Thursday, November 21

Mengingat Kembali: Ponorogo

0 comments
Baru pagi ini gue bisa bangun pagi dan keluar rumah sejak Senin lalu libur karena jadwal UTS udah kelar. Mumpung adek gue belum berangkat sekolah, gue pun inisiatif yang nganter dia kesekolah. Sementara dia siap siap gue mencoba keluar rumah untuk manasin motor Vario. Dan hawa dingin itu menebus pori pori kulit.

Seketika, hawa dingin ini mirip banget sama hawa dingin kenangan gue di Ponorogo, kenangan itu terputar kembali dipikiran gue. Keinget banget sewaktu gue masih sekolah di SMA dan setiap pagi nganter adek gue ke SD Muhammadiyah. Keinget banget sewaktu gue dan temen temen YESC persiapan berangkat ke Sarangan sebagai senior dalam acara English Tour. Waktu itu ada Astana, Juwito, Laksa, Siti, Cicin dan Evan Indi. Dari inti YESC yang gak ikut waktu itu cuman Satria TW karena udah ada di IPB.

Dan juga gak kalah jelas yaitu kenangan gue bareng sama Forum for Indonesia Ponorogo (@FFIDPonorogo) dalam event Baksos Road to Sukorejo. Ditempat gue inilah yang menjadi basecamp dari mulai persiapan sampai hari H event berlangsung. Jelas banget ingatan gue dimana semua volunteer FFI ini berkumpul diruang tamu dan merapatkan segala konsep. Jelas banget ingatan gue ketika semuanya sibuk membuat “Papan Mimpi”. Jelas banget ingatan gue ketika para adek adek volunteer yang baru ikut di FFI Ponorogo untuk yang pertama kalinya dan mereka juga antusias untuk event ini dan mereka belajar sulap ke Astana. Jelas banget ingatan gue ketika semua ditarik patungan untuk membeli keperluan yang mendadak. Jelas banget ingatan gue banyaknya motor yang parkir sudut halaman rumah. Jelas banget ingatan gue ketika kita memindahkan barang barang seperti soundsystem, Papan Mimpi, dan segala keperluan lain kedalam mobil si Laksa. Jelas banget ingatan gue sewaktu ada Mas Najih dari Forum for Indonesia Pusat yang bersedia hadir dan mengikuti perjalanan kita untuk Baksos. Beliau orang Ponorogo asli yang juga kebetulan pulang ke Ponorogo dan luang untuk ikut acara baksos ini dan menjadi Executive Board di Forum for Indonesia Pusat dibidang External Affairs. Jelas banget ingatan gue ketika kami menundukan kepala berdoa bersama, melakukan tos dan jargon FFI Ponorogo (FFI~, FOR ME, FOR YOU, FOR INDONESIA !), dan foto bersama sebelum berangkat menunaikan ibadah. Dan disini juga tempat kami beristirahat sepulang dari Sukorejo yang ditambah epic lagi karena waktu itu ujan. Dan gue bantu ortu buat jualin Tahu Ikan dan kawan kawannya yang asli dari Pacitan. Buka stan gitu ceritanya. Hehehe. Memorable banget pokoknya.

Diperjalanan mengantar adek gue kesekolah pun hawa dinginnya masih kerasa banget, buat gue, soalnya gue gak kuat dingin dan lebih betah panas dan hot. Itulah mengapa gue suka cewek seksi yang hot #hlah

Gue pun memutuskan untuk nggak langsung pulang dulu. Gue pun memilih untuk mengelilingi Ponorogo dan mengingat ingat setiap kejadian yang pernah gue lakukan ditempat itu. Asik, seneng, galau campur jadi satu. Gue pun melewati setiap sekolah gue dari SD sampai SMA. Tempat dulu dimana gue kasih kado 3th Anniversary gue sama Risti, tempat yang jadi rute perjalanan setiap kegiatan FFI sejak gue awal masuk sampai akhirnya jadi seperti sekarang. Tempat nonton Kirab Pusaka bareng sobat sobat gue SMA. Rute yang gue laluin ketika ikut jadi pasukan Kirab Pramuka dan jadi panitia untuk bombing adek adek kelas gue. Lewat GO (Ganesha Operation) tempat gue les untuk persiapan UN dan SBMPTN. Galau abis tapi asik. Kalo kalian pengen galau yaa begitu tadi salah satu tips dari gue.

