Tuesday, June 26

Persembahan ( Kesempatan Meraih Asa part 3 )

0 comments

Yaa.. hari ini memang kami menelan kekalahan apalagi kalah dari adik kelas. Malu? Nggak lahhh. Memang berat menerima kekalahan apalagi kekalahan oleh orang yang lebih ibaratnya junior dari kita. Tapi, mengingat karena gue udah kelas 3, udah waktunya regenerasi dan seharusnya memang “mereka” lah yang akan memberi prestasi ke sekolah. Semoga.

Kecewa akan kekalahan bukanlah alasan bagi tim kami untuk mengendorkan semangat untuk berjuang lebih. Justru inilah seharusnyatitik balik dimana gue ama Laksa dan Satria berjuang 100xliat lebih keras dari sebelumnya untuk membawa piala juara 3. Tim adik kelasku yang masuk final esok harus melawan tim dari SMAZA juga, yaitu tim Astana cz. Haha.. Ternyata predikat untuk selalu menang dari diri seorang Astana, Esti, dan Alby memang tidak bisa lepas. Ini berarti, juga tim gue berhasil merebut Juara 3, maka tim dari SMA 1 Ponorogo akan membawa pulang seluruh juara. Dari juara 1 sampai juara 3. What a moment! Dan kesempatan untuk membawa pulang triple juara semakin memacu kami untuk berusaha lebih keras. HARUS!

Sebelum pulang, panitia memberikan selebaran yang berisi mosi yang akan kami perdebatkan besok. Langsung saja kami sepulang lomba untuk kesekolah sejenak. Sebenarnya, saat kami lomba ini bersamaan dengan hari dimana diagendakan seluruh panitia YESC berkumpul dan mempersiapkan segala keperluan untuk English Camp yang akan diselenggarakan tanggal 30 Juni 2012 esok. Namun ternyata ketika kami kesekolah, sudah sepi. Ternyata semua perlengkapan sudah tersedia didalam sekretariat YESC. Namun memang masih ada beberapa yang harus diselesaikan memang tapi itu bisa kami tuntaskan saat besok kompetisi ini berakhir. Karena sudah sepi disekolah, kami putuskan untuk pulang saja. Repetisi dan malam nanti kami akan latihan lagi.

Malam pun tiba, udara dingin berhembus menusuk serat jaket, terus hingga menyentuh kulit, memaksa tubuh untuk merinding. Hari ini latihan ditempatkan dirumah si Laksa, soalnya mumpung rumahnya lagi kosong karena orang tuanya sedang pergi ke Solo. Satu persatu, anggota demi anggota berkumpul. Hanya gue, Satria, Astana, dan Alby yang bisa hadir dalam simulasi pertempuran esok. Esti tidak bisa hadir karena ada tugas untuk lomba lain yang akan dia hadapin 2 hari kemudian. Yaa memang begitulah si Esti, berbeda sekali dengan kelas X dahulu. Sekarang dia seperti addict dengan lomba lomba. Mungkin itu karna motivasi dari kekasihnya yang bisa disebut Orang Hebat. Pria Hebat yang berasal dari suatu desa di Ponorogo ini adalah Sesepuh yang paling Sepuh di Organisasi YESC gue. Karena perjuangan dari beliau juga lah, serta kecintaannya pada Organisasi Bahasa Inggris ini yang akhirnya bisa menjadi suatu ekstrakulikuler di SMA 1 Ponorogo. Sudah keliling dunia pula, dan sekarang kuliah di IPB serta alhamdulillah masih sering bisa pulang ke Ponorogo untuk menjenguk ekstra-nya dahulu. Kami bangga memilikimu kak J.

