Monday, September 30

Ketika Melihat Dia tlah Dimiliki

0 comments
Good Morning Ladies and Gentlement.

How are you today?

So, why I start with English? Coz’ my previous post are use English. (gak konek)

Oke lah kita kembali ke jati diri saya.

Selamat pagi semuanyaa. Alhamdulillah gue bisa menemui kalian di awal Oktober ini nih. Tanggal 1 Oktober kan hari ini? Yupz! Tanggal muda, uang ada dimana mana HAHAHA

Tapi setelah gue cek TL, ternyata masih belum banyak berubah. Masih ada yang meronta akan mulai mengusutnya isi dompet. Yang biasa kita temui uang dengan gambit Soekarno-Hatta, sekarang berganti fotonya Pattimura, Imam Bonjol, ato yang paling bagus nih Sultan Mahmud Badaruddin. Yaa begitulah indahnya kehidupan, itulah seni kehidupan. Bagaimana bisa uang 20000 rupiah kita pas pas-kan untuk keperluan 5 hari. Secara logika gak mungkin, tapi manusia memang super duper awesome and creative creature !!

Tapi beda dengan gue. Ke tidak nyaman  gue pada pagi hari ini harus dimulai dan diawali bukan karena masalah uang. Tapi masalah batin, lebih tepatnya perasaan, lebih memojok lagi adalah cinta.

Duh duh. Baru awal bulan udah galau ama soal cinta.

Ya itulah yang saya juga bingung. Tuhan menciptakan manusia dengan segala rasa dan perasaannya yang rumit, dan gara gara perasaan juga, manusia tu kayak auto-error. Rumit memang.

nah sekarang, emang kasusnya gimana bisa gue mengalami syndrom kontoversi hati dipagi hari, diawal bulan, diujung perasaan ini?

Dimulai ketika gue menjajal modem yang gue pikir udah habis masa aktifnya dan ternyata… masih bisa dipakai. Entah apa perasaan gue aja, tapi Tuhan me-skenariokan ini sudah jauh jauh hari. Me-skenario agar perasaan ini terlibat kudeta. Intinya, Tuhan pengen bikin sebel gitu. Jikalau modem emang udah habis masa berlakunya, pasti gak bisa dipakek kan? Nah ini gataw kenapa kok malah bisa. Dan tentu situs yang dibuka FB dan twitter dulu dong. Biasa, anak Gahol, bukan Ganool.

Dan entah kenapa didetik yang sama, di Facebook, munculah dia. Berita paling atas, paling baru, paling popular. Perempuan cantik yang gue kenal, next Miss Universe, dan gue suka, nongol. Sayangnya, she’s already taken.

Brak!

Kenapaaa? Kenapa harus terjadi padaku, kenapaaa? Kenapa harus diawal bulan, kenapaa?

Pasti beberapa diantara kalian bingung, apa yang bikin kontroversi hati?

Tapi beberapa lagi, dan bahkan ini menjadi mayoritas, akan sangat memahami perasaan gue.

It’s really annoying when you fall in love with someone who has been taken.

Taken meenn. Dimilikiii dia sudah. Macam mana orang tak kesal, ha? (logat orang Medan)

Gue dieem. Dieem aja dalam waktu yang cukup lama. Mengumpulkan beberapa serpihan nyawa yang cecer karena shock. Whoosahh~

Dan setelah terkumpul nyawa gue, masuk ke step selanjutnya untuk menenangkan perasaan gue yang sempat menjadi gelombang pusaran air. Whosaahh~

Dan setelah semua badai hati merada, gue pun berpikir untuk menjadikannya tulisan yang lucu. Yang unik, yang mungkin bisa mewakili perasaan gue dan beberapa perasaan kalian.

Dan dengan tulisan ini, gue mengingatkan pada sahabat pembaca blog gue, bahwa kalian tidaklah sendiri. :)

Salam cinta, salam tulis, salam damai.

I love you, someone so far. Far away.

NB. Selamat Hari Kesaktian Pancasila ya. Dan Selamat Ulang Tahun juga buat sahabat gue, Dio Fajar Sakti. Semoga Allah memberikan dan mengabulkan doa doa baikmu dan segala yang terbaik untukmu. Amin :)
Continue reading →
Monday, September 23

Selingan (1)

0 comments

Halo ha~
Apa kabarnya nih?
Sehat kan ya? Alhamdulillah :)
Selingan dulu ya dari tulisan "balada anak kuliah". Yaa bukan selingan juga sih tapi tetep deh lebih tepat dibilang selingan. Gue mau kasih post seputar TUGAS PERTAMA gue. Yaitu disuruh bikin cerita tentang "siapa aku" dan "apa impianku" gitu. Dan karena ini tugas dari ma-pel Bahasa Inggris, sopasti harus diketik dalam bahasa Inggris juga dong..