Dan memang beginilah gue. Melankolis- Sensitif. Karena kalo nggak gitu, gak bakal deh bakal muncul tulisan ini.

Gue yakin, banyak dari kalian yang akan menganggap tulisan ini sampah. Ya memang begitu, sampah hanya bisa terlihat bermanfaat tergantung siapakah yang melihat sampah itu. Dan gue tidak memaksa agar setiap orang memiliki sikap itu. Sikap itu dibentuk dalam waktu yang tidak sebentar dan menjadi “identitas”, nggak bisa dibohongi dan nggak bisa dipaksa. Sikap ini tumbuh seperti halnya tumbuhan yang biasa kita lihat. Dari sebuah biji niat yang nanti akan tumbuh menjadi tunas semangat–keyakinan dan akan menjadi tanaman yang berupa sikap itu tadi.

Untuk yang pengen nulis tapi gak mau memulai, gue kasih tau sesuatu.

Bukan masalah ketika kamu itu menulis dan tidak ada yang membacanya. Bukan masalah ketika kamu menulis dan orang orang mencela tulisan kamu. Menulis adalah proses dan akan terus menjadi proses. Dimana setiap kita berusaha lebih baik dalam proses, maka proses itu akan terus bergerak kearah yang lebih baik juga.

Yang paling penting dalam menulis menurut gue adalah,

Apa yang pengen banget kamu tulis, sudah kamu tulis. Menulislah karena ingin menulis dan segera tulislah jika memang ingin kamu tulis. Bagaimana bisa kalian disebut menulis kalo tidak ada tulisannya? Aneh kan?

Dan nggak masalah bagi gue jika banyak orang yang gak suka menulis, itu wajar sama seperti halnya selera yang berbeda beda.

Hanya saja, bagi sebagian orang, menulis adalah terapi dengan dirinya sendiri. Terapi dengan dirinya sendiri yang menjadikannya lebih tenang, damai, dan nyaman menjadi dirinya sendiri.

Dan jika anda menemukan kesampahan dalam tulisan saya ini dan ingin hati dari anda untuk menghina saya, mohon jangan dilakukan. Namun, jika keinginan anda agar memperbaiki agar tulisan saya ini lebih baik untuk kedepannya, saya akan senang sekali mendapat respon dari anda.

*ini kenapa ganti pakek “saya” ya? Kebawa serius jadinya -,-“

OK deh. Yang pengen gue tulis sudah tertuliskan. Kini saatnya pamit.

Salam tulis menulis sob :)
Continue reading →
Saturday, November 16

AND NOW JUST LOOK AT YOU ! (REFLEKSI)

0 comments
Barusan saja. sekitar 30 detik yang lalu gue barusan saja buka facebook dan twitter yang dipenuhi dengan status kemalasan sobat sobat gue yang sekarang udah di Perguruan Tinggi. Kita ulas yuk, sesungguhnya hal kayak gitu bener gak sih? if you ask me, that’s totally disgusted.

Ulasan ini dimulai dengan kejadian yang terjadi dan gue temukan barusan. Dimana gue muak dengan segala keluh kesah dan segala pelanggaran yang dilakukan atas dasar malas dan merugikan diri sendiri dan orang tua. Ini yang paling penting, kita mengecewakan orang tua kita.

Kita mulai dengan perjalanan kebelakang.

Dimulai dari saat kita harus menentukan antara melanjutkan kuliah atau tidak. Lalu muncul pertanyaan jika akan kuliah akan masuk kemana dan jurusan apa. Dan jika tidak kuliah, karir apakah yang akan kita ambil setelah lulus SMA. Dan mayoritas dari kita memilih untuk masuk kuliah dan akan berhadapan dengan pertanyaan pertama “ mau kuliah dimanakah aku nanti?”