Tidak beda jauh dengan malam latihan sebelumnya, latihan diisi dengan berbagai argumen yang keluar masuk. Bertukar pikiran bagaimana mendapatkan argumen terbaik yang akan memastikan keunggulan kami beradu argumen dan mem-persuade Juri agar memenangkan tim kami. Harapan itu tak pernah hilang. Karena tingkat kesulitan lawan yang pastinya lebih sulit dari hari kemarin. Pasti. Oleh karena alasan itulah, kami harus pulang jam 1 dini hari karena bahasan kami yang pastinya harus lebih kuat. Bukan hanya 1 langkah, namun 10 langkah didepan lawan. Capek? Sudah pasti, namun itu tidak akan pernah menjadi alasan kami untuk menyerah. Namun karena istirahat juga penting, latihan diakhiri sampai disini saja. Waktunya untuk pulang dan menikmati tubuh ini beregenerasi selnya.

The Judgmentday is coming. Hari penentuan pun akhirnya tiba juga. Hari pengukuhan dimana siapa yang lebih hebat akan mendapatkan tahta tertinggi yaitu kemenangan. Semalam tim kami dengan tim Astana.cz memang kawan berlatih, but this day we are rival. Walaupun kami secara teknis tidak bertanding dalam 1 sesi, namun kami bertanding untuk menjadi pemenang pada masing masing pertandingan kami.

Pertandingan pertama adalah perebutan juara 3 terlebih dahulu. Tim kami, Laksa,Satria,Dimas (gue sendiri) memasuki panggung perdebatan. Beda dengan debat hari kemarin, debat hari ini bertempat di Hall dan bukan diruang kelas seperti hari sebelumnya. Dan ini menjadi tekanan tersendiri bagi gue. Memegang polpen pun gue gak bisa. Seperti nyawa ini tinggal separuh saja. Mentalku seperti tak mampu menanggung determinasi tekanan. Bukan hanya untuk menjadi juara 3 karena musuh yang tidak bisa dianggap enteng, namun para penonton. Bapak bapak ibu ibu semua yang ada disini. Digoyang semuaa. Dan barusan adalah lirik lagu Dangdut. Abaikan.

Dan seperti hari biasanya, sahabat gue Satria dan Laksa tak pernah berhenti mensupport. Bahkan Winda pun juga kut memberi support lewat sms. Dan sosok sang Nyata itu muncul kembali. Gue bayangin dia sedang disamping gue, menatap penuh yakin bahwa gue bisa untuk pertandingan final ini. Namun itu belum cukup. Tidak cukup. Dan benar saja, sungguh performa ini turun dan berbalik 180 derajat. I’am not lika i was. Gue bukan diri gue yang dulu. Yang kemarin. Yang dengan lantang berteriak, dan mantap menatap.

Ohh.. geez! What happen?!!

Gue bertanya kenapa gue bisa sampai seperti ini. Dan jawabannya jelas, gue gugup. Gue gak bisa mengontrol tingkat ketegangan gue. Point penting yang seharusnya gue bawa, gue utarakan didepan juri, belum bisa mengkristal menjadi argumen kuat yang mampu membuat timku unggul jauh. Beruntunglah. Masih ada Laksa. Beliaulah yang membawa hal penting yang belum tersampaikan oleh gue. Yang bisa gue lakukan setelah itu adalah hanya diam. Diam. Dan diam saja. Namun dalam diamku, gue berdoa. Semoga kesempatan mempersembahkan piala untuk sang Nyata mampu gue capai. Amin.

Tentu saja setelah turun panggung gue minta maaf atas performa buruk ke Laksa dan juga Satria. Ke Satria karna gue gak mampu mendukung argumen kuat yang dia bawa. Dan Laksa yang harus berpikir keras kedua kali untuk menutup lubang dalam yang gue buat. Gue minta maaf atas performa buruk yang justru gue persembahkan disaat yang sebenarnya palng genting, paling penting, dan paling krusial. Saat dimana tidak ada lagi kesempatan kedua, bila kekalahan menampar muka. Saat untuk merebut juara ke 3.

Dan seperti biasa pula. Satria dan Laksa kembali mensupport gue. Menjelaskan bahwa itu gakpapa. Dan itu adalah hal yang wajar dalam sebuah kompetisi. Maka dari itulah tim itu ada. Dimana saling mensupport saat satu anggotanya terjatuh. Membantu yang lain saat yang lain tertatih. Its called team. Ya walaupun begitu, rasa bersalah ini pasti masih mengganjal. Pasti.

