Tuesday, December 3

Case Closed

0 comments
Banyak sekali hal yang gue pikirin selama gue gak nulis. Dan pikiran itu jadi sebuah kebingungan baru, “gimana nulisnya ya?” dan hingga akhirnya gue lupa … perlahan lahan. Tapi disini sekarang gue ingin banget buat ngeluarin semuanya dalam tulisan. Yup. Metode menulis gue memang cukup tidak biasa atau mungkin terlalu biasa karena isinya sebagian besar adalah curhatan curhatan.

Kita mulai yah…

Dimulai dengan kembalinya gue ke Jogja setelah gue menghabiskan waktu seminggu gue waktu liburan dulu di Ponorogo tercinta. Gue melakukan perjalanan Ponorogo – Jogja untuk kesekian kalinya. Ke 5 kalo gak salah, tapi lupa pastinya. Dan Alhamdulillah touchdown dengan penuh rasa suka cita dan capek.

Waktu di Ponorogo menjelang keberangkatan ke Jogja gue sedang dalam keadaan galau. Galau karena ada beberapa “tanggungan” yang belum pernah gue sentuh apalagi untuk diselesaikan. Salah satunya yang paling menonjol adalah karena gue bolos buat latihan paduan suara selama 3 hari dimana 3 hari latihan itu ada pada saat seminggu gue libur dan berada di Ponorogo. Gue tipikal orang yang gampang banget merasa bersalah akan komitmen yang gue buat sendiri. Dan itu bikin gue stress seperti halnya seorang perfeksionis yang sangat ambisius NAMUN belum memulai mengerjakan tugasnya dengan deadline. WOW sensasinya. Tapi justru inilah yang menjadi tenaga bagi gue untuk segera “menebus” ketertinggalan gue dan “membayar” komitmen yang sudah gue buat. Ikut di Paduan Suara “Miracle Voice” adalah impian karir gue. Dan apakah gue harus gak bersyukur seperti dikisah tulisan gue AND NOW JUST LOOK AT YOU yang dulu? Definitely, NO!

Dan akhirnya gue pun datang pada latihan perdana kedua setelah 2 minggu vacuum latihan. Minggu pertama karena ada jadwal UTS yang menduduki prioritas pertama dan minggu kedua adalah karena gue ada dikampung halaman tercinta Ponorogo dan terpisah jarang yang cukup jauh yang sangat tidak memungkinkan untuk datang latihan.

Gue pun meminta maaf. Ya, lebih baik meminta maaf, jujur sekarang dari pada jujur dan minta maaf nanti karena toh endingnya juga minta maaf juga. Gue minta maaf untuk bolosnya gue kagak latihan Padusa karena ada dikampung halaman. Dan benar, lebih baik ngomong sekarang karena mereka lebih bersedia menerima daripada dibohongi dengan komitmen palsu.

Kisah pertama, terselesaikan.

Tanggung kedua gue setelah bolos padusa adalah belum mulainya project film gue (tugas bahasa Inggris – red) yang gue jadi penulis seluruh ceritanya tapi belum gue laporkan kepara pemainnya. Dan hari ketemu untuk membahas film pun datang. Dan yang lebih “special” lagi adalah tepatnya prediksi gue kalau naskah film yang totalnya ada 10 lembar, tidak jadi dipakai. Iya, nggak jadi. Pemakaian ide gue hanya sebatas 30% dari 102% tenaga yang gue kerahkan untuk ngerjain ini naskah di PONOROGO. Bayangin tuh, mana ada orang yang dalam liburannya masih mau dengan sukarela ngerjain naskah film sendiri dan ketika gue minta bantuan ide, yaa cuman standart standart aja.

Tapi itu bukan masalah bagi gue yang udah siap dengan hal itu karena emang materi naskah gue lumayan berat dengan kru tim dalam pembuatan film yang masih biasa aja bahkan levelnya masih bisa dibilang beginner karena semuanya nggak punya basic diperfilman. Yang paling penting bagi gue adalah ide dari film yang akan kami buat ini adalah hasil kesepakatan dan muncul dari pemikiran bersama. Anggap aja naskah yang gue bikin kemaren adalah stimulasi agar semuanya bisa mencurahkan ide idenya disana.

Yaaa tapi yang namanya manusia, gue pasti agak sedikit kecewa lah. Susah susah bikin, sendiri pula, eh suruh ngganti semuanya. Tapi Alhamdulillah ada hikmah lain dari sana. Tuhan memang terlihat sekali sedang menghibur hambanya ini :)

Dan setelah ide terkumpul menjadi kristal naskah film, pembuatan pun dimulai dan bahkan masih berlangsung hingga minggu ini. Satu lagi kasus, terselesaikan.

Kasus ketiga ini lumayan menyita pikiran gue. Karena rasa bersalah itu besar banget. Gue seperti halnya pemberi harapan palsu.

Ceritanya ketika gue dikenalkan dengan satu organisasi eksternal yang ada di Jogja. Bukan FFI lho tapi, beda lagi. Nah gue awalnya diajakin ama senior gue dan gue memang menaruh minat disana. Gue pun mencoba ikut dan OK, gue lumayan cocok. Masalahnya adalah gue gak bisa untuk komitmen disini secara full tapi senior gue berusaha membujuk gue. “gapapa dimas. Nanti atur aja waktu, pasti bisa” bilangnya. Dan gue pun mengiyakan. Gue berusaha lagi untuk ikut disana.

Tapi hasilnya, bener banget kalo gak maksimal. Gak maksimal.

Dan hal inilah yang bikin gue merasa sungkan. Gue putuskan deh untuk ngobrol dan berusaha menjelaskan kalau ada karir lain yang lebih menarik dan lebih gue proritaskan. Kuliah, menjadi bagian yang sangat gue prioritaskan.