Dan, here we go !



ME AND MY DREAMS
My name is Dimas Mahardika. My full name is Dimas Mahardika Alamsyah Dien Subagyo. I was born at Ponorogo, 17th August 1995 and now I’m already 18 years old.
I am at very happy family. My father name is Pujo Dwi Subagyo, he is a banker at BRI. My mother is a housewife, named Sudiarti. And I also have a sister, her name is Rahajeng Mellytria Noor Subagyo and now she is in Junior High School, SMP 2 Ponorogo.
I start my formal education at TK Ar-Rohman Ponorogo. Elementary School Muhammadiyah Ponorogo. My Junior High School at SMPN 1 Ponorogo and Senior High School at SMAN 1 Ponorogo. I have many hobbies one of which is reading books and write about my absurd live, opinion, and wonderful experiences on blogger.
Since at Junior High School, I often join in extracurricular activities. One of them is KIR or Karya Ilmiah Remaja. I’m also became an administrator there, served as Secretary on 8th grade. I also join at Student Council at my Junior High School at the same time when I became an administrator at KIR.
My organization career is on top in high school. When I was 11th grade, I held the position as chairman of YESC or Youth English Study Club. In this extra, I’m not only got organization experience but also learn about speaking English well. We all are learning together and it’s become my new family where I fell so much welcome here. Not only YESC, I also joining every single event that held by our school and become as the committee such as Rohis with the event Pondok Pesantren and Idul Adha Potong Qurban, Student Council with the event Kartini’s Day and MOS (Masa Orientasi Siswa).
I join with Forum for Indonesia (FFI) since 11th grade also, at the end of 2nd semester to be exact. This is one of organization engaged in social. 2 years I join this organization i learn a lot that my city, Ponorogo are still so left behind. Many school that do not have adequate facilities and the students are do not have a good motivation for school. And one of our missions, to motivate those students so they are more exited for school. I had the honor as a motivator for them. Because, I had a dream to be a motivator like Mario Teguh.
I love to share. Anything. And with FFI, I can share about my motivation to be better with our student brother in my city. Share about the happiness with game that we made. And share about what we should fight for.
My dreams, I really want to be a leader. Start with being leader for myself and one day, became a leader to my people, people of Ponorogo. If God bless me and I’m are good enough, I want to be leader to my Indonesian people.
Not just a leader. But, a leader who can be a role model, share love, compassion, motivation and care to all of my people. Amin.


GImana?

Masih banyak salah ya? Kalimatnya masih kurang efektif dan berbelit belit ya? Hehe maklum gan.. Belajar :)

Yasudah. Begitu saja untuk saat ini.

Bye Bye~ 
Continue reading →
Saturday, September 21

Berangkat untuk Berpisah

0 comments
Haloo..

Gue lagi di Ponorogo nih. Kampung halaman tercinta. hehe. Tepatnya kemarin Jumat malam gue perjalanan dari Jogja ke Ponorogo. Berangkat jam 6 sore dan tiba di Ponorogo jam 21.30. 3 setengah jam perjalanan lah dan Alhamdulillah tiba dengan selamat tanpa kurang suatu apapun (kecuali uang bensin dan beli donat)

Tulisan ini pengen ngelanjutin tulisan gue yang kemarin nih. Dan tulisan ini sangat sensitive dan mengena bagi gue karena emmm apa ya. Karena ini “berarti” banget buat gue. Dan karena inilah yang bikin gue butuh waktu yang tidak sedikit untuk membiasakan diri di Jogja. Ditandai dengan gue yang PASTI hampir muntah sewaktu bangun tidur dipagi hari.

Dan tulisan ini gue siapin untuk gue tulis dikampung halaman dikarenakan agar “efek” dari ke-galau-an ini bisa segera terobati. Karena bagi gue, yang lebih menyakitkan tu adalah ketika mengenang kenangan yang seneng, yang indah dan bahagia daripada mengenang kenangan yang sedih, susah dan menyakitkan. Bawaannya, pengen banget kembali kemasa indah itu. Dan itu bikin gue, G A L A U

Oke kita mulai ya.

