini tercetus dari otak saya karena sebagai sebuah wujud kritik saya terhadap ‘mereka’ menurut pendapat saya dan menurut selera saya. Jadi, pendapat saya ini akan bersifat sangat subjektif. Yang saya akan tawarkan dari tulisan ini adalah saya akan menjelaskan mengapa saya berfikiran seperti itu dan bagaimana saya mampu digiring dalam pemahaman seperti ini.

Dimulai dengan selera saya dalam melihat perempuan yang cantik. Kita berangkat dari definisi dulu deh, Apa sih arti cantik itu?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata Cantik adalah elok; molek (tt wajah, muka perempuan); 2 indah dl bentuk dan buatannya: meja ini – sekali.

Saya mencari lagi di google tentang definisi cantik. Dan menemukan definisi cantik untuk wanita yang lajang adalah wanita yang bisa membuat nyaman semua orang yang berada disekitarnya.

Dan yang terakhir, saya mencoba mengambil definisi cantik menurut Islam. Yup, ini adalah yang baru dan pertama mungkin di blog saya. Islam adalah agama yang juga menyerukan kepada kecantikan dan keindahan. Kecantikan menurut Islam lebih cenderung kearah kecantikan maknawi, bukan cenderung kepada fisik. Kecantikan maknawi menurut Islam yaitu kecantikan berupa jiwa, akhlak, sifat, dan sikap. Karena menurut yang sumber saya baca, dalam Al Quran, kecantikan yang berkenaan dengan fisik dan penampilan itu jarang sekali disebut, kecuali hanya dua kali saja.

Pada penyebutan pertama ALLAH memperingatkan Rasulullah untuk tidak tertipu pada kecantikan fisik orang-orang munafik karena penampilan seseorang tidak mencerminkan siapa dirinya.

Seperti dalam firman Allah :”Dan apabila kamu melihat mereka,tubuh-tubuh mereka membuatmu kagum. Dan jika mereka berkata-kata,kamu mendengarkan mereka. Mereka seakan-akan  kayu yang tersandar.” (QS.Al Munafiqun:4)

Penyebutan yang kedua pada firman ALLAH: ”Tidak halal bagimu menikahi wanita-wanita sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain),meskipun kecantikan mereka menarik hatimu,kecuali wanita-wanita (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan ALLAH Maha mengawasi segala sesuatu.” (QS.Al Ahzab:52)

***

Hmm.. Definisi yang berbeda beda dengan lingkup bahasan yang berbeda beda ya..

Untuk definisi KBBI, Cantik itu lebih kepada bentuk fisik seperti yang tertulis “indah dl bentuk dan buatannya, tt wajah, muka perempuan

Sedangkan untuk definisi cantik menurut wanita lajang lebih kepada kepribadian yang menarik dan mampu membuat nyaman orang disekitarnya.

Lalu definisi cantik menurut Islam itu lebih kepada akhlak, nilai budi pekerti yang luhur, dan saya juga bisa bilang bahwa cantik menurut Islam itu lebih diukur dari tingkat kemampuan beribadahnya. Jadi, seperti apapun bentuk wajahmu, tapi kalau kamu memiliki akhlak dan mampu beribadah kepada Allah secara baik sekali, maka menurut Islam, itulah yang paling cantik.

Menurut saya, cantik itu tidak sesempit keindahan pada wajah dan bentuk tubuh saja namun juga bisa sampai pada keindahan kepribadian dan budi pekerti yang baik. Saya mengambil nilai esensi kecantikan menurut Islam yang menurut saya adalah pada budi pekerti.

Namun akan sangat luas bahasannya jika cantik itu melingkupi 3 aspek tadi, fisik, kepribadian, dan budi pekerti. Dan agar mampu dikaitkan dengan Quote saya diatas tadi, maka akan saya persempit pada cantik fisik saja.

Menurut saya, perempuan yang berusaha mempercantik dirinya dengan menggunakan cara yang “berlebihan”, menurut saya justru semakin hilang cantiknya.

Perempuan yang menggunakan make up tebal hingga memanipulasi warna kulit aslinya, bagi saya tidak cantik.