Bagi gue, mahasiswa itu adalah mahasiswa yang seharusnya tidak betah terus terusan menjadi mahasiswa. Mahasiswa itu harus sesegera mungkin lulus dengan cemerlang dan sukses. Yang dalam sukses itu, kita kembali melakukan kegiatan yang cakupannya lebih luas dan berpengaruh dibandingkan dengan saat kita kuliah. Sesegera mungkin kita menjadi apa yang kita cita citakan dalam karir. Salah satunya adalah mencari uang, memang. Tapi apakah itu salah? Masak sih kita mau terus terusan minta uang dari orang tua kita? Yaa nggak laah..

Mencari uang itu hanya salah satunya saja namun yang juga penting adalah seberapa besarkah kita mempengaruhi orang lain dalam karir yang kita pilih tersebut.

Kita bisa sesegera mungkin menjadi dokter yang baik dan professional dalam menangani pasiennya. Kita bisa menjadi akuntan yang mampu mengelola uang dengan baik. Memegang jabatan yang cukup tinggi dalam perusahaan. Mengubah situasi politik dan nuansa hukum yang sedang krisis kepercayaan. Menjadi guru yang mendidik muridnya sebaik mungkin. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan. Dan juga, kita bisa menjadi bukti dari yang selalu kita tuntutkan kepada orang lain.

Gue pun berniatan untuk bertemu dan ngobrol secara sangat terbuka dan mohon banget untuk mengerti kondisi gue. Dan Tuhan langsung lah yang mempertemukan kami. Kami bertemu dalam kondisi yang gak pernah gue bayangkan bakal ketemu, lalu disanalah gue menjelaskan. Alhamdulillah beliau menerimanya. Beliau pun juga merasa lebih baik jika ada hal yang mengganjal lalu diceritakan secara baik baik juga.
3 masalah paling besar, terlewati dengan penuh bantuan dari Tuhan, Allah SWT :)

Dan hari ini. Semalam, lebih tepatnya. Gue bangun dengan segala rindu.

Rindu.

Yang bisa juga disebut kangen.

Semalem, gue mimpi ketemu kakak gue yang membina dan ngebantu gue yang akhirnya seperti sekarang ini. Beliau pernah gue tulis dalam beberapa tulisan gue, mbak AVE mentor Bahasa Indonesia dari Ganesha Operation Ponorogo dan kakak bagi gue.

Ceritanya gue ada disuatu tempat yang berlorong gitu. Berlorong mirip banget seperti di GO Ponorogo. Ceritanya gue ada disalah satu ruang yang ada dilorong itu. Dari kejauhan, jelas banget suara nada Sopran mbak Ave teriak teriak menuju ujung lorong yang lain. Dan disaat itu gue sadar kalo gue lagi mimpi.

Mbak Ave pun berjalan keujung yang lain dan semakin mendekat keruang tempat gue berada. Dan semakin gue sadar kalo gue mimpi disini. Gue pun berpikir, kalau bukan dimimpi ini maka kapan lagi gue bakal ketemu orang paling freak di GO ini. Gue pun berinisiatif mengagetkan dia dari balik pintu.

And, that’s really her. That’s really you, mbak AVE. As clear as crystal clear.

Kami berdua berteriak. Gue teriak buat ngagetin beliau dan beliau teriak karena kaget gue kagetin #nahlho

Dan refleks, dalam mimpi gue gue peluk mbak Ave. Sesayang dan sekangen seorang adik yang meluk kakaknya. Gue tau banget perasaan ini, karena gue sendiri juga merasakan hal yang sama ketika harus pisah pertama kalinya sama adek gue yang juga pernah gue tulis sebelumnya.

Gue lupa gue ngomong apa aja ke dia.

Saking bahagianya gue :”)

Mungkin kalau mbak Ave baca tulisan aku ini, cuman pengen bilang kalo …

Adekmu ini kangen dirimu :”) hehehe. Moga moga liburan nanti bisa buruan ketemu ya. Sama temen temen 3 IPA R 5. Mereka adalah teman satu kelas gue di GO.

Udah ah! Jadi berair gini mata gue… :’)

Makasih banget ya Wahai Allah, Tuhanku yang Maha Penyayang. Karena udah kasih kesempatan buat ketemu kakak gue, walaupun hanya dalam mimpi.

Makasih banyak Tuhan :’)



فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? 

Surah Ar Rahman
Continue reading →
Thursday, November 21

Mengingat Kembali: Ponorogo

0 comments
Baru pagi ini gue bisa bangun pagi dan keluar rumah sejak Senin lalu libur karena jadwal UTS udah kelar. Mumpung adek gue belum berangkat sekolah, gue pun inisiatif yang nganter dia kesekolah. Sementara dia siap siap gue mencoba keluar rumah untuk manasin motor Vario. Dan hawa dingin itu menebus pori pori kulit.

Seketika, hawa dingin ini mirip banget sama hawa dingin kenangan gue di Ponorogo, kenangan itu terputar kembali dipikiran gue. Keinget banget sewaktu gue masih sekolah di SMA dan setiap pagi nganter adek gue ke SD Muhammadiyah. Keinget banget sewaktu gue dan temen temen YESC persiapan berangkat ke Sarangan sebagai senior dalam acara English Tour. Waktu itu ada Astana, Juwito, Laksa, Siti, Cicin dan Evan Indi. Dari inti YESC yang gak ikut waktu itu cuman Satria TW karena udah ada di IPB.