Dalam menentukan kuliah kita bisa dapatkan pertimbangan dari banyak sumber. Sumber yang dominan adalah dari diri sendiri dan orang tua. Dan dibawah itu, ada salah dua sumber yang sering sekali membuat diantara dari kita menyesal yaitu dikarenakan faktor gengsi dan ikutan ikutan jaman/ teman.

Nah yang paling menarik perhatian adalah proses bagaimana kita menentukan pilihan perguruan tinggi kita. Disanalah yang membuat kita galau, disanalah kita berusaha menyusun strategi, disanalah kita berusaha mengkompromikan segala faktor, dan yang paling berat mengalahkan ego kita.

Banyak sekali tipe tipe manusia dalam menentukan pilihan untuk masuk dalam perguruan tinggi.

Tipe pertama, dimana mereka menentukan pilihan berdasarkan keinginan diri sendiri. Atas dasar “saya pengen banget masuk PT A” saja itu sudah cukup. Dan ini sendiri juga terjadi pada gue. dimana saat itu gue masih sangat tertutup dengan opsi lain selain Kedokteran dan Kedokteran yang bukan Swasta. Tipe ini berusaha dengan keras memenuhi apa yang menjadi keinginan, impian, dan cita cita mereka. Dan tipe inilah yang sangat banyak dan mendominasi. Kenapa? Karena ini adalah hakikat manusia, dimana selalu memiliki keinginan.

Tipe ini pun dibagi lagi menjadi 2.

Yang pertama adalah sub-tipe yang mengejar keinginan mereka dengan meningkatkan usaha kerja mereka berlipat lipat.

Dan yang kedua adalah sub-tipe yang pasrah dengan keinginan mereka dan hanya berusaha sebisa mereka tanpa melakukan yang terbaik dan ditutup dengan kepasrahan. Kasarnya, mereka hanya sebatas INGIN dan BERMALAS MALASAN. Tipe ini yang menjangkiti gue. Setelah gue punya segala plan yang seakan akan tak mungkin gagal, tapi gue hanya melakukan “sebisa gue” bukan yang “terbaik yang bisa gue lakukan”. Dan yang terjadi dengan gue sekarang, mimpi untuk menjadi dokter harus gue hapus. Dan itu gapapa menurut gue.

Tipe kedua adalah dimana mereka yang mengikuti kehendak orang tua. Tipe ini adalah  tipe yang gue tolak dulu. Ketika pengen banget masuk kedokteran, gue mengabaikan masukan dari orang tua gue. Namun pada akhirnya, gue masuk di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang ada di Jogja adalah saran dari orang tua yang gue pengen dan gue nyaman disitu.

Tipe ini dibagi lagi menjadi 2 sub-tipe yang mirip dengan tipe pertama.

 Sub-tipe pertama adalah orang yang memiliki keinginan dalam pemilihan jurusan namun keinginan mengikuti kehendak orang tua itu lebih besar dari kehendaknya sendiri (ego-nya). Alhasil, dia mengesampingkan keinginannya sendiri dan memilih mengikuti saran dari orang tuanya. Orang ini memiliki tingkat  kepatuhan orang tua yang sangat tinggi.

 Sub-tipe kedua ini yang sedikit menyakitkan. Jika sub-tipe pertama mengikuti kehendak orang tua karena keinginannya sendiri atau bisa dikatakan “memang dari awal dia ingin mengikuti kehendak orang tuanya saja” berbeda dengan sub-tipe kedua ini karena mengikuti keinginan orang tua karena paksaan. Doktrin dari orang tua yang biasa dibarengi dengan ancaman yangbersifat psikologis yang menimbulkan rasa bersalah dan bisa saja jika membangkang dari kehendak orang tua tadi, maka jalan yang kita pilih sendiri akan menjadi penuh ganjalan karena tidak barokah. Orang yang terjerat sub-tipe ini terjerat dalam Efek Rantai yang menyakitkan dimana semua jalan yang ia pilih seperti tidak berpihak padanya. Dan ini memang ada dan masih menjadi realita disekitar kita.

