Saturday, December 13

Karena menjadi Guru itu ... Mahal

0 comments
Yah. Seperti inilah aku setelah menonton film.

“terinspirasi”

Ada hal yang membuatku begitu tidak bisa tenang dan berusaha menunjukkan serta menyampaikan pesan. Biasanya, pesan akan rasa iri, galau, dan perasaan yang lumayan alay. Memang.

Tetapi,

Aku benar benar tidak bisa menahannya. Aku ingin dunia tahu perasaan ini.

Perasaanku, yang aku alami sekarang.

Karena, film yang berusan aku tonton, benar benar mampu menyampaikan pesan padaku.

Judulnya “ The Teacher’s Diary” atau Khid thueng withaya. Aha~ Another Thailand movie. Seperti yang sudah aku pernah tulis dalam tulisan yang lain, film Thailand sekarang menjadi salah satu favorit film bagiku. Ringan, sederhana, “dekat”, dan menyentuh. Sensasi lucu pun juga tidak ketinggalan.

Film ini menceritakan tentang seorang guru, Pak Song yang ketika melamar kerja untuk menjadi seorang guru tetap malah dipindahkan oleh Kepala Sekolahnya ke Sekolah Rumah Kapal. Disekolah tersebut dia menemukan sebuah diary milik guru sebelumnya yang pernah mengajarnya disana. Nama guru itu adalah Bu Ann. Berdedikasi mengajar yang tinggi dan tidak lupa ... cantik. Pak Song pun yang awalnya kebingungan mengajar anak anak di Rumah Kapal yang terpinggirkan jauh dari tengah kota, menggunakan buku diary itu sebagai panduannya untuk mengajar anak anak disana. Disaat yang sama, Pak Song pun mengagumi sosok Bu Ann yang mampu menjadikan anak anak Rumah Kapal selalu membicarakan dirinya. Diam diam, Pak Song menaruh hati disana. Dan mungkin, jatuh hati padanya. Dimulailah kemudian kisah cinta dan kisah pengabdian seorang guru yang mengajar untuk murid dibagian pelosok yang penuh dengan haru dan candaan ringan.

Sedikit spoiler, gue akan cerita tentang best scene favorit gue.

Yaitu adalah saat Chon, salah satu murid di Rumah Kapal yang sudah kelas 6 menghadapi ujian semesternya, namun gagal karena dia tidak mampu mengerjakan soalnya. Bukan karena tidak bisa, tetapi karena dia kekurangan waktu. Disana digambarkan adegan ketika Chon masih mengerjakan soalnya, sendirian, karena yang lain sudah selesai, dan seorang ibu guru menunggu disampingnya. Kemudian, diambil secara paksa secarik kertas ujiannya yang belum selesai. Ketika perjalanan pulang, Chon pun bercerita tentang hal itu.

Dan guru Song, datang memeluknya sebagai ayah,

Dan sebagai sahabat.

Bresssss... air dimata ini sudah gak bisa lagi ditahan.

Disitu Pak Song bilang, bahwa bukan Chon sebagai muridlah yang salah.

Tetapi dia mengakui, belum menjadi seorang guru yang baik untuk Chon.


Mana ada guru yang seperti itu sekarang?


Aku sedikit sebal ya.. Cerita ini kok sepertinya ndak ada di film Indonesia. Atau memang aku-nya saja yang tidak tahu ya..

Padahal, cerita ini sungguh cocok menjadi cerita yang meng-inspirasi, bahwa guru itu bukanlah cuman pekerjaan.

Guru adalah seseorang yang mampu menjadi sahabat dan teladan bagi muridnya.

Guru adalah seseorang yang mampu menjadi kawan bagi para muridnya.

Guru adalah panggilan hati.

Anda mungkin bisa menyampaikan materi, mengajari berhitung, mengajari seorang anak kecil agar mampu membaca,

Tapi guru, seharusnya lebih dari itu.

Guru tidak selayaknya menyalahkan murid. Justru guru harus sadar bahwa dia belum cukup baik untuk menjadi seorang guru.

Guru bukanlah  tentang ilmu yang ditukar dengan uang, melainkan mengajarkan untuk bahagia dalam sesederhananya kehidupan yang dijalani.

Tidak ada yang lebih mulia selain guru.