Setelah gue menemukan keberanian gue untuk hadir diacara gathering itu, maka hari hari keberangkatan pun semakin dekat. Gue menemukan keberanian gue tanggal 28 ya, nah setelah 2 hari itulah gue berangkat. Yup tanggal 30 Agustus 2013

Saat itu keyakinan gue besar banget. Gue pengen banget untuk segera berangkat. Kenapa gue ngambil tanggal 30? Karena waktu itu gue pengen berangkat bareng bareng temen temen gue yang di Jogja dan tahu jalan kesana. Serta acara gathering itu pada tanggal 31 Agustus. Padahal baru masuk kuliah perdana tu tanggal 2 September. Jadi ada waktu waktu dimana itu kosong dan gue gak ada kerjaan dan kagak tau mau ngapain.

Alkisah kita segera berlari kehari keberangkatan. Biar tulisan ini cepet selesai karena sakit gue nulisnya.

Tanggal 30 Agustus itu tiba. Ceritanya waktu itu Papaku lagi dirumah entah cuti atau apa gue lupa. Pagi jam 5 gue udah bangun, siap siap. Motor Mega-Pro udah dipanasin dan kemaren udah dicuci. Rambut juga udah dipotong rapi, jaga jaga kalo disuruh potong pendek. Pokoknya gue mempersiapkan diri gue agar nanti dikota perantauan gak usah melakukan yang gak perlu dilakukan karena bisa dilakukan di Ponorogo. Mamaku juga sudah memasukkan segala keperluan di-box motor gue. Jaket, sarung tangan, jam tangan, helm fullface, dan keperluan lain udah pada siap.

Sekarang tinggal menunggu sobat sobat gue.

Jam menunjukkan jam 6 pagi, Prasetyo sudah datang berkumpul dirumah gue. Seingat gue, dia boncengin sodara cewek yang tahu jalan juga. Nah sekarang tinggal nungguin si Hafish nih yang belum datang.

Adek gue pun mulai bangun dan siap siap berangkat kesekolah. Gue, Pras (panggilan akrab Prasetyo) ngobrol santai ruang tamu. Dan sekejab gue inget nostalgia gue, diruang tamu ini gue biasa kumpul ama temen2 FFI sewaktu merapatkan baksos didaerah Sumoroto. Ada Astana, Alan, Laksa, Juwito, dan Satria a.k.a STW. Dan saat ini gue lagi kangen ama tu leader FFI. Dan ada Risti juga pastinya :)

Miss u all.

Dan jam sekitar jam 7 Hafish sudah datang. Kami pun langsung bersiap siap berangkat.

Tapi, ini yang bikin gue nyesek.

Beberapa menit sebelum temen temen gue mulai dateng, adek gue yang udah bangun mulai persiapan untuk berangkat sekolah. Mandi, ganti baju, makan, dan persiapan lain. Setelah dia udah siap semuanya, dia mau berangkat. Karena masuknya jam 7 jadi berangkatnya jam setengah 7.

Dan dia pun udah mau berangkat. Niatannya mau gue yang nganter tapi gue kan lagi nungguin Hafish jadinya papa gue yang nganter. Seperti biasa, salam ke mama, ke papa dan ama gue. Dan gue pun juga pamit mau berangkat dulu ke Jogja dan mungkin gak akan pulang untuk beberapa minggu karena acra dikampus. “mas Dimas berangkat dulu ya. Ntar belum bisa pulang dulu beberapa minggu. Ojo kangen mas Dimas lho ya. Ojo nangis lho. Hehe”, gurau gue waktu itu.

Eh

Malah sebaliknya.

Adek gue, Rahajeng Mellytria Noor Subagyo namanya, malah langsung nangis. Padahal adek gue ini nakal lho. Sering banget berantem soal makanan ama dia. Tapi lebih sering lagi kita guyon gak nggenah gitu.

Dan saat itu dia nangis.

Dan gue gak pernah menyangka adek gue yang lumayan cuek dan suka marahan ini bakal nangis.

Dan gue ikutan nangis juga nulis cerita ini.

Dan pada saat itu pun gue juga nangis, karena gue tahu gue harus kuat.

Gue pun peluk adek gue.

Gue cium pipi dan keningnya. Gue yakinin agar segera pulang dan sering telpon.

Dia pun mengiyakan.

Nangisnya pun mulai sedikit berhenti. Tinggal isak-nya aja.

Setelah lumayan tenang, dia pun akhirnya berangkat kesekolah.