Dan juga gak kalah jelas yaitu kenangan gue bareng sama Forum for Indonesia Ponorogo (@FFIDPonorogo) dalam event Baksos Road to Sukorejo. Ditempat gue inilah yang menjadi basecamp dari mulai persiapan sampai hari H event berlangsung. Jelas banget ingatan gue dimana semua volunteer FFI ini berkumpul diruang tamu dan merapatkan segala konsep. Jelas banget ingatan gue ketika semuanya sibuk membuat “Papan Mimpi”. Jelas banget ingatan gue ketika para adek adek volunteer yang baru ikut di FFI Ponorogo untuk yang pertama kalinya dan mereka juga antusias untuk event ini dan mereka belajar sulap ke Astana. Jelas banget ingatan gue ketika semua ditarik patungan untuk membeli keperluan yang mendadak. Jelas banget ingatan gue banyaknya motor yang parkir sudut halaman rumah. Jelas banget ingatan gue ketika kita memindahkan barang barang seperti soundsystem, Papan Mimpi, dan segala keperluan lain kedalam mobil si Laksa. Jelas banget ingatan gue sewaktu ada Mas Najih dari Forum for Indonesia Pusat yang bersedia hadir dan mengikuti perjalanan kita untuk Baksos. Beliau orang Ponorogo asli yang juga kebetulan pulang ke Ponorogo dan luang untuk ikut acara baksos ini dan menjadi Executive Board di Forum for Indonesia Pusat dibidang External Affairs. Jelas banget ingatan gue ketika kami menundukan kepala berdoa bersama, melakukan tos dan jargon FFI Ponorogo (FFI~, FOR ME, FOR YOU, FOR INDONESIA !), dan foto bersama sebelum berangkat menunaikan ibadah. Dan disini juga tempat kami beristirahat sepulang dari Sukorejo yang ditambah epic lagi karena waktu itu ujan. Dan gue bantu ortu buat jualin Tahu Ikan dan kawan kawannya yang asli dari Pacitan. Buka stan gitu ceritanya. Hehehe. Memorable banget pokoknya.

Diperjalanan mengantar adek gue kesekolah pun hawa dinginnya masih kerasa banget, buat gue, soalnya gue gak kuat dingin dan lebih betah panas dan hot. Itulah mengapa gue suka cewek seksi yang hot #hlah

Gue pun memutuskan untuk nggak langsung pulang dulu. Gue pun memilih untuk mengelilingi Ponorogo dan mengingat ingat setiap kejadian yang pernah gue lakukan ditempat itu. Asik, seneng, galau campur jadi satu. Gue pun melewati setiap sekolah gue dari SD sampai SMA. Tempat dulu dimana gue kasih kado 3th Anniversary gue sama Risti, tempat yang jadi rute perjalanan setiap kegiatan FFI sejak gue awal masuk sampai akhirnya jadi seperti sekarang. Tempat nonton Kirab Pusaka bareng sobat sobat gue SMA. Rute yang gue laluin ketika ikut jadi pasukan Kirab Pramuka dan jadi panitia untuk bombing adek adek kelas gue. Lewat GO (Ganesha Operation) tempat gue les untuk persiapan UN dan SBMPTN. Galau abis tapi asik. Kalo kalian pengen galau yaa begitu tadi salah satu tips dari gue.

Dan memang beginilah gue. Melankolis- Sensitif. Karena kalo nggak gitu, gak bakal deh bakal muncul tulisan ini.

Gue yakin, banyak dari kalian yang akan menganggap tulisan ini sampah. Ya memang begitu, sampah hanya bisa terlihat bermanfaat tergantung siapakah yang melihat sampah itu. Dan gue tidak memaksa agar setiap orang memiliki sikap itu. Sikap itu dibentuk dalam waktu yang tidak sebentar dan menjadi “identitas”, nggak bisa dibohongi dan nggak bisa dipaksa. Sikap ini tumbuh seperti halnya tumbuhan yang biasa kita lihat. Dari sebuah biji niat yang nanti akan tumbuh menjadi tunas semangat–keyakinan dan akan menjadi tanaman yang berupa sikap itu tadi.

Untuk yang pengen nulis tapi gak mau memulai, gue kasih tau sesuatu.

Bukan masalah ketika kamu itu menulis dan tidak ada yang membacanya. Bukan masalah ketika kamu menulis dan orang orang mencela tulisan kamu. Menulis adalah proses dan akan terus menjadi proses. Dimana setiap kita berusaha lebih baik dalam proses, maka proses itu akan terus bergerak kearah yang lebih baik juga.

Yang paling penting dalam menulis menurut gue adalah,

Apa yang pengen banget kamu tulis, sudah kamu tulis. Menulislah karena ingin menulis dan segera tulislah jika memang ingin kamu tulis. Bagaimana bisa kalian disebut menulis kalo tidak ada tulisannya? Aneh kan?

Dan nggak masalah bagi gue jika banyak orang yang gak suka menulis, itu wajar sama seperti halnya selera yang berbeda beda.

Hanya saja, bagi sebagian orang, menulis adalah terapi dengan dirinya sendiri. Terapi dengan dirinya sendiri yang menjadikannya lebih tenang, damai, dan nyaman menjadi dirinya sendiri.

Dan jika anda menemukan kesampahan dalam tulisan saya ini dan ingin hati dari anda untuk menghina saya, mohon jangan dilakukan. Namun, jika keinginan anda agar memperbaiki agar tulisan saya ini lebih baik untuk kedepannya, saya akan senang sekali mendapat respon dari anda.

*ini kenapa ganti pakek “saya” ya? Kebawa serius jadinya -,-“

OK deh. Yang pengen gue tulis sudah tertuliskan. Kini saatnya pamit.

Salam tulis menulis sob :)
Continue reading →
Saturday, November 16

AND NOW JUST LOOK AT YOU ! (REFLEKSI)

0 comments
Barusan saja. sekitar 30 detik yang lalu gue barusan saja buka facebook dan twitter yang dipenuhi dengan status kemalasan sobat sobat gue yang sekarang udah di Perguruan Tinggi. Kita ulas yuk, sesungguhnya hal kayak gitu bener gak sih? if you ask me, that’s totally disgusted.