Tidak ada.

Saya tidak akan menyalahkan siapapun yang tidak mampu untuk menjadi guru yang bagi muridnya.

Karena guru adalah panggilan hati. Hatimulah yang memilih.

Bukan karena sadarnya pikiranmu akan uang yang dihasilkan dari mengajar kemudian.

Karena itulah, kita tidak bisa mengharapkan seseorang untuk mampu menjadi guru yang sebaik baiknya guru, dari orang “murahan”.

Karena menjadi seorang guru itu ...

Mahal

Dan anda tidak bisa mengharapkan hal yang mahal dari orang yang murahan.





Saya akan menjadi seorang Guru, nanti.
Continue reading →
Monday, November 17

Jalan yang Mungkin Salah

0 comments
Hari  sudah baru namun pagi masih belum datang. Dini hari ini membawaku pada momen momen yang pernah aku lewati.

Lebih tepatnya, kekhawatiran.

Barusan saja aku melihat lewat media sosial milikku satu persatu temanku yang dekat telah memiliki seseorang yang lebih spesial dari sekedar teman. Mereka adalah orang yang pernah dekat dan hingga sekarang dekat. Mereka adalah orang yang aku anggap sebagai sahabatku. Dulu dan sekarang.

Khawatirku, perlahan semua yang dekat denganku mulai berpisah. Tidak secara jarang, namun secara ikatan. Aku tahu benar bagaimana hidup dalam hubungan komitmen. Syukurnya, aku menghidupi itu tidak sepenuhnya. Karena dalam hubunganku dulu, di “design” agar kami tidak fokus untuk satu dengan yang lain. Aku sebenarnya berusaha serius dan fokus dengannya, tetapi ada hal lain yang menjadi fokusnya. Sehingga, aku pun juga harus berusaha membenahi fokusku. Bukan hanya dengan dirinya, tetapi orang dan lingkungan disekitarku.

Aku tahu, ketika hidup dalam jatuh cinta, dunia serasa dimiliki sendiri. Bahkan, kita tak perlu memerlukan orang lain selain dirinya. Dan ketika aku tahu hal ini akan kemungkinan terjadi,

Ada perasaan untuk takut ditinggalkan.

Entah mengapa, aku merasa selalu hidup dalam fasa “ditinggalkan”. Dinilai tidak lebih tinggi, diabaikan untuk setiap perhatian yang aku beri, ditolak untuk sesuatu yang tidak lebih baik, diabaikan untuk setiap usahaku untuk memperjuangkan, …

Entahlah, rasanya jalan hidupku ini seperti itu itu saja.

Padahal, tidak ada yang lebih aku sayangi dari pada mereka yang bersedia untuk dekat denganku. Mereka, yang memberikan aku ijin untuk menjadi sahabatnya. Mereka, yang mempercayakan cerita masalahnya untuk dibagi bersamaku.

Perasaan itu …

Perasaan untuk diinginkan, dirindu, dicari, dan dihargai.

Apakah pilihanku dalam memilih “jalan” adalah salah?

Aku pergi agar aku tak kemudian diabaikan terus menerus, aku move on mereka salah menolak yang lebih baik, dan aku melupakan agar terhindar dari kecewa akan pengabaian.

Apa jalan ini salah?

Aku hanya berusaha memenuhi nasehat, sungguh. Aku berusaha memenuhi nasehat, agar aku menghormati diriku sendiri dengan cara memilih untuk tidak dalam keadaan ‘sakit’ lebih lama.

Sederhana kan?

Dan dibalik nasehat itu aku menitipkan harapan.

Andaaii saja, aku kemudian menjadi orang yang berada ditempat yang tepat dan seharusnya. Andai, segala perasaan yang begitu membuatku bahagia itu kemudian datang. Seperti dini hari yang selalu lebih awal daripada pagi.

Untuk sekali lagi,

Aku menginginkan perasaan itu.

Aku faham benar bahwa setiap orang akan memasuki keadaan keadaan yang sesuai dengan jalannya sendiri. Aku tidak akan pernah marah terhadap sahabatku yang apabila nanti menjauh karena mereka menemukan yang lebih baik.

