PENEMUAN BESAR
Guru yang baik tu,,,
IMB
Muncul Kembali (cemewew!)
KTP Saya, TELAT!
14 Agustus 2012 pukul 08.05
Mengenaskan. Itu mungkin adalah hal dan kata yang cocok untuk menggambarkan kejadian pagi ini. Bukannya terjadi kecelakaan tragis ataupun terjadi bencana alam. Namun, lebih parah. Bencana kedisplinan dalam kinerja para “pekerja kabupaten”.
Diceritakan bahwa saat itu, penulis ingin mengambil KTP-nya dikantor kabupaten. 10 hari yang lalu penulis sudah memberikan syarat syarat yang dibutuhkan untuk membuat KTP. Seperti pas foto, surat dari Ketua RT, akta kelahiran yang telah dilegalisir, dan sebagainya. Semua sudah terpenuhi dan penulis diminta agar menunggu selama 10 hari masa pembuatan KTP. Entah apakah yang membuat membuatan KTP itu sedemikian lama, mungkin karena jumlah penduduk didaerah sini yang cukup besar dan peminat pembuat KTP pun membludak. Saya sebgai penulis ber-khusnudzon (berprasangaka baik) saja.
Namun bukan disitulah masalahnya. Masalahnya adalah disini, yang akan saya bahas sebentar lagi. Dan, ini dia.
Setelah 10 hari menanti dengan perasaaan yang tidak sabar, akhirnya hari dimana penulis akan mengambil KTP kecintaannya, datang juga. Yup, tepat hari ini. Sekitar 08.00 tepat penulis berangkat menuju tempat pengambilan benda itu. Jaraknya pun tidak jauh dari rumah, hanya sekitar 200 meter. Sesampainya disana, ternyata bukan saya saja yang menanti momentum pembuatan KTP. Sudah banyak sekali warga Ponorogo yang mengantri ingin membuat KTP seperti menyerahkan foto, akta dan lain sebagainya.nah kepentingan saya disana hanya sekedar mengambil KTP, tidak kurang tidak lebih sehingga tidak akan memakan waktu yang cukup lama. Namun sayang, petugas yang datang disana tidak sebanding dengan peminat pembuat KTP, jauh. Yang saya temui hanya 2 orang “resepsionis” yang membawa beberapa lembar kertas yang saya tidak tahu isinya apa dan memanggil manggil para warga yang mengantri tadi agar memasuki ruang dimana mereka harus mengantri lagi, Bedanya adalah dengan posisi duduk dan bersedia untuk memberikan berkas berkasnya. Seperti mengantri gelombang 1 dan gelombang 2 begitu. Dan kepentingan saya untuk mengambil KTP harus batal sejenak. Dikarenakan petugas yang berwenang dalam urusan pengambilan KTP (seperti kasus saya ini) belum datang. Padahal jam dikantor itu sudah menunjukkan pukul 08.10 dan jam kerja dimulai pukul 08.00. Padahal dibulan Puasa ini, para petugas itu dipersedikit waktu bekerjanya. Namun kelihatannya masih kurang puas mereka.
Karena jengkel dengan ketelatan mereka, saya pun segera meninggalkan tempat tadi dan berinisiatif membuang waktu dan menoba menguji ketepatan omongan pihak yang memberitahukan bahwa,”silakan mas-nya agar kesini lagi sebentar lagi. 10 menitlah kurang lebih”, omong petugas yang lain. Sumpah deh, kalo saya menjadi petugas yang memberikan alasan ‘tadi’, yang aslinya petugas yang menangani kasus saya ini padahal telat, SAYA SANGAT MALU DENGAN REKAN SAYA.
Dan akhirnya penulis pun segara angkat kaki dari tempat tadi dan mencari udara pagi nan segar dengan berkeliling kota
Pukul 08.36. Penulis pun kembali lagi ke TKP pengambilan KTP. Sekarang giliran saya-nya yang telat dan sedikit terburu buru memasuki ruang yang sama. Namun sungguh, petugas yang menangani kasus saya ini, MASIH BELUM JUGA DATANG. Entah apa sebabnya saya sangat tidak mengerti dan sangat tidak bisa saya terima. Mungkin beliaunya mengalami gejala mulas yang luar biasa parah. Dimana sudah 2 minggu tidak BAB, sehingga harus berada dikamar mandi selama 2 jam. Bahkan rekor saya saja kalah. Padahal, sudah tau tugasnya untuk melayani masyarakat, sudah tau terjadi penumpukan peminat pembuat KTP, kok masih bisa bisanya telat. Padahal kami sebagai siswa saja, sudah diwanti wanti agar tidak telat datang kesekolah. Bahkan berbagai hukuman telah menunggu jika kami ketahuan melanggar/ telat. Sungguh, saya sendiri malu sebagai konsumen. Apalagi rekan sekerjanya ya.. ckck..
Pesan moral yang saya dapat dari kejadian memilukan tersebut adalah sebagai berikut. Lha ini dia.
Mungkin memang benar gaji/upah dari pekerjaan itu kadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan alias sedikit. Namun, tanggung jawab untuk mengabdi kepada masyarakat seharusnya bukan menjadi alasan mengapa kinerja mereka tidak maksimal. Apalagi dibulan Puasa seperti ini, “puasa” itu tidak bisa menjadi alasan untuk tidak bekerja maksimal. Setidak tidaknya kerja kita kurang lebih sama atau bahkan kalo mampu, ditingkatkanlah. Logikanya, jika berpuasa saja kita mampu berbuat “lebih” apalagi kalau tidak puasa bukan? Dan jika memang gaji itu kurang, dibulan inilah kita sebagai umat Muslim seharusnya lebih mendekatkan diri pada-Nya. Meminta jika memang ingin kaya, ingin banyak uang, tidak perlu munafik. Karena Allah itu Maha Berkendak, dan jika Dia sudah berkendak maka tidak ada suatu apapun yang dapat menghalangi-Nya. Bahkan saya pun sebagai pelajar sempat berpikir, seharusnya beliau tadi yang seharusnya mengurus kasus saya ini HARUS merasa bangga lho. Beliau dengan pekerjaannya bisa sekaligus beramal, dimana membantu dan melancarkan permasalahan saya.
“Kepantasan seseorang untuk mendapatkan rejeki lebih baik itu harus dimulai dengan peningkatan kualitas dalam bekerja itu sendiri”,( Mario Teguh).