Tipe ketiga ini memang terdengar aneh dan seperti tidak mungkin, tapi terjadi. Dimana mereka menentukan jurusan dikarenakan GENGSI saja dan IKUT IKUTAN TEMAN padahal jurusan yang diambil saat itu tidak sesuai dengan kemampuannya, tidak sesuai dengan bakatnya. Bisa dibilang orang ini menyia-nyiakan potensinya yang masih bisa digali dan dikembangkan. Salah satu penyebab dari hal ini adalah tidak ada bayangan ingin melanjutkan kemana pendidikan setelah lulus nanti. Dia tidak tahu apa yang dia inginkan.

Tipe keempat. Tipe ini memiliki sifat oportunitis dan visioner. Dimana tipe ini mempertimbangakan langsung tentang kaitannya dengan dunia kerja. Mereka mengkesampingkan keinginan mereka yang paling dalam dan menjadikan pilihan ini sebagai keinginan mereka yang baru. Mereka tidak terpaku pada pendapat orang lain, tidak terpaku pada gengsi antara PTN atau PTS, mereka tidak terpaku pada kesulitan akan bidang yang meraka hadapi kelak. Apa yang menjadi fokus mereka adalah “sekolah agar bisa segera dapat pekerjaan yang cukup mapan”. Dan mereka ini justru lebih mudah membuat orang tua mereka memahami pilihan yang mereka pilih. Mereka juga tidak ingin merepotkan orang tua dengan lama lama kuliah, mereka dengan tipe ini adalah mereka yang ingin sekali segera bekerja dan mengembangkan potensi mereka untuk mencari uang. Karena tidak dapat dipungkiri, UANG ITU PENTING walaupun BUKAN SEGALANYA.

Secara garis besar mungkin itulah tipe tipe dalam memilih jurusan yang pernah gue temui.

Nah. Sekarang masuk kekasus yang mengganggu gue banget.

Bagaimana bisa kita yang sudah menentukan pilihan jurusan kita dengan jalan yang kita pilih sendiri (tipe pertama) dan Tuhan menyayangi kita dengan diterimanya kita pada jurusan yang kita pilih sendiri juga, dan bagaimana bisa kita kembali mengingkari segala pemberian Tuhan akan segala permohonan yang keluar sendiri dari mulut kita dengan cara bermalas malasan?

Padahal kalau kita mau kembali dan mengingat ingat betapa kita sangat mengagung agungkan jurusan/ pilihan yang ingin kita tuju, betapa serius dan khusuk kita berdoa agar dikabulkannya permintaan kita yang sederhana bagi Tuhan, bahkan apakah kita lupa jikalau kita pernah berjanji akan berubah dari SMA yang malas menjadi lebih giat lagi menuntut ilmu dan menebarkan andai andai agar kita bertemu dalam “gerbang kesuksesan” bersama?

Do we still remember that? Do you remember that you ever said that sh*t things?

AND NOW JUST LOOK AT YOU !

Kita kembali tidak mensyukuri yang Tuhan beri. Kita kembali lupa, kita ingkar dan mengecilkan peran Tuhan setelah semua yang kita inginkan dipenuhi oleh-Nya.

Dan apakah kita harus menunggu hingga datang saat dimana Dia muak melihat hambanya yang kufur akan nikmat-Nya dan mulai mencabut nikmat itu?

Dan yang kita bisa lakukan hanya menyesal? Kita kembali membuang impian untuk “bertemu digerbang kesuksesan”?

Dan tidakkah kita ingat bahwa ketika Tuhan mulai mencabut nikmat-Nya maka tidak ada segala sesuatu apapun yang bisa menghalangi-Nya. Dan kita baru tersadar lalu berdoa meminta segalanya dikembalikan kepada kita padahal yang kita miliki waktu itu adalah “titipan”? dan ketika benar nikmat itu dikembalikan kita akan kembali kufur?