Karena aku akan tetap disini. Aku akan berusaha menjadi tempat ‘pulang’mu yang lain. Memang bukan yang pertama dan terbaik, namun …

Aku akan berusaha selalu ada.

Sederhana kan?
Continue reading →
Saturday, November 8

Perspektif tentang SAHABAT

0 comments
Orang datang dan pergi. Namun, tak semuanya tinggal. Kesibukan memaksa. Kesendirian menyiksa. Menunggu, tetapi yang ditunggu tak kunjung sadar. Berjuang, tetapi yang diperjuangkan mengabaikan perjuangan. Benar memang, hidup ini tak pernah sederhana. Walaupun bahagia seharusnya sesederhana mungkin.

******

Barusan tadi sore saya mengganti nama blog ini. Bukan lagi “ Tulisan Tulisan Seseorang yang Akhirnya Menulis “, tetapi cukup menjadi #MADSISME . Ada dua penafsiran: 1) yaitu MADS IS ME yang artinya MADS adalah AKU. Nama panjangku adalah Dimas Mahardika Alamsyah Dien Subagyo. Nah, Mahardika Alamsyah Dien Subagyo kalau disingkat menjadi MADS. And that pretty cool, isn’t? . 2) MADSISME yang artinya adalah aliran MADS. Saya memiliki keinginan yang cukup besar untuk membuat sebuah “aliran”. Terlihat cool dan terpandang.

Malam ini saya ingin membahas tentang Sahabat atau Teman.

Anda semua ada yang memiliki sosial media kan? Pernah melihat sebuah post yang kira kira muatannya seperti “ sahabat yang cuman ada ketika pas butuh doang “, kemudian di edit dengan gambar gambar “ sakitnya tuh disini “ atau malahan mungkin sampai menggunakan kata yang cukup kasar?

Pernah kan?

Jujur saja, saya risih dan tidak suka dengan hal hal demikian. Entah apa yang dipikiran mereka, tetapi saya merasa bahwa

“ Apakah ketika bersahabat harus perhitungan? Kok kesannya perhitungan sekali ya? “

Sepaham saya, Sahabat adalah satu hati yang berada dalam raga yang berbeda. Maksud dari ‘satu hati’ itu sendiri adalah kemampuan untuk saling memahami dan percaya. Jadi, ketika kesibukan memang menjadi hal yang menghalangi, seharusnya sebagai ‘satu hati’ kita harusnya memahami kan? Bukannya berusaha memperhitungkan apa apa yang dia lakukan dan apa yang kita lakukan kepadanya.

Kemudian mengenai ucapan ucapan seperti “ Ah elu datengnya cuman pas butuh doang"

Hhmmm… Benarkah kita sebaik itu hingga pantas mengatakan orang lain sedemikian halnya?

Saya ingin membahas terlebih dahulu ketika situasinya: Dia adalah sahabat/teman anda sejak lama dan cukup dekat. Kemudian kalian berpisah karena jarak. Lama kelamaan terpisah karena kesibukan. Anda selalu ada ketika dia membutuhkan anda, namun dia sebaliknya.

Untuk situasi seperti ini, justru anda adalah sosok sahabat yang baik. Kita tahu bahwa anda dan kawan anda tersebut telah berkawan cukup lama dan cukup dekat. Keadaan dimana dia tidak ada untuk anda ketika anda membutuhkan seseorang, mungkin harus menjadi keadaan yang diterima tanpa keinginan untuk membalas dendam. Bisa jadi, dia tidak bermaksud untuk tidak hadir, namun ketika itu kok ke-pas-an sekali karena dia juga memiliki kesibukan, mungkin. Percayalah bahwa semua ada saat dan waktunya. Mungkin saat ini dia yang terjerat kesibukan, bisa jadi beberapa waktu kemudian anda yang terjerat kesibukan. Setidaknya, anda telah membuktikan bahwa anda mampu menjadi seorang teman yang baik. Itu yang paling penting.

Situasi berikutnya adalah : anda berkenalan dan dekat dengan dia tidak terlalu lama, namun sudah saling mengenal dan mengetahui hal hal yang cukup mendalam, tetapi tidak semua. Kemudian anda menjadi orang yang siap sedia untuk membantunya, namun dia tidak.