Hingga saat itu tiba. Pengumuman siapa yang menang siapa yang jadi pecundang. Doa ini terus gue panjatkan pada yang Maha Agung, yang Maha Berkehendak, dan yang Maha Kuasa atas segala kekuasaan. Gue berdoa berdoa dan berdoa. Hingga saat sang pembawa acara mengumukan bahwa...

Laksa, Satria, dan Dimas, tim SMA 1 Ponorogo 2, pemenang Juara 3!!

Senang dan keinginan untuk gue menetesakan air mata bercampur jadi 1. Namun air mata itu tertunda keluar karena gue harus segera maju kedepan bersama satu timku untuk menerima sang piala. Sang penanda bahwa kami bukanlah pecundang, KAMILAH SANG PEMENANG!! Memang benar hanya juara 3, tapi ini adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah karir gue di kelas XI ini. Bukan hanya tim gue yang juara, tim Astana, SMA 1 Ponorogo 1 berhasil menjadi Juara 1. Tahta tertinggi. Sang juara utama. Dan adik kelas gue juara ke 2. Sungguh hari yang gak pernah gue percaya bakal terjadi. Dimana gue akhirnya mampu memberikan prestasi ke sekolah. Dan bukan hanya sebagai “tangan pengganti”, namun juga penyebab atas diberikannya juara itu ke gue, ke Tim gue, SMA 1 Ponorogo 2.

Dan piala ini, untuk seseorang yang selalu nyata dalam benak gue, sang Nyata. Trima kasih J

Tuhan, terima kasih juga ya.. J dan juga untuk semua orang yang percaya pada gue. Nggak ada yang mampu gue ucapkan selain, Trima Kasih.

Continue reading →

Awal yang Tertunda (Kesempatan Meraih Asa Part 2)

0 comments

Hari yang dinanti nanti pun tiba. Hari dimana pertama kalinya gue bakal mengalami sensasi berdebat dengan menggunakan bahasa Indonesia, mewakili sekolah, dengan kesiapan unutk menjadi juara. Tak pernah lupa sebelum diri ini bertempur dimedan debat, gue berdoa dalam kekhusukan ibadah Subuh, memohon agar kami satu tim diberi kemenangan dalam perlombaan ini. Untuk pertama kalinya, gue berada dalam kondisi dimana gue akan menjadi “seseorang”. Seseorang yang dari duluu sekali gue impikan, seseorang yang menjadi penyebab dari juara yang akan gue sembahkan pada orang tua dan sekolah gue. Semoga.

Seperti biasanya dalam perlombaan, kami diharuskan daftar ulang ditempat registrasi. Nulis nama lengkap. Tanda tangan. Dapet jajan. Masuk ruangan. Duduk dipersimpangan jalan. Ketabrak setan. Pingsan. Masuk kuburan. Nglantur kaaannnnn???! –“

Back to the story.

Hari pertama, peserta yang lolos tinggal 8 tim. Dan 1 hari tersebut akan ada 2 kali pertandingan (bagi yang lolos pertandingan pertama). Dan pertandingan final dilaksanakan hari selanjutnya. Jadi, hari pertama itu sudah masuk perdelapan final dan jika tim gue berhasil menang pada pertandingan pertama, sudah ada tempat untuk masuk final karena tinggal 4 peserta yang tersisa.

Tim gue bernama SMAN 1 Ponorogo 2. Memang terlihat biasa saja dan tidak ada yang salah. Namun nama rancu yang diberikan panitia ini menyebabkan kesalahan penyebutan tim yang tidak sedikit yang bikin telinga gue gatel banget dengernya. Kenapa begitu? Karena tim dari SMA 1 Ponorogo yang berhasil lolos ada 3 tim dan pertandingan tim gue ama tim SMAZA yang lain lumayan tumpuk. Sehingga, yaahh bener bener aneh deh gue dengerinnya. Mungkin terlihat biasa, tapi sumpah gue risih!