Kita terus saja mencerca Tuhan dengan segala hal yang kita terima sebagai TIDAK ADIL. PADAHAL,

SUDAHKAH KITA BERLAKU ADIL PADA APA YANG TUHAN BERI PADA KITA? SUDAHKAH KITA ADIL DALAM MENSYUKURI YANG TUHAN BERI PADA KITA?

Memang, Tuhan senang ketika melihat hamba hamba-Nya berdoa memohon kepada-Nya, namun Tuhan itu lebih tidak suka pada orang yang kufur akan nikmat-Nya.

Dan ketika kita berdalih bahwa semangat itu mulai turun, gairah mulai hilang. Ingatlah yang memilih jalan itu adalah diri kita sendiri dan ingatlah betapa kita keras kepala sekali ketika kita dinasehati tentang pertimbangan dalam memilih.

Dan sekarang, kita hanya bermalas malasan? Sadar gak, betapa tidak sopannya tindakan ini? Betapa kita ini penghianat. Penghianat Tuhan.

Dan ketika kita berdalih dan beralasan jika doa kita dikabulkan agar masuk diperguruan yang kita idamkan maka kita berjanji akan berubah dan tidak akan mengkufuri nikmat yang Tuhan berikan. Tapi kita diberikan nikmat yang nilainya KW 2 menurut kita, padahal sempurna menurut Tuhan lalu mulai menyalahkan Tuhan akibat tindakan buruk yang kita lakukan sebagai kambing hitam dari tidak dikabulkannya doa kita?

 Tapi, tahukah kamu,

JIKALAU TUHAN ITU MENGERTI HAMBA-Nya LEBIH DARI HAMBANYA MENGERTI DIRINYA SENDIRI.

Bisa gak kalian melihat hal itu sebagai TEST yang diberikan oleh TUHAN untuk MENGUJI SEBERAPA KAH KITA MAMPU MENSYUKURI NIKMAY YANG TUHAN BERIKAN?

ITU HANYA TESTER BUNG!! DAN JIKA KITA LULUS DISANA, MAKA SEGALA YANG KEDEPANNYA YANG KITA INGINKAN MENJADI MUNGKIN !!

Kita hanya perlu bersabar, ber- positive thinking pada Tuhan, berjalan saja melalui ini semua.

Tuhan itu sungguh tahu dan mengerti sekali apa yang kita inginkan, hanya saja Tuhan itu perlu bukti dari yang kita ucapkan dan kita sebagai “pemohon” harus bisa menepati janji itu.

Jika kita mampu mensyukuri hal yang sebenarnya tidak kita inginkan, sesungguhnya kita sudah menjadi lebih pantas akan hal yang kita inginkan, diwaktu yang sama.

Itu yang ingin Tuhan lihat dari kita.

Mau contoh?

Bayangkan aja kita ini adalah seorang pengusaha besar. Lalu ada seseorang yang melamar pekerjaan dengan datang berpakaian lusuh dan mengaku memiliki intelegensia tinggi memohon mendapat jabatan yang baik dan bersedia mendapat tanggung jawab lebih besar dan gaji yang lebih besar pula. Padahal kita tidak tahu siapa dia. Apa mungkin kita akan langsung memberikan tanggung jawab yang dia minta? Apa mungkin kita akan langsung percaya? Pastinya tidak. Dan kita akan memulai dengan memberinya tugas yang yang sesuai dengan dirinya, bahkan kita akan memintanya bertugas sebagai office boy atau apapun yang sesuai dengannya dan menunggu pembuktian darinya. Dan pasti begitu.

Nah itu tadi hal yang mengganjal banget buat gue. Sekalian menjadi refleksi bagi kita yang sudah masuk kuliah atau bahkan bisa juga menjadi pertimbangan untuk adek adek yang ingin masuk kuliah dan menghadapi problema yang sama.

Bahasan kali ini berat yah?? Hehehe mumpung lagi pengen serius gue.