Pokoknya, gue janji bakalan pulang kalo waktunya udah ada dan bakalan sering komunikasi. Jaga komunikasi tepatnya. Dan adek gue pun setuju.

Gue pun hanya bisa mengantar sampai depan rumah. Dan ternyata seperti inilah rasanya perasaan orang tua yang meninggalkan anaknya pergi merantau. Gue gak bisa menjelaskan, yang pasti rasanya nyesek, sedih dan kehilangan.

Fiuh. Tulisan barusan bener bener menguras emosi gue. Air mata gak bisa gue tahan untuk nggak keluar. Dan inilah sebab mengapa harus gue tulis dirumah, ditempat gimana gue bisa ketemu adek gue dan mama gue juga.

Singkat cerita kita berangkat, gue ama temen2 gue. Dan Alhamdulillah perjalanannya cukup lancar. Dan gue sampai dengan selamat. Alhamdulillah :)

Begitulah. Momen yang gak pernah gue suka dalam kehidupan, Perpisahan.

Tapi bukan perpisahan biasa, tapi perpisahan dengan orang yang paling gue sayangi, gue cintai.

Dan darisitulah motto hidup gue berubah.

Dari “hargailah orang lain sebelum meminta dihargai” menjadi …

Keluarga yang utama

Dan motto ini yang gue tulis sewaktu ospek. So, disitulah asal muasal motto yang ditulis dipapan nama gue waktu ospek.

Oke,

Sudah selesai nih tulisan gue tentang keberangkatan dan perpisahan.

Sampai jumpa lain waktu, moga2 masih bisa nulis ya. Soalnya takut kalo lagi banyak tugas Sobat.

Peluk Cium dari mimin,

Tha tha~ :*
Continue reading →
Sunday, September 15

Kisah Pra-Kuliah

0 comments
Selamat Pagi!

Kurang lebih udah 3 minggu ini admin belum ng-post tulisan terbaru. Maklum, 3 minggu terakhir ini lagi repot repotnya acara kampus, dalam kata lain, OSPEK dan kawan kawannya. Insya Allah bakal gue ceritain gimana ceritanya dalam tulisan yang nanti cukup banyak, jadi maap yah ^^v

Tulisan terakhir judulnya Jajan Lebaran kan? Tulisan itu gue bikin waktu masih di Ponorogo. Masih dikota tercinta. Sekarang, tulisan ini gue tulis dikota perantauan, Yogyakarta a.k.a Jogja Istimewa~

Dimulai dari kisah paling pertama. Dan tulisan ini juga sebagai dedikasi dan tanda terima kasih gue kepada kakak gue yang super duper awesome, Failasufadini alias Mbak AVE. yupz, orang yang sama yang mengomentari blog gue dan tentunya tulisan didalamnya, waktu gue les di GO Ponorogo. Atas nasihat beliau-lah, keberanian itu muncul, lahir dan menarik gue untuk ‘melakukan’

Dan terapi ini pun dimulai.

Tanggal 28 Agustus 2013, gue lagi kangen kangennya ama GO. Buat yang gak tau GO itu apa, GO adalah singkatan buat Ganesha Opertion sejenis lembaga bimbingan belajar yang ada di Ponorogo. Gue pun ngajakin Billal (Billal Andre Agasi) buat nemenin gue ke GO karena dia juga alumni GO, sekelas malahan ama gue. Sebenernya banyak sih yang alumni dari GO, ada Winda (Winda Senja Wedarie) sekarang di Managemen UI, Vionita (Vionita Krisma), ada Bilal tadi yang sekarang di Akuntansi UB, ada Tiara Detryaningrum skrang di UNAIR yg biasa dipanggil mbak Ningrum, ada STW (Satria Tegar Wicaksono) sekarang di FKH IPB, ada juga Estin (Estina Intan Oktaviani) yang sekarang udah masuk STAN, dan lain lain yang gak bisa gue sebutin semuanya.

Pengen banget sebenernya kumpul bareng bareng yang saat itu masih dalam nuansa lebaran dan ‘sejarah’ ke GO, tapi sayangnya yang di Ponorogo cuman gue ama Bilal yang bisa ikutan. Yang lainnya udah pada acara kampus masing masing, apalagi yang di UI, tapi ada juga beberapa temene gue yang masih nyari Perguruan Tinggi, dan disini kami mendoakan.

Alhasil, bersama Bilal sajalah gue berangkat ke GO sehabis magrib. Berdua.