Prosesi Kompetisi Debat Bahasa Indonesia ini tidak berbeda jauh dengan Debat Bahasa Inggris. Bedanya, argumen argumennya diutarakan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan tidak adanya verbal atau pemberian pengarahan dan penilaian juri terhadap perdebatan yang terjadi. Memang verbal terdengar sederhana, tetapi dari situlah kita dapat memperbaiki performa debat kita selanjutnya karena sudah diberi pengarahan tadi. Sayangnya, hal yang penting itu tidak ada. Entah mengapa.

Pertandingan pertama gue adalah melawan sekolah manaa gitu gue lupa -,-v. Motion yang dipermasalahkan pada saat itu adalah Puisi Sebagai Obat Terapi Jiwa yang Paling Manjur dan gue sebagai tim Oposis alias tim yang menolak atas permasalahan tersebut diatas. Buat gue pribadi, permasalahan yang aneh. Gue dalam debat ini bertugas sebagai pembicara kedua yang tugasnya adalah membawa argumen dan mendukung argumen pembicara pertama. Untuk sahabat tulis yang belum tau bagaimana itu debat, akan saya tulis lain waktu ya.. J

Gue waktu itu bener bener deg deg-an banget. Soalnya kurang dari 1 hari gue baru belajar apa dan bagaimana itu debat yang bisa dikatakan gue ini masih belum ada apa apanya alias amatir. Tetapi support yang diberikan sahabat gue, Laksa dan Satria, akhirnya bisa bikin gue percaya bahwa gue pasti bisa. Dan disaat yang genting, disaat jantung gue berasa mau copot, entah gataw kenapa hadirlah sosok wanita yang jadi inspirasi gue 3 bulan ini. Wanita inilah yang sangat memotivasi gue untuk belajar tentang debat dan memacu gue untuk “gue harus jadi juara disini!”. Beliau ini adalah wanita paling sempurna yang pernah gue kenal. Yaa walaupun dia gak kenal gue, cukup kok bagi gue untuk mengenalnya saat ini. Atau pun tepatnya gue cuman “tau” tentang dia, soalnya gue kenalnya pun dari temen gue juga. Yang udah gue sebutin dipostingan sebelumnya. Atau lebih jujurnya lagi, Orang yang Gue Kagumi. Nah tu mungkin definisi yang paling tepat. I’am her secret admire. Dan biasa gue sebut, sang Nyata. Karena, dia emang bener bener nyata memberi perubahan kehidup gue. Dan jika gue menang nanti, piala ini bakal gue persembahin untuk dia. Karna udah inspirasi gue sampek tingkat ini. Belum terlalu besar memang eventnya, cuman tingkat kabupaten. Tapi jika memang benar segala keberhasilan itu harus dimulai, maka inilah awal itu.

Seketika, ketika giliran gue maju untuk menunjukkan apa yang gue punya, apa yang terbaik gue bawa, nervous gue ilang! Dan ini bikin gue jadi makin PeDe dan lancar untuk bawa argumen tim gue. Setelah beberapa step dalam lomba yang kami lewati, pertandingan debat pun usai. Kami bersalaman dengan lawan yang menandakan tidak ada dendam dan perselisisahan setelah berdebat ini. Kami pun kembali ke hall untuk menunggu pengumuman. Berharap agar ini memanglah sebuah awal yang memang harus gue mulai.

Dan ketika pengumuman tiba, segala syukur untuk Allah SWT, TIM GUE LOLOS! Kagak ada waktu buat kami satu tim seneng and berhura hura ria, karna sudah ada pesaing yang menunggu, yaitu tim adik kelas gue, Tim SMA 1 Ponorogo 1. Walaupun masih kelas 1 and junior gue, mereka gak bisa diremehin begitu aja. Tapi, kami satu tim akan berusaha lebih keras lagi.