Orang ini mungkin sudah dekat dengan anda, tetapi untuk curhat, anda belum bisa menceritakan hal seperti itu kepadanya. Menurut saya, #MADSISME, orang ini berada pada middle circle dalam status pertemanan anda. Dan orang yang menjadi kepercayaan anda untuk curhat, adalah orang inner circle anda yang paling dekat dengan anda. Wajar jika anda merasa kecewa karena tindakannya itu. Tetapi tetap, anda tidak perlu membalas dengan perilaku tidak menyenangkan yang sama. Tetapi, anda pun ketika sangat sibuk juga tidak perlu merasa khawatir ketika tidak dapat membantunya. Hitung saja impas.

Situasi selanjutnya adalah : ketika anda kenal dengan seseorang yang tidak sekalipun masuk dalam middle circle pertemanan anda. Orang itu pengganggu, mungkin. Atau orang yang tidak begitu anda kenali.

Membantu adalah hal yang baik. Dan percayalah pasti ada ganjaran kebaikan dibaliknya. Ada untuk membantu seseorang yang tidak anda kenal berkemungkinan menjadikan dia sebagai kawan anda yang baru. Bahkan bisa menjadi teman dekat yang baru. Karena, terkadang kita sangat bisa untuk langsung klik! dengan orang yang baru kita kenal. Namun disini anda memiliki hak yang penuh untuk menolak membantunya.

Masalahnya,

Kadang ada orang yang ngelamak atau sesuai peribahasa

“ Di beri hati malah minta jantung “.

Jika orang itu sedemikian buruknya, koreksi dulu deh. Apakah benar anda pantas untuk memiliki teman seperti ini? Bukankah hal ini terjadi karena anda tidak pandai dalam memilih pertemanan?

Mario Teguh pernah berkata bahwa ada moment dalam kehidupan kita yang disebut dengan burning the bridge. Moment ini adalah berusaha untuk memutus hubungan dengan orang lain yang kita tahu ketika bersama dengannya, kita akan menjadi pihak yang selalu dirugikan. Bisa juga ketika kita bersama dengan orang itu, akan ada orang lain yang haknya kita ciderai. Kita harus ingat bahwa kita ini berhak untuk bahagia dan menjaga apa yang berharga menurut kita. Dan apabila kita terus menerus dirugikan, kita harus memiliki ketegasan untuk menentukan. YES OR NO. STOP OR GO.

Kemungkinan akan adanya friksi atau gesekan mungkin sekali terjadi, tetapi hal itu saya fikir adalah sebuah proses wajar.

Saya fikir,

Tidak etis lah yaa apa yang biasa di tulis dalam meme tentang sahabat yang “ datang ketika butuh saja” itu. Jika anda yakin dia adalah sahabat anda, anda itu bukanlah malah mengkritik dia karena dia tidak mampu membantu anda ketika anda butuh. Tetapi, andalah yang seharusnya menjadi orang yang memahami akan situasi yang terjadi. Dan ketika suatu saat dia membutuhkan bantuan anda, dan anda pas selo, karena dia adalah satu jiwa anda yang terpisah dalam tubuh yang berbeda, maka bantulah dia sebagai mana teman/sahabat saling membantu.

Bukannya malah menyalahkan dia atas segala kesibukannya. Jika itu terjadi, yang sebenarnya terjadi adalah Anda bukan sahabat yang cukup baik baginya.

Berbeda jika anda saling menerapkan prinsip yang diatas itu, yaitu saling menghargai, memahami dan hadir, yang terjadi adalah semangat untuk saling tolong dan membantu. Bukan hitung perhitungan dan menyalahkan pihak yang lain.

Bukan apa yang diberikan sahabat anda untuk anda, tetapi anda untuk menjaga persahabatan dengannya

Sekian dulu tulisan dari saya ya..

Selamat bersahabat~
Continue reading →

Jagalah aku dengan kasihMu

0 comments
Tulisan ini ditulis dengan ditemani hujan ala Jogja. Jika kalian bertanya seperti apa bedanya, aku sarankan kalian langsung saja berkunjung ke Jogja. Ada rasa yang “spesial” dalam taburan uap air yang tercipta ketika hujan jatuh menyentuh tanah Jogja. Harum~

Selasa besok, aku memasuki fase UTS, Ujian Tengah Semester. Siap tidak siap, aku harus menghadapinya dengan baik. Banyak yang bilang, semester paling krusial adalah semester 1 hingga semester 4, setelah itu semuanya bakal ngikut. Makanya, misi jarak dekat adalah berusaha menyelamatkan IP hingga kesemester 4. Cum Laude.