Sampai disana, bertemulah kembali kami dengan wajah wajah yang biasa kami jumpai sewaktu menuntut ilmu, menghabiskan waktu di GO. Entah mungkin belajarlah, tanya soal-lah, ngerumpi gak jelaslah, bahkan gue buka ‘stan’ tarot disana. Hoho nostalgia mabroo.

Disana gue ketemu mentor Matematika: “lupa namanya” yang Alhamdulillah sudah dikarunia putra dari pernikahnnya beliau, mentor Biologi: “mbak ID” yang mirip banget ama Melanie Rikardo, mentor Fisika: “lupa juga” yang tetep aja kalem dan halus sikapnya, dan yang tentunya dinanti nanti~ mentor Bahasa Indonesia: “ananda yang mulia, Mbak AVE yang super-duper-awesome and pecicilan hembrong cincay badai ula-ula. Gelar terpanjang diseluruh GO yang tersebar di Indonesia. Tapi disayangkan banget memang, ada mentor mentor yang cukup dekat ama kami kami ini tapi gak sempat ketemu. Yaitu mas KA, mentor Biologi yang juga kalem orangnya. Jawa banget deh pokoknya. Lalu ada juga mbak NO yang juga mentor Bahasa Indonesia yang sama hebohnya seperti saudara seperjuangannya (re: mbak AVE), dan mentor favorit gue: mbak RK. Beliau mentor Kimia dulu, tapi sekarang nggak di Indonesia lagi. Beliau sekarang ditugaskan pemerintah Indonesia ke Malaysia untuk menjadi Tenaga Pendidik disana. Setau gue, beliau disana ditugaskan menjadi guru orang orang Indonesia yang merantau kenegara tetangga gitu. Dan gue pikir ketika lebaran, beliau bakal pulang. Tapi, No. Dan gue berhenti sesaat buat nyari kata yang tepat untuk gue tulis.

I do. I miss you my big sista. Maafkan diriku lahir batin yak  :’)

Setelah semua yang kami berdua (gue and Bilal) temui disana kami mintai maaf dan kabar sekarang sekolah dimana, kami pun bingung harus kemana setelah ini. Padahal baru aja 45 menit kita disana gak asik kalo langsung pulang. Tapi, bel masuk kelas udah bunyi, alhasil pastinya ntar kita gak ada kegitan karna para mentornya kan lagi ngajar.

 Jadinya, Mbak AVE pun ngajakin ntar kita ngopi deh. Biar bisa ngobrol lebih panjang lagi dan lebih puas lagi. Tapi masih nanti jam 8 dan itu masih 1.5 jam lagi.

Akhirnya kita pun pulang dulu, gue pun nganterin dulu Bilal kerumahnya dan temenin dia buat bikin segala keperluan yang diminta saat OSPEK di Universitas Brawijaya kelak dan barang barang yang harus dibawa. Hmmhh, banyak banget bro. Yang paling banyak waktu itu sejenis tugas essay gitu deh. Dan sedangkan gue?? Pengumuman bawa apa apa aja masih sekitar 5 hari lagi. Itu pun H-1 OSPEK lho. Huaduh huaduuhh -,-

1.5 jam terlewati, waktunya pergi ngopi. Cus.

Singkat cerita kami bertiga sudah sampai diTKP ngopi. Pesanan pun ditulis dan kami pun memilih tempat duduk ternyaman yang bisa kami pilih. Suasana malam Ponorogo memang tidak se-epic malam di Jogja sih, tapi bersama orang yang kita sayangi itu member kesan yang lain.

Malam itu kami puas puaskan berbagi kisah. Tapi yang cerita cuman gue ama mbak Ave aja, Bilal masih enggan membagi kisahnya bersama kami. Kepikiran tugas ospek dia, mungkin.

Cerita dimulai dari ‘sekarang udah kuliah dimana?’ dan terus berlanjut hingga cerita cerita curhat yang dibagi Mbak Ave. Mulai dari kisah asmaranya hingga ke pekerjaan sampai murid muridnya di SMP Terpadu Ponorogo. Yupz, Beliau juga menjadi guru Bahasa Indonesia disana. Dibalik sosoknya yang heboh, ternyata beliau juga orang yang bisa jatuh cinta, yupz gue tau dari ceritanya tentang diajak lamaran saat pandangan pertama. Aneh ya, Tuhan memang benar benar Maha Penuh Kejutan dalam men-design hidup ini.

Dan sekarang ganti gue yang curhat. Tentang gimana perasaan gue yang dulunya takut banget berurusan dengan Hukum malah masuk dijurusan Hukum yang cukup dipandang  tinggi di Indonesia.