Bagi saya lebih cantik jika perempuan itu lebih kepada merawat dirinya agar selalu tampak bugar dan sehat, kalaupun menggunakan make up yaa nggak harus setebal hingga memanipulasi warna kulit kok. Karena saya mengamati, bahwa menurut publik cantik itu adalah berkulit putih. Betapa rasisnya coba pendapat ini. Padahal, menurut saya pendapat bahwa “cantik itu berkulit putih” adalah rekayasa dari iklan iklan yang berusaha menjual produknya. Soalnya, saya punya teman perempuan yang walaupun kulitnya nggak putih, tapi justru semakin keliatan cantiknya. Eksotiknya. Duh, pokoke cantik gitu deh. Justru warna kulit coklat itu bagi gue eksotika yang tak terjamah dan hanya bisa dinikmati oleh beberapa orang saja yang “mengerti”. Dan karenanya, wanita yang berkulit tidak putih dan mampu mengelolanya, bisa lebih menarik daripada yang berkulit putih.

Dan justru ini yang menjadikannya spesial.

Nggak percaya? Coba deh cari di google, wanita dari asal mana yang menduduki posisi tercantik didunia. Dari daerah Latin, Vro!

Dan jika saya teliti lagi, ternyata benar memang, dia memiliki kulit yang sehat dan bagus walaupun tidak berwarna kulit putih.

Berdandan agar terlihat cantik memang sangat perlu, bukti dimana kalian sebagai perempuan peduli dengan hal yang diberikan Tuhan secara hakikat, yaitu kecantikan. Tapi saya benar benar ingin mengkritisi dan bilang dengan tegas bahwa menggunakan make up dan berdandan yang berlebihan hingga menutupi kecantikan asli yang kalian bawa dari pemberian Tuhan bukanlah hal yang benar.

Berdandanlah. Tapi sewajarnya saja, sederhana saja.

Jangan berusaha menciptakan kecantikan yang tidak dirahmatkan oleh Tuhan tapi berusahalah menemukan kecantikan yang diberikan Tuhan, khusus dan spesial kepadamu, lalu dipoles menjadi lebih cantik.

Begitu yang ingin saya katakan.

OK deh. Itu kritik saya. Timbal baliknya, saya akan memberikan solusi dasarnya.

Prinsipnya, cantik itu tetep kelihatan sehat dan bugar, so pastikan kalo badan kalian sehat dan terawat serta bersih! Nggak ada satupun laki laki didunia ini yang tertarik sama perempuan yang jorok secara kebersihan. Kalo nggak percaya, tanya aja sendiri.

Jika kalian belum berjerawat, usahakan dirawat dengan baik. Cara saya pribadi untuk merawat muka agar nggak berjerawat adalah dengan berwudlu secara sempurna. Coba aja.

Dan jika yang berjerawat, hubungi mereka yang lebih ahli tentang kulit dan kejerawatan. Dan jika masalah jerawat sudah lewat jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan wajah.

Bagi kalian yang merasa gemuk, nggak ada cara lain selain menurunkan berat badan. Olahraga adalah salah satu caranya. Jika ingin diet, silakan pilih diet yang tidak melanggar hak tubuh kalian. Diet yang menyiksa salah satunya. OCD bisa menjadi pilihan kok yang nanti dikombinasi dengan puasa. Atau langsung Puasa Daud juga bisa.

Yang merasa badannya kecil dan kurus, jangan takut buat gemukin badan. Tapi tetap terkontrol, jangan sampek nanti malah jadi over trus malah kegendutan. Malah repot -_- Perempuan kurus juga kurang menarik soalnya dimata laki laki. Laki laki tu sukanya yang seksi dan punya badan yang bagus. Yaaa setidak tidaknya ideal deh dengan tinggi badan. Udah tau cara mengukur idealnya berat badan dengan tinggi badan kan? Nggak tau? Google aja sana.

Ngerasa pendek? Gimana ya.. Tapi banyak yang pendek pendek gitu malah manis manis orangnya. Serius. Kalo gitu, coba olahraga yang bisa bikin kalian tinggi deh, renang dan basket misalnya, dibantu juga ama multivitamin biar makin OK.

Dan kalau misalnya bermasalah dengan bau badan, parfum bisa menjadi solusi jangka pendek. Tapi harus tetep dicari tau apa penyebab paling mendasarnya. Dan jika bisa ditolong dengan gaya hidup sehat dan tidak berlebihan, so lakuin aja.