Jadi waktunya mengubah mindset, dimana kita HARUS meningkatkan KUALITAS DIRI terhadap pekerjaan terlebih dahulu, daripada hanya MENUNTUT gaji besar saja namun tidak dibarengi dengan bukti kita akan menjadi lebih bermanfaat untuk masyarakat.
Untuk Orang yang SEHARUSNYA menangani kasus saya tadi, berbahagia dan bersyukurlah karena mampu menjadi pelayan masyarakat. Karena kami sebagai pelajar sungguh sangat ingin berjuang, mengabdi, dan melayani masyarakat. Karena kami sebagai pelajar merasa bahwa, menjadi pelayan masyarakat adalah anugrah dimana kami mampu memberikan “sesuatu” untuk Indonesia yang patut dibanggakan.
Wisata Bali, Jilid 2
Halohaa amigo, apa kabarnya? Lanjutin soal wisata ke Bali yuk..
Tujuan pertama pemberangkatan pada hari kedua lebih banyak ke tempat pembelian oleh oleh. Beberapa diantaranya adalah Cening Bagus dan Pasar Sukowati. Lalu ke tempat pertunjukan Tari Barong, setelahnya ke Pantai Sanur dan yang paling special, Pantai Kuta.
Pertama, Tari Barong. Kami diajak menonton pertunjukan tari Barong yang benar benar wisata khas Bali selain Tari Kecak. Perjalanan menuju lokasi lumayan jauh, sekitar 45 menit perjalanan dari hotel. Tempat pertunjukan Tari Barong ini hanya bisa didapat/ ditampilkan disebuah daerah di Bali yang saya lupa tempatnya. Jadi lokasinya itu seperti disebuah desa dan didesa itu masyarakatnya berkompeten di bidang seni Barong ini. Jadilah agar lebih memudahkan mobilitas para seniman tadi, ditempatkanlah disana tempat pertunjukan Barong itu. Namun sayangnya, kelompok bus gue datengnya terlambat 5 menit yang menimbulkan efek gue ama temen2 satu bis kagak kebagian tempat duduk sahabat. Jadi kami dipaksa berdiri. Namun pertunjukan seni tari Barong yang sangat menghibur, dimana banyak bumbu komedi yang menjadikan berdiri bukan suatu hambatan berarti. Tari Barongnya pun lumayan lama, sekitar setengah jampertunjukan sahabat.
Setelahnya, kita ke Cening Bagus. Kebetulan lokasinya cukup dekat dengan tempat Tari Barong tadi. Disana sudah pasti menjual aneka macam dan barang oleh oleh khas Bali. Seperti: brem Bali, dodol Bali, Kacang disko, Pie susu, dan berbgai pernak pernik serta kaos. Gue sendiri disana fokus untuk beli jajanannya. Gue putusn untuk ambil pie susu dan kacang disco yang enak gilak! Jujur, gue rugi karena cuman beli dikit, tau enak begini udah gue borong waktu di Cening Bagus, sahabat. Sayangnya, waktu tak dapat diputar melawan arah. Disana gue juga sempat untuk membeli baju couple. And, not bad at all.
Selanjutnya ke Pasar Sukowati. Disini nanti kami sekalian makan siang dan berbelanja barang barang pasar, sahabat. Dan disini juga gue ama temen temen YESC inisiatif untuk beliin junior junior di YESC baju. Hampir sudah menjadi tradisi, dimana senior yang ke Bali membawakan oleh oleh untuk junior YESC-nya. Untuk gue sendiri yang waktu jadi senior juga dibawain T-shirt oleh ananda Mas Oby Priambodo yang sekarang sudah kuliah. Terima kasih kakak ^^. Sedangkan junior bagian gue, gue ama temen temen bawain baju Barong yang khas Bali. Sekalian jadi seragam dah tuh. Hohoho. Dan hebatnya, it’s 100% Oleh Oleh a.k.a gak perlu bayar. Tapi jadi kewjiban para junior gue untuk kasih lagi ke juniornya. Junior kuadrat.
Pulang dari Pasar Sukowati sekitar jam 1 siang WITA. Dan pelancongan selanjutnya adalah ke Panta Sanur. It’s truely nice beach! Tapi memang lebih terawat Kuta sih. Namun foto foto dari pemandangan di daerah Pantai Sanur ini juga keren keren. Tetapi, kami di Sanur hanya sebentar saja. Cukup 1 jam. Karena niatannya bakal dipuas puasin di Pantai Kuta yang menjadi destinasi yang paling dinanti.
Setelah shalat Dhuhur yang di jama’ dengan Ashar kami berangkat menuju Pantai Kuta. Kami sampai disana tepat pukul 4 sore WITA. Karena jalanan yang di Pantai Kuta tidak bisa dilewati oleh bus, jadi bus harus diparkir ditempat khusus bus yang tidak dekat dari lokasi pantai. Maka dari itulah disediakan kendaraan seperti angkot tetapi bagian sampingnya terbuka untuk mengangkut para target angkut yang ingin menuju ke lokasi pantai. Karena armada angkotnya tidak sebesar peminat yang ingin ke pantai, jadilah sempat kami mengantri dan berebutan untuk naik ke angkot itu.
Dan setiba di Kuta, hanya keindahan-lah yang Tuhan sajikan disana. Jangan negatif thiking yaaa -,-“. Maksud penulis bukan bule bule yang berjemur dengan nikmatnya, tetapi pemandangan pantai, ombak, dan juga yang paling special, sunset di Kuta. The sweetest moment. Sayangnya, sweetest moment itu harus gue alami sendiri, tanpa you-know-who. Dan itu adalah salah satu cerita di Bali, di Kuta tepatnya yang kurang begitu indah. Gue beri judul: Kuta, Keindahan Pembekas Luka #jleb. Dan tidak perlulah diceritakan untuk sementara waktu, khususnya ditulisan ini.
Tuhan memang Maha Kuasa, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui. Hati gue yang seketika galau dan sedih, Tuhan hibur dengan pemandangan yang HANYA BISA DIDAPATKAN DI PANTAI KUTA, BALI. Dan saat itu juga, gue sangat bersyukur. Disaat orang yang paling sayang pergi untuk sementara, Tuhan datang untuk menghibur gue dengan keindahan ciptaannya yang lain. Yang seketika itu juga, menjadi obat penawar kekecewaan gue. Tapi, justru moment indah inilah yang seharusnya dihabiskan bersama orang yang kita cinta. Dan naluri fotografer gue gak diam begitu aja, gue segera ambil moment paling indah yang pernah gue lihat. Dan itu semua, tersajikan lengkap di Bali. Dan Bali, Indonesia Punya. DAMN!! I LOVE INDONESIA!