Semoga cerita dan argument tadi bisa menjadi refleksi dan pengingat ya bagi kita. Aminn
Sampai jumpa, salam tulis~
Continue reading →
Wednesday, November 13

UTS? SERUU !!

0 comments
Sore sahabat tulis~ Apa kabarnya? Tetap SUPER kan?? Hassekk

Setelah kangen banget untuk kesekian kalinya nulis, gue mau cerita nih.

Di kampus gue Universitas Islam Indonesia lagi mengadakan minggu minggu UTS (Ujian Tengah Semester). Yup, namanya masih sama dengan waktu gue SMA. Mulainya baru selasa kemaren dan jika dihitung hingga hari ini berarti sudah 3 hari berjalan.

Walaupun satu universitas ternyata jadwalnya tidak semuanya sama. Di Fakultas Hukum, itu dimulai dari hari selasa kemaren itu dan berurutan sampai hari selasa minggu depan untuk tahun ajaran baru serta sampai hari kamis untuk para tahun ajaran lama. Berbeda dengan temen gue dari Fakultas Teknik Sosial dan Psikologi, jadwalnya nggak berurutan kayak punya gue. Bahkan UTSnya baru selesai sabtu minggu depan sedangkan gue selasa aja udah kelar dan libur bro.. (katanya sih) How lucky I’m !

Untuk hari pertama UTS yaitu selasa kemaren gue bertemu sama mata pelajaran Antropologi Hukum dan Pendidikan Pancasila. Untuk Antropologi karena bahan belajarnya OK jadi Alhamdulillah bisa dilalui dengan cukup lancar.

Hari kedua (kemaren) ketemu ama Pengantar Ilmu Hukum dan Bahasa Inggris. Nah disini gue apes. Pas waktu ini gue kehilangan jadwal gue dan untuk jadwal rabu ini gue cuman sekedar tanya temen gue. Sependengaran gue dia bilang kalo PIH (Pengantar Ilmu Hukum) itu jadwal terakhir, yaitu jam setengah 2 siang dan Bahasa Inggris itu jam setengah 8 pagi. Jadi malamnya gue cuman belajar setengah untuk PIH dan segera tidur karena capek banget. Maklum belum terbiasa suasana UTS. Dan ternyata pagi harinya jam 6 gue tanya lagi ama temen gue. Eh, jadwal pertama tu malah yang PIH itu! Wasalaam. Gue pun jadi buru buru banget buat mandi dan segera berangkat. Dan sampai dikampus cuman bisa baca ulang selama 20 menit dan gue pun masuk kelas. Dan…. Gue keluar ruangan dengan bersimpah darah. Aaargh my bad ! -,-

Hari ketiga alias hari ini, bertemu dengan mata kuliah Pengantar Hukum Islam. Dosennya, behhh mantabh! Gue lebih sering ngantuk kalo diajar beliau soalnya suaranya lumayan pelan walaupun bergelar Prof. Tapi yang paling gue bingung, kok masih ada juga bahan dari kuliah beliau yang bisa gue catat padahal gue lebih sering ngantuknya lho.. Dan untuk menyambut mata kuliah ini, gue belajar kelompok sama tim Constitutum gue. Begitu juga untuk mata kuliah hari pertama, Antropologi kita pada kompak untuk belajar bareng dirumah Irfan Rosyadi. Thanks ya Ros buat minjemin rumahnya buat markas belajar :D

 Dan membuahkan hasil yang tidak mengecewakan untuk hari ini :)

Dan untuk hari keempat (besok) gue ama temen temen FH tahun ajaran baru bakal ketemu ama mapel Pendidikan Agama yang diajar oleh dosen yang sama bikin ngantuknya karena suaranya pelan. Mungkin karena umur beliau yang udah sepuh. Dan ama mata kuliah Studi Kepemimpinan Islam yang walaupun gue sering masuk kagak ada kegiatan mencatatnya. Jadi bingung deh apa yang dipelajari nanti. Maka dari itu, nanti temen temen Constitutum : ada gue, Dio, Yasta, Irfan Rosyadi, Irfan Fahrozi, Rafa, Rifa (mereka bukan kembar lho. Sumpah), Aldi, Mikha, Aziz si Doel, Suryo, Marisun fahmi, Ewa. Dan ada juga temen temen lain yaitu Acil dan manusia yang dianggap paling benar didunia (Syeh) Agus (Paulus) Maulidi.