Pokoknya kembali ke prinsip dasarnya deh.

Jaga dan pastikan kalau diri kalian Sehat dan Bugar. Daripada berusaha cantik dengan make up segalon galon.

Satu lagi,

Jangan sekedar berharap pada proses yang instan. Pahamilah bahwa semuanya butuh proses dan waktu. Jangan karena tergiur hal instan kalian melakukan diet dan olahraga hingga menyiksa diri kalian. Kami, laki laki, gak tega lho sungguh melihat kalian seperti sampai meregang nyawa untuk hal seperti itu :’)

Saya percaya, setiap perempuan itu cantik disatu mata yang mencintainya.

So,

Keputusan saya kembalikan kepada kalian. Dan saya ingatkan sekali lagi, bahwa tulisan ini memang bersifat sangat subjektif menurut saya. Namun, beberapa teman juga menyetujui bahwa perempuan yang dandannya over, juga nggak keliatan cantik. Eneg malahan lihatnya.

Karena kami tahu, yang kami lihat cantik itu, make up-nya, bukan dirinya yang asli.

Sampai Jumpa pada kesempatan yang lain :)
Continue reading →
Sunday, April 13

Ujian Nasional, Hadapi dengan YAKIN

2 comments
Halo, Selamat sore.

Udah nggak kerasa besok adalah hari yang paling dinanti untuk sebagian siswa SMA dan sederajat. Yup, Ujian Nasional. Saya sendiri Alhamdulillah lulus melewati Ujian Nasional dengan susah payah. Alhamdulillah.

Di Indonesia sendiri, Ujian Nasional udah sering dan beberapa kali “diedit”.

Pada tahun 2013, dimana itu adalah tahun pertama dan terakhir saya mengikuti Ujian Nasional, Kode soal yang disediakan panitia ada sekitar 20 kode. Dan tahun kami ini adalah tahun pertama sistem peng-kode-an hingga 20 kode ini. Pada tahun sebelumnya, tahun 2012, kode soalnya hanya ada 5. Yup, naik hingga 4 kali lipat untuk jumlah kodenya.

Ditahun ini juga teman teman, Ujian Nasional hanya diselenggarakan untuk 2 jenjang pendidikan saja. Yaitu SMA dan SMP. Pada tahun 2013, Sekolah Dasar pun juga mengikuti Ujian Nasional. Suatu langkah yang entah saya sendiri tidak tahu apakah bagus atau sebaliknya. Tapi ini adalah bukti sistem UN kita sering sekali diubah ubah.

Untuk tanggal pelaksanaannya, SMA dilaksanakan besok, Senin, 14 April hingga 16 April. Susulannya, tanggal 22 April sampai 24 April. Sedangkan untuk SMP dilaksanakan pada tanggal 5 Mei hingga 8 Mei. Susulannya, tanggal 12 Mei sampai 16 Mei. Saya tidak akan memberika jadwal Program Paket C, karena tulisan ini tidak dibuat sedikitpun untuk mengarah kesana. Lulus 100% adalah harga yang tidak bisa ditawar. Bukan begitu?

Dan yang bagi saya membuat perbedaan yang lebih menghebohkan lagi adalah hasil Ujian Nasional SMA akan digunakan sebagai bahan pertimbangan memasuki Perguruan Tinggi. Nilai Ujian Nasional ini akan menjadi syarat SNMPTN 2014 bersama rapor dari semester 1 sampai semester 5.

Ini perbedaan yang menjadikan strategi “peperangan” melawan UN menjadi sangat berbeda dengan tahun saya.

Kenapa saya menganggapnya “peperangan”? Bukan pertandingan?

Karena jelas dan semua tahu, UN ini adalah penentu hidup dan matinya siswa SMA. Seperti perang, antara kalian mampu melewati dan memenangkan perang itu atau kalian mati disana.

Kalau pertandingan, kalian hanya sekedar kalah dan mengulanginya lagi untuk tahun depan. Tapi, coba tanya pada diri kalian dan seluruh teman SMA yang ada di Indonesia,

Apa kalian mau melakukan hal itu?

Tulisan ini sepertinya kejam sekali ya.. Bukannya motivasi biar tenang, tapi malah seolah menakut nakutinya dengan kata kata mati.