Mungkin itulah sekelumit cerita indah yang bisa gue bagi ama sahabat tulis sekalian. Postingan terakir nanti, yaitu ke Joger dimana tempatnya belanja nehh. Aseekk. Ada juga ke Bedugul, dimana gue naik sampan and ampir kecebur. Akan gue ceritakan, nanti.
Salam. J
Buku dan Bimbingan Belajar
Dimas Mahardika, sang penulis blog ini akhirnya menjadi siswa kelas XII juga. Sudah saatnya dimana para siswa kelas 3 SMA ini berfokus kepada pelajaran untuk menghadapi UN dan juga mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke PTN, alias kuliah. Kalo Jawanya, wayahe tobat. Padahal tobat itu bukanlah hanya dilakukan ketika menjelang kelas 3 atau yang lebih detail menjelang UN dan SNMPTN. Kalo pengertian tobat jadi seperti itu, sangat bisa kita dibilang manusia yang munafik. Yang hanya “mendekat” pada-Nya ketika “butuh”saja dan segera lupa ketika keinginan itu tercapai. Astagfirullah. Semoga tidak begitu ya sahabat tulis.
Mengingat kelas 3 yang akan menghadapi UN dan kita tahu bahwa materi tentang UN itu melingkupi materi dari kelas X hingga kelas XII sudah bisa ditebak, sekarang adalah waktu gencar gencarnya siswa untuk mencari buku buku yang kometen, yang sesuai dan berbobot. Bukan hanya buku, siswapun berlomba lomba mencari dan mengikuti bimbel (bimbingan belajar) yang sekiranya menjanjikan dan dapat membantu menjadi lebih mengerti materi disekolah. Namun, ada pernyataan dari guru yang mengejar penulis bahwa, tidak perlu kita tergiur dengan biimbel bimbel yang menawarkan program menjanjikan. Yang perlu menjadi perhatian penting adalah harusnya kita sangat fokus dan konsentrasi penuh ketika guru mengejar dan sesegera mungkin bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Tapi bagi beberapa orang itu belum dianggap cukup, dan ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama ialah dimana siswa itu memang belum cukup mengerti dengan penjelasan yang ada disekolah karena jam pelajaran yang tidak cukup. Atau memang sudah mengerti, tetapi hasrat untuk menjadi sangat handal dalam bidang tersebut memang tinggi. Nah itu penulis kembalikan kepada pembaca.
Sedangkan penulis pun tidak jauh berbeda. Saat ini Dimas, nama dia biasa dipanggil juga tengah gencar mencari bimbingan belajar. Dia mengambil bimbingan belajar ke guru dan bukan lembaga bimbingan belajar. Karena pengalaman, pernah dahulu waktu SMP penulis mengikuti bimbel belum bisa dibilang murah namun kurang sepadan dengan hasil yang didapat. Dikarenakan suasana kelas yang cukup ramai dan bukan berangkat dari hati. Jadi lumayan nggak sreg gitu dah. Namun alasan tersendiri dari penulis mengapa juga ikut les ke bimbel bukan hanya dari kemingkinan diatas tadi. Kemungkinan pertama memang benar sih, karena penulis adalah orang yang bisa dibilang daya lemot-nya cukup tinggi. Selain itu, tujuan dari dirinya memilih bimbel adalah “membeli” waktunya sendiri untuk belajar. Iya membeli. Karena rasa malas sang penulis juga tinggi, dan jika malam tiba waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar ia gunakan untuk tidur. Nah dengan les-lah, mungkin salah satu cara yang efektif untuk memaksa diri kita secara halus untuk belajar. Belajar yang rajin biar pintar. Karena pintar nilai disekolah jadi baik. Karena nilai disekolah baik maka naik ranking. Karena naik ranking dan memiliki nilai yang baik, pertimbangan untuk masuk SNMPTN Undangan juga besar. Dan semoga diterima di SNMPTN yang diidam idamkan. Amin. Karena orang malas pun juga rajin, rajin bermalas malasan -,-“.
**********
Tidak lupa, BUKU. Barusan tadi pagi sudah heboh, sahabat. Beberapa murid sudah meminjam buku di perpustakaan sekolah. Dan ..... LUDES. Habis. Tidak ada buku untuk anak anak IPA yang dapat dipinjam lagi dari perpus yang sesuai dengan kompetesi yang ditentukan bapak ibu guru tiap tiap pelajaran. wadaw! Bagaimana nasib kita inii?? Haruskah membeli? Padahal bukunya pun tidak murah. Banyak pula.
Sebenarnya buku diperpus itu banyak yang sesuai dengan kompetensi atau syarat yang dimintaoleh guru. Tapi dengar dengar, dikarenakan mengenakan azas “ siapa cepat, dia dapat “ ada siswa yang memborong hingga 17 buku, sahabat! Waw... angka yang sangat fantastis -,-“. Sehingga tidak sedikit siswa yang sebenarnya pengen pinjam dan ingin memanfaatkan buku itu, harus menghela nafas karena harus berjuang mencari pinjaman lagi. Atau bahkan kemungkinan terburuk, BELI. Ilmu tu memang mahal sahabat. Dan kejadian seperti inilah yang penulis takutkan. Dimana kelas 3 yang seharusnya dipenuhi kemudahan fasilitas seperti halnya buku yang kompeten, namun mengingat kuantitasnya yang terbatas, menjadikan seolah olah sekolah berubah menjadi Hukum Cheetah, dimana “yang tercepat, yang menang. Yang tercepat, yang berkuasa”. Secara langsung, terjadi persaingan yang tidak sehat. Menjadikan ada pihak yang merasa dikecewakan, karena gara gara nggak kebagian buku itu. Alangkah adil, bila buku itu bisa dibagikan rata tiap tiap kelas. Dan semisalkan ada buku yang tidak ada yang ingin memakainya, barulah bisa diberikan kepada yang membutuhkan. Yang sangat bernafsu memiliki buku sebanyak banyaknya tadi.