Ulasan ini dimulai dengan kejadian yang terjadi dan gue temukan barusan. Dimana gue muak dengan segala keluh kesah dan segala pelanggaran yang dilakukan atas dasar malas dan merugikan diri sendiri dan orang tua. Ini yang paling penting, kita mengecewakan orang tua kita.

Kita mulai dengan perjalanan kebelakang.

Dimulai dari saat kita harus menentukan antara melanjutkan kuliah atau tidak. Lalu muncul pertanyaan jika akan kuliah akan masuk kemana dan jurusan apa. Dan jika tidak kuliah, karir apakah yang akan kita ambil setelah lulus SMA. Dan mayoritas dari kita memilih untuk masuk kuliah dan akan berhadapan dengan pertanyaan pertama “ mau kuliah dimanakah aku nanti?”

Dalam menentukan kuliah kita bisa dapatkan pertimbangan dari banyak sumber. Sumber yang dominan adalah dari diri sendiri dan orang tua. Dan dibawah itu, ada salah dua sumber yang sering sekali membuat diantara dari kita menyesal yaitu dikarenakan faktor gengsi dan ikutan ikutan jaman/ teman.

Nah yang paling menarik perhatian adalah proses bagaimana kita menentukan pilihan perguruan tinggi kita. Disanalah yang membuat kita galau, disanalah kita berusaha menyusun strategi, disanalah kita berusaha mengkompromikan segala faktor, dan yang paling berat mengalahkan ego kita.

Banyak sekali tipe tipe manusia dalam menentukan pilihan untuk masuk dalam perguruan tinggi.

Tipe pertama, dimana mereka menentukan pilihan berdasarkan keinginan diri sendiri. Atas dasar “saya pengen banget masuk PT A” saja itu sudah cukup. Dan ini sendiri juga terjadi pada gue. dimana saat itu gue masih sangat tertutup dengan opsi lain selain Kedokteran dan Kedokteran yang bukan Swasta. Tipe ini berusaha dengan keras memenuhi apa yang menjadi keinginan, impian, dan cita cita mereka. Dan tipe inilah yang sangat banyak dan mendominasi. Kenapa? Karena ini adalah hakikat manusia, dimana selalu memiliki keinginan.

Tipe ini pun dibagi lagi menjadi 2.

Yang pertama adalah sub-tipe yang mengejar keinginan mereka dengan meningkatkan usaha kerja mereka berlipat lipat.

Dan yang kedua adalah sub-tipe yang pasrah dengan keinginan mereka dan hanya berusaha sebisa mereka tanpa melakukan yang terbaik dan ditutup dengan kepasrahan. Kasarnya, mereka hanya sebatas INGIN dan BERMALAS MALASAN. Tipe ini yang menjangkiti gue. Setelah gue punya segala plan yang seakan akan tak mungkin gagal, tapi gue hanya melakukan “sebisa gue” bukan yang “terbaik yang bisa gue lakukan”. Dan yang terjadi dengan gue sekarang, mimpi untuk menjadi dokter harus gue hapus. Dan itu gapapa menurut gue.

Tipe kedua adalah dimana mereka yang mengikuti kehendak orang tua. Tipe ini adalah  tipe yang gue tolak dulu. Ketika pengen banget masuk kedokteran, gue mengabaikan masukan dari orang tua gue. Namun pada akhirnya, gue masuk di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang ada di Jogja adalah saran dari orang tua yang gue pengen dan gue nyaman disitu.

Tipe ini dibagi lagi menjadi 2 sub-tipe yang mirip dengan tipe pertama.

 Sub-tipe pertama adalah orang yang memiliki keinginan dalam pemilihan jurusan namun keinginan mengikuti kehendak orang tua itu lebih besar dari kehendaknya sendiri (ego-nya). Alhasil, dia mengesampingkan keinginannya sendiri dan memilih mengikuti saran dari orang tuanya. Orang ini memiliki tingkat  kepatuhan orang tua yang sangat tinggi.

 Sub-tipe kedua ini yang sedikit menyakitkan. Jika sub-tipe pertama mengikuti kehendak orang tua karena keinginannya sendiri atau bisa dikatakan “memang dari awal dia ingin mengikuti kehendak orang tuanya saja” berbeda dengan sub-tipe kedua ini karena mengikuti keinginan orang tua karena paksaan. Doktrin dari orang tua yang biasa dibarengi dengan ancaman yangbersifat psikologis yang menimbulkan rasa bersalah dan bisa saja jika membangkang dari kehendak orang tua tadi, maka jalan yang kita pilih sendiri akan menjadi penuh ganjalan karena tidak barokah. Orang yang terjerat sub-tipe ini terjerat dalam Efek Rantai yang menyakitkan dimana semua jalan yang ia pilih seperti tidak berpihak padanya. Dan ini memang ada dan masih menjadi realita disekitar kita.

Tipe ketiga ini memang terdengar aneh dan seperti tidak mungkin, tapi terjadi. Dimana mereka menentukan jurusan dikarenakan GENGSI saja dan IKUT IKUTAN TEMAN padahal jurusan yang diambil saat itu tidak sesuai dengan kemampuannya, tidak sesuai dengan bakatnya. Bisa dibilang orang ini menyia-nyiakan potensinya yang masih bisa digali dan dikembangkan. Salah satu penyebab dari hal ini adalah tidak ada bayangan ingin melanjutkan kemana pendidikan setelah lulus nanti. Dia tidak tahu apa yang dia inginkan.