Sedikit cerita, kemarin aku bersama kawan seperjuangan Manggolo Mudho berhasil tampil di Festival Reog Nasional tanggal 23 Oktober, 2 minggu yang lalu. Kami membawa pulang piala Penghargaan Atas Pengabdian dan Pelestarian REOG. Tidak masuk 10 besar penampilan Terbaik memang, tetapi setidaknya kami pulang dengan tidak membawa kekosongan piala. Aku senang, akhirnya kerja keras itu terbayar.

Setelah itu, datanglah hal yang menjadi pelik masalah.

Aku sadar benar apa jurusanku dan dimana aku menuntut ilmu sekarang. Di UII, jurusan Hukum. Sekitar satu tahun yang lalu aku sudah memusatkan diri pada Paduan Suara, sudah ikut lomba memang. Tetapi, kemudian aku sadar bahwa, ketakutan “akan jadi apa aku nanti” semakin menghantui.

Seperti yang semua sudah ketahui, jurusan Ilmu Hukum pastinya akan bekerja pada bidang kehukuman. Hakim, Jaksa, dan Pengacara adalah pilihan paling dikejar.

Sayangnya, semua itu bukanlah minat pekerjaanku. Bahkan aku takut dengan pekerjaan itu.

Aku bukanlah orang yang kuat. Aku yang sekarang menjadi orang yang lebih pendiam, introvert, dan lebih tidak tampak. Dikampus pun aku tidak memiliki kawan yang begitu banyak, tidak dikenal oleh orang sebegitu luas.

Aku berharap sekali lebih tahu bahwa aku akan menjadi seorang Psikolog, belajar di jurusan Psikolog, dan memiliki kawan kawan dalam bidang Psikolog. Aku kurang begitu mampu berada didepan, aku lebih memilih berada disamping atau dibelakang. Menjadi orang yang diperintah. Menjadi orang yang mendengarkan.

Sekarang ini aku susah sekali untuk berubah. Susah.

Aku tahu seharusnya aku bisa menjadi orang yang lebih aktif lagi, tetapi entah kenapa rasanya tidak bisa.

Aku merasa bahwa jalanku bukanlah untuk menjadi 3 profesi diatas.

Dan aku tidak memiliki seorang mentor pun untuk aku tanyai, untuk aku tiru.

Seperti, aku membuat jalan yang benar benar baru. Menelusuri semak tinggi untuk membuat jejak.

Aku benar benar kehilangan motivasi diri. Aku yang sekarang menjadi orang yang sangat sulit untuk peduli, tetapi keadaan terus memaksa.

Hingga hal itu pun berubah menjadi tekanan yang aku tidak tahu cara memperbaikinya. Rasanya ingin segera selesai saja.

Disini pun aku melihat teman temanku yang dulu mulai “terbang” dengan “sayap” yang mereka buat sendiri. Aku? Cuman terpaku melihat mereka terbang dan mengutuk diri yang tak berani membuat kerangka sayap.

Aku fikir, akan ada orang yang kemudian berpaling kearahku dan peduli. Kemudian datang dan membantuku membuat kerangka itu.

Tapi,

Aku fikir Tuhan menahan harapan itu tetap menggantung disana.

Akhirnya, sekarang, aku tersesat.

Aku benar benar tidak tahu pasti apa yang aku inginkan. Aku sebal melihat kehidupanku yang tidak berkembang.

Tapi aku tahu,

Kalau bukan aku yang merubahnya, maka tidak akan ada satu pun perubahan yang terjadi.

Aku tahu,

Itu adalah firman Tuhan. Hanya saja akhir akhir ini aku begitu tidak menghormatiNya. Akhir akhir ini aku banyak lupa padaNya.

Akhir akhir ini,

Aku tidak lagi percaya akan kasihNya.

Dan dengan ini aku semakin dalam masuk kelubang yang gelap. Sepi. Sendiri.