Pertandingan kedua pun dimulai. Dalam babak ini, tim yang menang akan masuk ke babak final dan sedangkan tim yang kalah akan berjuang memperebutkan juara 3. So, gue dan sahabat gue harus berusaha lebih ekstra agar bisa masuk ke babak final. Dengan kata lain, ya harus menang! Mosi dalam pertandingan ini adalah Penambahan Taman Cinta di Lingkungan Sekolah sebagai tempat pendidikan humanisme. Mosi ini lebih OK dari pada mosi sebelumnya. Case build berjalan 15 menit dengan serius untuk membentuk argumen yang paling kuat dan paling bisa diterima oleh sang Juri. Di moment ini tim kami bertugas sebagai pihak Proposisi. Yupz, kami bertugas membangun argumen yang setuju dengan mosi diatas. Debat pun dimulai dan determinasi untuk memburu kemenangan kian hebat kedua tim seakan tak mau mengalah. Dan 30 menit waktu berlalu, dibarengi dengan berakhirnya pertandingan ini.

Saat yang ditunggu tiba kembali. Pengumuman kelolosan. Sensasi harap harap cemas kini kian menguasai keadaan. Harapanku untuk merebut juara 1 dan mempersembahkannya untuk sang Nyata kian tak terbendung. Dan saat pun tiba. Master of Ceremony membuka mulut, mengucapkan kata demi kata yang membuat jantung seperti genderang perang yang ditabuh, berdegup kencang memompa darah. Diriku hanya memejamkan mata, menutup muka, menundukkan kepala, berdoa. Beri kami kemenangan Tuhan. Dan .... Kami kalah. Yaa, adik kelas kami lah yang menang. Setengah tak percaya hingga keadaan hening kurang lebih selama 5 kali diri ini menghela nafas.

Yaa memang kesempatan gue dan sahabat gue satu tim, Laksa dan Satria untuk menang membawa juara 1 kerumah tertutup sudah. Daripada merenung, sekarang saatnya untuk menata lagi kekuatan, menata lagi pikiran, kita harus membawa JUARA 3! Dan esok masih ada.

Continue reading →

Kesempatan Meraih Asa

2 comments

Masih ingat dengan tulisan “Tangan Pengganti” yg pernah gue ceritain dulu? Flashback sejenak, Tangan Pengganti dulu menceritakan pengalaman gue dimana gue diutus untuk menghadiri sebuah acara penerimaan penghargaan. Gue pun berpikir bahwa sekolah gue gak akan mendapatkan penghargaan dari acara tersebut NAMUN justru mendapatkan penghargaan paling prestisius yaitu menjadi juara UMUM. Dan karena Kepala Sekolah gue berhalangan datang pada saat acara tersebut, maka dipilihlah gue untuk menjadi orang yang menerima penghargaan atau tropi tersebut. Dan gue tau bahwa tropi itu bukan hasil jerih payah gue dan gue cuman bertindak sebagai tangan pengganti yang hanya MENERIMA saja. Dan itulah yang memotivasi gue untuk berjuang mengikuti lomba dan bukan lagi hanya “tangan pengganti”, namun pelaku pemberi prestasi itu sendiri.

Dimulai dimana saat itu gue diajak oleh temen deket gue, Azizta Laksa untuk ikut berpartisi pasi dalam lomba debat Bahasa Indonesia. Karena saat gue diitawarin untuk ikut lomba itu kondisi gue masih sedang nganggur alias kagak ada kerjaan, maka langsung gue meng-iya-kan tanpa mengetahui seperti apa itu debat Bahasa Indonesia secara mendalam. Dan begitu gue tanyakan ama temen gue tadi, Laksa pun juga kagak tau gimana itu debat Bahasa Indonesia. Setali tiga uang. Yang Laksa ketahui saat itu adalah 1 tim harus terdiri dari 3 orang. Dan dalam tim gue kurang 1 orang lagi, dan maka dari itulah gue mengajak Satria Tegar. Dan dia pun juga langsung meng-iya-kan. Nah,lengkap sudah tim kami dan yang harus dilakukan selanjutnya adalah mengikuti TM (Technical Meeting). Kenapa? Karena satu tim kagak tau gimana teknisnya debat Bahasa Indonesia.