Tipe keempat. Tipe ini memiliki sifat oportunitis dan visioner. Dimana tipe ini mempertimbangakan langsung tentang kaitannya dengan dunia kerja. Mereka mengkesampingkan keinginan mereka yang paling dalam dan menjadikan pilihan ini sebagai keinginan mereka yang baru. Mereka tidak terpaku pada pendapat orang lain, tidak terpaku pada gengsi antara PTN atau PTS, mereka tidak terpaku pada kesulitan akan bidang yang meraka hadapi kelak. Apa yang menjadi fokus mereka adalah “sekolah agar bisa segera dapat pekerjaan yang cukup mapan”. Dan mereka ini justru lebih mudah membuat orang tua mereka memahami pilihan yang mereka pilih. Mereka juga tidak ingin merepotkan orang tua dengan lama lama kuliah, mereka dengan tipe ini adalah mereka yang ingin sekali segera bekerja dan mengembangkan potensi mereka untuk mencari uang. Karena tidak dapat dipungkiri, UANG ITU PENTING walaupun BUKAN SEGALANYA.

Secara garis besar mungkin itulah tipe tipe dalam memilih jurusan yang pernah gue temui.

Nah. Sekarang masuk kekasus yang mengganggu gue banget.

Bagaimana bisa kita yang sudah menentukan pilihan jurusan kita dengan jalan yang kita pilih sendiri (tipe pertama) dan Tuhan menyayangi kita dengan diterimanya kita pada jurusan yang kita pilih sendiri juga, dan bagaimana bisa kita kembali mengingkari segala pemberian Tuhan akan segala permohonan yang keluar sendiri dari mulut kita dengan cara bermalas malasan?

Padahal kalau kita mau kembali dan mengingat ingat betapa kita sangat mengagung agungkan jurusan/ pilihan yang ingin kita tuju, betapa serius dan khusuk kita berdoa agar dikabulkannya permintaan kita yang sederhana bagi Tuhan, bahkan apakah kita lupa jikalau kita pernah berjanji akan berubah dari SMA yang malas menjadi lebih giat lagi menuntut ilmu dan menebarkan andai andai agar kita bertemu dalam “gerbang kesuksesan” bersama?

Do we still remember that? Do you remember that you ever said that sh*t things?

AND NOW JUST LOOK AT YOU !

Kita kembali tidak mensyukuri yang Tuhan beri. Kita kembali lupa, kita ingkar dan mengecilkan peran Tuhan setelah semua yang kita inginkan dipenuhi oleh-Nya.

Dan apakah kita harus menunggu hingga datang saat dimana Dia muak melihat hambanya yang kufur akan nikmat-Nya dan mulai mencabut nikmat itu?

Dan yang kita bisa lakukan hanya menyesal? Kita kembali membuang impian untuk “bertemu digerbang kesuksesan”?

Dan tidakkah kita ingat bahwa ketika Tuhan mulai mencabut nikmat-Nya maka tidak ada segala sesuatu apapun yang bisa menghalangi-Nya. Dan kita baru tersadar lalu berdoa meminta segalanya dikembalikan kepada kita padahal yang kita miliki waktu itu adalah “titipan”? dan ketika benar nikmat itu dikembalikan kita akan kembali kufur?

Kita terus saja mencerca Tuhan dengan segala hal yang kita terima sebagai TIDAK ADIL. PADAHAL,

SUDAHKAH KITA BERLAKU ADIL PADA APA YANG TUHAN BERI PADA KITA? SUDAHKAH KITA ADIL DALAM MENSYUKURI YANG TUHAN BERI PADA KITA?

Memang, Tuhan senang ketika melihat hamba hamba-Nya berdoa memohon kepada-Nya, namun Tuhan itu lebih tidak suka pada orang yang kufur akan nikmat-Nya.

Dan ketika kita berdalih bahwa semangat itu mulai turun, gairah mulai hilang. Ingatlah yang memilih jalan itu adalah diri kita sendiri dan ingatlah betapa kita keras kepala sekali ketika kita dinasehati tentang pertimbangan dalam memilih.

Dan sekarang, kita hanya bermalas malasan? Sadar gak, betapa tidak sopannya tindakan ini? Betapa kita ini penghianat. Penghianat Tuhan.

Dan ketika kita berdalih dan beralasan jika doa kita dikabulkan agar masuk diperguruan yang kita idamkan maka kita berjanji akan berubah dan tidak akan mengkufuri nikmat yang Tuhan berikan. Tapi kita diberikan nikmat yang nilainya KW 2 menurut kita, padahal sempurna menurut Tuhan lalu mulai menyalahkan Tuhan akibat tindakan buruk yang kita lakukan sebagai kambing hitam dari tidak dikabulkannya doa kita?

 Tapi, tahukah kamu,

JIKALAU TUHAN ITU MENGERTI HAMBA-Nya LEBIH DARI HAMBANYA MENGERTI DIRINYA SENDIRI.

Bisa gak kalian melihat hal itu sebagai TEST yang diberikan oleh TUHAN untuk MENGUJI SEBERAPA KAH KITA MAMPU MENSYUKURI NIKMAY YANG TUHAN BERIKAN?

ITU HANYA TESTER BUNG!! DAN JIKA KITA LULUS DISANA, MAKA SEGALA YANG KEDEPANNYA YANG KITA INGINKAN MENJADI MUNGKIN !!

Kita hanya perlu bersabar, ber- positive thinking pada Tuhan, berjalan saja melalui ini semua.

Tuhan itu sungguh tahu dan mengerti sekali apa yang kita inginkan, hanya saja Tuhan itu perlu bukti dari yang kita ucapkan dan kita sebagai “pemohon” harus bisa menepati janji itu.

Jika kita mampu mensyukuri hal yang sebenarnya tidak kita inginkan, sesungguhnya kita sudah menjadi lebih pantas akan hal yang kita inginkan, diwaktu yang sama.

Itu yang ingin Tuhan lihat dari kita.