Dengan begini, tidak ada yang dikecewakan karena semua pihak telah tahu. Menjadikan kelas 3 yang waktunya tobat ini benar benar menjadi tobatan nasuha. Bukan hanya tobat mulut belaka. Menghindari adanya sifat egoisme akan Hak kepemilikan sesuatu yang bisa dimiliki oleh semua orang. Pengen pinter sih silakan, tapi tidak adakah hasrat untuk berbagi dan mengajak orang lain untuk pintar juga? Mengajak dan berbagi dalam kebaikan itu PASTI ada timbal baliknya. Entah dalam wujud yang kita inginkan,ataupun dalam hal yang paling kita butuhkan. So, jangan sampek deh jadi orang yang egois and cuman pentingin diri sendiri. Karena, orang yang mementingkan diri sendiri, tidak akan dipentingkan oleh orang lain. ( Mario teguh)
Semoga semuanya bisa menempuh kelas 3 SMA dengan lancar, rata rata nilai meningkat, UN dibisa dilalui dengan sukses dengan nilai terbaik, dan mampu masuk ke Perguruan Tinggi yang diidamkan. Amiin J
Wisata Bali, Jilid 1
Sesuai janji gue dahulu yang bakal bercerita tentang perjalan gue ke Bali yang tepatnya ke Tanah Lot, Tanjung Benua, dan Patung GWK. Dan, ini dia....
Setelah sarapan dan berkegibung dengan air (mandi) dan diabadikan dengan sebuah foto, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata pertama kami, Tanah Lot. Tanah Lot sendiri adalah tempat wisata yang bisa dibilang cukup unik. Dimana ada sebuah Pura yang berada diatas sebuah tebing ditengah laut. Hebatnya, jika air sedang dalam keadaan pasang, seolah olah ada sebuah Pura ditengah laut, sahabat. Bukan hanya iitu saja, daerah yang gue sebut sendiri dengan pantai itu menyajikan pemandangan yang sangat indah pastinya. Garis ombaknya yang sangat apik ditambah dengan beberapa tebing yang cukup tinggi menambah pesona tersendiri dari Tanah Lot. Tapi bukanlah hanya nilai keindahan panorama saja, tersimpan cerita rakyat yang memiliki pesan moral bila kita mau dan mencoba untuk menelaah serta “mendengar”.
Beberapa bukti gambar keindahan Tanah Lot.
Nah ini foto gue didepan sebuah Pura yang ada dikawasan wisata namun bukan Pura yang ada ditengah laut tadi. Sungguh sayang kami tidak bisa pergi ke Pura yang ditengah laut tadi karena sedang pasang, maka dari itulah gue berfoto sama identitas pura lain yang ada disana. Tak ada rotan, akarpun jadi.
Setelah selesai berkunjung ke Pulau Penyu kami kembali ke pulau utama untuk makan siang dan langsung menuju ke destinasi selanjutnya, Patung Garuda Wisnu Kencana.
Didestinasi berikutnya, Patung Garuda Wisnu Kencana adalah tempat wisata dimana yang menjadi tempat wisatawan berkunjung adalah patung GWK tadi. Rumornya, patung GWK ini akan menjadi salah satu patung terbesar yang ada di dunia, bersaing dengan patung Liberty yang ada di Amerika Serikat sana. Niatnya, Patung Garuda, Patung badannya, serta tangan yang sudah jadi namun belum dijadikan satu ini akan di taruh diatas sebuah kedung yang tinggi. Sesungguhnya patung ini sudah cukup lama diselesaikannya hanya saja niat untuk meletakkan patung ini diatas sebuah gedung tadi agak terhambat karena masalah dana. Dimana dana untuk membangun gedung tersebut masih belum tersedia. Nah, untuk menyegerakan proyek yang terhambat sejak kurang lebih 2010 ini dan menjadikan patung GWK ini menjadi patung yang terbesar didunia bersanding dan bersaing dengan patung Liberty-nya Amerika, barangkali ada sahabat tulis yang tidak sengaja mampir ke blog ini dan memiliki dana yang lebih, bisa menjadi donatur atau sponsor lho. Agar mimpi untuk menjadikan kawasan ini tidak kalah terkenalnya dengan Kuta dan pastinya semakin memposisikan Indonesia dan Bali khususnya menjadi kawasan wisata yang semakin wajib dikunjungi oleh para wisatawan Lokal, Interlokal, maupun Internasional.
Foto Garuda dan Wisnu-nya (badan)
Nah sahabat tulis, itulah tadi kunjungan perwisataan kami yang pertama di Bali. Di Tanah Lot, Tanjung Benua, serta Patung Garuda Wisnu Kencana. Semoga bisa menjadi bahan sharing bagi sahabat yang ingin berlibur dan semoga bisa menjadi salah satu blog yang bisa mempromosikan Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Gue disini ingin menyadarkan temen temen semua bahwa, Indonesia ini wisatanya NGGAK KALAH HEBAT dengan negara lain. Alangkah apiknya, kita lebih menikmati wisata dalam negeri dari pada luar negeri. Itung itung menambah devisa negar sendiri lah. Hehehe..
Sekian untuk tulisan kali ini. Tulisan selanjutnya nanti gue akan nuis waktu gue ke tempat pembeliaan oleh oleh Cening Bagus, Tari Barong, Pasar Sukawati, Pantai sanur, and most special place, Pantai Kuta. So, tetap berkunjung ya..
Om swasti astu. Salam tulis menulis!
Berangkaattt!!
Tulisan kemaren menceritakan kado Anniversary gue ama Love kan. Nah tulisan yang ini akan menceritakan tentang wktu perjalanan.
Kami diperintahkan untuk datang jam 9 pagi. Yang diatas kertas bakal berangkat yang 10. Ini terjadi dikarenakan perliku manusia ponorogo yang jamnya kagak bisa rusak. Karena elastis seperti karet. Namun bukan berarti itu menandakan tidak ada orang ponorogo yang mash tertib akan pentingnya datang ontime. Terbukti gue sendiri udah disekolah jam 8 dan waktu tiba disekolahpun sudah banyak temen temen kelas XII yang datang. Calon orang orang hebat nihh (amiinn).
Yaa mungkin karena orang yang telat lebih besar daripada yang ontimekeputusan ini harus diambil. Dan nyata oh ternyata kami satu sekolah harus molor lagi yaitu berangkat jam setengah 12. Ini dikarenakan busnya yang harus mengalami perbaikan dengan masalah teknis yang kagak gue mengerti.