Bukan seperti itu juga sih.. Yang ingin saya sampaikan adalah saat ini kalian benar benar memasuki wilayah keadaan yang sangat krusial dan menentukan. Sadari dulu hal ini. Karena ini merupakan bentuk wujud tanggung jawab kalian selama 3 tahun berguru di SMA. Dan yang paling penting, jangan meremehkan situasi ini dengan bertindak tidak bijaksana.

Yang kedua, situasinya bahkan menjadi lebih susah dari sekedar lulus atau tidak lulus. Karena jika memang lulus namun nilainya malah jatuh, sangat bisa sekali akan mengurangi kesempatan masuknya kalian pada Perguruan Tinggi.

Jadi sekarang pilihannya ada 3:

1.      Tidak lulus. Dimana kalian akan mengulang lagi ataupun kejar paket C. Dan semua orang didunia pasti tidak ingin kalian masuk kesini.

2.      Sekedar lulus. Dimana nilai kalian hanya sedang sedang saja, atau bahkan benar benar ”sekedar lulus” dengan nilai kritis alias ngepres dengan nilai kelulusan yang menurut saya, tidak terlalu tinggi.

3.      Lulus dengan cemerlang. Dimana nilai kalian memasuki kategori super duper memuaskan bahkan syukur kalau bisa mencapai nilai tertinggi sesekolahan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Kesempatan SNMPTN diterima akan semakin baik.

Situasi ini berbeda dengan keadaan saya dulu, dimana UN berjalan dengan sangat semrawut dan berlangsung dengan atmosfir ketidak percayaan terhadap hasilnya. Yang pada akhirnya, Rektor se Indonesia setuju untuk tidak menggunakan nilai UN sebagai persyaratan memasuki PT. Jadi, “sekedar lulus” saja tidak menjadi masalah yang besar. UN waktu itu saya pandang sebagai sebuah pertarungan gengsi. Yaa kalau nilai rendah, gengsi lah. Seperti itu kurang lebih. Dan saya cuek saja. (Jangan dicontoh, ini contoh tidak baik!)

Tapi saya perjelas sekali lagi, bahwa strategi perjuangan kalian sangat berbeda. Lebih berat. Dan begitu seterusnya untuk generasi generasi dibawah kalian.

Cukup disini saya menebar momoknya.

***

Saya ingin menceritakan sebuah kisah sedikit.

Beliau bernama Thariq bin Ziyad. Beliau ini memimpin sekitar 7000 pasukannya untuk menaklukkan Andalusia alias Spanyol. (Yup, negeri dengan bahasa paling seksi kedua setelah Indonesia). Panglima Perang itu berhasil membawa 7000 pasukannya mendarat dengan kapalnya menyeberang ke daratan Spanyol. Setelah berhasil sampai didaratan Spanyol, Thariq bin Ziyad ini melakukan tindakan yang ekstrem. Beliau membakar seluruh kapal yang membawa mereka (pasukannya dan Thariq sendiri) sampai di Spanyol. Pasukannya pun bingung dong. Ini pemimpin gila kali ya? Tapi nggak gitu juga sih.

Setelah membakar kapal kapalnya, Thariq berpidato dihadapan pasukan pasukannya:

Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar.

Singkat cerita, mereka mampu menaklukkan Spanyol dengan gemilang.

Kisah kedua juga mirip.

Ada seorang Jendral kejam bernama Xiang Yu yang ingin memaksakan anak anak buahnya untuk bertarung hingga titik darah penghabisan. Jalan yang ditempuh Xiang Yu agar pasukannya menjadi mau berjuang hingga sekuat tenaga adalah dengan mengancam kelangsungan hidup anak buahnya dengan cara membakar kapal yang digunakan untuk kembali dan membuang seluruh persediaan makan. Sehingga, kalau si pasukan ini masih pengen hidup, jalan satu satunya adalah dengan berjuang, lalu menang! Baru deh kalo udah menang, persediaan makanan bisa dikuasai lagi.

Kalian merasa kondisi kehidupan kalian saat ini mirip dengan kisah diatas nggak?

Mario Teguh pernah menasehatkan pada saya, “ Kadang, dalam kehidupan ini, perlu agar kita itu bertindak seolah olah tidak ada jalan selain itu”

Kondisi dimana kalian sebegitu terdesaknya hingga tidak ada jalan lain, selain maju dan terus menghadapi Ujian Nasional. Lalu menang dengan gemilang.