Mau contoh?

Bayangkan aja kita ini adalah seorang pengusaha besar. Lalu ada seseorang yang melamar pekerjaan dengan datang berpakaian lusuh dan mengaku memiliki intelegensia tinggi memohon mendapat jabatan yang baik dan bersedia mendapat tanggung jawab lebih besar dan gaji yang lebih besar pula. Padahal kita tidak tahu siapa dia. Apa mungkin kita akan langsung memberikan tanggung jawab yang dia minta? Apa mungkin kita akan langsung percaya? Pastinya tidak. Dan kita akan memulai dengan memberinya tugas yang yang sesuai dengan dirinya, bahkan kita akan memintanya bertugas sebagai office boy atau apapun yang sesuai dengannya dan menunggu pembuktian darinya. Dan pasti begitu.

Nah itu tadi hal yang mengganjal banget buat gue. Sekalian menjadi refleksi bagi kita yang sudah masuk kuliah atau bahkan bisa juga menjadi pertimbangan untuk adek adek yang ingin masuk kuliah dan menghadapi problema yang sama.

Bahasan kali ini berat yah?? Hehehe mumpung lagi pengen serius gue.

Semoga cerita dan argument tadi bisa menjadi refleksi dan pengingat ya bagi kita. Aminn
Sampai jumpa, salam tulis~
Continue reading →
Wednesday, November 13

UTS? SERUU !!

0 comments
Sore sahabat tulis~ Apa kabarnya? Tetap SUPER kan?? Hassekk

Setelah kangen banget untuk kesekian kalinya nulis, gue mau cerita nih.

Di kampus gue Universitas Islam Indonesia lagi mengadakan minggu minggu UTS (Ujian Tengah Semester). Yup, namanya masih sama dengan waktu gue SMA. Mulainya baru selasa kemaren dan jika dihitung hingga hari ini berarti sudah 3 hari berjalan.

Walaupun satu universitas ternyata jadwalnya tidak semuanya sama. Di Fakultas Hukum, itu dimulai dari hari selasa kemaren itu dan berurutan sampai hari selasa minggu depan untuk tahun ajaran baru serta sampai hari kamis untuk para tahun ajaran lama. Berbeda dengan temen gue dari Fakultas Teknik Sosial dan Psikologi, jadwalnya nggak berurutan kayak punya gue. Bahkan UTSnya baru selesai sabtu minggu depan sedangkan gue selasa aja udah kelar dan libur bro.. (katanya sih) How lucky I’m !

Untuk hari pertama UTS yaitu selasa kemaren gue bertemu sama mata pelajaran Antropologi Hukum dan Pendidikan Pancasila. Untuk Antropologi karena bahan belajarnya OK jadi Alhamdulillah bisa dilalui dengan cukup lancar.

Hari kedua (kemaren) ketemu ama Pengantar Ilmu Hukum dan Bahasa Inggris. Nah disini gue apes. Pas waktu ini gue kehilangan jadwal gue dan untuk jadwal rabu ini gue cuman sekedar tanya temen gue. Sependengaran gue dia bilang kalo PIH (Pengantar Ilmu Hukum) itu jadwal terakhir, yaitu jam setengah 2 siang dan Bahasa Inggris itu jam setengah 8 pagi. Jadi malamnya gue cuman belajar setengah untuk PIH dan segera tidur karena capek banget. Maklum belum terbiasa suasana UTS. Dan ternyata pagi harinya jam 6 gue tanya lagi ama temen gue. Eh, jadwal pertama tu malah yang PIH itu! Wasalaam. Gue pun jadi buru buru banget buat mandi dan segera berangkat. Dan sampai dikampus cuman bisa baca ulang selama 20 menit dan gue pun masuk kelas. Dan…. Gue keluar ruangan dengan bersimpah darah. Aaargh my bad ! -,-

Hari ketiga alias hari ini, bertemu dengan mata kuliah Pengantar Hukum Islam. Dosennya, behhh mantabh! Gue lebih sering ngantuk kalo diajar beliau soalnya suaranya lumayan pelan walaupun bergelar Prof. Tapi yang paling gue bingung, kok masih ada juga bahan dari kuliah beliau yang bisa gue catat padahal gue lebih sering ngantuknya lho.. Dan untuk menyambut mata kuliah ini, gue belajar kelompok sama tim Constitutum gue. Begitu juga untuk mata kuliah hari pertama, Antropologi kita pada kompak untuk belajar bareng dirumah Irfan Rosyadi. Thanks ya Ros buat minjemin rumahnya buat markas belajar :D

 Dan membuahkan hasil yang tidak mengecewakan untuk hari ini :)

Dan untuk hari keempat (besok) gue ama temen temen FH tahun ajaran baru bakal ketemu ama mapel Pendidikan Agama yang diajar oleh dosen yang sama bikin ngantuknya karena suaranya pelan. Mungkin karena umur beliau yang udah sepuh. Dan ama mata kuliah Studi Kepemimpinan Islam yang walaupun gue sering masuk kagak ada kegiatan mencatatnya. Jadi bingung deh apa yang dipelajari nanti. Maka dari itu, nanti temen temen Constitutum : ada gue, Dio, Yasta, Irfan Rosyadi, Irfan Fahrozi, Rafa, Rifa (mereka bukan kembar lho. Sumpah), Aldi, Mikha, Aziz si Doel, Suryo, Marisun fahmi, Ewa. Dan ada juga temen temen lain yaitu Acil dan manusia yang dianggap paling benar didunia (Syeh) Agus (Paulus) Maulidi.

Wah, kalo udah kumpul gini pasti pada ngakak semuanya deh. Belajar jadi seruu gan!!