Wah, kalo udah kumpul gini pasti pada ngakak semuanya deh. Belajar jadi seruu gan!!

Semoga, nanti juga sama serunya ato bahkan tambah seru. Amiinn

Nah, segitu dulu deh rumpi rumpi kita dalam tulisan gue kali ini. Sampai bertemu  lagi dalam tulisan yang lain.

Ciao Amigos~ *naik delman*
Continue reading →
Sunday, November 10
0 comments
11 November 2013

H-1 dari Ujian Tengah Semester di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Gue udah persiapan dari kemarin sih sebenernya. Tapi gataw kenapa rasanya masih kurang aja materi yang gue serap. Dan gak pede banget buat hadapin UTS ini.

Ditambah lagi rusaknya memory eksternal hape gue. Padahal foto foto yang berharga buat gue ada disana semua. Jadi gak semangat banget rasanya -,-“

Yaah semoga aja belajar kelompok ini nanti bisa ngebantu gue buat lebih semangat and percaya diri. Amin 
Continue reading →

Surat Penggemar untuk Fatin

0 comments
Hello Guys~

Beribu ribu maaf saya hanturkan kepada temen temen tulis semua jikalau terlalu lamanya gue gak muncul memenuhi notification di blog kalian. Setelah nulis late-post yang kemaren, akhirnya Manggolo Mudho tampil di FRN. Tapi saying banget sih, kita belum bisa masuk ke-10 besar Penampil Terbaik. TAPI. Manggolo Mudho mendapat Peringkat Pertama atas Pengabdian-nya. Jadi, kita juara 1 di sisi Penghargaan Pengabdian Terbaik gitulah. Alhamdulillah. Dan tambah Alhamdulillah lagi, semalem habis ada acara Tasyakuran dan nonton bareng perform Manggolo Mudho waktu FRN itu. sumpah, PE to the CAH BANGETT MEENN kebersamaan kita semalem. Asik gilak! Pokoknya, gue bersyukur banget bisa menjadi bagian dari Manggolo Mudho ini. Dan target pribadi gue, untuk tahun depan gue bakal jadi penarinya. Pengen banget sih jadi Klono Sewandono, yaaa moga moga aja bisa karna ada yang mau ngajarin. Tapi kalo nggak, yaa Warok juga oke kok.

Nah cukup segitu info terpanas dihidup gue dan penjelasan akibat lamanya ananda Dimas Mahardika ini tak menampakkan batang hidungnya didunia blog selama hampir sebulan.

Kangen banget ama nuliss. Muach! :*

Dan kembalinya motivasi gue untuk nulis juga dikarenakan sobat baru gue dari temen Manggolo Mudho yang juga nulis blog. Fitroh namanya dan untuk web-blognya. http://fitrohfide.blogspot.com/. Kalian bisa baca tulisan dia disana. Yaa walaupun tulisannya masih dikit dan juga beberapa waktu berhenti nulis. Lagi sibuk katanya and lagi belum pengen “menarsiskan” buah pikirannya. Hehehe. Untuk Fitroh ini kita bahas dilain tulisan saja ya :)

Style nulisnya juga mirip ama gue, “sesuka suka gue” and it contains of her private social life. Pokoknya mirip banget dah ama gue. ciyus po.o? yih cob !

Nah! Comeback gue kali ini pengen banget bahas soal Fatin Shidqia Lubis. Kalo kamu gak kenal, brarti gak pernah liat X Factor Indonesia. Dan kalo gak pernah liat acara TV di RCTI itu, bisa kemungkinan kamu gak punya tipi. Atau mungkin punya tipi sih, tapi gak ada listrik. How pathetic.