Penyisihan dilaksanakan dengan membuat sebuah artikel yang bertema tentang Peran Serta Pemuda dalam Melestarikan Budaya Lokal. Kami satu tim pun membuat artikel yang didalamnya terkandung ide ide bagaimanakah cara yang seharusnya ditempuh agar budaya Indonesia umumnya dan Budaya Ponorogo khususnya dapat menarik minat warga dan masyarakat. Terciptalah ide dimana budaya Indonesia yang salah satunya adalah batik harus lebih dipublikasikan dengan cara yang lebih terjangkau seluruh kalangan karena biaya dan kemasan untuk dinikmatinya. Dimulai dengan cara memberikan unsur atau pola batik pada segala pernak pernik seperti jepitan rambut dan lain lain. Bisa juga melalui makanan, dimana sekarang sedang boomingnya cup cake dan brownis yang topingnya bisa diganti dengan pola batik dari berbagai daerah. Tujuan utamanya adalah untuk memperkenalkan dan memfamiliarkan batik. Atau bisa juga dihias dengan tokoh perwayangan untuk topingnya tadi. Everything sounds possible J.

Dan segala puji bagi Tuhan, artikel itu membawa kami lolos masuk kedalam babak sesungguhnya yaitu babak 8 besar dimana nanti kami akan ber-debat dalam Bahasa Indonesia. Perjuangan lebih besar,dimulai.

Setelah mendapatkan motion yang akan diperdebatkan pada hari H, kami 1 tim beserta tim lain dari SMA 1 Ponorogo yang beranggotakan Astana, Esti, dan Alby mulai menyicil menyusun argumen apabila kami menjadi pihak Proposisi (pihak yang mendukung) ataupun juga pihak Oposisi (pihak yang menolak). Secara atas kertas, memang tim ke.2 yang beranggotakan sahabat gue Astana dkk ini bisa dibilang lebiih kuat. Astana sendiri adalah debater SMA 1 Ponorogo yang sudah berprestasi. Beliaunya adalah anggota dari English Debat Society yang ada di SMAZA dan pernah menembus tingkat Jawa Timur dan menjadi juara dengan rekan 1 timnya,Winda Senja Wedari yang saat ini masuk dalam tim NSDC. Yaitu ajang perlombaan debat Bahasa Inggris yang sangat bergengsi di Indonesia, dimana pemenang dari event debat ini akan mewakili Indonesia dalam kancah debat Internasional di Turki. Insya Allah suatu hari nanti gue bakal nulis tentang mereka, Orang Orang Hebat yang Gue Kenal. Tunggu saja, sahabat tulis.

Kembali ke laptop!

Memang secara atas kertas dan pengalaman tanding kami kalah cukup jauh, namun beruntungnya Astana ini adalah salah satu sahabat gue di Oraganisasi YESC yang asik banget. Gue yang dikenal ember banget mulutnya dan banyak nanya ini, pasti bener bener penasaran ama yang namanya debat dan sosok Astana ini mau berbagi bagaimana itu debat, cara berdebat, dan berbagai hal yang perlu diketahui tentang debat itu sendiri. Dan itu bener bener membantu buat gue yang notabene bener bener kagak tau kayak gmana itu debat apalagi dalam sebuah kompetisi tapi bener bener pengen buat tau dan belajar lebih jauh. Ada memang dalam tim gue yang bisa debat juga dan lumayan hebat juga loh. Laksa namanya, yups yang ngajakin gue buat ikut ni lomba. Mereka berualah yang jadiujung tombak dan pelatih dalam masa waktu 2 hari sebelum kompetisi dimulai.