Semoga, nanti juga sama serunya ato bahkan tambah seru. Amiinn

Nah, segitu dulu deh rumpi rumpi kita dalam tulisan gue kali ini. Sampai bertemu  lagi dalam tulisan yang lain.

Ciao Amigos~ *naik delman*
Continue reading →
Sunday, November 10
0 comments
11 November 2013

H-1 dari Ujian Tengah Semester di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Gue udah persiapan dari kemarin sih sebenernya. Tapi gataw kenapa rasanya masih kurang aja materi yang gue serap. Dan gak pede banget buat hadapin UTS ini.

Ditambah lagi rusaknya memory eksternal hape gue. Padahal foto foto yang berharga buat gue ada disana semua. Jadi gak semangat banget rasanya -,-“

Yaah semoga aja belajar kelompok ini nanti bisa ngebantu gue buat lebih semangat and percaya diri. Amin 
Continue reading →

Surat Penggemar untuk Fatin

0 comments
Hello Guys~

Beribu ribu maaf saya hanturkan kepada temen temen tulis semua jikalau terlalu lamanya gue gak muncul memenuhi notification di blog kalian. Setelah nulis late-post yang kemaren, akhirnya Manggolo Mudho tampil di FRN. Tapi saying banget sih, kita belum bisa masuk ke-10 besar Penampil Terbaik. TAPI. Manggolo Mudho mendapat Peringkat Pertama atas Pengabdian-nya. Jadi, kita juara 1 di sisi Penghargaan Pengabdian Terbaik gitulah. Alhamdulillah. Dan tambah Alhamdulillah lagi, semalem habis ada acara Tasyakuran dan nonton bareng perform Manggolo Mudho waktu FRN itu. sumpah, PE to the CAH BANGETT MEENN kebersamaan kita semalem. Asik gilak! Pokoknya, gue bersyukur banget bisa menjadi bagian dari Manggolo Mudho ini. Dan target pribadi gue, untuk tahun depan gue bakal jadi penarinya. Pengen banget sih jadi Klono Sewandono, yaaa moga moga aja bisa karna ada yang mau ngajarin. Tapi kalo nggak, yaa Warok juga oke kok.

Nah cukup segitu info terpanas dihidup gue dan penjelasan akibat lamanya ananda Dimas Mahardika ini tak menampakkan batang hidungnya didunia blog selama hampir sebulan.

Kangen banget ama nuliss. Muach! :*

Dan kembalinya motivasi gue untuk nulis juga dikarenakan sobat baru gue dari temen Manggolo Mudho yang juga nulis blog. Fitroh namanya dan untuk web-blognya. http://fitrohfide.blogspot.com/. Kalian bisa baca tulisan dia disana. Yaa walaupun tulisannya masih dikit dan juga beberapa waktu berhenti nulis. Lagi sibuk katanya and lagi belum pengen “menarsiskan” buah pikirannya. Hehehe. Untuk Fitroh ini kita bahas dilain tulisan saja ya :)

Style nulisnya juga mirip ama gue, “sesuka suka gue” and it contains of her private social life. Pokoknya mirip banget dah ama gue. ciyus po.o? yih cob !

Nah! Comeback gue kali ini pengen banget bahas soal Fatin Shidqia Lubis. Kalo kamu gak kenal, brarti gak pernah liat X Factor Indonesia. Dan kalo gak pernah liat acara TV di RCTI itu, bisa kemungkinan kamu gak punya tipi. Atau mungkin punya tipi sih, tapi gak ada listrik. How pathetic.

Kenapa harus Fatin? Karena barusan aja gue kangen banget ama suaranya Fatin. The real original sounds of Fatin yang bisa gue dapet dengan nonton videonya dia sewaktu audisi pertama kali dan menyanyikan lagunya Bruno Mars, Grenade. Itu PEECAH BANGET MEN. Suara serak serak seksi gemulai aduhainya masih OK banget. ORI banget. Dan yang bikin gue suka tu ama sikap malu malu and polosnya Fatin juga. Gataw kenapa, gue suka banget ama cewek yang suka malu malu gitu. Dan bukan malu-maluin lho ya.

Tapi sepanjang perjalanannya, Fatin berubah. Dan perubahan itu memang pasti terjadi. Dan positif sih sebenernya, tapiii. Ada beberapa bagian dimana gue jadi kurang “ngeh” gitu. Yaitu ilangnya “malu malu”, “aneh”, dan polosnya Fatin. Kata orang memang bagus, dan sebenernya sih emang bagus. Tapi kalo kamu tanya ama gue, ya jawabannya tadi. Jadi nggak “ngeh”. Karena bagi gue, yang bikin kangen dari Fatin adalah sifat sifat tadi.

Ada lagi bedanya.

Yaitu saat Fatin membawakan lagu yang jadi senjatanya lolos audisi di X Factor, Grenade dan dinyanyikan saat X Factor udah 3 besar kalo gak 2 besar ama Novita Dewi. Dan silakan kalian bandingkan dengan Fatin yang masih audisi.

Beda banget.

Yang kalian liat di 2 besar adalah The New of Fatin dan ketika kalian liat waktu audisi, itu The Original of Fatin. Di 2 besar, keliatan banget Fatin berusaha menunjukkan performa terbaiknya. Dia berusaha dengan sangat keras untuk “sempurna” dilagu Grenade itu. berusaha menghayati dan memaknai setiap bait lirik itu. Dan disanalah gue kehilangan Fatin. Pasti banyak orang yang gak setuju ama gue, dan itu gue persilakan. Dan gue mohon gak perlu balas statemen ketidak setujuan gue ini.

Dan kalau disuruh milih, gue seneng banget bahkan jatuh cinta banget ama Fatin yang unyu unyu kayak dulu. Dengan segala kepolosan dan ketulusan dari setiap yang dia lakukan. Tanpa perlu takut orang mau menghina dan menanggapi apa.