Kenapa harus Fatin? Karena barusan aja gue kangen banget ama suaranya Fatin. The real original sounds of Fatin yang bisa gue dapet dengan nonton videonya dia sewaktu audisi pertama kali dan menyanyikan lagunya Bruno Mars, Grenade. Itu PEECAH BANGET MEN. Suara serak serak seksi gemulai aduhainya masih OK banget. ORI banget. Dan yang bikin gue suka tu ama sikap malu malu and polosnya Fatin juga. Gataw kenapa, gue suka banget ama cewek yang suka malu malu gitu. Dan bukan malu-maluin lho ya.

Tapi sepanjang perjalanannya, Fatin berubah. Dan perubahan itu memang pasti terjadi. Dan positif sih sebenernya, tapiii. Ada beberapa bagian dimana gue jadi kurang “ngeh” gitu. Yaitu ilangnya “malu malu”, “aneh”, dan polosnya Fatin. Kata orang memang bagus, dan sebenernya sih emang bagus. Tapi kalo kamu tanya ama gue, ya jawabannya tadi. Jadi nggak “ngeh”. Karena bagi gue, yang bikin kangen dari Fatin adalah sifat sifat tadi.

Ada lagi bedanya.

Yaitu saat Fatin membawakan lagu yang jadi senjatanya lolos audisi di X Factor, Grenade dan dinyanyikan saat X Factor udah 3 besar kalo gak 2 besar ama Novita Dewi. Dan silakan kalian bandingkan dengan Fatin yang masih audisi.

Beda banget.

Yang kalian liat di 2 besar adalah The New of Fatin dan ketika kalian liat waktu audisi, itu The Original of Fatin. Di 2 besar, keliatan banget Fatin berusaha menunjukkan performa terbaiknya. Dia berusaha dengan sangat keras untuk “sempurna” dilagu Grenade itu. berusaha menghayati dan memaknai setiap bait lirik itu. Dan disanalah gue kehilangan Fatin. Pasti banyak orang yang gak setuju ama gue, dan itu gue persilakan. Dan gue mohon gak perlu balas statemen ketidak setujuan gue ini.

Dan kalau disuruh milih, gue seneng banget bahkan jatuh cinta banget ama Fatin yang unyu unyu kayak dulu. Dengan segala kepolosan dan ketulusan dari setiap yang dia lakukan. Tanpa perlu takut orang mau menghina dan menanggapi apa.

Fatin yang ngomong dengan sedikit tergesa gesa, sering memonyongkan bibir untuk ng-cek lipstiknya, yang mengerling dan melambai tulus pada yang memanggil namanya. Dan itu semua bisa kalian lihat dari performa audisi sampai kepenampilan dia saat bawain lagu Rumor Has It – nya Adele. Bagi gue, itulah Fatin.

Segala argumen ini keluar dari gue, satu dari sekian Fatinistic di Indonesia yang tweet-mention-nya belum pernah sempat dia balas. Dan argument ini bukan keluar karena balas dendam itu bukaannn. Argumen ini keluar sebagai surat rindu gue untuk Fatin. Dan argumen ini muncul dari ketidaktahuan gue tentang bagaimana menjadi seorang entertainer professional yang memiliki tuntutan dalam karir itu. Dan jika memang hal itulah yang harus dilakukan oleh entertainer seperti Fatin, gue bisa terima. Mungkin ini memang masalah selera saja.

Jadi, maafin Dimas ya Fatin :)

Aku cuman pengen yang terbaik untuk kamu, semoga kamu mengerti :)

Nah.

Begitulah kiranya tulisan kali ini. Thanks banget ya kalian udah mampir dan baca. Dan maaf bila blog ini tidak memberikan apa yang anda cari tapi malah menyita waktu anda untuk membaca celotehan gue yang sebenarnya tidak terlalu perlu untuk dibaca.

Sekian dulu sobat tulis. Salam tulis menulis yaa :)
Continue reading →