Latihan pun diisi dengan bagaimana caranya berdebat dalam sebuah kompetisi yang sudah pasti sangat berbeda saat kita berdebat dalam kehidupan sehari – hari, berebat dengan pacar misalnya. Itu seperti membedakan Manusia dengan Monyet. Ada bedanya tapi juga ada persamaannya, yaa walaupun dikit.

Sebenernya terlalu banyak aib dalam kompetisi ini yang juga baru gue tau setelah Astana ama Laksa jelasin gimana sebenernya debat yang terstandarisasi. Tapi lebih baik gue kagak omongin.

Kami cuman diberi waktu latihan untuk mengerjakan sekitar 8 motion yang nanti dipilih secara acak dalam pertandingan besoknya. Dan 1 motion bisa menyita waktu kurang lebih 3 jam untuk menyelesaikannya. Itu pun juga belum bisa dikatakan “selesai”. Bukan karena berbobotnya bahasan namun sebaliknya #upz. Latihan pun yang seharusnya dimulai dirumah gue pukul 7 malam harus molor dengan lama yang tidak sedikit. Dikarenakan satu-satunya anggota debat cewek, Esti harus datang terlambat. Dan gue udah lupa karena apaan. Latihan pun diisi dengan intensitas yang sedang sedang saja. Karna kalo justru terlalu serius, bahasan yang dibahas malah bakal lupa. Setidaknya kita udah tau garis besarnya, begitu titah si tuan Guru. Dan memang itu bener juga sih. Seperti halnya dengan cara belajar gue yang kalo terlalu serius justru bakal kagak merasuk diotak gue. Maklum otak pentium 3 bang (-,-“). Tapi itu semua tidak menyurutkan niatan gue untuk belajar karena gue punya teman 1 tim yang OK gilak dan gue pribadi sendiri udah mematok target untuk jadi yang terbaik, Juara 1. Karena banyak hal yang harus diselesaikan dalam bahasan topik geje dan kami hanya diberi waktu menyelesaikan dalam waktu 1 hari atau tepatnya 1 malam saja, tentu sangat tidak cukup. Latihan yang baru berakhir jam 12 tengah malam itu hanya mampu menyelesaikan 3 motion saja. Karena istirahat juga penting, maka diambillah keputusan untuk mengakhiri latihan dan diiganti dengan agenda beristirahat.

Gue pun mengantar temen temen gue untuk turun dari lantai 2 tempat kami berlatih, ke depan rumah. Mengucap salam perpisahan dan harapan semoga besok kita berhasil lolos kebabak selanjutnya. Menutup pintu. Dan langsung menggunakan waktu 6 jam untuk mengistirahatkan raga. Tuhan, semoga kerja keras ini terbayar esok.

Continue reading →
Friday, June 15

New Family

0 comments

Good Morning,

Maaf ya sahabat tulis udah lama banget kagak posting. Maklumlah, soalnya selama kurang lebh 3 minggu ini gue lagi ada proyek. Yaitu SEMESTER-AN beserta dengan segala remidinya. Puji syukur alhamdulillah, gue cuman remidi 3 mata pelajaran. Antara lain, Pkn, KIMIA ama MATEMATIKA. Dan darii ketiga mata pelajaran diatas yang paling nyebelin emang remidi pelajaran Matematika. Gimana bisa nggak?! Bayangin aja disuruh ngerjain lagi soal soal Semesteran yang berjumlah 35 beserta kesulitaanya bukan main itu sendirian. Memang sih itu menjadi tugas yang bisa diselesaikan dirumah, tapi walau bagaimanapun juga soal itu tetap terlalu sulit buat otak gue. Dan dengan sungguh sungguh bersusah payah, akhirnya gue mampu mengerjakan 10 nomer. Yap, cuman 10! Dan masi tersisa 25 soal lagi dan itu harus ditulis bagaimana cara penyelesaiannya. Ampun dah.