Fatin yang ngomong dengan sedikit tergesa gesa, sering memonyongkan bibir untuk ng-cek lipstiknya, yang mengerling dan melambai tulus pada yang memanggil namanya. Dan itu semua bisa kalian lihat dari performa audisi sampai kepenampilan dia saat bawain lagu Rumor Has It – nya Adele. Bagi gue, itulah Fatin.

Segala argumen ini keluar dari gue, satu dari sekian Fatinistic di Indonesia yang tweet-mention-nya belum pernah sempat dia balas. Dan argument ini bukan keluar karena balas dendam itu bukaannn. Argumen ini keluar sebagai surat rindu gue untuk Fatin. Dan argumen ini muncul dari ketidaktahuan gue tentang bagaimana menjadi seorang entertainer professional yang memiliki tuntutan dalam karir itu. Dan jika memang hal itulah yang harus dilakukan oleh entertainer seperti Fatin, gue bisa terima. Mungkin ini memang masalah selera saja.

Jadi, maafin Dimas ya Fatin :)

Aku cuman pengen yang terbaik untuk kamu, semoga kamu mengerti :)

Nah.

Begitulah kiranya tulisan kali ini. Thanks banget ya kalian udah mampir dan baca. Dan maaf bila blog ini tidak memberikan apa yang anda cari tapi malah menyita waktu anda untuk membaca celotehan gue yang sebenarnya tidak terlalu perlu untuk dibaca.

Sekian dulu sobat tulis. Salam tulis menulis yaa :)
Continue reading →
Tuesday, October 29

Festival Bumi Reog (late-post)

0 comments
Lama sekali tak jumpa kawan. Bener bener sulit cari waktu buat nulis. Gak ada kuliah yang gak pulang jam 5 sore dan ditambah lagi harus segera latihan senggak dalam rangka Manggolo Mudho yang ikut lomba Festival Reog Nasional (FRN) di Ponorogo. Dan Manggolo Mudho tampil pada hari Sabtu malam minggu ini, jam 10 malam.

Ngomongin tentang Manggolo Mudho, dulu gue pernah janji untuk nulis soal itu kan ya? Mau aku ceritain nih, yang artinya bakal jadi late-post. Gapapa ya

 5 Oktober 2013.

Hari yang sungguh istimewa ini pun datang juga. Hari dimana Festival Bumi Reog (FBR) yang dilaksanakan di Monumen S.O 1 Maret Km.0 Yogyakarta menjadi waktu pembuktian bagi kami, bahwa kami mampu. Acara yang dimulai pukul 7 malam ini sudah ramai dari satu jam sebelumnya. Para pengunjung yang antusias berjubel memadati lahan yang dijadikan tempat mereka duduk untuk menyaksikan pertunjukan seni khas Ponorogo. Ada beberapa macam tarian yang akan dibawakan dengan pertunjukan Reog sebagai Finalnya. And this is we train for.

Kami para senggak (penyanyi pengiring reog) dan para penari bersiap siap dibelakang panggung. Dengan penerangan yang seadanya karena adanya kesalahan teknis, tidak menyurutkan semangat untuk menampilkan yang terbaik dengan membawa nama baik Ponorogo dipundak. Acara inipun ternyata juga mengundang pihak Dinas Pariwisata untuk hadir dan menyaksikan persembahan dari Ponorogo untuk menjelang ulang tahun Jogja. Entah ini memang disengaja atau kebetulan.

Dan acarapun, dimulai.

Suguhan pertama sudah pasti adalah sambutan sambutan. Dari ketua panitia dan dari pihak pihak lain terkait. Setelah usai, masuklah pada acara hiburan dengan mempersembahkan Tari Merak. Walaupun ada juga kesalahan teknis akibat dari ketidaksiapan  beberapa pihak, namun Tari Merak mampu dibawakan dengan lancar nan indah.

Setelah usai Tari Merak ada pertunjukan tembang tembang (lagu lagu) dalam bahasa Jawa. Tembang Mocopat dan kawan kawannya, dibawakan oleh Kang Mas Tri Aji. Suaranya yang berat nan menggairahkan mampu membius penonton yang hadir.

Pertunjukan tari kedua dibawakan oleh 3 penari handal yang juga menuntut ilmu di UNY jurusan Pend. Seni Tari pula. Sayangnya, gue lupa apa nama tariannya dan yang unik dari tarian ini adalah mereka menggunakan bulu bulu merak sebagai salah satu ornament yang mencolok dari tari ini. Tari ini pun tidak kalah menyedot perhatian penonton.

Ditengah acara juga dibawakan nyanyi nyanyian tentang semangat ke-Indonesia-an.

Dan tibalah waktu yang paling dinanti nanti penonton dan seluruh panitia penyelenggara serta para penari, waktunya Tari Reog menjadi gong penutup pecahnya pertunjukan di Festival Bumi Reog ini.

Penonton pun semakin antusias dan ada yang memilih untuk berdiri agar dapat melihat lebih jelas. Gue dan teman teman senggak pun segera ambil bagian dalam mengiri tarian. Begitu juga para penarinya.

Dan…

Itu menjadi 23 menit tercepat yang pernah ada. Rasa bangga, puas, dan bahagia bercampur memenuhi dada. Betapa bangganya bisa menjadi bagian dari sesuatu yang sempurna dalam membawakan identitas dirimu, identitas kotamu yang paling kamu banggakan dan ditambah dengan apresiasi yang sesungguhnya apresiasi.

Yang membuatnya tambah PECAH, adalah temen temen Ponorogo yang juga ikut hadir dan menyaksikan pertunjukan seni yang dibanggakan oleh seluruh warga Indonesia.

 Mempertunjukan REOG di Jogja, satu lagi Achievement Unlock !!
Continue reading →