Seperti biasa sebelum berangkat, untuk formalitas kami mengadakan apel kecil dan berdoa bersama.
Setelahnya, pasti berduyun duyun masukkin barang barang ke koper eh, ke bagasi bus tepatnya. Dan....berfoto ria kembali. Memang manusia eksis -,-“
Foto diatas bukan hasil rekayasa a.k.a ASLI. Dan keluaraga bahagia diatas adalah dari kelas XII IPA 2. My class and our class,of coursly. J
Perjalanan menuju Bali ini menempuh waktu kurang lebih 1 hari satu malam berkali kali ke kamar mandi. Ya benar, memeng bis kami yang angker karena ada jin pipisnya ato apa gue juga kagak ngarti. Tapi itu lebih baik daripada bis tetangga jauh kami, XII IPA 6 yang mogok. Beda dengan kami, kami berhenti untuk dapet yang Lega klo yang tetangga dapet murka. Itulah nasib nak.
Lalu pada pagi hari ketika untuk sarapannya, kami sudah tiba di Bali. Setelah menyebrang dengan kapal tonggak (maaf jika salah) yang biasanya mengangkut barang (saja) dan bertarung dengan dinginnnya angin laut kala malam, kami sarapan di suatu daerah di Bali. Bukan sarapan saja, namun juga mandi dan .....berfoto.
Yang nantinya kami akan langsung menuju ke Tanah Lot. Dimana daerah wisata di Bali yang memberikan pesona pemandangan di Ponorogo yang berkaitan tentang Pura, tebing, dan pantai. So, tetap aktif kunjungi blog gue ya..
Salam tulis menulis,
Om swasti astu J
Kehangatan Kedai Kopi
Wowowowoo.. baru pulang dari Bali nih agan tulis. Om swasti astu J
Special beberapa tulisan gue bakal bahas seputar liburan kemaren. Ada kenangan yang indah dan juga tidak indah. Yang indah salah satunya bisa dapet foto yang keren gilak dan tidak indahnya, harapan gue di Kuta Bali yang tidak terpenuhi. Dan bikin gue sangat kecewa karna emang itu momentum yang sangat mahal. Nggak akan bisa dibeli dengan uang atau apapun. Never.
Awalnya gue akan cerita tentang proses packing dan perjalanan aja ya.
Dikisahkan bahwa gue dan teman gue satu sekolah yang kelas XII udah H-1 dari Tour ke Bali. And this is really “tour” coz we don’t need to make task from our tour (amin). Pastinya gue mengepak segala hal yang berkaitan dengan mandi, ibadah, dan pakaian. Nah gue belum punya alat alat mandinya yang bakal gue bawa waktu ke Bali. Jadinya gue minta tolong “love” gue buat temenin nyari barang yang perlu dibawa. Wanita kan sangat handal dengan masalah seperti itu, tidak salah kalo gue mengajaknya. Jaga jaga kalo entar ada apa apa yang kelupaan. Dan target pembelanjaan gue ialah ALAT MANDI.
Mengingat waktu itu, tanggal 22 Juni adalah hari dimana gue jadian ama kekasihku tercinta (cieileh) ini gue pengen kasih kejutan. Setelah mengiyakan ajakan gue untuk keluar nyari alat alat mandi, gue brangkat duluan untuk beli sesuatu. Dan pilihan gue jatuh pada kue tar blackforest kecil yang gue beli di toko roti. Biar makin cantik, lilin dengan angka 3 tak lupa gue beli. Semoga jadi kado yang indah. ^^
Selesai belanja alat mandi, gue pun bingung harus gimana memulainya. Sempat cukup lama kami muter muter keliling kota untuk nyari tempat yang cucok moment gue ngasih kejutan pada yang tercinta ini. Dan kedai minum kopi diperempatan dekat Alon Alonlah tempat kami melabuhkan kendaraan. Love, memesankan minum and gue siapin kue kecil tadi. Kue tadi gue beli terpisah dengan lilinnya. So, harus dipasang secara manual. Padahal kue ada didalam jok motor biar kagak dicurigai anadaku ini. Jadi waktu memesan minumlah waktu yang tepat.
Motor gue parkir tepat didepan kedai kecil yang bertemakan outdoor. Dan inilah yang bikin asik pastinya dan menambah kesan romantis (halah). Dan karena outdoor pulalah yang makin gampang ketauan. Dan ternyata benar. Saat gue mau masang tu lilin, eh nongol dah tu orang. Niatnya sih pengen beli makanan ringan biar nggak garing waktu minum disana. Tentu gue menolak, karena ada yang lebiih baik dari sekedar jajanan ringan, yaitu Kue Tar yang Barusan Gue Beli *yyeeeee*.
Ekspresinya masih bingung karna tu kue masih terbungkus tas plastik putih. Gue pun ngajakin duduk dan membukanya bebarengan dengannya. Syukurnya, dia seneng melihat kado yang gue beri. Dan gue pun juga ikut senang melhatnya seneng.
Kami pasang lilin dan menyalakannya. Tentu saja seperti tradisi biasanya, we’ve to make a wish. Hening sesaat ketika kami berdoa. Tentunya syukur yang gue sembahkan, karena bisa bikin hal in terwujud. Dan semoga juga, hubungan baik ini bisa terus hingga nanti. Harapan gue juga, di Bali nanti waktu Tour, bisa lebih dari kebersamaan dalam kehangatan kedai kopi ini. Aminn J
Special thanks,
My Love
Masa Orientasi Siswa
Jumat, 06 Juli 2012. Dimana dimulainya kegiatan MOS di SMA 1 Ponorogo. Memang masih awalan sih, maka dari itu peserta didik baru hanya masih diberikan TM.nya saja. Memang kedengaran hanya Teknikal Meeting biasa yang hanya diberikan pengumuman dan apa apa saja barang barang yang harus dibawa besok waktu hari H, tepatnya tanggal 9 Juli, Hari Senin, namun pengalaman MOS sebenarnya sudah mulai dididikkan kepada mereka mereka yang baru saja mencium aroma duduk di bangku SMA. Haruskah? Ya haruslaah. Namanya juga MOS, Masa Orientasi Siswa, terserah bagaimana anda menilainya.