Saya yakin sekali, bahwa banyak diantara kalian yang akan memilih pilihan yang ke-3

Lulus dengan cemerlang. Dimana nilai kalian memasuki kategori super duper memuaskan bahkan syukur kalau bisa mencapai nilai tertinggi sesekolahan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional.

Dan banyak juga diantara kalian yang merasa sangat stress dan tertekan sekali dengan tuntutan diri kalian sendiri. Tuntutan terhadap diri kalian agar mampu lulus dengan gemilang. Dan jika benar seperti itu halnya, then you’re in the right track!

Tapi kalo kalian malah terlalu santai, wah ini juga nggak bener juga. Bisa jadi tanda kalau kalian nggak perduli dengan proses ini.

Tapi kalau kalian ngerasa santai karena merasa sudah membawa perbekalan yang cukup, siap bertarung dan yakin menang, golongan inilah yang lebih dekat dengan pencapaian mereka daripada 2 hal sebelum ini.

Buat kalian yang ngerasa stress banget dengan tuntutan diri kalian sendiri, itu tandanya kalian memiliki target yang tinggi. If your dream doesn’t scare you, that’s just not big enough. Kalian sudah memiliki semangatnya, targetnya, namun kalian stress dan tertekan karena tuntutan kalian lebih besar daripada diri kalian yang sekarang. Kalian merasa diri kalian terlalu kecil untuk impian dan tuntutan kalian sendiri. Dan orang dengan masalah ini jelas sekali solusinya. Belajar! Tingkatkan kualitas kalian agar kalian pantas untuk impian kalian.

Buat kalian yang santai, selaaawwww abiessss, hati hati. Sikap kalian yang diiringi tanpa usaha, dimata Tuhan bisa menjadi sebuah bentuk kesombongan dan tindakan meremehkan. Jadi, koreksi lagi deh. Alasan kenapa kalian kok bisa segitu santainya.

Dan untuk mereka golongan terakhir ini, saya ucapkan selamat. Rasa santai kalian beralasan. Karena orang yang hebat, selalu mempersiapkan segalanya. Ini bukti bahwa kalian tidak meremehkan Ujian Nasional. Ini bukti dihadapan Tuhan yang bisa dipertanggung jawabkan, kenapa kalian bisa santai.

Ini juga bukti, bahwa kalian pantas untuk berhasil. Bukti bahwa diri kalian yang sekarang ini, pantas untuk impian kalian yang besar itu :)


Dan ini, adalah malam sebelum kalian berjuang dimedan perang yangmana selama 3 tahun kalian dilatih seolah olah hanya agar lulus dari peperangan ini.

Jangan takut, jangan resah. Karena ingatlah ketika kalian besok berangkat menuju medan perang itu, kalian berangkat bersama kawan kawan kalian seperjuangan selama 3 tahun yang saya yakin, memiliki kesan mendalam dalam persahabatan kalian.

Berangkatlah dengan kepala dan dagu terangkat, dada terbuka bidang dan melangkah dengan tegas.

Katakan, I born to face this!

Jadikan setiap memori yang terkenang selama ini sebagai oli pelumas yang menggerakkan kalian lebih hebat lagi, lebih percaya lagi, dan yakin.

Bahwa kalian ini memang terlahir untuk berjuang, dan bagi kalian yang telah berusaha,

Sungguh,

Kesuksesan itu benar benar pantas untuk kalian miliki.

Percaya saja. Karena Iman adalah ilmu yang paling sulit. Iman, membuktikan bahwa kalian ini bersandar pada yang Maha Mengetahui segalanya, mengetahui segala perjuangan kalian.

Jadi, nikmati malam ini senikmat nikmatnya ya..

Bersama keluarga, kerabat dan kawan serta pacar kalian.

Sampaikan terima kasih dan juga mohonkan doa kepada mereka untuk mendoakan kalian agar kalian bisa menghadapi esok hari dengan sebaik baiknya diri dan kemampuan kalian.

Saya, cuman bisa mendoakan dan memotivasi kalian lewat tulisan ini. Tidak lebih :)

Saya tunggu berita kelulusan dan keberhasilan kalian ya..

Loving you, as always ~
Continue reading →