Bukan cuman itu aja yang menyebabkan gue kagak bisa nulis selama 3 minggu, ada juga beberapa faktor lain. Salah satunya yang paling bikin gue frustasi adalah rusaknya moniitor laptop gue. Bukan karena kecelakaan, bukan karena ketendang kaki gue atau temen guetapi karena KEPANASAN! Ternyata laptop cemen ya, kepanasan gitu aja rusak.

Dan setelah gue telisik dan tanya tanya lebih lanjut ama si tukang servisnya, faktor “umur” memang sangat mempengaruhi. Iya umur, laptop gue yang dulu sudah berumur 5 tahun para pemirsa. Lebih tua dari umur adik keponakan gue. Padahal gue ngrasa baru 3 tahun pakek tu laptop. Eh ternyata, bokap gue belinya second. Pantesan ue dari dulu pakek berasa lemot and ada yang kagak beres --,--“.

Sekitar 1 minggu gue hidup tanpa laptop. Dan setiap hari gue menjadi begitu sepi apalagi ditambah pacar gue yang jarang ada saat gue galau karna laptop gue belum juga sembuh. Dan akhir dari penantian galau gue menanti sang Lepy (nama laptop gue) menjadi sangat memilukan. Harga ganti monitor laptop itu sebesar 980.000 rupiah. Hampir satu juta. Dan menimbang karena laptop gue juga udah buruk bgt performa-nya, kami memutuskan untuk menjualnya. Namun masalah datang lagi, kagak ada yang mau nerima laptop buluk gue. Karna laptop gue emang bener bener buruk keadaanya. Banyak lumutnya, keyboardnya udah ada yang bolong, ada program rusak, dan sebagainya.

Ternyata harapan belum hilang, bokap gue akhirnya membawa laptop gue ini ke Malang.. beliau coba tanya ketemennya dan walhasil ada yang bersedia tuar tambah. Hati gue miris. Masak gue dapet laptop second lagi?? Karena rasa rindu akan membuka Windows Explorer, akhirnya gue meng-ikhlas-kannya. Sungguh berat hatiini menerima kenyataan, hidup penuh barang second.

Dan laptop babek (baru bekas) itu pun dibawa pulang oleh bokap gue. Hati bingung antara harus seneng ato sedih. Seneng karena akhirnya gue bisa maen laptop lagi. Sedih karena gue harus menerima anggota keluarga baru yang bekas lagi. Sambil berharap cemas gue coba ambil laptop yang ada ditas bokap gue dan WEW! Tidak seburuk yang gue kira. Gue buka monitornya, gue baca label pemberii informasi speck laptop gue dan ternyata cuman berisikan 1GB Memory RAM. Jumlah yang sangat sedikit buat gue yang notabene dicap sebagai gamer ulung. Gue coba nyalain tu laptop and cek berapa jumlah VGA Graphic-nya dan berisikan 256 MB. Jumlah yang sedikit lagi. Dan gue liat hardisk-nya, bernominal 160GB. Mengalami kenaikan dari laptop gue yang dulu.

Karna gue ngerasa laptop ini gak jauh beda ama laptop gue yang dulu, gue nggak berharap banyak untuk bisa maen game yang dirasa cukup “besar”. Gue pun mencoba positif thinking. Gue harus manfaatin laptop ini untuk menulis aja. Untuk game, gue sabar dulu. Dan kesabaran gue berbuah manis, secara iseng gue install game yang menjadi impian gue, Battlefield 2 di laptop gue. Berharap cemas sambil memanjatkan doa namun tidak terlalu berharap banyak pula. Game ini mulai cukup populer dilingkungan sekolah gue. Dan keajaiban pun tiba, gamenya berhasil gue puter gan!! Wah alangkah senang hati gue sampek sujud syukur saat itu juga. Dan awal mulanya gue meng-hujat laptop ini, sekarang berubah menjadi syukur. Dan tentunya gue kagak bakal lupa unuk tetap menulis di blog gue ini.

Semoga gue langgeng disini ya.. dan semoga gue juga langgeng ama laptop gue ini. Amiinn.

PS: untuk Tuhan, terima kasih kadonya. J

Continue reading →