Dimulai dengan berkumpulnya para panitia hebat ini. Sang Komandan memerintahkan untuk berkumpul disekolah jam 10, padahal kan lagi hari Jumat yang biasanya baru kumpul setelah Shalat Jumat dimasjid sekitar rumah masing masing. Memang awalnya gue sendiri agak kurang menerima keputusan ini. Soalnya gue juga kagak tau kapan sebenernya acara TM MOS ini akan dimulai. Tapi ternyata ini adalah pilihan yang paling tepat dimana acara akan dimulai jam 2. Kan masih ada 2 jam waktu untuk siap siap? Iya emang sih, tapi itu kagak cukup jikalau harus diisi dengan kegiatan menunggu para panitia untuk berkumpul setelah Shalat Jumat. Karena, pasti ada aja alasan kenapa harus datang mepet. Habis makanlah, habis ke kamar mandi lah, sendal ilang lah, dan berbagai macam alasan lain yang memaksa kita untuk mentolerirnya. Dan itu pun belum dengan acara brifing pemantapan sebelum kami, para Wali Kelas memasuki ruang pendampingan peserta MOS tahun 2012. Dan jika itu ditunda tunda lagi, sudah dapat dipastikan bahwa acara yang seharusnya mulai jam 2 siang, harus ngaret sampek jam setengah 3. Sungguh pembuangan waktu yang tidak berguna. belum lagi ini kan MOS, yang sudah pasti menuntut ke-ontime-an semua pihak, yang dimulai dari pihak panitia terlebih dahulu. Kakak kelas sebagai contoh dan panutan yang baik. (amin). Lha makan siangnya? Alhamdulillah ternyata sudah disiapkan oleh sie Konsumsi. Iii konsumsinya umumumuu banget :*.
Brifing panitia selesai, gue ama teammate gue, ananda Albina Dona yang baru saja berhasil naik kelas XI dan masuk jurusan IPA tapi pengen ganti ke IPS ini melesat ke ruang yang udah dipersiapkan sebelumnya, kelas X-5 a.k.a Sangga Jendral Sudirman.
Dan waktu pun tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang tepat, apel pun dimulai. Dimana semua peserta yang seadanya sudah datang dikumpulkan. Iya seadanya, karna tentu saja masih saja anak yang telat. Entah kenapa. Dan masa MOS pun, dimulai. Dimulai dengan apel yang tentu saja ada bumbu dimana para senior dan panitia yang bertugas sebagai KomDis (Komisi Disiplin) memberikan preasure pada peserta didik ini, Adek adek yang masih unyu-unyu wajahnya. Entah kekurangan sekecil apapun pasti kena omel para panitia ini. Dan peserta pun hanya diam dan diam, entah mereka takut ato malah bingung panitianya bilang apaan. Dan peserta yang telat pun berlarian dari lorong sekolah. Wajah mereka pucat pasi, dan KomDis pun tahu apa yang mereka takuti, sampailah para Telaters ini mendapat tempat istimewa, dipajang didepan para peserta yang lain dan pastinya kena semprot yang lebih horor lagi. Gue pun cuman duduk didepan kelas dimana gue seharusnya mendampingi nanti. Kelas yang menghadap ke Timur, XI IPS 2 a.k.a X-5. Gue sendiri malah takut and deg deg.an sendiri dengerin para Komisi Disiplin ini yang berusaha mendisiplinkan para kaum minoritas yaitu Kaum Telat tadi. Kenapa? Soalnya gue keinget ama MOS gue yang lalu dan itu kelam. Gue gak mau bernostalgia kesana. Jadilah gue ngobrol ama adek gue, Albina Dona tadi yang biasa dipanggil Dona atau Albina ini. (bukan albino ya).
Albina ini seorang cewek, dari kelas X-5 yang syukur alhamdulillah masuk jurusan IPA. Jurusan yang jadi mayoritas. Namun karena mengingat cita citanya yang pengen masuk jurusan HI (Hubungan Internasional) ini, jadilah nanti dia bakal pindah ke IPS. Albina ini orang yang ramah banget. Adek kelas paling ramah dan paling ngerti gue banget, maksudnya ngerti and nyambung banget kalo diajak ngobrol. Kind of easy going person. Sebenernya gue udah kenal lama ama adek ini cuman ngobrol yang deket and intens gitu baru tadi siang menuju sore. Dan Albina ini adalah salah satu lawan gue di lomba Debat Bahasa Indonesia yang kemaren pernah gue tulis sebelumnya dan ... tim gue kalah, but it’s OK. They deserve to win. Kalo didiskripsiin, Albina ini punya kulit yang tidak terlalu putih. Sawo matang? Bukan, lebih kecoklatan gitulah. Rambutnya pendek sebahu. Tinggi sekitar 160.an, dan memiliki berat yang ideal dengan tingginya. Suaranya merdu, ramah menyapa. Matanya mata orang malas, tapi mata inilah yang mengindikasikan rajin orangnya. Lumayan suka dan pinter ng-gombal yang lucu lucu-an. And seorang pendengar yang baik pula. Perfect banget orangnya kalo diajak sharing pengalaman dan juga diajak curhat. Tapi gue sendiri belum pernah sampek curhat, cuman liat dari bagaimana dia memperhatikan dan intens pada suatu pembicaraan. Dan sampai pada kesimpulan gue, Albina ini mampu memesona orang lain. Salah satunya, gue. Rasanya kayak kagak mau brenti ngobrol ama dia. Dan gue tempatkan dinomor teratas, adek kelas yang mampu menghormati dan menghargai kakak kelas dengan sangat baik. Jarang yang bisa gtu. Dan semoga ananda adek kelas X yang baru masuk bisa mengikuti contoh baik yang diatas, Kak Albina.
Haduh gue kok bahasin si albina mulu -,-“. Kembali ke, MOS!
Setelah apel selesai, peserta diberikan waktu hnya 1 menit untuk mencari dimana kelas mereka. Dan mereka sangat tidak tahu menahu dimana mereka seharusnya berada maka haruslah mereka men-cek nama mereka disetiap kelas ato lebih tepatnya, 12 KELAS! Haduhhh banyak.nyee. Dan adegan lari berlaripun dimulai. Wuuuuww.. heboh bukan main, gue yang sedari tadi duduk diam ditempat duduk depan kelas, harus berdiri agar tidak menghalangi jalan. Padahal niat aslinya biar kagak kena tendang -,-“.