Aku tahu kehidupan ini tidak semudah yang ada dilayar lebar, tapi …

Apakah benar benar tidak mungkin aku akan menemui pertolongan yang tulus akan dari masalahku ini?

Aku harap, ada teman yang mau membantuku. Tapi, siapa memangnya didunia ini orang yang ingin susah?

Aku harap, aku menjadi orang yang berani.

Aku harap, aku tidak lagi menjadi orang yang abai.

Aku harap, aku menjadi orang yang lebih bisa memegang janji.

Entah ya… Apakah kerapuhanku ini adalah karena hati yang belum sembuh dari luka lukanya dulu.

Atau kah itu hanyalah alasan dan kambing hitamku agar aku membenarkan kelemahan yang semakin mengakar dalam diri. Menguat. Kemudian menjadi pohon yang membawa kegelapan. Entahlah.

Tapi, mungkin memang begitu.

Ditinggalkan dengan pengabaian, ditolak untuk orang yang lebih buruk dalam mencintai, dan kemudian mencintai orang yang tidak jelas hatinya untuk siapa.

Apa masih kurang aku ini mengalah?

Aku fikir, bersyukur itu mudah. Tetapi ketika dunia berlaku setidak adil mungkin, celah mana yang harus disyukuri? Aku butuh bantuan untuk melihatnya, sungguh.



Oh Tuhanku yang juga Tuhan Mikail,

Ijinkan aku untuk mendapat kesempatan lagi dan berikan keberanian untuk melakukan kesempatan yang Engkau berikan.

Jagalah aku dengan kasihMu

Aminn.
Continue reading →
Friday, October 10

Ketika Aku Bertanya, Rindu Ini Untuk Siapa?

0 comments
Sebenarnya itu bukanlah sebuah undangan. Bahkan lebih terdengar seperti saran yang bila ditolakpun tidak akan menimbulkan akibat hukum.

Tapi …

Karena itu datang darimu Dinda,

Terdengar seperti,

rayuan untuk menjumpaimu.

***

September sudah terlewati dengan tidak adanya satu tulisan yang ter-publish. Menulis waktu itu benar benar terasa malas bukan kepalang. Gerutuanku kepada Tuhan yang menjadi sebab utamanya.

Aku sedang me-nyatru Tuhan.

Asal katanya adalah satru yang memiliki arti memusuhi; menjauhi; mendiamkan.

Aku masih berkutat dengan masalah lama itu. Tentang, “kenapa rasanya begitu ‘kesepian’?” Yaa taulah. Cinta.

Sebenarnya sudah banyak aktivitas yang membuatku mulai lupa. Seperti berhasilnya kami untuk mengumpulkan para teman teman Ikasmaza Jogja dalam sebuah forum silaturahmi yang hangat; ikut merayakan Hari Raya Idul Qurban; tugas yang mulai datang; waktu yang lebih banyak bersama teman; pengaturan uang yang lebih baik sehingga aku bisa makan dan njajan lebih sering; dan yang paling baik, aku sudah kembali ikut dalam proses penggarapan tari REOG untuk FRN yang akan tampil tanggal 23 Oktober ini.

Tapi,

Bejibun aktivitas seperti itu masih saja membuatku memikirkan hal itu. Dan ternyata aku tidak sendirian. Ada kawanku yang lain yang merasakan hal yang sama.

Kenapa begitu “sepi”?

Hal ini membawaku pada kesimpulan bahwa, umur dan memori masa lalulah yang menjadikan kebutuhan akan asmara mulai tumbuh. Ditambah lagi dengan lingkungan pertemanan yang mulai membahas tentang relationship lebih sering daripada fase kehidupan sebelumnya.

Memang tidak semua orang, tapi, orang yang dulu pernah merasakan pacaran yang real akan merasakan kebutuhan akan “hal itu” lebih besar daripada orang yang tidak pernah melalui hubungan pacaran sebelumnya. Ini yang saya dapati dari momentum kehidupan yang saya temui sekarang.

Hipotesisnya,

Pertama, Memori masa lalu (biasa disebut juga dengan kenangan) secara alam bawah sadar dijadikan sebagai bahan pembanding dari kehidupan yang saat ini terjadi.

Misalnya dulu kalian pernah pacaran dan mesra mesranya, lalu sekarang kalian sedang me-jomblo, maka sensasi dari kebutuhan akan “hal itu” menjadi lebih besar daripada mereka yang tidak pernah pacaran sebelumnya.