Gue pun menceritakan betapa gue nggak pede dengan dimana gue akan menempuh ilmu selanjutnya. Antara rasa tertarik untuk menggeluti itu sempat tertutupi rasa takut yang bingung gue untuk mendefinisikannya. Ditambah lagi sifat gue yang “diam, tapi gak mau kalah” yang menjadikan gue stress yang arahnya kedalam. Maksud stress kearah kedalam ini, gue tidak ditandai dengan sifat output gue yang berbeda. Tapi ditandai dengan kegelisahan yang gak jelas. Biasanya kalo kita lihat orang stress kan kayak orang gila yang bingung dan mengekspresikannya secara meluap luap kan? Nah kalo gue, lebih cenderung diam, gue simpan sendiri, menjadi beban dikepala gue dan imbas yang paling parah, gue jatuh sakit.

Gue pun juga bingung belum punya kenalan hingga H-4 an gathering. Sifat gue yang cukup sulit untuk “tidak peduli” membuat gue jadi terlalu lama meninmbang nimbang. Dan pertimbangan yang terlalu lama dan berbelit belit inilah yang bikin gue stress. Antara “yes! I’ll join the gathering” or “no, maybe next time”.

Dan disinilah awal dimana gue hutang budi ke mbak Ave. Adalah benar jikalau beliau orang yang berbeda 180 derajat daripada gue. Tegas, cuek, blak blak-an, hlos (Bahasa Jawa, yang makna Indonesianya: berani berbuat, pikirkan resiko nanti). Dan memang inilah yang gue butuhkan, a big wave of shock-therapy. Gue butuh “tamparan” yang bikin gue sadar gue harus bertindak. Sebenernya gue udah coba cerita ke Bilal sewaktu gue temenin dia bikin peralatan ospek, tapi gue belum dapet motivasi dari solusi yang udah Bilal beri kegue.

Dan Mbak Ave, mampu meyakinkan gue. Adalah benar, gue harus segera bertindak. Dan tindakan itu bernada, “Yes!”

Dan dari situlah, pilihan gue berubah, dan jalan didepan gue berubah. Berubah dari proyeksi gue yang berkabut abu abu gelap menjadi terang seperti cahaya hidayah.

Thanks a lot Big Sista, I owe you my life, one.

Dari kisah gue semalam, gue dapet penerangan.

Bahwa sesungguhnya, masalah itu memang benar benar datang bersama penyelesaiannya. Bahkan, sebelum gue cerita ke Bilal ke Mbak Ave gue udah tahu mana yang seharusnya gue pilih untuk dilakukan. Bukan di APAKAH SOLUSINYA.

Bagi gue, ketika meminta nasehat, petunjuk pada orang lain yang sulit bukanlah menerima masukan, saran, atau nasehatnya. Yang lebih sulit adalah bagaimana gue bisa yakin dengan saran itu.

Dan karena cita cita gue adalah sebagai konsultan gue tahu, bukanlah hanya kemampuan memberikan solusi saja yang harus kita ini miliki, tetapi kemampuan yang lebih kompleks-lah yang juga wajib kita miliki. Kemampuan bagaimana MEYAKINKAN orang lain.

Bukan dengan cara memaksa, bukaan. Tapi bagaimana kita mampu memberikan proyeksi positif akan pilihan yang kita sarankan dan konsekuensi negative jika tidak lakukan. Lalu juga memberikan semangat dan keberanian serta tempat untuk kita “bergantung”. Sesame manusia memang bisa menjadi tempat bergantung, tapi dampaknya ketika manusia itu tidak ada secara logika pasti kita akan goyah lagi.

Lalu apaa atau siapa tempat kita bergantung yang kekal??

Semua tahu, Tuhan lah yang Maha Kekal dan Maha Abadi. Dan Tuhan jugalah seharusnya tempat kita bergantung.

Anjurannya adalah segera lakukan! Hitung semua positif dan negatifnya, jangan munafik bahwa perhitungan dan perencanaan itu juga sangat penting. Dan setelah semua itu terpenuhi, lakukanlah dengan me-pasrahkan segalanya pada Tuhan, Allah SWT.

Dan semoga, dalam pilihan yang telah kita tentukan sendiri dan kita pasrahkan pada Tuhan, walaupun kita salah dalam pilihan itu kita akan damai dan mampu segera diperbaiki. Karena Tuhan, Maha Memperbaiki segala yang tidak mampu manusia perbaiki. :)
Continue reading →