1 menit berlalu, dan para peserta yang terlalu panik dan belum mendapatkan kelas dimana mereka seharusnya berada, kena omel lagi. Hadududu apes sekali nasibmu nak. Gue pun segera masuk kelas gue yang sudah full orangnnya. Wew! Not bad, guys. Dan langsung saja kami berdoa bersama dan Kami ( gue ama Albina) memperkenalkan diri. Setelah itu baru adek adek satu persatu. Tujuannya, pasti supaya mereka TAHU siapa saja yang satukelas dengan mereka.
Agenda selanjutnya yaitu pembacaan materi. Materinya yaitu segala macam aksesoris yang HARUS dibawa dan SANGAT DILARANG dibawa saat diselenggarakannya MOS. Seperti memakai baju yang ditentukan, sepatu pantofel, kaos kaki 10 cm diatas lutut, yang cowok dipotong plontos dan sebagainya. Lalu ada juga materi dimana pada hari H (senin) mereka harus membawa makan siang. Dan sudah pasti, Aneh Aneh :D. Lalu peserta MOS juga diharuskan membawa kardus yang berisi identitas dan harus ada cap RT dan RW lho. Keren kaannn,... hohoho. Dan juga tidak lupa buku materi, buku untuk minta tanda tangan ke sesama teman, dan juga notebook kecil untuk tempat tandatangan para senoir. Tujuan mereka mencari tanda tangan adalah “memaksa” peserta untuk mau mengenal siapa teman, guru, dan senior atau kakak kelas. Pastinya, agar kita saling kenal, kan kalo gak kenal maka tak sayang kan. J
Ada juga agenda dimana adek adek peserta diajari akan MARS SMA 1 Ponorogo. Kenapa? Yaa sama halnya dengan kita harus mengenal, tahu, dan bahkan harus bisa lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya as Indonesian people. Dan karna gue pernah ikut aduan suara, guelah yang inisiatif memimpin dan mengajak adek adek peserta belajar bagaimana menyanyika lagu MARS SMA 1 Ponorogo yang benar. Albina membantu dengan mengngatkan nada nada yang kadang gue lupa. Hehe ^^. Dan entah keajaiban apa, peserta dikelas gue alhamdulillah langsung bisa dalam 1 hari tadi gan. Ato bahkan tepatnya 1 sore tadi. Semoga menjadi ilmu yang barokah ya. Amiinn.
Nah, sayangnya gue ama temen temen kelas nggak bisa ikut ng- MOS-in adek adekpeserta waktu tanggal 9 Juli itu. Maka dari itulah, selama 3 hari pertama, mereka di handle oleh kakak kelas XI. Sedangkan gue ama temen2 kelas XII baru ng-MOS-in peserta lagi waktu hari Kamis soalnya mau pada Tour ke BALI ^^. Ni barusan aja selesai packing dan besok waktunya berangkat. Udah jadi impian bagi gue pribadi untuk segera pergi ke Pulau para Dewa itu. Semoga perjalanan berangkat dan pulang bisa lanar dan aman ya. Amiin.
Thanks sahabat tulis udah mau baca ini tulisan. Tunggu cerita cerita gue sepulang dari BALI yaa.. tha thaaa :*
Persembahan ( Kesempatan Meraih Asa part 3 )
Yaa.. hari ini memang kami menelan kekalahan apalagi kalah dari adik kelas. Malu? Nggak lahhh. Memang berat menerima kekalahan apalagi kekalahan oleh orang yang lebih ibaratnya junior dari kita. Tapi, mengingat karena gue udah kelas 3, udah waktunya regenerasi dan seharusnya memang “mereka” lah yang akan memberi prestasi ke sekolah. Semoga.
Kecewa akan kekalahan bukanlah alasan bagi tim kami untuk mengendorkan semangat untuk berjuang lebih. Justru inilah seharusnyatitik balik dimana gue ama Laksa dan Satria berjuang 100xliat lebih keras dari sebelumnya untuk membawa piala juara 3. Tim adik kelasku yang masuk final esok harus melawan tim dari SMAZA juga, yaitu tim Astana cz. Haha.. Ternyata predikat untuk selalu menang dari diri seorang Astana, Esti, dan Alby memang tidak bisa lepas. Ini berarti, juga tim gue berhasil merebut Juara 3, maka tim dari SMA 1 Ponorogo akan membawa pulang seluruh juara. Dari juara 1 sampai juara 3. What a moment! Dan kesempatan untuk membawa pulang triple juara semakin memacu kami untuk berusaha lebih keras. HARUS!
Sebelum pulang, panitia memberikan selebaran yang berisi mosi yang akan kami perdebatkan besok. Langsung saja kami sepulang lomba untuk kesekolah sejenak. Sebenarnya, saat kami lomba ini bersamaan dengan hari dimana diagendakan seluruh panitia YESC berkumpul dan mempersiapkan segala keperluan untuk English Camp yang akan diselenggarakan tanggal 30 Juni 2012 esok. Namun ternyata ketika kami kesekolah, sudah sepi. Ternyata semua perlengkapan sudah tersedia didalam sekretariat YESC. Namun memang masih ada beberapa yang harus diselesaikan memang tapi itu bisa kami tuntaskan saat besok kompetisi ini berakhir. Karena sudah sepi disekolah, kami putuskan untuk pulang saja. Repetisi dan malam nanti kami akan latihan lagi.
Malam pun tiba, udara dingin berhembus menusuk serat jaket, terus hingga menyentuh kulit, memaksa tubuh untuk merinding. Hari ini latihan ditempatkan dirumah si Laksa, soalnya mumpung rumahnya lagi kosong karena orang tuanya sedang pergi ke Solo. Satu persatu, anggota demi anggota berkumpul. Hanya gue, Satria, Astana, dan Alby yang bisa hadir dalam simulasi pertempuran esok. Esti tidak bisa hadir karena ada tugas untuk lomba lain yang akan dia hadapin 2 hari kemudian. Yaa memang begitulah si Esti, berbeda sekali dengan kelas X dahulu. Sekarang dia seperti addict dengan lomba lomba. Mungkin itu karna motivasi dari kekasihnya yang bisa disebut Orang Hebat. Pria Hebat yang berasal dari suatu desa di Ponorogo ini adalah Sesepuh yang paling Sepuh di Organisasi YESC gue. Karena perjuangan dari beliau juga lah, serta kecintaannya pada Organisasi Bahasa Inggris ini yang akhirnya bisa menjadi suatu ekstrakulikuler di SMA 1 Ponorogo. Sudah keliling dunia pula, dan sekarang kuliah di IPB serta alhamdulillah masih sering bisa pulang ke Ponorogo untuk menjenguk ekstra-nya dahulu. Kami bangga memilikimu kak J.