Kedua, Umur, entah dalam hal yang saya sendiri tidak mengerti, sedikit-banyak memberikan dampak pula terhadap ketertarikan akan kebutuhan “hal itu”. By the way, yang saya maksud dengan “hal itu” adalah pacaran, kangen kangenan, cinta cintaan, munyu munyuan, berantem beranteman dan hal hal lain yang biasanya muncul ketika jatuh cinta. Nah, umur, dalam hal ini pun saya juga tidak tahu kenapa bisa memberikan dorongan atau bisa menjadi salah satu faktor yang cukup mempengaruhi. Entah karena hormone atau apa, saya juga kurang bisa menjelaskan. Tetapi, menurut saya ini menjadi salah satu faktor.

Ketiga, lingkungan. Ketika kita masih dalam fase SMP-SMA, “hal itu” memang sudah ada, namun belum dianggap sebagai sebuah materi utama pembahasan kehidupan saat itu. Pada fase SMP-SMA, lebih banyak masa masa Cinta Monyet, main bareng bareng sama temen sekelas, nakal nakalnya bareng temen sekelas, pokoknya nuansanya adalah masih “main main”. Tetapi, fase yang sekarang, terlihat menuntut agar mulai lebih serius. Didorong agar tidak hanya melihat jangka pendeknya saja, namun juga jangka panjang – pernikahan.

 Sebab karena itulah, pada fase sekarang ini muncul bahasan baru, yaitu tentang relationship. Bahkan, akan secara natural dihadapkan dengan “konflik relationship”. Yang saya maksud “konflik relationship” adalah dimana konflik yang terjadi difase ini adalah konflik yang bertemakan tentang hubungan asmara atau relationship. Secara bertahap, akan dibawa pada sebuah sistem yang saya sebut – komitmen hubungan; dimana kita akan secara sukarela maupun dipaksa untuk berkomitmen dalam sebuah hubungan yang sifatnya sedikit lebih kompleks.

Bahasa sederhananya, kalian akan belajar untuk komitmen dengan pasangan anda. Mengenai hal hal yang sederhana ataupun bahkan hal hal yang rumit. Ketemu ortunya si-pasangan; mulai membicarakan hal hal yang berkaitan untuk sukses berdua; menikah; galau karena umur udah lumayan uzur tapi belum ada seseorang untuk diajak membicarakan pernikahan; dan sebagainya.

Mungkin kalo buat saya sendiri, belum deh mikirnya sampai menikah. Yaa walaupun kadang sesekali kepikiran, sudah mulai memperhitungkan tetapi tidak pada level yang sangat serius.

Dorongan yang lebih besar justru lebih kepada faktor yang pertama ya.. Memori. Yaa karena “landing”nya hubunganku (menurutku) kurang memberikan sesuatu yang layak untuk dikenang yaa. Jadi, rasanya kurang sreg aja.

Tapi, ada kata kata bijak yang bilang …

Terkadang, kamu dipertemukan dengan orang yang salah, agar memahami berharganya dipertemukan dengan orang yang tepat

Kecewa, pasti. Tetapi, langkah yang paling baik adalah menjadikannya pelajaran. Saya belajar arti dari setia. Karena ada dinding yang tipis sekali antara setia dengan gagal move on.

I’m already move away and move on. But, not moving up yet.

Saya belum dipertemukan dengan yang menggantikan”nya”. Maka dari itu, melalui tulisan ini, saya pengen ingetin kepada kalian yang sudah menemukannya bahwa,

Kalian sangat beruntung :)

Seharusnya, tidak ada satu waktu pagi pun bagi kalian untuk berat mengucapkan rindu. Karena, ada seseorang yang selalu kalian kangen-kan, padahal dia tepat ada disamping kalian.

Yang susah adalah ketika kamu merindu, tetapi tidak tahu rindu itu untuk siapa.

Maka, mungkin saja bila,

Rasa rindu itu adalah rindu akan kenangan indahmu dengan masa lalu.



Andai aku bisa, aku akan sesegera mungkin tak lagi merindu masa laluku.
Aku akan merindumu, Dind.
Dalam setiap doaku.
Continue reading →