Tidak beda jauh dengan malam latihan sebelumnya, latihan diisi dengan berbagai argumen yang keluar masuk. Bertukar pikiran bagaimana mendapatkan argumen terbaik yang akan memastikan keunggulan kami beradu argumen dan mem-persuade Juri agar memenangkan tim kami. Harapan itu tak pernah hilang. Karena tingkat kesulitan lawan yang pastinya lebih sulit dari hari kemarin. Pasti. Oleh karena alasan itulah, kami harus pulang jam 1 dini hari karena bahasan kami yang pastinya harus lebih kuat. Bukan hanya 1 langkah, namun 10 langkah didepan lawan. Capek? Sudah pasti, namun itu tidak akan pernah menjadi alasan kami untuk menyerah. Namun karena istirahat juga penting, latihan diakhiri sampai disini saja. Waktunya untuk pulang dan menikmati tubuh ini beregenerasi selnya.
The Judgmentday is coming. Hari penentuan pun akhirnya tiba juga. Hari pengukuhan dimana siapa yang lebih hebat akan mendapatkan tahta tertinggi yaitu kemenangan. Semalam tim kami dengan tim Astana.cz memang kawan berlatih, but this day we are rival. Walaupun kami secara teknis tidak bertanding dalam 1 sesi, namun kami bertanding untuk menjadi pemenang pada masing masing pertandingan kami.
Pertandingan pertama adalah perebutan juara 3 terlebih dahulu. Tim kami, Laksa,Satria,Dimas (gue sendiri) memasuki panggung perdebatan. Beda dengan debat hari kemarin, debat hari ini bertempat di Hall dan bukan diruang kelas seperti hari sebelumnya. Dan ini menjadi tekanan tersendiri bagi gue. Memegang polpen pun gue gak bisa. Seperti nyawa ini tinggal separuh saja. Mentalku seperti tak mampu menanggung determinasi tekanan. Bukan hanya untuk menjadi juara 3 karena musuh yang tidak bisa dianggap enteng, namun para penonton. Bapak bapak ibu ibu semua yang ada disini. Digoyang semuaa. Dan barusan adalah lirik lagu Dangdut. Abaikan.
Dan seperti hari biasanya, sahabat gue Satria dan Laksa tak pernah berhenti mensupport. Bahkan Winda pun juga kut memberi support lewat sms. Dan sosok sang Nyata itu muncul kembali. Gue bayangin dia sedang disamping gue, menatap penuh yakin bahwa gue bisa untuk pertandingan final ini. Namun itu belum cukup. Tidak cukup. Dan benar saja, sungguh performa ini turun dan berbalik 180 derajat. I’am not lika i was. Gue bukan diri gue yang dulu. Yang kemarin. Yang dengan lantang berteriak, dan mantap menatap.
Ohh.. geez! What happen?!!
Gue bertanya kenapa gue bisa sampai seperti ini. Dan jawabannya jelas, gue gugup. Gue gak bisa mengontrol tingkat ketegangan gue. Point penting yang seharusnya gue bawa, gue utarakan didepan juri, belum bisa mengkristal menjadi argumen kuat yang mampu membuat timku unggul jauh. Beruntunglah. Masih ada Laksa. Beliaulah yang membawa hal penting yang belum tersampaikan oleh gue. Yang bisa gue lakukan setelah itu adalah hanya diam. Diam. Dan diam saja. Namun dalam diamku, gue berdoa. Semoga kesempatan mempersembahkan piala untuk sang Nyata mampu gue capai. Amin.
Tentu saja setelah turun panggung gue minta maaf atas performa buruk ke Laksa dan juga Satria. Ke Satria karna gue gak mampu mendukung argumen kuat yang dia bawa. Dan Laksa yang harus berpikir keras kedua kali untuk menutup lubang dalam yang gue buat. Gue minta maaf atas performa buruk yang justru gue persembahkan disaat yang sebenarnya palng genting, paling penting, dan paling krusial. Saat dimana tidak ada lagi kesempatan kedua, bila kekalahan menampar muka. Saat untuk merebut juara ke 3.
Dan seperti biasa pula. Satria dan Laksa kembali mensupport gue. Menjelaskan bahwa itu gakpapa. Dan itu adalah hal yang wajar dalam sebuah kompetisi. Maka dari itulah tim itu ada. Dimana saling mensupport saat satu anggotanya terjatuh. Membantu yang lain saat yang lain tertatih. Its called team. Ya walaupun begitu, rasa bersalah ini pasti masih mengganjal. Pasti.
Hingga saat itu tiba. Pengumuman siapa yang menang siapa yang jadi pecundang. Doa ini terus gue panjatkan pada yang Maha Agung, yang Maha Berkehendak, dan yang Maha Kuasa atas segala kekuasaan. Gue berdoa berdoa dan berdoa. Hingga saat sang pembawa acara mengumukan bahwa...
Laksa, Satria, dan Dimas, tim SMA 1 Ponorogo 2, pemenang Juara 3!!
Senang dan keinginan untuk gue menetesakan air mata bercampur jadi 1. Namun air mata itu tertunda keluar karena gue harus segera maju kedepan bersama satu timku untuk menerima sang piala. Sang penanda bahwa kami bukanlah pecundang, KAMILAH SANG PEMENANG!! Memang benar hanya juara 3, tapi ini adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah karir gue di kelas XI ini. Bukan hanya tim gue yang juara, tim Astana, SMA 1 Ponorogo 1 berhasil menjadi Juara 1. Tahta tertinggi. Sang juara utama. Dan adik kelas gue juara ke 2. Sungguh hari yang gak pernah gue percaya bakal terjadi. Dimana gue akhirnya mampu memberikan prestasi ke sekolah. Dan bukan hanya sebagai “tangan pengganti”, namun juga penyebab atas diberikannya juara itu ke gue, ke Tim gue, SMA 1 Ponorogo 2.
Dan piala ini, untuk seseorang yang selalu nyata dalam benak gue, sang Nyata. Trima kasih J
Tuhan, terima kasih juga ya.. J dan juga untuk semua orang yang percaya pada gue. Nggak ada yang mampu gue ucapkan selain, Trima Kasih.
